
"Hey, why are you crying?" sapa seorang pria.
Devita mengalihkan pandangannya, dengan mata yang masih merah dia hanya diam dan tidak menjawab sapaan pria itu.
"I am sorry, you can speak english?" tanya pria itu.
"Ah, ya maaf. Tentu saja aku bisa." jawab Devita sesegukkan. Dia berusaha menghentikkan tangisnya, tapi tetap tidak bisa.
"Kenapa kau menangis?"
"Ponsel dan dompetku hilang. Aku harus pulang ke hotel, tetapi aku lupa alamat hotelku."
"Siapa namamu?"
"Aku Devita,"
"Namaku Richard, apa kau ke Berlin hanya sendirian?"
"Tidak. Aku bersama dengan seseorang."
Pria bernama Richard itu duduk disamping Devita dan berkata, " Sudah, jangan menangis,"
Devita tidak menjawab, air matanya terus berlinang membasahi pipinya.
"Jika kau terus menangis? Nanti orang yang melihatmu, mereka berpikir aku berbuat sesuatu padamu," kata Richard mengingatkan.
"Aku takut Richard, ponsel dan dompetku tidak ada. Pasporku juga ada di hotel, jadi bagaimana?" ucap Devita lirih, air matanya terus membasahi pipinya.
"Apa kau ingin ikut denganku? Aku bisa membantumu," tawar Richard, kemudian Devita menatap Richard hati - hati.
"Kau takut padaku, Devita?" tanya Richard kembali.
"Kau orang yang baru saja aku kenal. Tidak mungkin aku langsung menerima tawaranmu," jawab Devita.
Meskipun saat ini Devita membutuhkan bantuan. Tapi tetap saja dia harus waspada pada orang asing. Karena banyak orang, yang memperlihatkan kebaikannya untuk menutupi kejahatannya. Itu yang membuat Devita harus berhati - hati, terlebih pada orang yang baru saja di temui.
Richard tersenyum, lalu dia berkata, "Kau memang benar, aku adalah orang yang baru kau kenal. Tapi aku tidak mungkin menculikmu. Jika kau tidak percaya aku akan memberikanmu kartu namaku,"
"Devita!!" Teriak suara seorang pria begitu keras, hingga membuat Devita terkejut.
Devita beranjak dari tempat duduknya, dia membalikkan tubuhnya ke arah sumber suara yang memanggil namanya dengan keras tadi.
"B...Brayen?" Devita menatap tidak percaya, yang tadi memanggilnya adalah Brayen. Dengan cepat Devita pun langsung berlari dan menghamburkan tubuhnya memeluk erat Brayen. Hati Devita kini sudah tenang, karena ternyata Brayen mencarinya. Rasa takut dan cemas hilang seketika, ketika Brayen datang. Tangis Devita di dalam pelukkan Brayen.
Brayen terdiam sesaat ketika mendengar isak tangis Devita. Hingga kemudian, dia membalas pelukkan Devita dengan erat. Rasa marahnya seketika luluh saat melihat Devita menangis.
"Kau dari mana saja? Aku hampir gila mencarimu!" Kata Brayen dengan tegas.
"Brayen, aku sangat takut karena ponselku hilang. Aku juga kehilangan dompetku, Brayen. Aku juga lupa tempat kau meeting dan aku juga lupa di mana alamat hotel kita," ucap Devita sesegukkan.
Brayen mengelus rambut Devita dan berkata, "Jangan coba - coba lagi kau pergi sendiri, Devita. Bagaiamana jika terjadi sesuatu yang buruk padamu?"
"Aku minta maaf," Devita menundukkan kepalanya, tidak berani bertatap wajah dengan Brayen.
Brayen membuang napas kasar melihat Devita sperti ini. Dia mengurungkan niatnya untuk memarahi istri kecilnya itu.
Tatapan Brayen kini teralih pada sosok pria yang menghampirinya. Brayen menatap tak bersahabat pada pria yang kini sedang berdiri di hadapannya.
"Kau siapa?" tanya Brayen dingin.
Devita mengurai pelukkannya, lalu dia membalikkan tubuhnya menatap Richard sudah berada di hadapannya.
"Devita, akhirnya kamu sudah bertemu dengan temanmu, aku senang mendengarnya," balas Richard.
"Aku bukan temannya, aku suaminya!" Tukas Brayen menekankan.
"Maaf aku tidak tahu kalau Devita sudah menikah. Tadi Devita hanya mengatakan, jika dia bersama dengan seseorang ke Berlin. Aku pikir dia bersama teman atau saudaranya," jelas Richard.
Brayen menggeram emosi mendengar perkataan pria bernama Richard itu. Beraninya Devita tidak langsung mengatakan ke Berlin bersama suaminya.
Devita tersenyum, memperlihatkan gigi putihnya, " Richard, terima kasih kau sudah menemaniku. Aku senang berkenalan denganmu, kalau begitu aku dan Brayen pergi dulu, semoga harimu menyenangkan," kata Devita.
Richard mengangguk. " Semoga harimu juga menyenangkan Devita,"
Devita langsung menarik tangan Brayen meninggalkan Richard. Di lobby Devita sudah melihat mobil yang Brayen sewa, Devita memeluk lengan Brayen masuk ke dalam mobil. Tidak lama kemudian, mobil mereka mulai berjalan meninggalkan lobby mall.
...***...
Sepanjang perjalanan, Devita menatap keluar jendela. Suasana hening tercipta di dalam mobil. Baik Brayen dan juga Devita, mereka berdua sama - sama diam dan tidak memulai sebuah percakapan. Namun, tanpa Devita sadari sudah sejak tadi Brayen menatap dirinya.
"Devita, kenapa kamu tidak mengatakan kalau kamu kesini dengan suamimu?" tanya Brayen yang lebih dulu memulai percakapan. Suara bertanyanya terdengar begitu dingin dan tak bersahabat.
Devita mengalihkan pandangannya, lalu dia menatap Brayen yang berada di sampingnya. "Brayen, aku tadi terlalu panik. Jadi, tadi aku mengatakan kesini dengan seseorang. Lagi pula, salah dia sendiri, kenapa tidak bertanya siapa seseorangnya. Mungkin jika dia bertanya aku akan mengatakan, jika aku bersama dengan suamiku." jawab Devita dengan santai.
"Kau itu terlalu pandai beralasan!" Tukas Brayen dingin dan datar.
"Kau saja yang terlalu berlebihan Brayen Adams Mahendra! Aku sudah meminta maaf. Lagi pula salah dia juga kenapa tidak melihat cincin yang terpasang di jari manisku!" Ketus Devita dengan pembelaannya. Dia tidak terima jika di salahkan.
"Terserah, tapi jika lain kali kau pergi tanpa memberitahuku. Aku akan melemparmu dari sini. Jangan harap aku akan mencarimu. Sekarang kau lihat, kau kehilangan ponsel dan dompetmu, sedangkan kau tidak ingat hotel kita tinggal," seru Brayen yang masih kesal.
"Maafkan aku, tapi Brayen bagaimana dengan kartu yang kau berikan dan juga kartuku?" tanya Devita dia khawatir dengan kartu kreditnya.
"Aku sudah mengirimkan pesan kepada Alberlt untuk segera mengurus semua kartumu dan juga kartu yang aku berikan kepadamu." jawab Brayen tanpa melihat ke arah Devita.
"Lalu ponselku bagaimana?" tanya Devita sambil mengerutkan bibirnya.
"Sopir taksi sudah menemukan ponselmu, mungkin dia sudah menunggu di lobby hotel. Kau sungguh menyusahkanku Devita. Baru satu hari kita di Berlin, tapi kau sudah menyusahkanku!" Seru Brayen.
"Maaf..." lirih Devita.
"Katakan padaku kenapa kau pergi sendirian?" tanya Brayen dingin.
"Aku bosan Brayen, aku ingin pergi berbelanja." jawab Devita. Dia tidak berani menatap Brayen karena memang ini salahnya. Brayen sudah mengatakan untuk jangan kemana - mana tapi Devita tidak mendengarkannya.
"Kau ini, menunggu sebentar saja kau tidak mau, sekarang membuat kegaduhan ponsel dan dompet hilang. Ini peringatan pertama dan terakhir Devita Mahendra. Jika kau masih tidak menurut padaku, jangan salahkan aku akan memberikan hukuman untukmu!" Peringat Brayen tajam.
...****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.