
Brayen mengambil ponselnya, dia menatap ke layar dan ada pesan masuk dari 'My Little Wife'. Sejak di awal mereka menikah, Brayen memang menamai kontak Istrinya dengan My Little Wife hingga detik ini dia belum pernah mengganti nama kontak Istrinya. Padahal sekarang, istrinya itu sudah berusia 21 tahun dan juga sebentar lagi akan menjadi seorang Ibu. Tidak ingin menunggu lama Brayen langsung membuka pesan masuk dari istrinya.
My Little Wife : Brayen, hari ini aku pergi bersama dengan Mom Rena ke salon. Tadi Mommy sudah menghubungimu tapi tidak bisa. Setelah kau membaca pesanku kau bisa menghubungi Mommy jika kau ingin bertanya. Setelah dari salon aku akan berbelanja sebentar. Kau tenang saja, aku tidak mungkin lelah. Aku membawa Nagita. Dia yang akan membawakan semua barang belanjaanku. Sebelum kau pulang kantor nanti, aku pasti sudah pulang ke rumah.
Brayen tersenyum setelah membaca pesan ini, dia kembali menyimpan ponselnya kedalam saku jas. Terpenting bagi Brayen istrinya itu akan selalu merasa bahagia. Beruntung hari ini Ibunya datang. Setidaknya kedatangan Rena akan membuat Devita tidak bosan karena selalu berada di rumah.
"Albert, minta direktur pemasaran untuk mengganti meetingku sampai sore nanti. Kita pulang sekarang. Aku sedang tidak ingin ke perusahaan." tukas Brayen.
"Baik Tuan," jawab Albert.
...***...
Mobil Brayen mulai memasuki parkiran di mansionnya. Brayen turun dari mobil, dia melangkah masuk kedalam rumah.
"Tuan," sapa pelayan menundukkan kepalanya ketika melihat Brayen masuk kedalam rumah.
"Apa istriku sudah pulang?" tanya Brayen dingin.
"Sudah Tuan," Nyonya sudah berada di dalam kamar," jawab pelayan itu.
Brayen pun mengangguk samar, dia pun melanjutkan langkahnya masuk kedalam kamar. Saat Brayen masuk kedalam kamar, dia mendapati istrinya yang tertidur di sofa dengan televisi yang masih menyala. Brayen melangkah mendekat, dia langsung membopong Devita dan membaringkan istrinya ke atas ranjang.
Brayen merapihkan rambut Devita yang menutupi wajah istrinya itu. Perlahan sentuhan Brayen membuat Devita menggeliat dan mulai membuka matanya.
"Brayen? Kau sudah pulang?" sapa Devita dengan suara serak khas baru bangun tidur. Devita bangun, dia mensejajarkan tubuhnya di samping Brayen.
"Apa aku membangunkanmu?" Brayen mengelus lembut pipi Devita.
"Tidak," Devita menggelengkan kepalanya. "Tadi aku ingin menonton film drama kesukaanku. Tapi aku ketiduran, dan sekarang aku sudah tidak mengantuk lagi."
Devita mendekat, dia menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
"Kau sudah makan?" Brayen mengusap rambut Devita. "Apa tadi kau puas berbelanja? Jika kau membutuhkan sesuatu, kau bisa meminta Nagita untuk mencarikan apa saja yang kau inginkan?"
"Sudah cukup Brayen." jawab Devita. "Kau tidak melihat tagihan kartu kreditmu? Aku berbelanja sangat banyak. Harusnya kau kesal, karena hari ini aku begitu banyak menghabiskan uangmu."
Devita mendengus, dia tidak habis pikir dengan suaminya itu. Padahal dirinya berbelanja sangat banyak. Tapi Brayen bersikap biasa, bahkan meminta dirinya untuk kembali berbelanja.
"Jadi kau hari ini berbelanja banyak?" Brayen menaikkan sebelah alisnya, dia mengulum senyumannya mendengar perkataan istrinya itu.
"Iya!" Devita menjauhkan wajahnya, dia mengerutkan bibirnya. "Kau marah padaku?"
"Tidak sayang...." Brayen menarik dagu Devita, mencium dan ******* bibir istrinya itu. "Aku bekerja selama ini memang untuk membahagiakanmu. Aku tidak perduli berapa banyak yang aku habiskan untuk membuatmu bahagia. Karena tujuanku adalah melihatmu selalu merasa bahagia di sisiku."
Devita tersenyum haru, hatinya begitu menghangat mendengar perkataan Brayen. Dia sungguh beruntung memiliki suaminya yang begitu mencintai dirinya.
Hingga kemudian, tangan Devita memeluk leher Brayen, dia mendekatkan bibirnya ke bibir suaminya itu dan berbisik. "Aku mencintaimu. Aku juga mencintai caramu yang begitu mencintaiku."
Brayen menangkup kedua pipi Devita, dia memagut dengan lembut bibir Devita. Tidak hanya diam, Devita memejamkan matanya dan membalas pagutan yang di berikan oleh suaminya. Brayen meremas pinggang Devita, ketika merasakan bibir istrinya yang begitu lembut ******* bibirnya.
...***...
"Brayen? Kau yakin akan bermain badminton hari ini?" tanya Devita memastikan. Dia masih belum percaya, suaminya memilih bermain badminton dari pada harus berangkat ke kantor. Sedangkan yang Devita tahu, pekerjaan adalah bagian hidup Brayen. Suaminya itu tidak mungkin meninggalkan pekerjaan hanya karena ingin bermain badminton.
"Ya, kau juga ikut." Brayen mengambil jaket yang terletak di sofa, lalu memakai jaket itu.
"Kau mengajakku?" Devita mengerutkan keningnya. " Tapi, aku sudah lama tidak bermain badminton. Untuk kegiatan olahraga, biasanya yang hebat itu Olivia. Bukan diriku. Aku tidak terlalu hebat dalam bermain badminton. Pasti aku akan kalah darimu."
Brayen tersenyum, dia melangkah mendekat ke arah Devita. Lalu mengusap rambut panjangnya Istrinya itu. "Kau tidak perlu bermain sayang. Aku memintamu untuk melihatku melawan seseorang. Aku ingin sedikit bermain-main hari ini."
"Melawan seseorang?" ulang Devita yang semakin bingung. "Kau mau melawan siapa?"
"Nanti kau akan tahu." Brayen mengecup puncak kepala Devita. "Bersiaplah, aku menunggumu."
Devita mengangguk, dia beranjak dari tempat duduknya dan langsung menunju walk in closet untuk mengganti pakaiannya.
Terdengar suara ketukan pintu, Brayen mengalihkan pandangannya ke arah pintu lalu berjalan dan membuka pintu kamarnya.
"Tuan," sapa Albert ketika pintu terbuka, dia langsung menundukkan kepalanya di hadapan Brayen.
"Apa kau sudah memberitahu Angkasa?" tanya Brayen dingin.
"Sudah Tuan, saya sudah memberitahunya." jawab Albert.
"Kalau begitu hari ini, kita lihat apa yang dia lakukan. Hari ini aku ingin sedikit bermain-main." Brayen menyeringai puas. "Sekarang, kau turun ke bawah. Siapkan mobil dan meminta adikku untuk bersiap-siap."
"Baik Tuan," Albert menundukkan kepalanya, lalu undur diri dari hadapan Brayen.
"Brayen? Aku sudah siap." suara Devita dari dalam kamar. Brayen langsung membalikkan tubuhnya, lalu menatap istrinya yang kini sudah terbalut dari mini dress berwarna biru laut. Brayen tersenyum, melihat istrinya kini sudah terlihat berisi. Perutnya semakin membuncit dan pipinya yang terlihat tembam. Dia mata Brayen, dari hari ke hari istrinya itu terlihat semakin cantik dengan tubuh yang semakin berisi.
"Brayen? Apa ada yang datang?" Devita melangkah mendekat ke arah suaminya, dia melihat Brayen yang berdiri di ambang pintu.
"Ya," Brayen menangkup kedua pipi Devita, dia memberikan kecupan bertubi-tubi di bibir Istrinya. "Kenapa kau terlihat sangat cantik, hm?" bisik Brayen tepat di depan bibir Devita.
...*******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.