
Devita mengulas senyuman hangat di wajahnya. Dia mengangkat wajahnya dan pandangannya menatap lekat wajah Ivana. "Senang bertemu dengan anda, Nyonya Mahendra?"
"Ah begitu?" Devita terus tersenyum dengan anggun. "Mungkin kedepannya kita akan sering bertemu. Karena biasanya di setiap acara, suamiku yang selalu membawaku."
Ivana menyesap wine yang sejak tadi berada di tangannya. "Suami anda begitu mencintai anda, Nyonya. Kau sungguh beruntung."
"Ya, aku memang sungguh beruntung memiliki suamiku jawab Devita. "Apa kau sudah menikah?"
"Belum." jawab Ivana. "Aku selalu mencari pria yang pantas bersanding denganku. Sayangnya, setiap pria yang pantas bersanding denganku, pria itu selalu sudah menikah."
"Kalau begitu, kau bisa mencari pria yang belum menikah," jawab Devita dengan anggun. "Aku yakin, wanita secantik dirimu akan mudah mendapatkan pria yang hebat. Dan tidak hanya hebat, tapi pria itu masih lajang. Karena tidak baik jika berniat merusak rumah tangga seseorang bukan?" suara Devita terdengar begitu anggun namun tersirat sindiran di dalamnya.
Ivana tertawa rendah, dia kembali menyesap wine di tangannya. "Kau benar sekali Nyonya Mahendra. Sangat tidak baik, jika merusak rumah tangga seseorang. Tapi bukankah sebuah hubungan bisa berpisah? Aku rasa, aku tidak akan mempermasalahkan seorang pria yang sebelumnya pernah menikah. Karena yang aku tahu, sebuah hubungan jika tidak cocok, pasti akan berpisah."
"Aku setuju dengan apa yang kau katakan Nona Ivana Wilson. Sebuah hubungan yang tidak cocok, tentu saja akan berpisah. Tapi tidak bagiku. Di mataku, istriku terlalu sempurna. Meski kami terkadang berselisih paham, tapi aku tidak akan pernah berniat untuk meninggalkannya. Kau tahu alasannya? Karena aku tidak akan pernah terima, jika istriku yang sempurna ini akan di miliki oleh pria lain. Aku hanya menikah satu kali dalam hidupku, dan aku pastikan aku hanya memilih Devita Mahendra. Wanita yang selama ini menemani diriku. Wanita yang menerima segala kelebihan dan kekuranganku. Dan wanita yang selama ini selalu mendukungku."
"Aku rasa, perpisahan bisa terjadi jika sang pria tidak bisa menemukan sosok wanita yang tepat di hidupnya. Karena jika pria itu telah menemukan wanita yang tepat untuk menemani dirinya, seorang pria tidak akan meninggalkan pasangannya. Apapun alasannya. Seperti diriku, yang tidak akan pernah meninggalkan istriku. Di mataku, hanya ada istriku yang sempurna."
Brayen menjawab perkataan Ivana dengan tegas. Bahkan Brayen tidak membiarkan istrinya harus menjawab perkataan wanita itu.
Devita melihat ke arah Brayen, dia tersenyum hangat mendengar perkataan dari suaminya. Kemudian Devita mendekatkan bibirnya ke bibir Brayen dan berbisik. "Aku mencintaimu."
Brayen tersenyum, di menarik tengkuk leher Devita, mencium dan ******* lembut bibir ranum istrinya itu. Bibir mereka saling berpagutan di hadapan Ivana. Bahkan mereka tidak memperdulikan orang - orang yang berada di sekitar mereka. Perlahan, Brayen mulai melepaskan pangutannya. Pandangan mereka berdua kini kembali melihat ke arah Ivana.
Ivana memaksakan senyuman di wajahnya ketika melihat Brayen dan Devita yang terlihat begitu romantis. Hingga akhirnya, Ivana menjawab. "Anda sungguh suami yang sempurna, Tuan Brayen. Kalau begitu saya permisi, senang bisa melihat anda."
Ivana membalikkan tubuhnya, lalu berjalan meninggalkan Brayen dan Devita. Sebelum pergi, Ivana berpamitan kepada Felix dan Olivia terlebih dulu.
"Aku harus pulang sekarang," tukas Brayen melihat melihat ke arah Felix dan Olivia.Lalu dia menggenggam tangan Devita, berjalan meninggalkan Felix dan Olivia yang masih berada di sana.
Sudah sejak tadi, Olivia menatap kagum Brayen. Terlebih mendengar perkataan Brayen. Benar - benar sungguh mengagumkan. Olivia sama sekali tidak menyangka jika Brayen akan mengatakan hal itu pada Ivana.
"Olivia, kenapa kau melihat Brayen seperti itu!" Seru Felix dengan tatapan yang tidak suka, jika kekasihnya itu menatap Brayen dengan kagum.
Olivia mendengus kesal. "Kau ini berlebihan sekali, Felix. Aku hanya melihat Brayen saja. Aku itu sangat kagum pada sepupumu. Dia sungguh mencintai sahabatku."
"Aku juga mencintaimu, Olivia." jawab Felix menekankan.
"Tapi kau tidak pernah mengatakan seperti Brayen katakan pada calon bibit pelakor itu, apalagi terhadap wanita lain!" Olivia mencebik. "Kau saja sangat ramah pada para wanita."
"Jangan cemburu, sayang. Aku hanya mencintaimu." balas Felix sembari mengelus lembut pipi Olivia.
Olivia memutar bola matanya malas. "Aku itu bukan wanita yang mudah cemburu! Tidak sepertimu! Sudahlah kita pulang sekarang!"
Olivia meletakkan piring yang ada di genggaman tangannya ke atas meja, lalu memeluk lengan Felix dan berjalan meninggalkan tempat itu.
...***...
Devita membaringkan tubuhnya di atas ranjang, sedangkan Brayen masih berkutat pada iPad yang ada di tangannya.
"Brayen," panggil Devita.
Brayen mengalihkan pandangannya, dia langsung melihat ke arah istrinya itu. "Ada apa sayang? Kau tidurlah dulu. Aku ingin membalas email."
"Aku ingin bertanya " ucap Devita dengan raut wajah yang terlihat berbeda dari sebelumnya.
Brayen meletakkan iPad yang ada di atas nakas, lalu membaringkan tubuhnya berhadapan dengan istrinya. "Kau ingin bertanya apa, sayang?" tanyanya sambil mengelus lembut pipi Devita.
"Apa menurutmu rekan bisnismu yang bernama Ivana itu cantik?" Devita memincingkan matanya ke arah Brayen dan menunggu jawaban dari suaminya itu.
Brayen mengulum senyumannya mendengar pertanyaan dari Istrinya. "Kau ingin aku berkata jujur atau bohong?"
"Jujur! Tidak ada wanita yang suka jika di bohongi!" Tukas Devita dengan nada kesal.
Brayen menganggukan kepalanya, lalu dia menarik tangan Devita dan membawanya kedalam pelukannya. "Jika kau bertanya padaku, apa Ivana itu cantik, maka aku akan menjawab dia memang seorang wanita yang cantik."
Devita mendengus, dia mendorong dada Brayen dan hendak melepaskan pelukan suaminya itu. Namun, Brayen menahan pergerakan Devita. Brayen mengeratkan pelukannya pada istrinya yang terlihat marah mendengar ucapannya.
"Dengarkan aku dulu sayang." bisik Brayen tepat di bibir Devita. "Ivana memang cantik. Aku tidak ingin bilang kalau dia tidak cantik karena nanti kau akan mengatakan jika aku sedang berbohong padamu. Tapi, kau itu jauh lebih cantik darinya, Devita. Kau juga lebih anggun dan berkelas darinya. Bagiku, tidak akan ada wanita yang lebih cantik darimu, sayang. Kau tetap yang paling sempurna."
Devita berusaha menahan senyuman di wajahnya, "Merayu! Kau pasti hanya merayuku saja!"
Brayen menangkup kedua pipi Devita,dia memagut dengan lembut bibir istrinya itu. "Aku tidak merayu. Aku mengatakan yang sebenarnya. Kau memang Istriku yang sangat sempurna."
Devita tersenyum, mendekatkan bibirnya ke bibir suaminya dan berbisik. "Aku mencintaimu."
Mendengar pernyataan cinta dari Devita untuk yang kesekian kalinya, Brayen langsung menyambar bibir ranum istrinya. Memagut dengan lembut bibir yang menjadi candu baginya. Tidak hanya diam, Devita juga membalas pagutan suaminya.
...*********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.