Love And Contract

Love And Contract
Peringatan Pertama Dan Terakhir



"Katakan padaku kenapa kau pergi sendirian?" tanya Brayen dingin.


"Aku bosan Brayen, aku ingin pergi berbelanja." jawab Devita. Dia tidak berani menatap Brayen karena memang ini salahnya. Brayen sudah mengatakan untuk jangan kemana - mana tapi Devita tidak mendengarkannya.


"Kau ini, menunggu sebentar saja kau tidak mau, sekarang membuat kegaduhan ponsel dan dompet hilang. Ini peringatan pertama dan terakhir Devita Mahendra. Jika kau masih tidak menurut padaku, jangan salahkan aku akan memberikan hukuman untukmu!" Peringat Brayen tajam.


Devita menelan salivanya susah payah ketika mendengar ancaman dari Brayen.


"Iya aku berjanji, tapi kau mau kan memberikan kartu kreditmu dan uang tunai kepadaku? Dompetku hilang. Kau juga harus membelikanku dompet baru untukku," kata Devita.


"Ya, sampai di hotel aku akan memberikannya. Besok kita akan berbelanja, kau bisa membeli dompet baru," balas Brayen datar.


"Dompetku sangat berharga," keluh Devita.


"Itu hanya sebuah dompet Devita! Nanti besok kita akan membeli dompet yang lebih bagus." ucap Brayen.


Devita menghela napas dalam dan berkata, "Bukan itu, tapi dompet itu pemberian dari Angkasa,"


"Jadi, dompet itu dari pria yang kau cintai yang kau katakan padaku? Bagus, jika itu hilang! Aku akan membelikanmu yang bagus dan mahal. Pantas saja dompetmu itu sangat buruk!" Tukas Brayen sarkas.


Devita mencebik kesal. "Kenapa kau menghina dompetku? Angkasa membelikannya sudah lama sekali sebelum dia pergi ke Jepang, tapi dompet itu juga bukan dompet murah, Brayen!"


"Tidak perduli! Besok kita akan membelinya dengan yang baru!" Balas Brayen dengan nada yang tidak ingin di bantah.


...***...


Mobil mereka kini sudah tiba di hotel. Brayen dan Devita berjalan masuk ke dalam hotel, tangan Devita penuh dengan barang - barang belanjaannya.


"Permisi Tuan Brayen," sapa seseorang staff hotel.


Brayen membalikkn tubuhnya dan menatap staff hotel yang menyapa dirinya. " Ya? Ada apa?" tanya Brayen.


"Maaf Tuan, ada seorang supir taksi yang mencari anda, Tuan." kata staff hotel itu.


Brayen mengangguk samar dan berkata, " Ya, aku akan menghampirinya."


Kemudian, Brayen dan Devita berjalan menuju ke arah pria yang tengah duduk di area lobby.


"Apa kau yang sudah menemukan ponsel milik Istriku?" tanya Brayen ketika dirinya kini sudah berdiri di hadapan seorang pria yang telah mencarinya.


Pria itu mengangguk dan menjawab, " Benar Tuan, saya sopir taksi yang sebelumnya menjawab telepon dari anda, Tuan."


"Dimana ponsel Istriku?" tanya Brayen.


"Ini Tuan," sopir taksi itu memberikan ponsel di tangannya pada Brayen.Kemudian Brayen langsung menyerahkan ponsel di tangannya pada Devita.


"Terima kasih," ucap Devita sambil menatap sopir taksi yang ada di hadapannya.


"Sama - sama, Nona," balas sopir taksi itu.


Brayen mengeluarkan dompetnya, dia mengambil beberaps lembar dollar yang cukup banyak dan memberikannya kepada sopir taksi itu.


"Maaf Tuan, ini terlalu banyak." kata sopir taksi itu yang merasa tidak enak.


"Itu memang untukmu, kau simpan saja," ucap Brayen.


"Tapi..."


"Terima saja, suamiku sangat kaya." potong Devita dengan cepat.


Brayen melayangkan tatapan tajamnya ketika Devita mengatakan itu.


"Terima kasih banyak, semoga Tuan dan Nona selalu di berkati oleh Tuhan. Pernikahan kalian akan abadi serta memiliki banyak anak yang cantik dan tampan seperti Tuan dan Nona," kata sopir taksi itu. Kemudian, dia berpamitan dan undur diri dari hadapan Brayen dan juga Devita.


"Amin...eh?" ucap Devita spontan, ketika sadar dia langsung menepuk mulutnya dengan telapak tangannya.


Brayen menggelengkan kepalanya melihat tingkah gila Devita. Tanpa menghiraukan Devita, Brayen lebih memilih untuk meninggalkan lobby dan masuk ke dalam lift.


Devita tersentak karena Brayen meninggalkannya. Dengan cepat Devita berlari mengejar Brayen dan berteriak, " Brayen, kau jahat sekali meninggalkan ku!"


...***...


Devita berjalan keluar dari kamar mandi dengan memakai bathrobe dan rambut yanng di lilit oleh handuk. Devita melangkah mengambil gaun tidurnya yang berada di dalam koper. Setelah mengganti pakaiannya dia langsung berjalan menuju ke arah ranjang.


Tatapan Devita teralih saat menatap ke arah Brayen yang tengah duduk di ranjang, dengan punggung yang bersandar di kepala ranjang sambil melihat Ipad. Devita menelan salivanya susah payah, ketika melihat Brayen hanya memakai celana tanpa memakai kaos.


Brayen memang suka bertelanjang dada,memperlihatkan dada bidang dan otot perut yang sempurna.


"Astaga, kenapa Brayen sangat suka sekali tidak memakai baju," batin Devita. Kemudian dengan cepat, Devita segera mengalihkan pandangannya dan langsung duduk tepat di samping Brayen.


"Brayaen," panggil Devita.


"Ya," jawab Brayen singkat tanpa melihat ke arah Devita.


"Apa kau masih marah padaku?" tanya Devita. Dia melihat dari wajah Brayen, terlihat dari wjahnya jika suaminya itu masih marah dengannya.


"Menurutmu?" tanya Brayen balik, masih melihat ke arah Ipad. Dia sama sekali tidak melihat ke arah Devita. Meski Brayen tahu, Devita terus menatap dirinya.


"Menurutku, kau masih marah padaku." jawab Devita dengan senyuman lebar dan memperlihatkan gigi putihnya. Brayen lebih mememilih untuk diam dan berkutat dengan Ipad yang ada di tangannya.


Devita mendengus kesal, "Brayen aku sungguh minta maaf, karena sudah banyak menyusahkanmu. Aku berjanji akan menurutimu. Aku juga berjanji tidak akn membuat ulah lagi. Aku berjanji Brayen. Maafkan aku ya, ya,"


Brayen mengalihkan pandanganya lalu melihat ke arah Devita. " Baik. Kali ini, aku memaafkanmu. Tapi tidak untuk yang kedua kalinya. Aku tidak ingin kau menyusahkanku lagi. Atau kau akan tahu akibatnya, jika tidak mau menurut padaku!" Desis Brayen.


"Kau tenang saja. Aku tidak akan mengulanginya," balas Devita dengan tersenyum. " Tapi besok, kita jadi pergi berbelanja kan?"


David membuang napas kasar, " Ya, besok kita pergi berbelanja,"


"Yeay! Terima kasih Brayen." Seru Devita. Dia langsung mencium pipi kanan dan kiri Brayen. Kemudian dia langsung membaringkan tubuhnya di ranjang. Tanpa Devita sadari, tingkahnya tadi membuat Brayen menarik sudut bibirnya membentuk senyuman.


Perlahan, Brayen mendengar suara napas halus dan teratur milik Devita. Ternyata Istri kecilnya kini sudah tertidur pulas. Dia pun membaringkan tubuhnya dan meletakkan Ipad di atas nakas. Kemudian mulai memejamkan matanya.


...****...


Pagi hari Devita sudah bersiap - siap. Hari ini, dia dan Brayen sudah bersiap - bersiap untuk pergi berbelanja. Tentu saja Devita sangat senang. Tidak mungkin ada wanita yang tidak senang jika pergi berbelanja.


"Selesai."Devita memoles lipstik warna merah. Sejak menikah, penampilan Devita terlihat jauh lebih dewasa. Seperti saat ini,Devita lebih memilih memakai mini skirt dengan atasan bermodel one off shoulder.


"Brayen apa kau..." ucapan Devita terpotong, melihat penampilan Brayen hari ini. Devita memang harus mengakui suaminya itu begitu tampan. Dengan hanya memakai celana jeans dan leather jacket membuat Brayen sangat tampan. Tubuh tegap, dada bidang dan otot yang tercetak begitu sempurna. Devita tidak henti menatap Brayen.


"Devita?" tegur Brayen.


"Ah iya." Devita langsung menghentikkan lamunannya. Devita mengumpat di dalam hati, kenapa dia bisa melihat Brayen seperti itu. Sungguh, benar - benar memalukkan. Beruntung Brayen sepertinya tidak menyadarinya, karena ini akan mempermalaukkan dirinya. Pria itu akan mengira jika dia menyukainya.


...****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.