
Devita dan Laretta melangkah menuruni tangga menuju ruang makan setelah menonton film, mereka langsung menuju ke ruang makan. Perut mereka sudah mulai lapar di tambah dengan keduanya yang tengah mengandung. Devita juga sudah meminta Chef Della untuk menyiapkan menu Thailand food.
Saat Devita dan juga Laretta sudah tiba di ruang makan, Devita menatap berbagai tom yom food dan seafood lainnya dengan bumbu khusus Thailand. Tanpa menunggu lama, Devita dan Laretta langsung duduk menikmati makanan mereka.
"Devita, apa hari ini kau akan seharian ke rumah?" tanya Laretta sambil menikmati makanannya.
"Aku tidak tahu," jawab Devita. "Aku awalnya hanya ingin di rumah, kondisiku juga sudah jauh lain lebih baik. Tapi aku merasa bosan. Mungkin kalau aku masih bosan, aku akan main ke kantor Brayen."
Laretta mengagguk. "Aku juga ingin main ke kantor Angkasa, tapi mungkin besok. Aku ingin menghabiskan hari ini di studio lukis."
"Tadi Angkasa datang bukan? Kenapa kau membiarkannya pulang? Harusnya dia menemanimu saja hari ini untuk melukis," ujar Devita.
"Hari ini Angkasa ada meeting dengan perusahaan asal Dubai. Aku tidak mungkin menahannya untuk tetap di sini," balas Laretta.
Devita menghela nafas dalam. "Pria tidak pernah lepas dari pekerjaannya. Baik Angkasa, Brayen dan juga Felix, selalu saja memetingkan pekerjaan mereka."
"Devita, aku ingat apa kata Felix. Dia itu selalu beralasan bekerja keras karena tagihan Olivia sangat banyak. Mungkin Kak Brayen juga seperti itu." Laretta terkekeh kecil.
Devita mencebik. "Kau ini yang benar saja! Aku itu tidak seboros Brayen. Pengeluaran ku setiap bulan juga tidak sebanyak Brayen."
"Kalau itu jangan di tanya Devita. Kakakku itu memang tidak pernah memikirkan uang yang sudah dia keluarkan." Laretta mengulum senyumannya. "Kau tenang saja, Kakakku itu memang tidak pernah puas dengan apa yang dia dapatkan. Kak Brayen selalu memiliki ambisi yang tinggi dalam bisnisnya."
"Ya, aku tahu itu. Dan dengan terpaksa aku harus selalu mengerti Brayen," balas Devita dengan helaan nafas berat.
Laretta tersenyum, "Dulu, waktu Kakakku berulang tahun-" seketika ucapan Laretta menggantung. Laretta terkejut saat mengingat sesuatu. Devita mengerutkan keningnya menatap bingung ke arah Laretta.
"Astaga Devita, aku melupakan sesuatu." suara Laretta berseru. Dia langsung meletakkan sendoknya dan menatap Devita dengan serius.
"Ada apa Laretta?" kening Devita berkerut dalam, dia tidak mengerti kenapa wajah Laretta berubah menjadi panik.
"Devita, apa kau ingat? Dua hari lagi Kak Brayen ulang tahun?" seru Laretta dengan wajah yang panik.
"Ulang tahun?" Devita menautkan alisnya. "Memangnya Brayen ulang tahun bulan ini? Bukannya masih bulan depan?"
Laretta mendengus, "Aku tidak mungkin lupa ulang tahun Kakakku sendiri, Devita?"
"Sebentar, aku memiliki foto paspor Brayen di ponselku. Aku akan melihatnya." Devita mengambil ponselnya yang ada di atas meja, dia kemudian membuka gallery ponselnya. Mencari poto paspor milik Brayen. Devita memang sengaja memiliki poto paspor miliknya dan milik Brayen. Berjaga - jaga, ketika dirinya berlibur, paspornya tertinggal atau hilang.
Saat Devita menatap poto paspor Brayen, raut wajah Devita juga berubah. "Laretta kau benar, Brayen benar dua hari lagi! Dan aku belum mempersiapkan apapun."
"Kau tenang saja, Devita. Kita masih memiliki waktu untuk mempersiapkannya," jawab Laretta antusias. "Aku akan membantumu dan meminta Felix juga datang."
"Terima kasih, Laretta." Devita bernapas lega, setidaknya Laretta mau membantu dirinya.
"Hem, tapi Laretta? Hadiah apa yang
harus aku berikan kepada Brayen?" tanya Devita yang kini memikirkan hadiah yang tepat untuk suaminya itu.
"Devita, apa saja yang kau belikan untuk Kak Brayen, dia pasti akan menyukainya." jawab Laretta.
"Kalau begitu, hari ini aku akan pergi ke mall." seru Devita. "Apa kau akan ikut Laretta?"
"Devita, bukannya aku tidak ingin ikut. Tapi nanti, kalau aku ikut tidak ada yang mempersiapkan ulang tahun untuk Kak Brayen." balas Laretta.
Laretta mengangguk. "Ya, aku juga ingin mempersiapkan semuanya."
Kemudian Devita berjalan meninggalkan ruang makan menuju kamar. Devita mengeluarkan ponselnya sebentar, dan mengirimkan pesan pada Olivia untuk menemaninya ke mall. Setelah mengirimkan pesan, Devita langsung bersiap - siap. Beruntung Laretta mengingatkan ulang tahun Brayen, jika tidak Devita pasti akan sangat malu, karena sudah salah mengingat tanggal ulang tahun milik Brayen.
...***...
Waktu sudah menunjukkan dua siang, kini Devita sudah tiba di mall, dia melangkah masuk kedalam lobby. Pandangan Devita mencari Olivia yang katanya sudah lebih dulu tiba. Namun, saat Devita menatap setiap sudut area lobby, dia masih belum juga menemukan Olivia.
"Devita, suara Olivia sedikit berteriak dari arah belakang. Olivia pun mengulum senyumannya, ketika melihat Devita yang seperti mencari dirinya.
Devita membalikkan tubuhnya ketika ada yang memanggilnya. "Kau ini darimana saja! Katanya kau sudah tiba dari tadi!"
"Salahkan saja dirimu, kenapa kau itu lama sekali? Aku tadi habis mencari snack. Aku itu sudah sangat lapar." ujar Olivia.
Devita mendengus, "Kau ini mudahnya sekali laparnya. Apa kau masih ingin makan sekarang?"
Olivia tersenyum lebar. "Tidak Devita, aku sudah kenyang."
"Ya sudah, sekarang bantu aku memilih untuk membelikan hadiah bagi Brayen. Dua hari lagi Brayen ulang tahun, dan aku tidak tahu harus membelikan apa?" ujar Devita.
Olivia langsung memeluk lengan Devita. "Mungkin, kau bisa membeli sesuatu yang Brayen sukai."
Devita memikirkan sejenak, seketika dia tahu apa yang akan dia beli. "Aku sudah tahu, Brayen sangat menyukai jam tangan. Aku akan membelikannya."
"Oke let's go." seru Olivia sambil memeluk lengan Devita menuju ke toko jam yang biasa Devita datangi.
Devita dan Olivia memasuki toko jam, sejak tadi Olivia terus menatap jam tangan mewah yang terpanjang. Olivia menelan salivanya susah payah, ketika melihat harga jam tangan itu.
"Devita, harga jam tangan di sini mahal sekali. Ini lebih mahal dua puluh kali lipat dari jam tangan milikku. Padahal aku membeli jam tangan milikku saja sudah menggunakan kartu kreditku," bisik Olivia di telinga Devita.
"Shut Up! Kau ini bikin malu saja! Paman Randy padahal juga memiliki uang yang banyak. Kau ini membuat malu nama Roberto saja!" Dengus Devita dengan nada pelan. Dia tidak ingin di dengar orang lain. Olivia memang sering membuatnya malu jika melihat harga.
"CK! Tapi aku rasa tidak mungkin jika Ayahku membelikanku jam tangan semahal itu. Itu sama saja membuat perusahaan keluargaku bangkrut." gerutu Olivia.
"Selamat siang, Nona. Ada yang bisa saya bantu?" tanya sang pelayan dengan ramah ketika Devita tengah menatap sebuah jam tangan.
"Aku ingin lihat itu." tunjuk Devita pada sebuah jam tangan yang sudah sejak tadi menjadi pusat perhatiannya.
...******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.