
Edgar melompat turun dari mobil, dia melangkah cepat masuk kedalam rumah. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Ibu dan juga adiknya itu. Para pelayan yang menyapa dirinya, dia abaikan. Bahkan Edgar memasang wajah datar dan tidak merespon apapun.
"Mommmy..!" suara Edgar memanggil cukup keras saat masuk kedalam rumah. Dia sudah melihat Ibu dan adiknya sedang membicarakan sesuatu. Edgar melangkah mendekat ke arah Gelisa dan juga Lucia.
"Ada apa Edgar?" tanya Gelisa saat melihat putranya itu sudah berdiri di hadapannya.
"Apa yang Mommy rencanakan? Kenapa Mommy menipu keluarga Edwin Smith? Sebenarnya apa tujuanmu?" tanya Edgar yang menatap lekat ke arah Gelisa.
Gelisa beranjak dari tempat duduknya, dia membalas tatapan putranya itu. " Jangan ikut campur urusan Mommy Edgar!" Tukas Gelisa dingin.
"Bagaimana aku bisa diam saja, ketika kalian sudah membuat kekacauan? Apa kau tahu, Brayen Adams Mahendra sudah membeli saham perusahaan kita sepuluh persen. Dan tidak menutup kemungkinan Brayen memiliki rencana untuk mengakuisisi perusahaan kita. Aku yakin, itu semua karena ulahmu, Mom! Hentikan kegilaanmu ini atau kita akan kehilangan segalanya! Aku sudah berjuang untuk membesarkan perusahaan ini! Aku tidak ingin kalian menghancurkan apa yang telah aku bangun!" Seru Edgar meninggikan suaranya. Dia mengepalkan sebelah tangannya berusaha mengendalikan amarahnya.
"Son, tenanglah. Mommy bahkan belum bergerak sedikitpun. Mommy masih membiarkan mereka menikmati kebahagiaan mereka. Kau tenang saja, Sayang. Mommy tahu apa yang Mommy lakukan. Dan Mommy pastikan mereka tidak akan menghancurkan perusahaan yang telah kau bangun." ujar Gelisa dengan seringai di wajahnya. Dia menepuk pelan rahang Edgar, dengan cepat Edgar memalingkan wajahnya saat Gelisa menepuk rahangnya.
"Aku sudah memberikan peringatan padamu, Mom! Jangan pernah melakukan sebuah kebodohan! Kau tahu, siapa yang kau lawan itu, Mom? Demi Tuhan, aku akan mencegah semua rencanamu!" Sentak Edgar menyalang dengan penuh emosi. Rasanya dia sudah tidak sanggup lagi menahan amarahnya.
"Edgar! Apa - apaan kau membentak Mommy! Kenapa kau membela orang lain!" Bentak Lucia tidak terima saat Edgar membentak Gelisa. Bagaimana pun Lucia tidak akan pernah membiarkan ada orang yang membentak Ibunya. Meski orang itu adalah saudaranya sendiri. Dia tidak perduli, karena yang Lucia tahu, Gelisa adalah sosok Ibu yang sangat sempurna.
"Kau diam Lucia! Kau sekarang bisa bicara seperti ini! Kau ingat tagihan mu bulan lalu? Kau menghabiskan uang tiga ratus dollar untuk hal yang tidak penting! Sekarang kau pikirkan jika kemewahan yang kau miliki itu lenyap dari kehidupanmu! Apa yang akan kau lakukan Lucia! Masihkah kau berteriak padaku dan membela Mommy? Pikirkan itu Lucia Wilson!" Edgar membentak balik Lucia hingga membuat wanita itu terdiam dan tidak mampu berkata-kata.
"Hentikan! Kenapa kalian berdua bertengkar, hanya karena urusan Mommy! Kalian tidak perlu ikut campur!" Sentak Gelisa menggeram menahan emosinya.
"Aku tidak ikut campur? Bagaimana aku hanya diam, jika Mommy memiliki niat buruk? Aku tidak akan pernah tinggal diam! Lebih baik besok, kita kembali ke Australia! Tinggalkan negara ini! Aku tidak ingin kita menginjakkan kaki lagi di Indonesia. Sudah cukup Mommy membuatku malu dengan menipu Edwin Smith! Beruntung Edwin Smith tidak memperpanjang ini ke kantor polisi! Jika sampai itu terjadi saham kita akan hancur, Mom. Hancur!!" Suara Edgar meninggi tersirat penuh dengan kemarahan.
Gelisa menajamkan matanya pada Edgar yang berdiri di hadapannya. " Kau bahkan tidak tahu apa yang telah Mommy lewati hingga berada di titik ini! Kau pikir Mommy begitu beruntung hingga berada di titik ini! Menikah dengan Valdis Wilson, hingga kau dan juga Lucia bisa memiliki kehidupan yang sangat baik bukan hal mudah Edgar!"
Gelisa tersenyum sinis. " Sebelum tawa kebahagiaan kau dan Lucia ada karena sebelumnya Mommy harus merasakan tangis penderitaan karena Edwin Smith. Sekarang kau lihat, putri dari Edwin Smith hidup bahagia? Dan Mommy tidak akan pernah membiarkan itu terjadi! Semua harus ada harganya Edgar! Yang Mommy tahu, air mata penderitaan harus di bayar dengan air mata penderitaan."
Edgar memejamkan matanya, rahangnya mengetat, dia mengepalkan tangannya dengan kuat. Bahkan dia tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menghentikan kegilaan Ibunya.
"Katakan padaku, apa alasanmu bisa begitu membenci keluarga Edwin Smith!" Geram Edgar.
"Kau akan tahu, tapi tidak hari ini. Karena di detik kau tahu, maka kau akan mengetahui segala perjuangan Mommy hingga berada di sini." tukas Gelisa tegas.
Edgar membuang napas kasar,dia menajamkan pandangannya pada Ibunya. "Lakukan apa yang Mommy ingin lakukan. Tapi ingat, Mom. Setiap Mommy bertindak, maka aku tidak akan pernah membiarkan Mommy mencapai tujuanmu. Mommy boleh membenciku, tapi aku melakukan ini sebagai seorang anak yang tidak ingin Ibunya terluka lebih dalam lagi dan hancur. Kau mungkin tidak menceritakan tentang masa lalumu. Tapi percayalah, meskipun aku tidak tahu apapun. Aku akan tetap berjuang untuk menghentikan kegilaanmu itu!"
Edgar membalikkan tubuhnya, dia berjalan cepat meninggalkan Gelisa dan juga Lucia. Sedangkan Gelisa, dia terdiam mendengar perkataan dari Edgar. Air mata Gelisa terus berlinang membasahi pipinya. Lucia memeluk Gelisa, saat ini Lucia bisa melihat ibunya begitu terluka.
Air mata Gelisa terus berlinang membasahi pipinya, dia menoleh dan menatap lirih Lucia "Apa kau tidak akan pernah menyalahkan Mommy seperti yang Edgar lakukan?"
"Tidak Mom. Aku juga tidak akan pernah menyalahkan Mommy. Aku percaya dengan Mommy. Tentu saja aku akan selalu mendukung apapun yang Mommy lakukan." Lucia menghapus air mata Gelisa yang terus berlinang.
"Mommy belum bisa menceritakan saat ini. tapi Mommy berjanji akan menceritakan semuanya padamu, Lucia. Sampai kapanpun, Mommy tidak hanya tinggal diam. Mereka harus mendapatkan apa yang telah Mommy rasakan." tukas Gelisa dengan tatapan penuh kebencian.
"Kalau begitu, apa rencana Mommy pada Edwin Smith? Kapan Mommy akan menjalankan rencananya?" tanya Gelisa yang sudah tidak sabar.
Gelisa tersenyum sinis, dia menghapus cepat air matanya. " Tenang sayang, semua akan tepat waktu. Tidak lama lagi mereka akan merasakan bagaimana rasanya kehilangan seorang anak yang sangat mereka cintai itu."
"Tapi bagaimana dengan Brayen Adams Mahendra? Dia tidak mungkin diam saja, bukan?" tanya Lucia lagi, karena dia sangat tahu Brayen tidak mungkin hanya diam.
Gelisa mengelus dengan lembut rambut indah putrinya. " Kau tidak tahu kabar dari Mahendra Enterprise? Tunggu, hingga beberapa hari lagi sayang. Karena semuanya Mommy telah rencanakan begitu sempurna. Brayen Adams Mahendra terlalu sombong. Mommy juga ingin memberikan pelajaran untuk pria arrogant itu."
Lucia mengernyitkan dahinya, menatap bingung dan tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh Ibunya itu. " Maksud Mommy apa? Tidak mungkin Mahendra Enterprise bisa Mommy hancurkan. Karena kita pasti akan sangat sulit untuk melawan perusahaan milik Brayen."
"No sayang, Mommy tidak berniat untuk menghancurkan perusahaannya. Karena Mommy tahu itu tidak mungkin bisa Mommy lakukan. Tapi Mommy memiliki cara yang lain. Dan kau akan tahu itu nanti sayang." balas Gelisa dengan sering di wajahnya.
"Tapi aku masih berharap, jika Brayen menjadi milikku." Lucia mengerutkan bibirnya, dia berharap apa yang dia inginkan terjadi.
"Tentu saja, sayang. Apa yang kau inginkan itu akan menjadi milikmu. Kau itu putri Mommy yang sangat sempurna." Gelisa mengelus dengan lembut pipi putrinya.
...******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.