
"Dan aku juga sudah memeriksa bank accountmu. Kau selalu mendapatkan kiriman uang dari William Dixon dan dari simpananmu yang lainnya. Aku rasa kau adalah wanita yang haus akan uang. Aku memberikanmu begitu banyak kemewahan. Nyatanya itu tidak pernah cukup untuk dirimu!" Brayen melanjutkan perkataannya dengan tajam.
Wajah Elena memucat, bahkan dia tidak mampu berkata - kata. Dia tidak menyangka Brayen akan mengetahui semuanya.
"B... Brayen maafkan aku. Aku bersumpah tidak akan pernah seperti itu lagi. Aku mohon Brayen." ucap Elena yang bersimpuh di depan kaki Brayen. Dia tidak memperdulikan harga dirinya. Dia berlutut di depan Brayen memohon agar Brayen memaafkan dirinya.
"Bangun Elena, kau mau berlutut hingga malaikat maut datang menjemputmu pun, aku tetap tidak akan mau bersama dengan wanita rendah sepertimu!" Seru Brayen. " Hari ini Albert akan membawamu ke dokter untuk melakukan Tes DNA. Karena aku sangat yakin, anak yang ada di kandunganmu bukanlah anakku. Anakku hanya boleh lahir dari rahim wanita baik - baik dan itu hanya Devita, Istriku. Bukan wanita rendah seperti dirimu!"
"Tapi Brayen, ini adalah anakmu. Tanpa harus test pun aku yakin ini adalah anakmu!" Balas Elena dengan penuh penekanan.
"Kau jangan terlalu bermimpi, jika itu adalah anakku. Kau pikir, dengan kau mengandung anakku, kau akan menjadi istriku? Dan kau akan menyandang nama keluargaku, di belakang namamu? Jangan pernah bermimpi Elena! Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi! Aku tidak akan pernah menikahi wanita rendah sepertimu! Aku juga tidak akan membiarkan anak itu menjadi penerus keluargaku! Singkirkan pikiran licikmu itu! Jika itu terbukti bukan anakku, aku bisa dengan mudahnya menjebloskan mu kedalam penjara!" Seru Brayen, dengan tatapannya menghunus tajam ke arah Elena.
"B... Brayen," mata Elena memerah, air matanya tidak berhenti berlinang membasahi pipinya.
"Albert, kau bawa Elena. Segera lakukan Test DNA. Aku tidak mau berlama-lama melihat wajahnya," tukas Brayen dingin.
"Baik Tuan," jawab Albert.
Brayen membalikkan tubuhnya, dia berjalan meninggalkan Apartemen Elena. Sedangkan Elena, dia masih bersimpuh di lantai dengan air mata yang masih membasahi pipinya. Tidak berlangsung lama, Albert langsung menarik tangan Elena. membawa wanita itu untuk segera melakukan Tes DNA seperti perintah Brayen.
...****...
Devita akhirnya menuruti perintah dari Brayen. Kini Devita sudah tidak lagi magang di perusahaan Dixon's Group milik William. Selama dua minggu Brayen membebaskan Devita boleh datang kantor atau hanya di rumah saja. Sebenarnya Devita ingin pergi ke kantor, tapi jika Devita datang ke kantor sama saja. Semua staff di sana akan takut melihat Devita. Tentu mereka sudah tahu, karena Devita adalah Istri dari Brayen Adams Mahendra.
Sedangkan Olivia kini tidak mengikuti Devita. Dia lebih memilih untuk menyelesaikan masa magangnya di Dixon's Group. Karena hanya tinggal dua minggu lagi. Olivia memilih untuk menyelesaikan masa magangnya.
Devita berjalan keluar menuju ke ruang kerja Brayen. Hari ini Brayen tidak berangkat ke kantor. Brayen lebih memilih untuk bekerja dari rumah. Devita senang karena tidak akan merasakan kesepian jika Brayen ada di rumah.
"Brayen," panggil Devita saat melangkah masuk ke dalam ruang kerja Brayen.
"Kemarilah," Brayen menepuk pahanya agar Devita mendekat. Lalu Devita berjalan mendekat ke arah Brayen. Awalnya Devita ragu untuk duduk di atas pangkuan Brayen. Tapi akhirnya, Devita memilih untuk memberanikan diri duduk di pangkuan Brayen.
"Kau sudah makan?" tanya Brayen sambil memeluk pinggang Devita.
"Sudah, apa kau yakin hari ini tidak akan datang ke kantor?" Devita mengelus rahang Brayen.
"Tidak, aku tidak akan ke kantor. Aku akan menyelesaikan pekerjaanku dari sini," Brayen menangkup kedua pipi Devita, dia memberikan banyak kecupan di bibir Istrinya itu.
Devita tersenyum, dia sangat senang menghabiskan banyak waktu bersama dengan Brayen.
"Devita, apa kau ingin pergi berbulan madu?" tawar Brayen yang sontak membuat Devita terkejut.
"Bulan madu?" tanya Devita yang menatap tak percaya ke arah Brayen. Dia tidak menyangka Brayen akan menawarkan bulan madu kepadanya.
Brayen menganguk. " Ya, aku sangat ingin berbulan madu. Selama ini kau hanya menemaniku dalam perjalanan bisnis, aku hanya ingin kita berbulan madu. Kau juga memiliki waktu dua minggu. Lebih baik kita gunakan waktumu untuk berbulan madu," kata Brayen sembari mengelus dengan lembut pipi Devita.
"Kau sungguh mengajakku berbulan madu?" Devita bertanya memastikan.
Devita tersenyum mendengar ucapan Brayen, kemudian dia menjawab "Bagaimana jika kita ke Turki,"
"Turki? Kau yakin memilih Turki?" tanya Brayen sambil mengerutkan keningnya.
"Aku belum pernah ke Turki. Beberapa temanku sudah pernah pergi ke sana dan mereka mengatakan di Turki sangat indah. Lebih baik kita pergi berbulan madu ke Turki." kata Devita dengan antusias.
"Alright, jika kau memang ingin kita berbulan madu ke Turki. Maka kita akan berangkat kesana. Dua hari lagi kita akan berangkat ke Turki," jawab Brayen.
"Dua hari lagi? Kenapa cepat sekali Brayen, aku bahkan belum menyiapkan barang - barang yang akan di bawa kesana," seru Devita. Dia terkejut, mendengar dua hari lagi dia dan suaminya itu akan berangkat ke Turki.
"Kau tidak perlu memikirkannya aku akan meminta pelayan untuk membereskan barang-barangmu dan barang - barangku. Aku juga akan membawa pelayan. Besok aku juga akan mengenalkannya padamu. Dia juga akan menjadi asisten pribadimu, namanya Ruby." balas Brayen.
Devita mengerutkan keningnya, dia menatap kesal Brayen. " Asisten pribadi? Kenapa aku harus dengan asisten pribadi? Aku bisa mengurus diriku sendiri Brayen?"
"Devita, apa kau tidak ingat? Terakhir saat kau di Berlin kau banyak sekali berbelanja. Jika kau tidak bersama dengan asistenmu, itu akan menyusahkan mu. Jadi aku sudah memutuskan akan memberikan asisten untukmu," kata Brayen dengan nada penuh penekanan.
"Tapi-"
"Jangan membantahku Devita!" Potong Brayen dengan cepat.
Devita mendengus, " Baiklah, aku akan menuruti keinginanmu,"
"Good girl." Brayen menarik dagu Devita, mencium dan ******* bibir Istrinya itu.
"Brayen, ada hal yang ingin aku tanyakan padamu?" ucap Devita, saat Brayen melepaskan ciumannya.
"Apa yang ingin kau tanyakan padaku?" Brayen menatap lekat manik mata Istrinya.
"Apa kau berniat memiliki anak dalam waktu dekat?" tanya Devita dengan hati - hati. Dia langsung sedikit menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Brayen, setelah menanyakan pertanyaan itu.
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.