
Elena menggeliat, dia mulai membuka matanya. Pandangannya kini mulai melihat Brayen yang sudah rapih dengan tubuh yang terbalut oleh jas. Tadi malam Elena sudah berusaha untuk menggoda Brayen, tapi Brayen selalu menolaknya. Elena sungguh kesal Brayen telah banyak berubah. Padahal saat di Milan, Brayen tidak sekalipun menolaknya.
"Brayen, kau sudah ingin berangkat bekerja?" tanya Elena dengan manja.
"Ya, aku harus bekerja," jawab Brayen datar.
"Tidak usah bekerja, Aku masih ingin bersamamu." Elena beranjak dari tempat tidurnya, lalu memeluk erat tubuh Brayen.
"Tidak bisa Elena, hari ini aku memiliki meeting yang penting," Brayen melepaskan tangan Elena yang memeluk dirinya.
Elena mendengus. "Aku ingin bersamamu Brayen! Kenapa kau tidak, tinggalkan saja meetingmu!"
Brayen membuang napas kasar. "Mengertilah Elena! Jangan seperti anak kecil;"
"Baiklah, tapi besok malam kau harus menemaniku," ucap Elena mengerutkan bibirnya, menuntut agar Brayen menuruti keinginannya.
"Aku tidak bisa berjanji Elena, banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan," jawab Brayen.
"Dan aku tidak mau tahu Brayen! Aku juga harus menjadi prioritas utamamu!" Kata Elena dengan nada penuh penekanan.
"Aku usahakan, aku pergi dulu!" Ucap Brayen sambil mengecup bibir Elena, lalu melangkah ke luar Apartemen.
...***...
"Devita," teriak Olivia kencang saat melihat Devita berjalan masuk ke dalam lobby perusahaan.
Langkah kaki Devita terhenti, ketika mendengar suara Olivia. Dia langsung membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah Olivia yang kini berlari menghampirinya.
"Kau kemana saja? Kemarin asisten suamimu mengatakan kau kurang sehat. Apa kau sungguh sakit?" tanya Olivia yang khawatir. Dia memegang bahu sahabatnya memperhatikan apakah benar Devita sakit.
"Aku baik - baik saja, lebih baik kita ke cafe, aku ingin minum coklat panas," kata Devita.
Olivia menganguk setuju, kemudian mereka berjalan melangkah meninggalkan perusahaan menuju ke cafe terdekat. Saat mereka sudah tiba di cafe, Olivia memesan red velvet cake dan dua coklat panas untuknya dan untuk Devita. Seperti biasa mereka memilih untuk duduk di dekat jendela.
"Sekarang kau ceritakan kepadaku, ada apa sebenarnya?" tanya Olivia. Dia memberikan red velvet cake yang tadi di pesan pada Devita.
"Kemarin aku bertengkar dengan Brayen," jawab Devita, dia mulai menyesap coklat panas yang ada di tangannya.
"Bertengkar? Kenapa kau bertengkar?" tanya Olivia sambil menautkan alisnya.
"Brayen melihatku makan siang dengan Richard. Dia marah karena berpikir aku ingin membuat skandal / dia takut ada pemberitaan buruk di media tentang diriku," ujar Devita dengan menghela nafas dalam.
Olivia mengulas senyuman tipis, " Alasan yang sangat tidak masuk akal. Dia hanya cemburu. Aku sudah mengatakan padamu. Dia pasti tidak akan bisa melihatmu bersama dengan pria lain, see? Apa yang aku katakan terbukti.
"Jangan bicara yang tidak - tidak Olivia. Dia hanya memikirkan nama baiknya. Bukan cemburu." tukas Devita dingin.
Olivia memutar bola matanya malas, "Come on, kenapa kau ini tidak bisa melihat? Dia cemburu saat kau bersama dengan pria lain. Tapi dia terlalu gengsi untuk mengakui itu semua."
"Dia mengatakan, dia berhak atas hidupku. Dia juga mengatakan akan ikut campur dalam masalah pribadiku. Dia sungguh kehilangan akal sehatnya, dia seakan memilikiku, tapi aku tidak berhak mencampuri urusan dia. Brayen bilang padaku, selama aku menjadi istrinya, aku tidak bisa seenaknya dekat dengan pria lain. Tapi saat aku ingin ikut campur dalam masalah pribadinya, dia tidak mengizinkan. Aku meminta dia untuk tidak bertemu dengan kekasihnya selama menjadi suamiku, dia juga mengatakan tidak bisa,"
"Kau tahu dia mengatakan apa padaku? Dia bilang kekasihnya tidak seberuntung diriku. Kekasihnya hanya lahir dari keluarga biasa, tidak sepertiku. Itu alasan Brayen tidak bisa meninggalkan kekasihnya. Alasan yang tidak masuk akal!"
Napas Devita mulai memburu, setelah menceritakan semuanya pada Olivia. Jika dia kembali mengingat keegoisan Brayen, benar - benar membuatnya sangat kesal.
"Well, sebenarnya kalian berdua itu sudah saling jatuh cinta. Tapi kalian tetap mempertahankan ego kalian untuk menutupi ini. Devita, aku tidak tahu bagaimana perasaan Brayen saat ini pada kekasihnya. Tapi yang aku tahu, dia sudah menaruh perasaan padamu," ujar Olivia,
"Aku berharap itu tidak terjadi Olivia," balas Devita.
"Kenapa kau mengatakan itu? Bukankah bagus kalau kalian sama - sama jatuh cinta? Brayen sudah menjadi suamimu, jadi kalian bisa membakar perjanjian yang tidak masuk akal itu." kata Olivia dengan tatapan bingung ke arah Devita.
"Karena aku tahu, jika aku jatuh cinta padanya. Aku hanya akan mendapatkan sebuah luka. Dia laki - laki pertama yang membuatku menangis. Aku tidak ingin di masa depan, dan hidupku hanya di penuhi dengan air mata!" Tukas Devita dengan tegas.
"Devita, aku memang tidak berpengalaman tentang cinta. Tapi menurutku, Brayen bukan membuatmu menangis. Melainkan, itu semua karena hatimu yang sudah jatuh cinta padanya, dengan kenyataan dia telah memiliki kekasih. Ini bukan murni kesalahan Brayen. Tapi ini adalah takdir, takdir dimana Tuhan ingin menunjukkan pada kalian, jika sebenarnya kalian berjodoh. Hanya saja Tuhan ingin menunjukkannya dengan cara yang berbeda dengan membiarkan kekasih Brayen masih bersamanya saat ini."
"Kau masih berharap Angkasa kembali, tapi apa kau sadar? Kau telah menggantikan Angkasa yang selama ini ada di hatimu dengan Brayen. Pikiranmu sekarang lebih banyak memikirkan Brayen. Aku tahu, kau masih mengharapkan Angkasa kembali, tapi Devita dengarkan aku. Angkasa berada jauh darimu, bahkan kau tidak tahu dia bersama dengan siapa. Meskipun kau mengatakan jika dia pasti akan menepati janjinya untuk kembali. Kenyataannya dia tidak kembali. Lebih baik, kau jangan mengharapkan yang tidak pasti."
Olivia menjelaskan, dia berusaha agar Devita bisa memahami kondisi yang sebenarnya. Meski Olivia belum memiliki pengalaman tentang cinta. Tapi Olivia sangat yakin jika Brayen dan juga Devita sudah saling jatuh cinta.
"Sebenarnya aku tidak terlalu mengharapkan Angkasa kembali. Aku tidak tahu kenapa. Perasaanku dengannya mulai berbeda. Biasanya aku selalu mencari kabar tentang Angkasa dari internet. Tapi sekarang aku sudah berhenti, memang terkadang aku ingin tahu kabarnya. Aku sudah lama tidak bertemu dengannya. Entahlah Olivia aku tidak mengerti. Aku benci dimana aku selalu memikirkan Brayen. Aku benci menangis karenanya. Aku benci dia mengatakan jika dia memiliki kekasih. Aku sungguh membencinya!" Seru Devita.
Olivia menyentuh tangan Devita. " Devita, percayalah. Ini semua akan segera berakhir. Aku yakin, kau akan memiliki kehidupan yang bahagia,"
"Aku tidak yakin. Olivia, aku juga tidak tahu kenapa aku membenci di mana Brayen mengatakan dia mencintai kekasihnya. Aku benci jika dia mengatakan sudah menjalin hubungan lama dengan kekasihnya," kata Devita perlahan air matanya mulai turun membasahi pipinya.
Olivia menghela napas dalam, dia menatap iba sahabatnya itu dan berkata, "Aku mengerti perasaanmu Devita,"
...******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.