Love And Contract

Love And Contract
Permintaan Elena



**Note : Kalau bisa minimal likenya bisa tembus 80 like ya, Syukur - syukur bisa lebih😁 Author bakalan seneng banget tuh, hehehe. Biar besok Author langsung kasih bonus Crazy Up 4 Bab sekaligus. Seneng nggak? Ya seneng lah.... masa nggak😂


Tapi Author nggak maksa kalian kok😊 Kalau berkenan aja ya! Untuk selalu tekan tombol like.. like.. like.. yang banyak yah🤗


Jangan lupa juga kasih komentar nya juga dong! Author maksa nih😭


Happy Reading semuanya😄**


"Kau berkata aku adalah masa lalu? Siapa yang mengatakannya Devita? Sejak dulu, sekarang dan selamanya Brayen adalah milikku! Aku adalah pemiliknya, bukan dirimu Devita. Kau masih muda, kau bisa wujudkan mimpimu. Aku tegaskan sekali lagi, jangan berharap aku memberikan Brayen padamu. Karena selamanya dia hanya milikku!" Seru Elena menggeram menahan emosinya.


"Sepertinya kau harus mengerti arti dari kekasih dan Istri. Jika Brayen belum memutuskanmu, maka aku harus menegaskan padamu. Sebagai kekasih kau tidak berhak atas Brayen. Kau adalah Elena Davidson, nama belakangmu masih tetap nama Ayahmu. Sedangkan aku adalah Istri Brayen, nama belakangku sudah berganti. Aku Devita Mahendra, akulah yang berhak atas Brayen. Apa yang di miliki oleh suamiku adalah milikku." Devita kembali berkata dengan tegas. Kali ini, terlihat wajah Devita yang mulai tersulut emosi.


"Aku juga mendengar Brayen sudah sangat baik padamu, dia membelikanmu Apartemen mewah, mobil sport keluaran terbaru padamu. Kehidupan mewah sudah kau nikmati. Berhentilah berperan jika dirimu adalah pemilik Brayen. Karena orang - orang pasti akan menertawakan mu jika kau berkata seperti itu. Pernikahan kami tidak di tutupi. Semua media juga sudah mengetahuinya. Kau bisa membaca artikel siapa istri dari Brayen Adams Mahendra. Di sana tertera namaku,"


"Maaf, hari ini aku harus ke kantor. Aku harus meninggalkanmu. Kau boleh meminta pada pelayanku untuk memberimu minum," Devita beranjak dari tempat duduknya, melangkah keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil miliknya.


Sedangkan Elena dia masih melayangkan tatapan tajam ke arah Devita yang berjalan meninggalkannya. Terlihat raut wajahnya penuh kemarahan di diri Elena. Dia mengepalkan tangan kuat.


"Brayen adalah milikku! Aku pastikan selamanya dia hanya milikku," desis Elena.


...***...


Brayen duduk di kursi kebesarannya, dia melihat Mr. Lee, rekan bisnisnya dari Hongkong tengah membahas kerja sama mereka. Rencananya Brayen akan membangun Apartemen yang ada di Hongkong. Hongkong merupakan negara yang padat penduduk, properti di Hongkong termasuk kategori salah satu termahal di dunia. Harga properti di sana bahkan sama mahalnya seperti di Amerika.


"Mr. Brayen, jadi pembangunan Apartemen di Hongkong akan di mulai bulan depan. Semuanya sudah siap, mulai dari Arsitek dan lainnya. Apa ada hal yang ingin anda tanyakan?" Mr. Lee bertanya seraya menatap Brayen yang duduk di hadapannya.


"Tidak, saya rasa semuanya sudah sangat baik, jadi kita bisa memulai pembangunan Apartemen di Hongkong," jawab Brayen datar.


"Baiklah, senang bekerja sama dengan anda Mr. Brayen," Mr. Lee mengulurkan tangannya pada Brayen, dan Brayen menyambut jabatan tangan Mr. Lee. "Aku juga senang bekerja sama dengan anda Mr. Lee," balas Brayen.


"Sampai bertemu di meeting selanjutnya," tutup Brayen. Dia beranjak dari tempat duduknya. Mengancingkan jasnya, lalu melangkah keluar ruang meeting menuju ruang kerjanya."


"Brayen," suara seorang wanita memanggil Brayen, hingga membuat langkah Brayen terhenti dan mengalihkan pandangannya ke sumber suara itu.


Brayen membuang napas kasar saat melihat Elena datang. " Ada apa Elena?" tanya Brayen dingin. Tanpa menoleh ke arah Elena dia kembali melanjutkan langkahnya, masuk ke ruang kerjanya.


Elena yang melihat Brayen, masuk kedalam ruang kerjanya. Dengan cepat dia langsung menyusul Brayen.


"Brayen tunggu," Elena langsung menahan lengan Brayen.


Langkah Brayen terhenti, dia menatap lekat Elena. " Ada apa?"


"Kita harus bicara Brayen. Kenapa kau tega sekali padaku? Apa salahku, Brayen? Aku tidak melakukan kesalahan apapun. Tapi kau melukaiku," kata Elena dengan suara lemah. Air matanya mulai membasahi pipinya.


Melihat Elena menangis, Brayen menarik tangan Elena untuk duduk di sofa, Brayen sebenarnya tidak tega pada Elena, tapi dia tidak mungkin untuk melukai Devita. Brayen sudah menetapkan hatinya untuk Devita. Meskipun dia tahu, Elena akan terluka.


"Katakan ada apa Elena? Kenapa kau datang kesini?" Brayen kembali bertanya dengan nada dingin.


"Aku ingin kita bicara Brayen, apa hubungan kita tidak bisa di pertahankan?" kata Elena lirih.


" Tapi yang aku inginkan hanya kau Brayen! Aku tidak ingin pria lain!" Tukas Elena menekankan. Air matanya terus berlinang membasahi pipinya.


"Berhentilah menangis Elena, terimalah kenyataan ini. Aku minta maaf padamu, tapi kau harus menerima kenyataan ini," balas Brayen yang mulai menanggapi Elena.


"Bagaimana kalau aku tidak bisa? Empat tahun terlalu sulit untuk aku lupakan Brayen. Begitu banyak kenangan indah kita bersama!" Seru Elena.


Brayen menatap lekat Elena dan berkata tegas, "Kau bisa memulai semuanya dengan pria lain. Lupakan semuanya Elena! Aku sudah menikah,"


Elena menggeleng pelan. " Jika aku menyetujui kita berpisah, bolehkah aku meminta sesuatu darimu?"


" Katakan apa yang kau inginkan, Elena?" jawab Brayen dingin.


"Aku ingin, kau malam ini datang ke Apartemenku. Menemaniku untuk terakhir kalinya. Setidaknya aku bisa melihatmu," pinta Elena dengan tatapan memohon ke arah Brayen.


"Elena, kau tahu aku sudah memiliki Istri. Aku tidak ingin melukai hati istriku," tukas Brayen.


"Aku hanya ingin kau menemaniku di Apartemen, kita tidak melakukan apapun. Kita hanya menonton film bersama seperti dulu, please," Elena kembali memohon, meminta Brayen agar menemani dirinya.


Brayen membuang napas kasar. " Baik, malam ini aku akan menemanimu, kau pulanglah, anggap ini sebagai perpisahan kita. Aku ingin kita berpisah baik - baik,"


"Terimakasih Brayen, aku pulang dulu. Bisakah kau memelukku? Aku ingin sekali memelukmu."


Brayen mengangguk, lalu Elena langsung memeluk erat tubuh Brayen. Menangis di dada Brayen, entah kenapa hati Brayen tidak tega pada Elena. Mereka menjalin hubungan secara baik - baik, Brayen juga ingin mengakhirinya dengan baik.


Brayen mengelus rambut Elena. " Berhentilah menangis Elena,kau berhak untuk bahagia,"


Elena mengurai pelukannya. " Terima kasih.Aku akan menunggumu nanti malam. Aku pulang," ucap Elena.


Brayen mengangguk singkat.


Elena membalikkan badannya, lalu melangkah keluar dari ruang kerja Brayen. Senyuman dan air mata kini berubah dengan seringai di wajahnya.


"Sejak kapan aku akan melepasmu, Brayen. Kau adalah milikku! Lihatlah Devita, aku akan memberikan sebuah drama yang menarik untukmu!" Desis Elena.


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.