Love And Contract

Love And Contract
Perubahan Sifat Laretta



Sebuah mobil Limousine memasukki bandara. Brayen dan juga Devita turun dari mobil bersamaan dengan yang lainnya juga ikut turun dari mobil. Mereka ikut melangkah masuk kedalam. Kilatan kamera yang di ambil oleh paparazzi ketika melihat Brayen dan juga Devita masuk kedalam bandara. Devita mendesah pelan, bahkan saat dia berlibur saja masih banyak paparazi yang memotret dirinya dan juga Brayen.


Brayen melihat ke arah Devita, yang terlihat mengantuk. "Apa kau ingin aku membopongmu?"


"Tidak," jawab Devita, dia memeluk erat lengan Brayen. "Aku masih bisa jalan sendiri. Nanti, saat di pesawat aku bisa beristirahat."


Brayen mengangguk pelan, dia mengusap lembut rambut istrinya. Kini mereka melangkah masuk kedalam pesawat. Pilot sudah berdiri menyapa saat Brayen dan juga Devita melangkah masuk kedalam.


Devita lebih memilih untuk duduk di dekat jendela, kali Ini Devita tidak duduk dengan Brayen. Tapi Devita duduk di samping Olivia dan berhadapan dengan Laretta yang sejak tadi diam.


Tidak lama kemudian pilot memberikan interuksi jika pesawat akan take off.


Pramugari mengantarkan beberapa makanan utama dan dessert yang sangat Devita sukai. Para pramugari juga sudah mengetahui apa yang di sukai oleh Devita. Sebelumnya Brayen juga sudah memberikan peringatan pada pramugari untuk mengetahui makanan apa saja yang di sukai oleh Istrinya. Kini Devita dan Olivia mulai menikmati makanan yang sudah di hidangkan.


"Devita, Olivia aku sangat lelah. Aku ingin tidur di kamar." pamit Laretta.


"Kau tidak ingin makan Laretta?" tanya Devita.


"Aku belum lapar, aku hanya ingin beristirahat." jawab Laretta.


Dan Devita mengangguk, "Baiklah, nanti aku akan meminta pramugari untuk mengantarkan makanan ke kamarmu."


"Terima kasih," ucap Laretta. Kemudian dia beranjak dan melangkah menuju kamar pribadi milik Brayen. Devita pun mendesah pelan melihat sikap Laretta yang seperti ini. Ingin sekali rasanya jika Devita menjelaskan kepadanya, tapi Devita tidak mungkin menjelaskannya di sini.


"Devita, sebenarnya ada apa dengan Laretta?" tanya Olivia dengan suara pelan. Dia tidak ingin para pria mendengar percakapannya dengan Devita.


"Laretta sudah salah paham." jawab Devita.


"Salah paham? Salah paham bagaimana maksudmu?" Olivia mengerutkan keningnya. Menatap bingung Devita.


"Tadi malam Laretta dan juga Brayen mereka berdua itu salah paham karena aku mengingat makanan kesukaan Angkasa. Begitu pun dengan Angkasa yang mengingat makanan kesukaanku." jelas Devita.


"Astaga, aku juga tahu makanan kesukaanmu Devita. Bahkan segala yang kau suka dan tidak suka aku mengetahuinya." balas Olivia. "Brayen dan Laretta harusnya tahu, jika kau dan Angkasa hanya sebatas teman masa kecilnya."


Devita mengangkat bahunya. "Aku sudah menjelaskan pada Brayen sebelumnya, dia mengerti dan sudah tidak lagi marah. Mungkin pulang nanti, aku itu akan mencari cara untuk menjelaskannya pada Laretta."


"Inilah yang aku pusingkan saat dulu aku tahu, Angkasa akan menjadi adik iparmu Devita. Aku hanya takut, jika Laretta dan juga Brayen masih berpikir kalian masih saling mencintai." Olivia mendesah pelan. "Kau juga harus melibatkan Angkasa. Karena tadi pagi aku melihat Angkasa dan Laretta berdebat. Mungkin karena hal ini, dan Angkasa tidak mengetahuinya."


"Mereka berdebat?" Devita menautkan alisnya.


Olivia mengangguk, "Sejak tadi pagi Laretta tidak ingin makan apapun. Angkasa memaksa Laretta untuk makan, tapi dia terus menolaknya. Laretta mengatakan akan makan saat di pesawat dan kau lihat? Dia lebih memilih untuk tidur?"


"Nanti aku akan meminta pramugari untuk mengantarkan makanan untuknya." balas Devita.


"Aku berharap kedepannya, kalian berdua itu sudah tidak ada lagi salah paham seperti ini." kata Olivia.


"Ya, aku juga berharap demikian." Devita mengambil teh, dan mulai menyesapnya. Dia tidak menyangka jika Laretta akan salah paham pada dirinya. Mungkin karena sekarang Laretta sudah mencintai Angkasa. Ini tidak boleh di biarkan berlarut-larut. Setelah pulang nanti, Devita akan menghubungi Angkasa dan membahas tentang Laretta.


...***...


Kot B, Indonesia.


Perjalanan cukup panjang, Brayen dan juga Devita sudah tiba di kota B. Tubuh Devita terasa begitu lelah. Devita memeluk lengan Brayen, melangkah keluar menuju mobil yah telah menjemput mereka.


Ketika di depan, Felix dan Olivia langsung berpamitan saat melihat sopir telah menjemput mereka.


"Angkasa, kau tidak perlu mengantarku. Aku akan pulang bersama dengan Kakakku." kata Laretta saat dirinya sudah berada di dekat mobil.


"Kau yakin?" tanya Angkasa memastikan. Dan Laretta mengangguk pelan.


"Kabari aku kalau sudah di rumah." Angkasa mengusap lembut rambut Laretta, kemudian dia melangkah masuk kedalam mobil.


Devita menghela nafas dalam, dia terus menatap Laretta. Ingin sekali dia menjelaskan semuanya. Tapi tidak mungkin jika Devita menjelaskan semuanya di sini. Brayen dan juga Devita masuk kedalam mobil. Begitu pun dengan Laretta, dia tetap memasang wajah dingin saat memasuki mobil. Sopir mulai melajukan mobilnya dan meninggalkan lobby bandara.


"Devita, kau istirahatlah. Aku harus ke ruang kerjaku." Brayen mengecup kening istrinya. Lalu berjalan meninggalkan Devita menuju ke ruang kerjanya.


Devita menggeleng tak percaya, padahal Brayen baru saja tiba, tapi sudah memikirkan pekerjaannya. Devita hendak masuk ke dalam, namun langkahnya terhenti ketika Laretta juga ingin masuk.


"Laretta, apa aku bisa bicara sebentar denganmu?" tanya Devita sambil menatap Laretta.


Terlihat jelas, jika Laretta memaksakan senyuman di wajahnya, "Maaf Devita, aku sangat lelah. Aku ingin beristirahat, besok kita bisa berbicara."


"Baiklah, kalau begitu aku akan masuk kedalam," balas Devita. Laretta mengangguk pelan.


Devita tahu, apa yang sedang Laretta pikirkan saat ini. Tapi hal pertama yang Devita pilih saat ini adalah menghubungi Angkasa. Devita yakin, Angkasa pasti bingung dengan perubahan sifat Laretta.


Devita melangkah masuk kedalam kamar, dia melepas sepatu dan langsung mengganti bajunya dengan dress santai. Devita pun duduk di sofa, dia mengambil ponselnya yang ada di atas nakas dan mencari kontak Angkasa untuk menghubungi pria itu.


"Angkasa?" sapa Devita saat panggilannya terhubung.


"Devita? Kau sudah di rumah?" tanya Angkasa dari sebrang telepon.


"Sudah, dan ada hal yang ingin aku bicarakan padamu. Maaf kalau aku menganggumu. Apa kau sudah di rumah?"


"Aku masih di jalan, tapi tidak masalah. Ada apa Devita?"


"Apa kemarin malam kau berbicara dengan Laretta?"


Helaan nafas berat terdengar dari balik telepon. "Tadi malam Laretta mengatakan dia ingin beristirahat. Bahkan aku tidak bisa berbicara dengannya, dia beralasan kelelahan. Aku tidak tahu kenapa, tapi sepertinya dia itu marah kepadaku. Aku membiarkan Laretta sendiri dan besok aku ingin menemuinya."


"Laretta sudah salah paham pada kita Angkasa."


"Salah paham? Maksudmu apa Laretta?"


"Apa kau ingat saat aku mengatakan jika kau menyukai makanan di pasar tradisional. Dan kau juga mengingat makanan kesukaanku. Laretta dan Brayen salah paham pada kita. Mereka berpikir kita masih memiliki perasaan satu sama lain."


"Kenapa mereka berpikir seperti itu? Mereka tahu kita adalah teman masa kecil. Kalau seperti ini, besok aku akan menemui Laretta."


"Ya Angkasa, temui dia dan berikan pengertian pada Laretta. Aku tidak ingin dia terus salah paham pada kita."


"Aku akan segera menemui Laretta dan menjelaskan semuanya."


"Baiklah, aku tutup dulu. Aku percaya kau pasti bisa menjelaskannya pada Laretta."


"Terima kasih, Devita."


Panggilan tertutup Devita meletakkan ponselnya di atas nakas. Setidaknya sekarang Devita sudah memberitahu pada Angkasa. Karena Devita tidak ingin kesalahpahaman ini semakin larut.


Ceklek,


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.