Love And Contract

Love And Contract
Pembelaan Brayen Dan Izin David



Laretta mengepalkan tangannya dengan kuat. Dia memejamkan mata singkat. Perkataan Ayahnya itu sungguh menyakitkan. Laretta ingin sekali membela Angkasa. Tapi berkali - kali pria itu memberikan isyarat, agar Laretta tetap diam dan tidak membantu. Sejak awal Laretta sangat yakin, Ayahnya akan membuat sebuah perkataan yang akan melukai perasaan Angkasa. Laretta terus merutuki dirinya harus lahir dari keluarga Mahendra. Ayah dan Kakaknya memang memiliki sifat yang tidak jauh berbeda.



Angkasa terdiam mendengar pertanyaan dari David. Karena memang apa yang di katakan oleh David itu benar. Jika bukan karena adanya suntikan dana mungkin hingga detik ini, perusahaannya kini sudah berada di jurang kehancuran. Angkasa masih bersikap tenang, dia sendiri masih belum mengetahui apakah David tahu, jika investor yang menyuntikkan dana di perusahaannya adalah Brayen.


Tanpa mereka sadari Brayen dan juga Devita sudah berada di depan pintu masuk. Sejak tadi Brayen sudah mendengarkan Ayahnya mengajukan pertanyaan. Dan hingga pertanyaan terakhir rupanya membuat Angkasa terdiam.


"Jika apa yang di katakan oleh Angkasa tidak terbukti atau dia melakukan langkah yang salah, maka dia akan berhadapan denganku. Aku tidak ingin memiliki adik ipar yang bodoh." suara Brayen berseru memasuki ruang keluarga bersama dengan istrinya. Semua orang di sana langsung menoleh ke arah Brayen. "Seperti yang di katakan oleh Angkasa, orang tidak akan mungkin melakukan sebuah kesalahan yang sama. Aku rasa Angkasa tidak mungkin mengantarkan dirinya kedalam jurang kehancuran."


"Sama seperti Angkasa, aku juga pernah mengalami kegagalan. Meski saat itu tidak mengakibatkan kerugian besar di perusahaan. Tapi bagiku, itu sungguh memalukan. Dan aku tidak akan pernah mengulangi. Aku belajar dari apa yang telah aku lakukan di masa lalu. Dan aku tidak akan pernah mungkin melakukan kesalahan itu untuk yang kedua kalinya." lanjut Brayen dengan tegas.


Seketika semua orang terdiam, saat Brayen mengatakan hal ini. Terutama Laretta dan juga Devita, wajah mereka begitu terkejut saat Brayen melakukan pembelaan. Devita menatap suaminya tidak percaya. Begitu pun dengan Laretta, rasanya Laretta tidak percaya dengan apa yang dia baru saja dengar ini. Bagaimana mungkin Brayen yang terkenal arrogant dan dingin mau membela Angkasa Nakamura.


David menatap putranya yang kini melangkah mendekat ke arahnya. Kemudian Brayen duduk di hadapan David dan Devita juga duduk tepat di samping suaminya.


"Kenapa kau begitu yakin pada pria ini, Brayen?" David bertanya dan terdengar begitu dingin. Tatapannya menatap lekat putranya itu.


Brayen tidak langsung menjawab, dia jauh lebih bersantai. Hingga tidak lama kemudian pelayan mengantarkan kopi untuknya. Brayen mengambil kopi yang sudah dia pesan tadi, lalu mulai menyesapnya.



"Jika Daddy bertanya padaku kenapa aku begitu yakin, jawabannya karena aku melihat diriku. Dan aku rasa semua orang pasti pernah merasa gagal. Tapi aku juga yakin, orang itu tidak akan pernah melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya." Brayen meletakkan cangkir di atas meja, dia menyandarkan punggungnya di sofa. Tatapannya masih menatap lekat David Ayahnya, yang duduk di hadapannya.


David membuang napas kasar. Perkataan putranya itu membuatnya kini terdiam. Karena apa yang di katakan Brayen itu memang benar. Orang tidak mungkin melakukan kesalahan yang pernah dia buat sebelumnya.


Kini David mengalihkan pandangannya, dan kembali menatap Angkasa. Helaan napas berat David terdengar. Rasanya dia begitu enggan untuk memberikan putrinya pada seorang pria yang telah menghancurkan masa depan putri kesayangannya itu.


"Aku tidak memiliki pilihan lain, tapi bukan berarti aku sepenuhnya telah memaafkanmu Angkasa Nakamura." suara David terdengar begitu dingin. "Baik, kau bisa menikahi putriku. Dan buktikan kalau kau itu memang pantas menjadi suami dari putriku. Jika aku tahu, kau melukai putriku, maka kau harus berhadapan denganku."


Angkasa tersenyum, saat David memberikannya izin untuk menikahi Laretta. "Terima kasih, Tuan David. Aku berjanji tidak akan pernah melukai Laretta. Dalam hidupku, aku akan selalu berusaha membahagiakan Laretta."


Mata Laretta berkaca - kaca, rasanya dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar ini. Laretta tersenyum haru. Akhirnya Ayahnya itu memberikannya izin pada Angkasa untuk menikahinya. Laretta langsung beranjak dan berlari memeluk David dengan erat. Laretta merindukan Ayahnya yang sudah lama sekali tidak dia dapatkan. Pelukkan yang begitu menenangkan hatinya di setiap masalahnya.


David pun membalas pelukan putrinya itu, dia mengusap punggung putrinya. David tahu, putrinya itu telah melakukan sebuah kesalahan. Tapi setidaknya, Angkasa masih bertanggung jawab atas kesalahan yang di perbuatnya. Rena tersenyum lega melihat suami dan juga putrinya.


"Maafkan aku, Dad." Laretta mengurai pelukannya. Dia menunduk tidak berani menatap Ayahnya.


"Terima kasih, Dad." ucap Laretta, pandangannya kini menoleh ke arah Rena, dengan cepat Laretta memeluk erat Rena. "Mommy, maaf..." isak Laretta dalam pelukan Ibunya. Air mata Laretta sudah tidak lagi tertahan ketika dalam pelukan Rena.


Rena membalas pelukan putrinya. "Jangan menangis sayang, berbahagialah. Mommy, hanya ingin melihat kau bahagia."


Devita menatap Rena, dia tersenyum bahagia melihat Laretta sudah mendapatkan restu dari kedua orang tuanya. Devita sedikit melihat ke arah Brayen, ini semua karena Brayen yang telah membela Angkasa di hadapan Ayah mertuanya. Jika bukan karena pembelaan dari Brayen, rasanya ini tidak mungkin terjadi. Devita rasanya ingin sekali memeluk suaminya. Brayen memang memiliki cara tersendiri untuk melakukan kebaikan. Dan Brayen tidak pernah ingin menunjukkan kebaikannya secara langsung. Mungkin, ini salah satu alasan Devita jatuh cinta pada suaminya.


"Devita," panggil David yang membuat Devita menghentikkan lamunannya.


"Ya, Dad?" Devita menyadari Ayah mertuanya itu memanggil dirinya.


"Bagaimana keadaanmu, sayang? Maaf, kemarin Daddy belum bisa menjenguk mu ke rumah sakit," jawab David. Saat itu, kesehatan David mulai menurun, dan tidak memungkinkan baginya untuk datang menjenguk menantunya itu.


Devita tersenyum. "Aku baik, Dad. Tidak masalah yang terpenting Daddy sehat."


"Lebih baik kalian beristirahat. Mommy harus membawa Daddy masuk kedalam untuk beristirahat. Karena kesehatan Daddy kalian belum sepenuhnya pulih." sambung Rena.


Devita mengangguk pelan, "Ya Mom, aku setuju dengan Mommy. Nanti, aku akan beristirahat."


Rena membalas dengan senyumannya, lalu dia melangkah mendekat ke arah David. Kemudian Rena membawa David berjalan meninggalkan ruangan.


...**********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.