Love And Contract

Love And Contract
Prioritas Utamaku



Devita tidak menjawab, dia beranjak dari tempat duduknya itu, lalu langsung melangkah ke arah Brayen lalu duduk di pangkuan suaminya itu. Dia mengelus lembut rahang Brayen, dan berbisik tepat di bibir Brayen. "Terima kasih sayang, terima kasih karena sudah memasak untukku. Bagiku, melihat suamiku memasak itu lebih indah dari pada harus makan malam romantis di luar."


Brayen tersenyum, dia langsung menahan tengkuk leher Devita mencium dan ******* lembut bibir istrinya itu. "Kehamilanmu ini selalu mengerjaiku sayang. Aku bahkan tidak pernah memasak dalam hidupku. Tapi aku memasak hanya demi dirimu dan juga anakku."


Devita memeluk leher Brayen, dia membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya. "Berada di pelukanmu adalah hal yang ternyaman dalam. hidupku. Aku tidak pernah merasakan kenyamanan yang seperti ini di dalam hidupku. Aku selalu menyukai diriku dalam pelukanmu." Brayen mengeratkan pelukannya, lalu dia mengelus punggung Devita. "Aku juga tidak pernah merasakan kenyamanan yang seperti ini dalam hidupku. Aku selalu menyukai diriku dalam pelukanmu."


Brayen mengeratkan pelukannya, lalu dia mengelus punggung Devita. "Aku juga tidak pernah merasakan kenyamanan yang seperti ini dalam hidupku. Aku hanya merasa nyaman ketika berada di dekatmu.


Devita mendongak dari dalam pelukan Brayen, dia memberikan kecupan di rahang suaminya. "Kau tahu, aku tidak pernah menyangka saat aku lulus kuliah, aku tengah mengandung. Dulu, aku sering membahas ini dengan Olivia. Aku itu tidak pernah berniat untuk menikah muda. Aku selalu ingin membangun bisnisku sendiri. Tapi sejak aku sudah menjadi seorang istri, segalanya sudah berubah. Prioritas ku adalah anak dan juga suamiku. Bukan tidak memikirkan masa depan, ataupun karirku. Aku juga ingin memikirkan karirku, tapi mungkin setelah aku melahirkan dan anak kita sudah sedikit besar, aku baru akan memikirkan karirku."


"Aku akan mendukungmu sayang, tadi saat aku melihatmu maju ke depan. Sebagai salah satu mahasiswi dengan lulusan yang terbaik, membuat aku sungguh menyadari aku memiliki istri yang begitu sempurna. Dan aku memang membutuhkan wanita yang cerdas untuk mendidik anak - anakku." Brayen mengelus dengan lembut pipi Devita. "Aku tidak akan menghalangi karirmu setelah kau melahirkan nanti. Tapi, aku tetap tidak bisa membebaskanmu begitu saja, sayang. Kau harus selalu mengingat prioritas utamamu. Aku tidak menginginkan kau yang terlalu fokus dengan karirmu sehingga melupakan pertumbuhan dari anak - anak kita."


Devita tersenyum, dia menempelkan hidungnya ke hidung Brayen dan menggeseknya pelan. "Kau dan anak - anak kita adalah prioritas utamaku, sayang. Jika kau tidak memperbolehkanku maka aku tidak akan bekerja. Kau sudah mencukupi ku dengan segalanya. Aku pun tidak menginginkan apapun lagi. Kau dan anak-anak kita akan tetap menjadi prioritas utamaku."


Brayen menarik dagu Devita, atau mencium dan ******* bibir ranum istrinya itu. "Aku akan tetap mendukung impianmu. Kau masih muda. Aku ingin kau merasakan bagaimana rasanya memimpin sebuah perusahaan. Aku akan memintamu untuk berhenti bekerja, jika suatu saat aku melihat anak - anak kita merasakan kesepian."


Devita mengeratkan pelukannya, ketika mendengar ucapan dari Brayen. Dia tidak hentinya bersyukur memiliki suami yang mengerti dirinya. Brayen membebaskan dirinya untuk tetap mewujudkan impiannya. Ya, jika dulu Devita ingin membangun perusahaannya sendiri, kini dia mengubah semuanya. Alasannya, karena Devita ingin membantu Brayen. Devita selama ini selalu melihat Brayen terlalu sibuk mengurus dua perusahaan sekaligus. Namun, meski demikian bagi Devita tetap prioritas utamanya adalah anak dan juga suaminya.


"Bulan depan, aku memiliki meeting dengan Ivana dan beberapa rekan bisnisku yang lain." Brayen menyelipkan rambut Devita ke belakang daun telinga istrinya itu. "Aku ingin nanti kau ikut denganku. Aku ingin memperkenalkanmu pada seluruh rekan bisnisku. Selain itu, aku juga ingin kau bisa melihat ketika aku sedang membahas beberapa pekerjaan dengan rekan bisnisku. Kau juga bisa belajar dari sana, ketika rekan bisnisku memberikanmu saran. Kau juga bisa belajar, ketika mereka berpendapat tentang bisnis."


Devita terdiam sesaat ketika mendengar ucapan dari Brayen. Terlihat jelas dari wajah Devita yang tampak ragu. Pasalnya dia sudah lama tidak membahas tentang pekerjaan. Dulu Devita pertama kali meeting dengan rekan bisnis Ayahnya, tapi itu sudah lama. Dan Devita tidak yakin pada dirinya akan bisa mengerti.


"Kenapa diam, hm?" Brayen mengelus lembut pipi Devita, dia menatap lekat manik mata istrinya yang terlihat ragu. "Tidak usah takut, sayang, karena aku selalu berada di sisimu."


Devita mendesah pelan. "Aku senang kau memperkenalkanku pada rekan bisnismu. Terutama rekan bisnis wanita! Aku senang, karena aku ingin mengingatkan padanya, kalau kau adalah seorang pria yang sudah beristri dan sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah!" Tukas Devita dengan nada yang menekankan di akhir kalimatnya. Sedangkan Brayen hanya mengulum senyumannya mendengar ucapan Istrinya itu.


"Tapi, selain itu aku takut, aku tidak mengerti dengan apa yang akan kau dan rekan bisnismu bicarakan nanti!" Devita mencebikkan bibirnya. "Bagaimana nanti, kalau aku tidak mengerti tentang apapun? Nantinya aku hanya membuatmu malu saja!"


Brayen mengeratkan pelukannya. Dia memberikan kecupan di seluruh wajah istrinya. "Kau tidak pernah membuatku malu, sayang.Aku itu selalu bangga memilikimu. Kau tidak perlu merasa takut, karena mereka yang akan takut berhadapan denganmu. Kau harus selalu mengingat, kalau kau adalah Devita Mahendra. Tidak akan ada orang yang berani merendahkanmu. Tidak akan ada orang yang berani menghinamu. Tidak akan ada orang yang berani menyentuhmu. Karena jika mereka berani, aku akan menjadi orang yang pertama yang akan melenyapkan mereka karena telah berani melukai istriku."


"Sekarang, yang lebih baik adalah kau makan Bouillabaisse yang telah aku buat. Pasti sup itu sudah dingin." kata Brayen yang mengingat jika istrinya itu belum memakan masakannya.


"Suapi aku, aku tidak ingin makan sendiri." Devita memeluk erat leher Brayen.


Brayen mengusap punggung istrinya, lalu ia mengambil sendok dan menyuapi Bouillabaisse ke mulut istrinya. Sejak Devita hamil, Brayen sudah tidak heran lagi melihat tingkah manja istrinya. Brayen menyukai segala sifat kekanakan istrinya. Dia merasakan sangat di butuhkan ketika istrinya itu selalu bersikap seperti anak kecil. Walau terkadang, Brayen itu sering kesal dengan permintaan istrinya yang meminta dirinya untuk selalu memasak. Namun, meski demikian Brayen selalu menuruti segala keinginan istrinya.


Setelah selesai makan, Devita mulai merasakan kantuk. Brayen tersenyum melihat Devita yang mulai mengantuk. Brayen beranjak dari tempat duduknya dan membopong Devita gaya bridal menuju ke kamar.


Devita membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya. Hamil, membuat Devita lebih mudah mengantuk. Terlebih, jika sudah selesai makan, Devita pasti sering merasa mengantuk. Itu yang sering membuat berat badannya mudah bertambah. Tapi, Brayen tidak pernah mempermasalahkan berat badannya yang bertambah. Karena memang di mata Brayen, Devita itu selalu cantik meski tubuhnya itu selalu mengalami perubahan.


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.