
"Kau tidak bisa mengelak lagi Elena. Bukti test ini sudah jelas, bahwa anak yang ada di kandunganmu adalah anakku!" Geram William mencengkram kuat hasil test DNA yang ada di tangannya.
"A...aku, test itu pasti salah! Anak ini hanya anak Brayen!" Seru Elena tidak terima.
William tersenyum sinis. " Berhenti omong kosong, bukti sudah ada di tanganku. Kau pikir, apa untungnya aku memanipulasi hasil test ini?"
Elena menelan salivanya susah payah, dia tidak menyangka Ayah dari bayi yang di kandungnya adalah William. Ini sungguh luar di rencananya. Bahkan dirinya tidak tahu harus berbuat apa. William juga memiliki kuasa yang sangat besar. Hingga kemudian, Elena memberanikan diri menatap William dan bertanya. "A...Apa maumu William?"
William menyeringai dan melayangkan tatapan tajam pada Elena. " Menurutmu apa lagi mauku? Kau pikir aku akan membiarkan anakku hidup dengan wanita sepertimu? Tentu saja tidak, Elena. Aku tidak bisa membayangkan anakku harus hidup dengan wanita sepertimu? Aku akan memberikanmu satu juta dolar. Pergilah sejauh mungkin setelah kau melahirkan anakku. Hiduplah di negara yang jauh dari Indonesia. Aku tidak ingin melihatmu dan kau jangan pernah muncul di hadapanku dan juga anakku," seru William dengan penuh penekanan.
"Tidak mungkin! Bagaimana bisa kau menjauhkankku dari anakku? Lalu bagaimana hubunganku dengan Brayen? Aku hanya menginginkan Brayen. Uang satu juta dollar mu itu tidak ada artinya dengan semua kekayaan yang di miliki oleh Brayen!" Balas Elena kesal.
William tertawa. " Kau masih bermimpi untuk menjadi Nyonya Mahendra? Mimpimu itu terlalu tinggi Elena. Aku beritahu padamu. Brayen sedang tidak berada di Kota B. Dia sedang pergi berbulan madu dengan istri cantiknya itu. Dan dia sudah tahu, anak yang di kandung olehmu bukanlah anaknya. Dengar Elena, satu juta dollar bukanlah uang yang sedikit. Pekerjaanmu sebagai artis pun tidak akan pernah bisa mendapatkan uang sebanyak itu."
Seketika wajah Elena memucat, " Brayen pergi berbulan madu?"
"Ya, dia sedang pergi berbulan madu. Kau bisa memeriksanya di internet. Mereka sedang berada di bandara," jawab William dengan santai.
"Devita sialan!" Geram Elena. Dia mengepalkan tangannya dengan kuat.
"Lebih baik kau terima kenyataan. Ingat kau harus segera pergi dari Kota B setelah kau melahirkan anakku," tukas William dingin.
Elena melayangkan tatapan tajam ke arah William." Kenapa kau menginginkan anak ini?"
William tersenyum, " Alasan yang sederhana. Aku memang membutuhkan anak. Dengan memiliki anak, aku bisa mendapatkan warisan dari kakekku. Tapi tentu aku tidak ingin menginginkanmu sebagai Ibu dari anakku. Karena kau tidak pantas menjadi Ibu dari anakku,"
Rahang Elena mengeras, dia mengepalkan tangannya dengan kuat. " Beraninya kau! Kalau begitu aku tidak akan pernah memberikan anakku! Kau cari saja wanita lain untuk mengandung anakmu!" Seru Elena dengan penuh emosi.
"Well, kau tidak memiliki pilihan Elena. Hari ini anak buahku akan memindahkan barang - barangmu dari Apartemenmu. Aku akan memberikan Apartemen mewah. Apartemen yang di berikan oleh Brayen untukmu begitu sederhana. Kau, mulai sekarang tinggal di salah satu Apartemenku. Saat bayiku lahir kau harus segera meninggalkan Kota B." tukas William dengan penuh penekanan.
"Aku tidak mau sialan! Apa kau ini tuli!" Tolak Elena dengan tegas.
William mendekat dan mencengkram kasar rahang Elena, "Listen to me, aku tidak melukaimu karena kau sedang mengandung anakku. Tapi jika kau masih melawanku aku akan mengurungmu!"
"Lepas!" Sentak Elena memberontak.
William menggerakkan kepalanya, memberikan isyarat pada anak buahnya untuk segera menarik paksa Elena masuk ke dalam mobilnya.
...***...
Istanbul, Turki.
Brayen dan Devita kini sudah tiba di Istanbul. Kali ini Brayen benar - benar beruntung, jika biasanya Devita selalu tertidur pulas. Tapi tidak kali ini, saat pesawat mendarat di bandara, Devita sudah tersenyum lebar. Menatap dari jendela, akhirnya dia bisa sampai ke Turki. Sebelumnya Devita sangat sulit mendapatkan izin dari Edwin, Ayahnya. Padahal Devita pergi dengan Olivia. Tapi Edwin memang terkenal overprotektif pada putri tunggalnya ini.
Brayen menggenggam tangan Devita turun dari pesawat. Ruby mengikuti Brayen dan Devita dari belakang. Semua barang - barang telah di urus oleh Ruby. Devita tidak perlu lagi memikirkannya.
Brayen sudah meminta Ruby untuk mengurus sopir dan juga mobil selama Brayen dan Devita berbulan madu di Turki. Brayen sengaja menyewa mobil dan sopir, karena dia tidak ingin di buat susah. Brayen sendiri tidak terlalu mengingat jalan Istanbul. Selama ini Brayen datang ke Istanbul hanya satu kali. Itu pun hanya perjalanan bisnis beberapa tahun yang lalu.
Di lobby, sopir sudah menjemput Brayen dan juga Devita. Brayen dan Devita masuk ke dalam mobil di ikuti oleh Ruby yang duduk di kursi depan. Brayen lebih memilih untuk menginap di hotel Raffles Istanbul. Tidak lama kemudian, mobil yang membawa Devita dan juga Brayen mulai berjalan meninggalkan bandara.
"Brayen, malam ini kita harus jalan - jalan, kan? Aku tidak mau kalau hanya di kamar saja" ujar Devita sambil menatap keluar jendela.
"Besok kita akan keluar, tapi malam ini kita akan istirahat," jawab Brayen yang kini menatap iPad di tangannya.
Brayen mengalihkan pandangannya dari layar iPad, lalu memeluk pinggang Devita. Dia meletakkan kepalanya di bahu Devita, dan mengecup leher jenjang Devita. "Kita ini sedang berbulan madu, sayang. Kita akan lebih banyak menikmati waktu kita di hotel," bisik Brayen serak.
Devita mencubit perut Brayen. " Kau sungguh tidak tahu malu, di depan ada Ruby,"
"Dia karyawan ku dan aku yang membayarnya. Dia juga tahu, kita datang kesini untuk berbulan madu," jawab Brayen santai.
Devita mencebikkan bibirnya "Menyebalkan sekali."
Tidak lama kemudian, mobil yang membawa Devita dan Brayen memasuki lobby hotel.
"Sir, here Raffles hotel." ucap sang sopir dengan sopan.
"Ya, thanks." balas Brayen dengan sopan.
"We arrive faster than i thought," gumam Devita ketika dirinya sudah sampai di hotel.
Brayen dan Devita turun dari mobil. Ruby mengurus untuk mengambil kunci kamar hotel. Setelah mendapatkan kunci kamar, Devita dan Brayen masuk ke dalam kamar. Tubuh Devita sangat lelah. Perjalanan dari kota B ke Istanbul sungguh benar - benar melelahkan.
"Lelah? Hm?" Brayen memeluk tubuh Devita dari belakang saat mereka baru saja masuk ke dalam kamar.
Devita mengangguk pelan, "Ya, aku memang sangat lelah. Aku ingin berendam, tubuhku membutuhkan air hangat." Brayen mencium ceruk leher Devita. "Sepertinya itu ide yang bagus kita bisa berendam bersama,"
"Tidak! Memangnya siapa yang mau mengajakmu!" Ucap Devita ketus.
"Kau tidak bisa menolaknya sayang." Brayen langsung membopong tubuh Devita, membawa istrinya itu kedalam kamar mandi.
"Brayen! Kau ini benar - benar begitu menyebalkan!" Gerutu Devita.
Di dalam kamar mandi, saat Brayen sudah melepaskan kemejanya. Devita langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Brayen membuka kancing kemejanya perlahan dan langsung melemparkan pakaiannya ke lantai. Brayen mendekat ke arah Devita dan menarik tangan Devita. "Bahkan kau sudah sering melihatnya, tapi kau masih saja menggemaskan," bisik Brayen.
"Diamlah Brayen kau jangan menggodaku terus!" Cebik Devita.
Brayen membalikkan tubuh Devita, hingga membuat Devita terkesiap. Ternyata Brayen membantu Devita menanggalkan dress yang masih melekat di tubuh Devita. Kini tubuh mereka berdua sudah tidak memakai sehelai benang pun. Brayen menarik Devita untuk berendam di jacuzzi.
Aroma madu di campur milk membuat tubuh mereka jauh lebih rileks. Devita berusaha untuk menghilangkan rasa malunya. Brayen terus tersenyum melihat pipi Istrinya begitu memerah.
Brayen menarik tangan Devita agar duduk di pangkuannya. Dia memeluk tubuh Devita dan membenamkan wajahnya di leher Devita. Lalu berbisik. "Aku sangat menyukai lehermu yang indah ini,"
...****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.