
"Apa kau sudah menyelesaikan masalah perusahaanmu?" tanya Laretta, saat Angkasa sudah duduk di sampingnya.
"Hanya beberapa saja, nanti akan selesai," jawab Angkasa.
Kini Laretta menatap lekat wajah Angkasa. "Kau terlihat lelah? Lebih baik kau beristirahat. Aku akan meminta pelayan untuk menyiapkan kamar tam-"
Ucapan Laretta terpotong, saat Angkasa menarik tangannya dan membawanya kedalam pelukannya. "Nanti saja, biarkan seperti ini. Aku ingin berada di dekatmu seperti ini, Laretta." Angkasa mengecup puncak kepala Laretta. Dia membawa tangannya mengusap lembut perut Laretta yang sudah membuncit itu.
Laretta mendongak dari dalam pelukan Angkasa. "Apa kau sedang dalam masalah Angkasa? Aku lihat wajahmu sepertinya tengah memikirkan sesuatu."
"Laretta," panggil Angkasa dengan tatapan yang serius.
"Ya?"
"Apa kau mempercayaiku?" tanya Angkasa serius.
"Kenapa kau bertanya seperti itu? Tentu aku percaya padamu, Angkasa." jawab Laretta heran.
"Aku hanya ingin kau terus di sampingku. Meski banyak halangan di hubungan kita, tapi aku ingin kau tetap berada di sampingku." Angkasa mengelus lembut pipi Laretta. "Apa kau bisa melakukan itu?"
Laretta tersenyum. "Aku akan selalu berada di sisimu, Angkasa. Aku tidak perduli dengan masalah yang menghampiri kita, aku percaya kita akan melewati semua ini."
"Terima kasih," Angkasa mengeratkan pelukannya, dia mengecupi puncak kepala Laretta. Hatinya begitu tenang mendengar ucapan Laretta, kini Angkasa telah menyadari posisi Devita yang ada di hatinya sudah terganti sepenuhnya oleh wanita yang berada dalam pelukannya ini.
...***...
Devita mengambil ponselnya yang berada di atas nakas, menatap ke layar tidak ada satupun telepon dari Brayen. Tidak ingin menunggu, Devita ingin menghubungi suaminya lebih dulu.
"Brayen?" sapa Devita saat panggilannya terhubung. Akhirnya setelah mencoba menghubunginya selama tiga kali, Brayen kini menjawabnya.
"Sayang, maaf tadi aku sedang membaca kontrak kerjasama," jawab Brayen dari sebrang telepon.
"Kapan kau pulang Brayen? Aku ingin kau cepat pulang? Aku tidak bisa tidur sendiri lagi! Aku ingin kau pulang!" Devita terus merajuk dan mengerutkan bibirnya.
Brayen tersenyum dari balik teleponnya, "Aku akan menyelesaikan pekerjaanku lebih awal sayang?"
"Tapi kapan? Apa kau tahu, anakmu ini sudah memintamu untuk pulang! Tidak hanya itu tapi anakmu meminta Daddy-nya memasak untuk Mommy - nya!" Devita mendengus kesal.
Brayen tertawa dari balik telepon, kali ini dia tidak bisa lagi menahan tawanya. "Jadi anak kita sudah meminta Daddy untuk memasak? Katakan padanya sayang, minta Chef Della. Daddy mampu membayar Chef yang termahal."
"Tidak Brayen! Anak kita itu minta dirimu! Memangnya anak dari Ayah ini Chef Della?" seru Devita kesal.
Helaan nafas kasar Brayen terdengar dari balik telepon. "Devita, aku akan berusaha untuk pulang lebih awal. Hanya ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan. Dan aku berharap bisa segera selesai."
"Baiklah, tapi aku tidak ingin kau lama. Aku sudah tidak betah tidur sendirian di ranjang besar ini!" Keluh Devita.
"Ya sudah, aku ingin berendam dulu. Besok kau harus menghubungiku. Meski kau sibuk, kau tetap harus menghubungiku! Ingat Brayen, aku tetap harus menjadi prioritas nomor satumu! Jadi walaupun kau sibuk, kau harus tetap memberikan kabar padaku. Jika tidak jangan harap ketika pulang nanti, aku itu mau tidur denganmu. Aku tidak akan memperbolehkanmu tidur denganku! Dan kau akan tidur di kamar tamu!"
"Allright, ancamanmu kali ini mampu membuatku tidak bisa berkutik. Aku tidak bisa jika harus tidur di kamar tamu. Itu sama saja kau membunuh suamimu sendiri, Devita!"
"Rasakan! Mangkanya kau harus tetap memberi kabar padaku!"
Brayen mengulum senyumannya. "Iya sayang, aku akan memberikan kabar padamu."
"Baiklah, aku harus tutup dulu. Aku ingin berendam."
"Ya, ingat kau harus minum vitamin dan jaga kesehatanmu. Jangan membebanimu dengan pikiran berat."
"Aku mengerti Brayen. Terpenting sekarang kau cepat pulang."
"Ya Mrs. Mahendra, aku akan segera pulang."
Panggilan terputus, Devita tersenyum senang bisa mendengar suara dari suaminya. Devita meletakkan kembali ponselnya yang berada di atas nakas, lalu berjalan menuju ke arah kamar mandi. Suasana hatinya begitu senang, mendengar suara suaminya benar - benar sedikit mengobati rasa rindunya.
...***...
Olivia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, kini dia mulai membelokkan mobilnya masuk kedalam halaman parkir rumah Devita. Olivia turun dari mobil. Dia langsung berjalan masuk kedalam rumah sahabatnya itu.
Olivia tersenyum ramah. "Pagi, apa Devita sudah bangun?"
"Nyonya Devita sepertinya masih berada di dalam kamar. Apa Nona Olivia, ingin saya panggilkan Nyonya Devita?" tawar pelayan itu.
"Tidak usah, aku ke ruang makan saja.Nanti Devita akan turun." jawab Olivia.
"Baik Nona. Kalau begitu saya permisi," pamit pelayan itu, lalu dia undur diri dari hadapan Olivia.
Olivia melanjutkan langkahnya menuju ke arah ruang makan. Olivia memang sengaja tidak membangunkan Devita, dia memilih untuk menunggu Devita hingga turun ke bawah.
"Olivia?" Laretta sedikit terkejut, melihat Olivia sudah berada di ambang pintu.
Tatapan Olivia menatap Laretta dan Angkasa yang tengah berada di meja makan. "Hi Laretta, Hi Angkasa," Olivia mendekat, dia menyeret kursi dan duduk di hadapan Laretta.
"Hi Olivia, ingin bertemu dengan Devita?" balas Angkasa.
"Iya, tapi aku rasa ibu hamil itu masih tertidur pulas," Olivia mencibir.
Laretta terkekeh. "Aku juga ibu hamil, Olivia."
"Kau berbeda Laretta. Kalau Devita itu ibu hamil khusus yang malas untuk bangun pagi." dengus Olivia.
Laretta menggeleng pelan dan tersenyum. "Sudah, lebih baik kau itu ikut kita sarapan. Sebentar lagi Devita juga akan turun ke bawah."
"Kau benar, aku juga sudah lapar." balas Olivia. Dia langsung mengambil sandwich tuna dan susu kacang.
"Laretta, apa Brayen dan juga Felix menghubungimu?" tanya Olivia sambil menikmati sarapannya.
"Sudah, kemarin Kak Brayen dan Felix sama - sama menghubungiku." jawab Laretta.
Olivia membuang napas kasar. "Kenapa Felix tidak menghubungiku? Menyebalkan sekali!"
"Mungkin Felix sedang sibuk, Olivia. Banyak masalah yang harus di tangani oleh Kak Brayen dan juga Felix." balas Laretta yang berusaha menenangkan Olivia.
"Laretta, aku harus segera pergi ke kantor sekarang." pamit Angkasa. Dia beranjak dari tempat duduknya dan mengecup kening Laretta.
"Hati - hati Angkasa," balas Laretta.
"Olivia, aku duluan." pamit Angkasa pada Olivia.
Olivia mengangguk. "Ya Angkasa, hati - hati selamat bekerja."
Angkasa membalikkan tubuhnya, lalu berjalan meninggalkan Laretta dan Olivia yang masih menikmati sarapan mereka.
"Apa setiap pagi Angkasa selalu datang kesini? Romantis sekali Angkasa itu." kata Olivia ketika Angkasa sudah berjalan meninggalkan mereka.
"Tidak Olivia, kemarin Angkasa menginap di sini. Jadi dia bisa sarapan dengan kita karena dia menginap di sini." jawab Laretta.
Olivia mengerjap. "Eh? Menginap di sini?"
...***********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.