
"Aku senang kau sudah memaafkan Veronica." Devita menyadarkan kepalanya di bahu Brayen.
"Ya, tidak perlu ada lagi yang di permasalahkan. Karena memang semuanya hanya masa lalu," Brayen mengecup kening Devita.
"Hem, Brayen aku ingin mengatakan sesuatu padamu," Devita mendongak dan dia menatap Brayen.
"Ada apa?" Brayen mengelus lembut pipi Devita.
"Jika aku berlibur berdua saja dengan Olivia apakah kau akan mengijinkan?" tanya Devita yang begitu takut.
"Tidak," tegas Brayen.
Devita mengerutkan bibirnya. " Saat aku belum menikah orang tuaku banyak melarangku. Sekarang saat aku menikah kau sama saja dengan orang tuaku.
"Devita membuang napas kasar. " Devita, bukannya aku tidak memberimu izin. Tapi kau tahu, kau ini seorang istri. Bagaimana kau bisa meninggalkan suamimu berhari - hari karena berlibur dengan temanmu?"
Devita mendengus, " Aku tidak sering Brayen, lagi pula itu termasuk mengurangi rasa bosanku."
"Brayen, ayolah jangan pelit. Aku tidak akan pulang lama. Aku hanya ingin jalan - jalan dengan Olivia." Devita berusaha membujuk suaminya itu.
"Apa kau tahu, aku tidak bisa tidur tenang. Jika kau tidak berada di sampingku. Aku sudah terbiasa tidur bersama dengan istriku,"
Devita mengalungkan tangannya di leher Brayen. Mendekatkan bibirnya ke bibir Brayen. Mengecup dengan lembut bibir suaminya, "I know, tapi aku berjanji tidak akan pulang lama. Aku mohon izinkan aku,"
"Katakan padaku, memangnya kau mau kemana?" tanya Brayen dingin.
"Aku belum menentukannya. Tapi aku dan Olivia berencana berlibur bersama saat kita lulus kuliah," jawab Devita.
"Aku akan memberimu izin, jika kau mau mendengarkan persyaratan dariku," Brayen mengecup hidung Devita gemas.
"Katakan apa persyaratannya?" Devita. tersenyum mendengar suaminya memberikan izin padanya.
"Ruby akan ikut bersamamu. Lalu kau harus berangkat dengan pesawat pribadi milikku. Akan ada beberapa pengawal yang akan mengikutimu, tapi pengawal ku akan menjagamu dari kejauhan," ujar Brayen.
"Apa tidak bisa tanpa pengawal?" tanya Devita kesal. Dia tidak suka jika harus bersama dengan pengawal.
"Tidak," jawab Brayen tegas.
Devita mendengus, "Ya baiklah, kau boleh minta pengawalmu untuk mengikutiku,"
"Good girl, aku hanya ingin memastikan keselamatanmu."
Devita memutar bola matanya malas. Brayen tidak ada bedanya dengan Ayahnya yang selalu overprotektif.
"Hem, Brayen beberapa menit lagi kita akan sampai di bandara?"
"Sekitar tiga puluh menit lagi?"
"Brayen, aku mengantuk aku mau tidur, jika sudah tiba di bandara, kau bangunkan aku," Devita menguap, dia sungguh ingin tidur.
Brayen mengangguk lalu menarik tangan Devita masuk ke dalam pelukannya. "Tidurlah, masih ada waktu."
"Aku mengantuk sekali," gumam Devita. Perlahan dia mulai memejamkan matanya. Tidur di dalam pelukan suaminya memang sangat nyaman.
Brayen menggeleng pelan dan tersenyum. Devita memang suka sekali tidur. Bahkan di dalam mobil saja, Devita bisa tertidur dengan pulas. Jika seperti ini ketika sampai di bandara Brayen tidak mungkin membangunkannya.
Sekitar sepuluh menit kemudian, ponsel milik Brayen berdering. Brayen melihat ke arah layar ponselnya ternyata Albert yang menghubunginya. Brayen melirik ke arah Istrinya yang masih tertidur pulas. Beruntung Devita tidak mudah terbangun jika ada suara. Kemudian Brayen mengusap tombol hijau untuk menerima panggilan, sebelum kemudian meletakkan ke telinganya.
"Ya?" jawab Brayen menurunkan suaranya saat panggilan terhubung. Dia tidak ingin membangunkan istri kecilnya.
"Tuan, maaf saya menganggu. Tapi ada hal penting yang harus saya katakan, Tuan," ujar Albert gugup dari sebrang telepon.
Brayen mengerutkan dahinya. "Ada apa? Apa Mr. Lee memaksa untuk bertemu denganku? Kau bisa mengatakan dua hari lagi dia bisa bertemu denganku?"
"Bukan Tuan, ini bukan karena Mr. Lee."
"Katakan sekarang, ada apa Albert?"
"Tuan besar David masuk ke rumah sakit, Tuan."
Brayen tersentak. "Apa? Kenapa Ayahku masuk ke rumah sakit?"
"Ada masalah, Tuan. Tapi saya tidak mungkin menceritakan langsung pada Tuan. Lebih baik anda langsung mendengar dari Nyonya besar Rena,"
"Apa yang membuat Daddyku sampai masuk ke rumah sakit? Ada masalah apa Albert?" Brayen bertanya dengan nada yang mendesak.
"****! Apa yang di lakukan anak kecil itu lagi!" Geram Brayen
"Maafkan saya, Tuan. Lebih baik besok saat Tuan sudah tiba di bandara, anda langsung ke rumah sakit saja. Saya tidak mungkin memberitahu anda melalui telepon." ujar Albert.
Brayen membuang napas kasar, "Besok, aku akan langsung ke rumah sakit, tahan adikku. Aku akan bertanya padanya langsung apa yang sudah di lakukannya hingga membuat Daddyku terkena serangan jantung,"
"Baik Tuan,"
Brayen memutuskan sambungan teleponnya kini pikirannya tertuju pada masalah keluarganya. Apa yang di lakukan adiknya hingga membuat David, Ayahnya harus terkena serangan jantung.
Brayen berusaha menenangkan diri. Dia melirik ke arah Devita yang masih tertidur pulas. Beruntung suaranya tadi tidak membangunkan Devita.
...***...
Brayen dan Devita sudah tiba di bandara, mau tidak mau Brayen harus membopong Devita. Brayen melirik ke arah Istrinya yang masih tertidur lelap. Akhirnya Brayen turun dari mobil kemudian Brayen membopong Devita masuk kedalam.
Brayen sudah tahu, jika Devita sudah tidur pulas suara apapun tidak akan membangunkan Devita. Terkadang Brayen geram, bahkan tidak satu kali Brayen mengatakan Devita jika sudah tertidur sama seperti orang yang tidak akan bangun lagi.
Beberapa paparazi memotret Brayen dan Devita saat mereka berjalan masuk kedalam. Brayen sudah terbiasa dengan paparazi yang diam - diam mengambil fotonya. Terlebih jika mengambil foto dirinya tengah bersama Devita, Brayen tidak akan keberatan sama sekali. Bahkan dirinya senang.
Brayen kini masuk kedalam pesawat. Brayen langsung membawa Devita menuju kamar pribadinya di dalam pesawatnya. Brayen membaringkan Devita di atas ranjang, lalu ia merapihkan rambut Devita yang menutupi wajah cantik Devita.
Brayen mengecup dengan lembut kening Devita, dan tersenyum melihat Istrinya yang masih tertidur pulas. Bahkan tubuhnya sudah di pindahkan saja, tetap Istri kecilnya itu tidak merasakan apapun. Brayen membantu Devita melepaskan sepatunya kemudahan Brayen berjalan ke luar dari kamar.
Brayen duduk di dekat jendela, dia meminta pramugari mengantarkan wine untuk dirinya. Pikirannya kini tertuju pada keluarganya yang ada di kota B. Entah apa yang dilakukan adiknya hingga membuat David terkena serangan jantung.
Tidak lama kemudian pilot memberikan instruksi jika pesawat akan take off. Brayen melihat keluar jendela, dirinya sudah tidak sabar untuk segera tiba di kota B.
Tiga puluh menit kemudian, Devita mulai membuka matanya, menggeliat dan menguap. Saat dia membuka matanya, dia terkejut saat dirinya sudah berada di dalam kamar. Dia sudah mengenal kamar ini, kamar pribadi milik suaminya di dalam pesawat.
"Brayen, kenapa tadi kamu tidak membangunkanku!" Gerutu Devita.
Devita beranjak dari ranjang dan mengikat rambutnya asal dan berjalan keluar untuk menemui Brayen. Saat Devita hendak keluar, seorang pramugari cantik sudah menundukkan kepalanya saat melihat Devita.
"Good Afternoon, Mrs. Mahendra," sapa seorang pramugari.
"Ya, good afternoon," balas Devita dengan senyuman ramah di wajahnya.
"Mrs. Mahendra. Would you like to drink?" tanya pramugari itu dengan sopan.
"Hem, ya. Give me apple juice and ice cream chocolate." jawab Devita.
"Sure, wait a moment,"
"Thanks," lalu Devita meninggalkan pramugari itu, dia ingin segera menemui Brayen.
Saat Devita berjalan mendekat ke arah Brayen, seperti biasa suaminya sedang menikmati minumannya. Devita mendekat lalu duduk di hadapan Brayen. "Brayen, kenapa kamu tidak membangunkanku?"
"Kau tidur sangat pulas. Tidak mungkin aku membangunkanmu," jawab Brayen dingin.
mendengar nada suara Brayen yang terdengar berbeda dari biasanya Devita mengerutkan keningnya. "Ada apa Brayen? Apa terjadi sesuatu?"
"Tidak,"
"Brayen aku mengenalmu dengan baik. Kau terlihat begitu marah. Katakan padaku ada apa?" tanya Devita yang terus menatap Brayen.
"Daddyku masuk ke rumah sakit, dia terkena serangan jantung," jawab Brayen sontak membuat Devita terkejut.
"Daddy David masuk ke rumah sakit? Bagaimana keadaannya?" tanya Devita yang cemas dan panik.
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.