Love And Contract

Love And Contract
Melupakan Masa Lalu



Laretta terdiam mendengar perkataan Angkasa yang begitu tegas. Kini mereka saling beradu pandang, Angkasa menyentuh tangan Laretta dan meremas pelan. Angkasa berusaha menyakinkan wanita yang duduk di sampingnya ini. Jika memang sudah tidak ada lagi yang tersisa di antara dirinya dan juga Devita.


Angkasa memang tetap menyayangi Devita tapi itu hanya karena Devita, teman masa kecilnya. Perasaan cinta Angkasa pada Devita sudah tergantikan dengan adanya Laretta di kehidupannya. Di tambah kini Laretta sedang mengandung anaknya.


"Aku juga ingin memberitahumu sesuatu." Laretta menatap ke arah Angkasa dengan memasang wajah yang serius.


"Ada apa?" Angkasa mengernyitkan keningnya.


"Sama sepertimu, aku juga memiliki cinta pertama yang tidak di takdirkan untukku," jawab Laretta. "Kau pasti terkejut. Tapi pria yang menjadi cinta pertamaku adalah Felix."


Angkasa tersentak, dia menatap Laretta tidak percaya. Tapi sebisa mungkin, Angkasa menutupinya. Angkasa lebih memilih mendengarkan perkataan Laretta sampai selesai. Meski dirinya memiliki banyak pertanyaan.


"Aku tahu kau pasti terkejut," Laretta tersenyum dan menatap wajah Angkasa. "Dulu aku sangat dekat dengan Felix. Aku mengungkapkan perasaanku kepada Felix. Tapi Felix menyayangiku sebagai sepupunya. Bukan sebagai seorang pasangan."


"Saat aku mendengar ucapan Felix, itu yang membuatku untuk pindah dan menetap ke Korea dan terkadang ke Australia. Aku memilih untuk melupakannya dan menghindar darinya selama ini. Lalu, berusaha untuk berdamai dengan kenyataan. Tapi kini, aku sangat senang melihat Felix mendapatkan wanita yang sangat baik. Aku bisa melihat Olivia adalah wanita yang tepat di hidup Felix."


"Sekarang aku memang masih menyayangi Felix, namun itu semua karena Felix adalah sepupuku. Seiring berjalannya waktu, perasaan cintaku pada Felix sudah tergantikan oleh mu."


Laretta menyentuh tangan Angkasa. Hatinya jauh lebih tenang karena mengungkapkan semuanya pada Angkasa. Laretta tidak ingin merahasiakan apapun pada pria yang akan menjadi suaminya itu.


"Kita sama - sama memiliki masa lalu, Laretta. Aku tidak akan mempermasalahkan masa lalumu. Saat ini aku ingin kita hanya memikirkan masa depan kita." kata Angkasa, dengan tatapan yang lembut pada Laretta.


Laretta mengangguk setuju. "Di masa depan aku tidak akan lagi memikirkan perasaan masa laluku. Aku hanya akan selalu memikirkanmu dan juga anak kita."


Angkasa tersenyum, lalu dia menarik pelan tangan Laretta, hingga membuat wanita itu duduk di pangkuannya. Laretta terkesiap saat Angkasa dengan mudahnya mengangkat tubuhnya.


"A-Angkasa?"


Pria itu tetap diam, kemudian Angkasa membenamkan wajahnya di dada Laretta dan memeluk erat tubuh wanita itu. Tangan kanannya mengusap dengan lembut perut Laretta yang sudah sedikit membuncit. Laretta tersenyum melihat Angkasa seperti ini. Laretta mengelus kepala Angkasa, saat Angkasa memeluk dirinya. Laretta benar - benar merasakan kenyamanan.


...***...


Sore itu, cuaca begitu cerah. Felix membawa Olivia ke taman rumah sakit. Olivia mengeluh karena merasa bosan di kamar. Akhirnya Felix menuruti keinginan Olivia untuk duduk di taman sembari menikmati angin yang berhembus terasa begitu menyejukkan.


"Felix, apa benar besok aku sudah bisa pulang?" tanya Olivia menoleh, ke arah Felix yang duduk di sampingnya.


"Ya, aku sudah boleh pulang besok." Felix merapihkan rambut Olivia yang menutupi wajahnya itu. "Nanti dokter akan datang kerumahmu setiap minggu. Brayen sudah meminta dokter yang menanganimu untuk selalu datang memeriksa keadaan mu."


Olivia tersenyum, "Brayen begitu mencintai Devita, dia melakukan apapun untuk sahabatku itu. Aku senang melihat Devita akhirnya hidup bahagia dengan pria yang mencintainya."


"Aku juga mencintaimu, Olivia. Kau adalah hidupku." kata Felix meyakinkan wanita yang berada di sampingnya.


"Kau tenang saja Felix. Aku tahu itu. Aku juga beruntung memilikimu," balas Olivia dengan yakin. Kemudian Felix tersenyum.


"Aku sangat merindukan kampus. Aku ingin segera menyelesaikan kuliahku, Felix." Olivia kembali mengingat kuliahnya yang sudah dia tinggalkan selama beberapa minggu ini.


"Apa rencanamu setelah lulus kuliah nanti, Olivia?" tanya Felix.


"Aku belum tahu, tapi aku ingin bekerja. Mungkin aku akan melamar di perusahaan Brayen atau di perusahaanmu." jawab Olivia dengan lugas.


Olivia terkekeh pelan, "Sepertinya tawaran yang sangat menarik. Fresh graduate sepertiku sudah mendapatkan gaji besar di perusahaan yang terkenal."


"Bahkan aku bisa memberikan posisi yang tinggi untukmu, Olivia. Jadi, lebih baik kau bekerja di perusahaanku saja. Sepupuku Brayen tidak pernah ramah. Kau akan sakit kepala jika bekerja dengan Brayen." Felix kembali berusaha untuk membujuk Olivia agar wanita itu mau bekerja dengan perusahaannya.


Olivia menganggukkan kepalanya seolah mempercayai Felix. "Baiklah, kalau begitu sepertinya aku akan bekerja di kantormu Felix Jordy Mahendra."


"Terima kasih," Felix menangkup pipi Olivia dan memberikan kecupan panjang di bibir kekasihnya itu.


...***...


Keesokan harinya, kini Devita dan juga Laretta sudah berada di rumah sakit. Mereka sudah menyiapkan kejutan untuk menyambut Olivia. Kemarin, saat Felix mengatakan hari ini Olivia sudah bisa pulang ke rumah. Tentu saja Devita menyambutnya dengan sangat bahagia. Beruntung, Devita memiliki adik ipar, segala persiapan menyambut Olivia di bantu oleh Laretta.


Devita juga meminta Chef Della untuk menyiapkan makanan Indonesia kesukaan Olivia. Tidak hanya makanan Indonesia, tapi beberapa Italian food dan French cuisine.


"Devita, jadi Olivia tinggal sendiri di sini?" tanya Laretta yang masih penasaran.


"Ya, Olivia tinggal sendiri karena orang tuanya tinggal di Kanada." jawab Devita.


"Aku sangat suka penataan rumah Olivia, terlihat rapi dan sangat indah," Laretta sejak tadi menatap setiap sudut rumah Olivia. Rumah Olivia memang tidak terlalu besar. Mungkin, karena Olivia yang hanya tinggal sendiri." balas Devita, kini pandangan Devita juga menatap setiap sudut ruangan.


Laretta tersenyum, "Apa kau pernah datang ke rumah Felix?"


"Belum," Devita menggelengkan kepalanya. "Aku belum pernah kerumah Felix. Memangnya ada apa dengan rumah Felix?"


"Rumah Felix bernuansa biru laut dan di padukan dengan warna navy. Hampir mirip dengan rumah Olivia." jawab Laretta. "Aku rasa Felix dan juga Olivia memang di takdirkan bersama. Di lihat dari rumah mereka, sama - sama menyukai warna biru."


Devita mengulum senyumannya, kemudian mengangguk setuju. "Kau benar, aku rasa mereka memang di takdirkan bersama."


"Oh ya, Devita, Dimana Kak Brayen?" tanya Laretta.


...**********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.