Love And Contract

Love And Contract
Ikut Meeting



Hari ini Devita harus menemani suaminya meeting dengan Ivana Wilson. Sebenarnya Devita tidak mengerti kenapa wanita itu sangat menginginkan untuk bertemu dengan Brayen. Padahal kerja sama dengan Mahendra Enterprise dan juga Wilson Grup, cukup di wakilkan dengan Albert ataupun Felix tetap bisa berjalan.


Sepanjang perjalanan, Devita hanya melihat keluar jendela. Sedangkan Brayen fokus untuk menyetir mobil. Dia dalam mobil suasana hening tercipta. Tidak ada yang lebih dulu memulai percakapan. Sesekali Devita melirik ke arah Brayen yang sedang menyetir.


"Brayen?" panggil Devita. Tatapannya masih melihat ke arah suaminya.


"Ya, sayang?" Brayen menjawab, dia melihat sebentar ke arah Devita lalu kembali menatap ke depan.


"Nanti kalau Mr. Lee dan Mr. Nicholas bertanya tentang bisnis denganku, bagaimana? Kau tahu, aku sudah lama tidak melihat laporan tentang perusahaan keluargaku," kata Devita yang merasa sedikit takut. Sejak saat Devita tahu, jika dirinya itu sedang mengandung, dirinya memang sudah tidak lagi mengurus perusahaan keluarganya. Karena semuanya sudah Brayen yang mengurusnya. Bukan tidak ingin, tapi Brayen sudah melarang dirinya. Brayen tidak ingin, jika istrinya itu terlalu banyak memikirkan pekerjaan yang akan membebani pikirannya.


"Aku tahu, kau pasti bisa menjawab semua pertanyaan dengan baik. Terakhir kali, saat kau meeting dengan mereka, kau mampu menjawab segala pertanyaan mereka dengan baik. Dan aku yakin, sekarang pun kau tetap mampu menjawab segala pertanyaan yang nantinya akan mereka tanyakan padamu."


Devita mendesah pelan. "Tapi, dulu itu aku membaca beberapa laporan tentang perusahaan keluargaku. Tapi sekarang, aku tidak pernah lagi membaca laporan perusahaan keluargaku."


"Kau tidak perlu cemas sayang, Brayen menyentuh tangan Devita, meremasnya pelan. "Aku akan selalu berada di sisimu."


...***...


Mobil Brayen kini memasuki lobby perusahaan. Brayen dan Devita turun dari mobil dan melangkah masuk kedalam perusahaan. Para Karyawan yang melihat Brayen dan juga Devita langsung menundukkan kepala mereka dan langsung menyapa Brayen dan juga Devita. Tentu Devita membalas mereka dengan senyuman yang hangat. Sedangkan Brayen hanya dengan anggukan singkat. Kini, Brayen menggenggam tangan Devita masuk kedalam lift pribadinya.


Ting.


Pintu lift terbuka, Brayen dan juga Devita melangkah keluar dari dalam lift. Saat Brayen dan juga Devita melangkah keluar, Albert sudah berdiri di hadapan mereka. Albert langsung menundukkan kepalanya di hadapan Brayen dan juga Devita.


"Selamat pagi, Tuan Nyonya." sapa Albert.


Devita tersenyum. "Pagi Albert."


"Meeting sudah mulai?" tanya Brayen dingin.


"Belum Tuan. Meeting belum di mulai. Mereka sedang menunggu, anda Tuan." jawab Albert.


Brayen menganguk singkat. Dia menggenggam tangan Devita melangkah masuk kedalam ruang meeting. Albert berjalan tepat di depan Brayen dan juga Devita.


"Maaf sudah membuat kalian menunggu." tukas Brayen dingin, saat masuk kedalam ruangan meeting. Dia langsung duduk di kursi kepemimpinan dan Devita duduk di sampingnya.


"Nyonya Devita, apa kabar?" sapa Nicholas saat melihat Devita.


Devita tersenyum hangat. "Aku baik bagaimana dengan anda, Tuan Nicholas?"


"Aku juga baik. Suatu kehormatan Nyonya Devita bisa ikut dalam meeting hari ini," balas Nicholas.


"Lama tidak bertemu Nyonya Devita. Selamat atas kehamilan anda Nyonya. Maaf, aku baru mengucapkan selamat." kata Mr. Lee yang duduk tidak terlalu jauh dari Devita.


"Terima kasih, Mr. Lee." jawab Devita dengan senyuman hangat di wajahnya. "Tidak perlu meminta maaf, Mr. Lee aku memahami kesibukkan anda."


"Tuan Brayen, hari ini anda membawa istri anda?" suara Ivan bertanya dengan nada yang anggun, tatapannya tidak lepas menatap Devita.


"Ya istriku adalah pewaris Smith Company. Dia berhak mengetahui perkembangan perusahaan keluarganya." jawab Brayen dingin.


"Selain itu, aku ingin menunjukkan kepada Istriku, dengan siapa aku bertemu setiap harinya. Karena nantinya, istriku berhak melarangku untuk bertemu dengan siapa yang istriku tidak sukai."


Seketika wajah Ivana menegang, mendengar perkataan Brayen. Terlihat jelas bahwa Ivana berusaha untuk tetap tenang dan mengatur napasnya. Mendengar ucapan dari Brayen membuat Ivana tidak mampu lagi berkata - kata. Namun, sebisa mungkin Ivana tidak menunjukkannya.


Devita mengangkat wajahnya, lalu dia menjawab perkataan Brayen, "Jika istri anda juga melarang anda untuk bertemu dengan seseorang yang dapat menguntungkan perusahaan anda, apa anda akan tetap menuruti keinginannya?"


"Istriku pasti memiliki alasan tersendiri melarangku untuk bertemu dengan orang yang di larang bertemu denganku. Dan keuntungan yang kau maksud, sepertinya Nona Ivana Wilson sangat mengetahui, kehilangan beberapa proyek tidak akan membuat Mahendra Enterprise bangkrut. Seharusnya, ketika kau bekerja sama dengan Mahendra Enterprise, kau harus sangat mengetahui profil dari perusahaan Mahendra Enterprise."


Brayen mengatakannya dengan tegas tatapannya menatap dingin Ivana yang duduk di hadapannya. Sedangkan Devita tersenyum puas, mendengar suaminya berkata seperti itu.


"Nona Ivana Wilson, aku tentu akan menjadi orang yang bijaksana. Aku tidak mungkin langsung meminta suamiku tidak bertemu dengan orang yang tidak di sukai. Aku pastikan, aku memiliki alasan yang tersendiri jika meminta suamiku tidak menemui orang yang tidak aku sukai itu."


Devita mengatakannya dengan suara yang anggun. Dia tetap mempertahankan senyuman hangat di wajahnya. Namun tersirat dengan penuh sindiran.


...***...


Sepanjang meeting berlangsung, Devita terus menatap suaminya yang membahas kerja sama perusahaan suaminya dengan perusahaan milik Ivana Wilson. Bahkan Devita bisa melihat saat, ketika Ivana mengulas senyuman di wajahnya saat Brayen sedang memimpin meeting itu. Dan Devita membiarkannya. Dia sengaja membiarkan wanita itu puas menatap suaminya.


Selain itu, Devita juga begitu beruntung. Karena selama meeting berlangsung, dia mampu menjawab semua pertanyaan dari Mr. Lee dan Mr. Nicholas. Walau Devita sedikit tidak percaya diri, karena sudah lama Devita tidak menyentuh tentang bisnis keluarganya. Namun, kenyataannya dia mampu menjawab dengan sempurna. Dan terlihat jelas wajah ketidaksukaan Ivana. Dan Devita merasa puas, dia bisa menunjukkan pada wanita itu jika dirinya juga memiliki kemampuan.


"Untuk meeting selanjutnya, aku harap tidak memerlukan aku yang harus datang. Albert, atau direktur pemasaran di perusahaanku bisa mewakilkanku di meeting ini. Dan untuk proses selanjutnya, asistennkut yang akan memberikan perjanjian kerja sama pada kalian." Brayen menutup perjanjian kerja sama yang sejak dia bahas.


"Baik Tuan Brayen, aku rasa sudah cukup jelas. Pembangunan hotel yang akan kita bahas, sudah memiliki perencanaan yang matang." balas Mr. Nicholas


"Apa anda masih memiliki pertanyaan Nona Ivana Wilson?" tanya Brayen dingin. Tatapannya, menatap Ivana yang sedang duduk di hadapannya.


"Tidak aku sudah mengerti." jawab Ivana.


"Maaf, Nyonya Devita bolehkah saya bertanya sekali lagi?" kata Mr. Lee yang duduk tidak jauh dari Devita


Devita mengulas senyuman hangat di wajahnya. "Silahkan Mr. Lee apa yang ingin anda tanyakan?"


"Apa Nyonya Devita, tidak ingin memimpin Smith Company. Mengingat anda adalah anak tunggal. Dan Tuan Brayen, di sibukkan dengan Mahendra Enterprise?" ujar Mr. Lee dengan tatapan, menatap lekat Devita.


"Aku berencana untuk memimpin perusahaan keluargaku. Tapi tidak untuk saat ini. Mungkin, setelah anakku berusia lima tahu, aku akan memimpin perusahaan keluargaku. Dan tentu, jika suamiku itu memperbolehkan aku untuk bekerja." jawab Devita dengan suara yang anggun.


"Banyak wanita yang memilih untuk bersantai karena memiliki suami yang hebat. Kenapa anda memilih harus bekerja? Tidak banyak wanita yang memiliki pemikiran yang mandiri. Biasanya, wanita yang sudah terbiasa menikmati harta suaminya, wanita itu cenderung enggan untuk bekerja." kini Ivana mengambil alih pertanyaan Mr. Lee Tatapan Ivana menatap lekat manik mata Devita.


"Aku rasa, kau pun sudah tahu jawaban yang kau tanyakan itu Nona Ivana Wilson. Bukankah, setiap wanita bukan hanya harus menjaga penampilannya saja? Wanita juga harus memiliki kecerdasan dalam pengetahuan dan juga dalam dunia pekerjaan. Kau tentu tahu, seorang anak bisa tumbuh dengan baik, jika seorang ibu bisa mampu mengajarkan banyak hal pada anaknya, Tidak hanya itu, wanita itu juga harus tetap cerdas dalam dunia pekerjaan. Karena kita, tidak akan pernah tahu, apa yang akan terjadi di masa depan. Jika suamimu, membutuhkan bantuanmu kau tentu harus membantunya bukan? Tidak mungkin kau hanya diam saja."


"Dan seharusnya, tanpa kau bertanya padaku. Kau tentu sudah tahu jawabannya. Mengingat kau itu adalah pemimpin dari Wilson Grup. Sosok wanita yang tangguh dan hebat sepertimu, sangat tahu jawabannya dari apa yang barusan kau tanyakan. Kecuali, jika tujuanmu adalah untuk menguji kemampuanku dalam menjawab pertanyaan. Karena jika tujuanmu hanya untuk menguji kemampuanku, maka kau harus bersiap, dengan jawaban yang aku berikan padamu. Seperti saat ini, jawabanku membuatmu terdiam dan tidak mampu berkata-kata. Benar begitu, Nona Ivana Wilson?"


Seketika perkataan Devita, sukses membuat semua orang yang ada di ruangan meeting itu terdiam, bahkan Devita melihat dengan jelas wajah Ivana menahan amarahnya. Ya, tidak mungkin seorang Ivana Wilson bertindak seperti orang tidak berpendidikan. Devita tentu tahu, Ivana akan lebih memilih melakukan cara anggun untuk melawan setiap orang yang wanita itu tidak sukai. Dan Devita melirik sekilas ke arah Ivana yang sedang menatap dingin dirinya.


"Aku menyukai cara anda berpikir Nyonya Devita. Tidak hanya cara anda berpikir, tapi dari cara anda menjawab begitu mengagumkan." balas Mr. Lee dengan tatapan kagum ke arah Devita. "Tidak heran, jika Tuan Alexander David Mahendra, memilh anda menjadi menantunya. Karena wanita yang seperti anda yang paling tepat bersanding dengan Tuan Brayen."


Devita tersenyum hangat. "Terima kasih, Mr.Lee."


Sedangkan Brayen, dia duduk dengan menyilangkan kaki. Senyum di bibir Brayen terukir ketika mendengar jawaban Devita, yang sangat anggun, berkelas dan mengagumkan. Brayen sangat bangga memiliki Devita sebagai istrinya.


...*********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.