
Kini Felix sudah berada di depan mansion Olivia, setelah makan siang Felix langsung mengantarkan Olivia pulang. Awalnya Olivia menolak karena Olivia selalu membawa mobil. Tapi seperti biasa Felix langsung meminta sopirnya mengantarkan mobil Olivia.
"Felix, lebih baik kau pulang. Jangan masuk ke rumahku. Ayahku sangat galak." tukas Olivia, ia sengaja menakuti Felix.
Felix terkekeh pelan. " Aku tahu orang tuamu itu tinggal di Kanada. Kau di sini bersama dengan pelayan. Lalu, siapa yang kau maksud akan memarahiku, Olivia?"
"CK! Bagaimana kau bisa tau kalau aku tidak tinggal dengan orang tauaku? Apa Devita yang sudah memberitahumu?" seru Olivia kesal.
"Aku sudah katakan padamu, Olivia. Aku tahu semua tentangmu. Jadi, kau tidak perlu lagi menutupi sesuatu atau bersusah payah membohongiku. Karena itu semua percuma. Aku sudah menyelidiki tentang dirimu," ujar Felix dengan penuh kemenangan. Ia memang sudah mencari tahu tentang, Olivia. Jadi, percuma jika Olivia berbohong padanya. Ia pasti dengan cepat akan mengetahuinya.
"Kau ini sungguh penguntit, Felix!" Tukas Olivia.
"Pecinta bukannya penguntit," koreksi Felix. Ia mengulum senyumannya, melihat wajah Olivia terlihat begitu menggemaskan.
"Terserahlah, Felix. Lebih baik kau pulang. Jangan menggangguku, kau bisa menganggu wanita lain. Aku ini tidak tepat untukmu. Aku ini masih kekanak-kanakan." seru Olivia.
"Aku suka dengan gadis yang kekanakan. Itu terlihat begitu menggemaskan." jawab Felix santai.
"Ini berbeda, kau hanya bertahan pada gadis kekanakan ini hanya sebentar. Carilah wanita yang lebih dewasa Felix. Aku juga tidak menjalin hubungan dengan siapapun." ujar Olivia. Ia tidak ingin Felix membuang waktu, mengejar waktu yang tidak pasti. Karena hingga detik ini Olivia memang belum pernah menjalin suatu hubungan.
"Jika kau tidak ingin menjalin suatu hubungan, aku akan menunggunya. Aku sudah tahu, kalau kau dan Devita akan lulus kuliah sebentar lagi. Itu artinya kau akan menjadi wanita yang dewasa," jelas Felix.
Olivia membuang napas kasar. " Terserah kau! Aku ingin beristirahat. Jadi, kau jangan menggangguku!" Tukas Olivia.
"Baiklah, kau bisa beristirahat. Aku akan menemuimu besok," balas Felix.
Olivia mendengus kesal. Ia tidak menjawab. Dengan cepat Olivia langsung masuk kedalam rumah.
...***...
Devita sudah tiba di mansion, ia turun dari mobil dan melangkah masuk kedalam rumah. Devita melirik arlojinya, kini sudah pukul tiga sore.
"Selamat sore, Nyonya." sapa seorang pelayan, saat melihat Devita masuk ke dalam rumah.
"Sore, aku minta tolong buatkan aku pasta dengan salmon. Antarkan ke gazebo, aku ingin di sana." ucap Devita.
"Baik, Nyonya." jawab pelayan itu.
"Oh ya, dimana Laretta? Apa dia masih di studio lukis?" tanya Devita.
"Nona Laretta sekarang berada di kamar Nyonya. Apa Nyonya ingin saya panggilkan Nona Laretta?" tanya pelayan itu.
"Kau lihat dulu sedang apa Laretta? Kalau dia sedang tidur jangan bangunkan dia. Tapi, jika dia sedang bersantai katakan padanya aku di gazebo." ujar Devita.
"Baik, Nyonya. Saya akan menyampaikannya," jawab pelayan itu.
"Terima kasih," Devita berjalan menuju ke arah gazebo, ia ingin bersantai dan menikmati cuaca yang cerah.
Angin berhembus, Devita kini tengah menikmati desiran angin yang terasa begitu sejuk. Belakangan ini, Devita jarang menghabiskan waktu bersama dengan Brayen. Setelah pulang dari berbulan madu, Brayen di sibukkan dengan pekerjaannya dan masalah Laretta. Devita berharap, masalah Laretta akan cepat selesai.Devita ingin segera melihat, Angkasa menikah dengan Laretta.
Terdengar dering ponsel, membuat Devita menghentikkan lamunannya. Devita mengambil ponselnya di dalam tas, ia melihat ke layar tertera nama Olivia, Devita yakin Olivia akan marah - marah padanya karena Devita meninggalkan Olivia berdua dengan Felix.
"Ya Vi," jawab Devita saat panggilannya terhubung.
"Devita Mahendra! Apa kau ini sudah gila! Kenapa kau meninggalkanku berdua dengan Felix! Aku tahu kau ini sengaja!" Teriak Olivia dari sebrang telepon. Devita pun langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya.
"Olivia, kenapa kau ini seperti sedang di hutan! Telingaku sampai sakit karena mendengar teriakanmu itu!" Seru Devita.
"Maaf, tapi kenapa kau meninggalkan aku bersama dengan Felix!" Ucap Olivia ketus.
"Kalian harus saling mengenal, lagi pula apa salahnya, jika kau makan siang dengan Felix," jawab Devita.
"Devita, aku tidak suka jika kau seperti ini! Jangan lakukan itu lagi!" Dengus Olivia.
"Aku lapar Olivia. Kita bahas besok. See you." Devita langsung menutup panggilan teleponnya.
Devita sengaja menutup panggilan teleponnya. Jika dia tidak menutup teleponnya sekarang, pasti Olivia akan kembali menggerutu. Padahal Devita yakin, Olivia pasti juga menyukai Felix. Olivia selalu menyukai pria tampan dan Felix, tidak hanya tampan dia juga memiliki masa depan yang baik.
"Maaf permisi, Nyonya." ucap Ruby yang baru saja tiba. Ia membawakan makanan yang di pesan oleh Devita.
"Ruby, kenapa kau yang mengantarkan makananku?" tanya Devita ia sedikit terkejut, karena Ruby yang mengantarkan makanannya. Harusnya pelayan yang mengantarkan makanan untuk Devita yang tadi sudah di pesan oleh Devita.
"Maaf Nyonya, ini dari pelayan. Saya juga membuat cake untuk Nyonya. Mungkin, Nyonya ingin mencobanya," ujar Ruby. Ia meletakkan makanan yang ia bawa di atas meja.
Devita tersenyum. "Terima kasih, aku pasti akan mencobanya."
"Sama - sama, Nyonya. Apa ada lagi yang Nyonya butuhkan?" tawar Ruby.
"Maaf Nyonya, saya tidak mungkin berani duduk di samping Nyonya." jawab Ruby.
"Aku yang memintanya,Ruby. Duduklah di sampingku dan temani aku makan." perintah Devita.
Ruby mengangguk, dan ia duduk tepat di samping Devita.
"Selama aku bekerja di sini, aku belum bertanya banyak tentangmu, Ruby. Berapa usiamu?" tanya Devita.
"Saya sudah 26 tahun, Nyonya." jawab Ruby.
"Apa kau sudah menikah?"
"Belum Nyonya." jawab Ruby.
"Kau sudah lama tinggal di kota B?"
"Saya baru Nyonya. Sebelumnya saya tinggal di Italia."
"Oh ya? Kau tinggal di Italia? Brayen juga dulu tinggal di Italia. Tapi, saat dia di jodohkan denganku, dia pindah ke Indonesia."
"Jadi, Nyonya dan Tuan dulu di jodohkan?" tanya Ruby hati - hati.
Devita mengangguk, "Ya, awalnya kami tidak saling mencintai. Tapi akhirnya kami saling jatuh cinta."
"Nyonya sangat cantik dan juga baik. Saya rasa tidak mungkin, jika Tuan tidak jatuh cinta pada Nyonya." ujar Ruby.
"Kau terlalu berlebihan, aku tidak seperti itu Ruby." balas Devita.
"Hem, Ruby. Ini kue buatanmu?" tanya Devita, kini ia mencoba kue buatan Ruby yang tadi di bawakan olehnya.
"Iya Nyonya. Ini chocolate buatan saya." jawab Devita.
"Ini sungguh enak, apa kau tidak keberatan untuk membuat cake untukku lagi?".
"Tidak Nyonya, tentu saja tidak. Saya pasti senang membuat cake untuk Nyonya."
"Great, besok kau buatkan aku cheesecake dan chocolate cake. Aku sangat menyukai cake buatanmu."
"Baik Nyonya, saya sungguh senang jika Nyonya sangat menyukai cake buatan saya."
Laretta melangkah menuju ke gazebo, ia menatap Devita yang sedang makan. Ia langsung berjalan mendekat ke arah Devita.
"Devita, sepertinya kau sedang menikmati kuemu." ucap Laretta, kemudian ia duduk di samping Devita.
"Nona Laretta," sapa Ruby.
Laretta tersenyum. "Hai, Ruby."
"Laretta, ini cobalah kue buatan Ruby. Ini sangat enak," Devita menyerahkan chocolate cake pada Laretta.
"Sangat enak. Ini benar - benar enak." ucap Laretta, saat ia mencoba chocolate cake nya.
"Kau benar - benar hebat Ruby. Cake buatanmu ini sangat enak," puji Laretta.
"Terima kasih Nona." balas Ruby.
"Maaf Nyonya Devita dan Nona Laretta. Saya harus kembali untuk mengerjakan pekerjaan saya." ucap Ruby.
"Ya Ruby, terima kasih telah menemaniku " balas Devita.
Ruby menunduk lalu ia undur diri meninggalkan Devita dan juga Laretta.
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.