
Mobil Rolls Royce mulai memasuki Smith Company. Edwin turun dari mobilnya dan melangkah masuk kedalam lobby perusahaan. Hari ini, Edwin memang datang lebih siang ke perusahaan. Terlalu banyak masalah yang di hadapi di tambah dengan Nadia, istrinya yang masih belum mau berbicara dengannya. Tidak hanya itu, tetapi Devita putri kesayangannya bahkan tidak menjawab telepon darinya. Devita pernah menjawab telepon dari Edwin, hanya saja Devita tidak berbicara banyak.
Edwin melangkah masuk kedalam lift pribadinya, pikirannya tidak berhenti memikirkan masalah yang akan datang. Di tambah tanggung jawabnya di perusahaan. Karena kini Devita masih belum mau memimpin perusahaan.
Devita meminta waktu untuk bisa memimpin perusahaan. Bagi Devita, usianya masih terlalu muda dalam memimpin perusahaan. Dan kemungkinan Devita akan memimpin perusahaannya, saat dia sudah lulus kuliah nanti. Edwin memang sudah menyiapkan semuanya untuk putrinya itu.
Ting.
Pintu lift terbuka, Edwin berjalan keluar, dia langsung menuju ke ruang kerjanya. Hardwin Asistennya sudah lebih dulu mendekat ke arahnya.
"Tuan Edwin," sapa Hardwin menundukkan kepalanya.
"Ada apa?" tanya Edwin dingin.
"Maaf, Tuan. Saya ingin memberitahu jika Nyonya Gelisa Wilson menunggu di ruang kerja anda,Tuan."
Edwin mengerutkan dahinya. "Kenapa Gelisa berada di ruang kerjaku?"
"Maaf Tuan, tetapi Nyonya Gelisa memaksa untuk menunggu di ruang kerja, Tuan." jawab Hardwin menundukkan kepalanya tidak berani menatap Edwin yang terlihat sangat marah.
Edwin membuang napas kasar, "Lain kali, kau harus menghubungiku, aku tidak ingin istriku melihat." Edwin melanjutkan lagi langkahnya masuk kedalam ruang kerjanya. Kini pandangan Edwin menatap Gelisa yang tengah melihat bingkai keluarganya di atas meja kerjanya.
"Ada apa kau datang?" suara Edwin bertanya terdengar begitu dingin, dia melangkah mendekat ke arah Gelisa.
Gelisa membalikkan tubuhnya, dia menatap Edwin yang sudah berdiri di hadapannya. "Kau tidak berubah kau sudah menua, tapi kau masih terlihat sangat tampan."
"Aku tidak memiliki banyak waktu, Gelisa. Katakan ada apa? Bukannya aku sudah mengatakannya padamu jangan mendatangi kantorku, istriku sering datang kesini." tukas Edwin. Memperingati wanita yang ada di hadapannya ini.
Gelisa mengangkat bahunya, seolah ia tidak perduli dengan perkataan Edwin. "Aku rasa istrimu sudah mengetahui tentang masalah kita bukan? Jadi, tidak ada yang perlu di takutkan lagi."
Edwin membuang napas kasar, dia menajamkan matanya pada Gelisa. Namun wanita itu mengabaikan tatapan tajam Edwin. Gelisa berjalan anggun menuju kursi dan dia langsung duduk di kursi itu. "Aku rasa tidak enak, jika kita berbicara sambil berdiri?" setidaknya, kita berbicara harus sambil duduk Edwin."
Tanpa menjawab ucapan dari Gelisa. Edwin langsung duduk di kursi kerjanya. "Katakan kenapa kau kesini?"
Gelisa menyilangkan kakinya, jemarinya mengetuk pelan meja dan tatapannya menatap lekat Edwin yang duduk di hadapannya. "Kapan kau akan bertemu dengan Lucia dan juga Edgar?"
"Aku tidak tahu, Gelisa. Kau tahu kan posisiku saat ini. Aku tidak ingin melukai anak dan istriku, mengertilah!" Tukas Edwin menekankan.
Gelisa tersenyum miris. "Jika aku mengerti dirimu, lalu siapa yang mengerti ku, Edwin?"
"Kau tahu, aku telah melukai anak dan istriku. Kenyataan ini sulit di terima oleh mereka, Gelisa. Istriku tidak akan pernah menerima semua ini." kata Edwin menegaskan.
"Lalu kau pikir, aku menerima semua ini? Kau tidak tahu, seberapa menderitanya aku, Edwin. Aku tinggal di luar saat aku kabur dan menyusulmu. Tapi aku tidak bisa menemukanmu. Lalu aku mendengar kau sudah pindah dan menetap di Indonesia, kau bisa pikir? Aku seorang diri dan hamil. Laki - laki yang aku cintai bahkan hingga detik ini aku tidak pernah melupakannya. Dengan mudahnya dia menikah dan memiliki sebuah keluarga. Kenapa kau tidak mencariku, Edwin? Kenapa kau tidak berjuang mendapatkan ku?" suara Gelisa terdengar begitu lirih. Matanya mulai berkaca-kaca, dia berusaha untuk menahan air matanya agar tidak jatuh.
Edwin menghela nafas panjang. Jujur saat ini dia tega pada Gelisa. Bahkan dia tidak tahu, apa yang masa itu di lalui oleh Gelisa. jika saja Edwin tahu sejak awal Gelisa sudah hamil. Pasti ini tidak akan pernah bisa terjadi. Tapi, dia tidak bisa menyesali menikah dengan Nadia. Karena Nadia dan Devita adalah hidupnya.
Air mata Gelisa berlinang, dengan cepat Gelisa menghapus air matanya. "Aku tidak menginginkanmu kembali, Edwin. Aku hanya ingin kau bertemu dengan Lucia dan juga Edgar. Itu saja yang aku inginkan. Temui mereka, bagaimana pun mereka adalah anak - anak mu. Selama ini mereka tidak pernah melihat Ayahnya, beruntung suamiku Valdis dulu begitu menyayangi mereka. Valdis menganggap mereka sudah seperti anaknya sendiri."
Tatapan Edwin kini berubah menjadi jauh lebih lembut pada Gelisa. "Kenapa suamimu meninggal? Apa dia sakit?"
"Tidak, dia kecelakaan tiga tahun yang lalu. Mobilnya hancur terbakar." jawab Gelisa, raut wajahnya berubah menjadi muram.
"Jika kau bertanya kenapa alasanku tidak mengejarmu, itu karena aku tidak memiliki kekuatan melawan calon suamimu. Kau tahu saat itu, aku hanya karyawan departemen marketing di perusahaan kecil. Keluargamu tidak pernah memandangku." jelas Edwin yang menceritakan semua alasan dia tidak memperjuangkan Gelisa kembali.
"Aku mencoba mengerti dan memahami semuanya. Mungkin memang kita tidak di takdirkan bersama. Tapi sekarang, aku hanya memintamu untuk menemui Lucia dan Edgar. Bagaimanapun mereka adalah anakmu, Edwin." ucap Gelisa memohon.
Edwin mengangguk, "Aku akan menemui mereka."
Gelisa tersenyum. "Kau tahu, sejak kecil Lucia selalu menanyakan dirimu. Sekarang dia tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Edgar juga tumbuh menjadi pria yang sangat tampan."
"Ya, aku yakin itu. Mereka pasti tampan dan juga cantik " balas Edwin.
"Edwin, aku pernah melihat istrimu dia berwajah asia, rambutnya hitam dan kulitnya putih. Dia sangat cantik dan juga menarik." kata Gelisa memuji.
"Dia memang menarik perhatianku sejak dulu, tapi putriku Devita tidak memiliki wajah asia. Dia berambut pirang." jawab Edwin. Pikirannya kini membayangkan istri dan juga anaknya. Terutama Devita putrinya itu, memang sangat mirip dirinya.
"Aku sudah pernah melihat putrimu di majalah bisnis saat dia berfoto dengan Brayen. Dia masih sangat muda dan dia juga sangat cantik. Boleh aku tahu, alasan kenapa dia harus menikah di usia muda?" tanya Gelisa.
"Karena Devita memang sudah aku jodohkan sejak dia kecil. Alexander David Mahendra dan aku adalah sahabat baik. Saat putriku menikah, usianya sudah 20 tahun. Itu sudah cukup untuk menikah." jawab Edwin.
"Apa aku menganggu kalian?" suara bariton masuk ke dalam ruang kerja Edwin. Sementara Edwin yang tengah berbicara dengan Gelisa, dia langsung tersentak saat ada yang masuk di ruang kerjanya. Edwin menatap sosok pria yang melangkah masuk kedalam ruang kerjanya. Tidak hanya Edwin tetapi juga Gelisa kini ikut memucat saat melihat sosok pria yang melangkah mendekat ke arahnya.
"Maaf jika kedatanganku menganggu kalian. Sepertinya kalian tengah berbicara begitu serius," suara pria itu bernada rendah namun tatapannya menatap lekat Gelisa dan juga Edwin yang berada di hadapannya.
...*******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.