Love And Contract

Love And Contract
Bangga Memilikimu



Devita mendongakkan kepalanya dari dalam pelukan Brayen. Dia mengelus lembut rahang Brayen. "Kenapa minta maaf, sayang? Kau tidak melakukan kesalahan apapun."


"Ini semua salahku, jika saja aku tahu dari awal tentang Ivana Wilson, pasti kau tidak akan seperti ini." Brayen mengecup kening Devita. Ya, dia sungguh merasa bersalah. Akibat penculikan itu dan wanita itu juga bunuh diri di hadapan Devita, membuat Devita mengalami trauma hingga detik ini. Namun, lepas dari itu Brayen bersyukur, dia berhasil menyelamatkan Devita ketika Ivana menarik tubuh Devita dari atap gedung.


Devita membenamkan wajahnya di dada bidang Brayen. Menghirup aroma parfum maskulin. Hal ternyaman ketika ada masalah yang menghampiri hidupnya, adalah berada pelukan suaminya.


"Kau tidak salah Brayen. Semua terjadi karena Ivana tidak mampu mengendalikan perasaannya. Ini bukan salahmu.Aku juga percaya, dulu kau tidak mungkin melukai hati Ivana dengan perkataanmu. Aku sangat mengenalmu Brayen." balas Devita dia mengecup rahang Brayen. Lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya itu.


"Aku tidak pernah mengenal Beatrice. Dulu, saat aku kuliah ketika ada wanita yang mengirimkan aku hadiah. Aku tetap menerima dan tidak membuang barang - barang yang mereka berikan di hadapan mereka. Karena aku tidak ingin melukai hati mereka. Tapi saat kau di rumah, semua hadiah dari wanita yang mengirimkan padaku, selalu aku berikan pada pelayan atau pengawal. Aku benar-benar tidak ingat jika Beatrice selalu mengirimkan hadiah untukku." Brayen menjelaskan kenyataan yang sebenarnya menghela nafas yang berat.


Devita tersenyum, dia mengeratkan pelukannya. "Ya, aku sudah menduganya sejak awal. Aku percaya padamu Brayen. Aku tahu, kau tidak mungkin melukai hati seorang wanita dengan kata - katamu. Tapi aku sungguh bangga denganmu, karena saat pemakaman Ivana, kau menghadirinya, bukan?"


"Dari mana kau tahu?" Brayen menautkan alisnya, menatap serius sang istri. Pasalnya, dia memang sengaja tidak ingin menceritakan pada Devita. Mengingat kondisi kesehatan Devita yang menurun. Kandungannya juga lemah. Itu yang membuat Brayen memilh untuk tidak bercerita pada Devita.


Devita mendongak dari dalam pelukan Brayen, dia memberikan kecupan di rahang Brayen. "Aku tahu, sayang. Karena Felix yang sudah menceritakannya padaku."


Brayen membuang napas kasar. "Aku sudah mengatakan padanya untuk tidak memberitahumu. Tapi dia masih tetap memberitahumu."


"Jangan marah dengan Felix," Devita mengelus rahang Brayen. "Aku senang saat mendengar kau datang ke pemakaman Ivana. Aku tahu, apa yang di lakukan Ivana itu salah. Tapi, bagaimana pun sebagai perempuan aku kasihan padanya."


"Untuk pertama kalinya, aku tidak dendam pada seseorang yang telah melukaimu." Brayen mengelus lembut rambut Devita. Mengecup lembut rambut istrinya. "Aku tidak akan pernah terima pada orang telah melukaimu. Dan ini pertama kalinya aku tidak memberikan pelajaran pada orang yang telah melukaimu."


"Brayen, aku sudah baik - baik saja. Lupakan tentang Ivana. Dia sudah tenang, selama ini dia sudah melewati masa - masa kesulitan di hidupnya." balas Devita.


Brayen mengangguk, "Ya, tidak perlu lagi membahas tentangnya."


"Hmm, tapi Brayen. Ada yang ingin aku tanyakan padamu?" kata Devita seraya menatap serius Brayen.


"Apa yang ingin kau tanyakan?" Brayen mengelus lembut pipi Devita, dia mengecup hidung Devita.


"Setelah kau tahu, perpisahanmu dengan Veronica, bukan karena Veronica berselingkuh. Apa kini kau menyesal sudah berpisah dengan Veronica?" Devita bertanya dengan hati - hati. Sejak saat Ivana mengatakan yang sebenarnya, Devita ingin bertanya tentang ini.


Brayen menarik dagu Devita, mencium dan ******* lembut bibir Istrinya. Dia menempelkan keningnya di kening Devita. "Jika kau bertanya, apa aku menyesal? Jawabanku adalah tidak. Aku berterima kasih pada Ivana. Karena bagaimanapun wanita itu, membuatku bersatu denganmu. Aku selalu mengatakan padamu, Devita. Tidak ada yang penting dengan masa laluku. Aku tidak pernah mencintai seseorang seperti aku mencintaimu."


Devita tersenyum, di mengecup bibir Brayen. "Aku selalu merasa beruntung memilikimu."


"Aku yang jauh lebih beruntung karena memilikimu." Brayen memeluk pinggang Devita, dia memberikan kecupan di pipi Devita. "Sekarang, lebih baik kita makan. Aku sudah meminta Chef Della membuatkanmu lobster pasta."


Devita mengangguk. "Ya, aku jga sudah mulai lapar."


"Kita makan sekarang." Brayen beranjak dari tempat duduknya, dia mengulurkan tangannya membantu Devita berdiri. Kemudian mereka berjalan meninggalkan kamar, menuju ke ruang makan. Siang ini, Brayen sengaja meminta Chef Della untuk memasak lobster pasta untuk Devita. Mengingat beberapa hari ini, napsu makan Devita selalu menurun, Brayen sangat tahu, istrinya itu sangat menyukai segala jenis seafood.


...***...


"Felix? Olivia?" Devita terkejut, saat masuk kedalam ruang makan. Sudah ada Felix dan Olivia di ruang makan itu.


"Hi Devita, bagaimana keadaanmu?" tanya Felix sembari menyesap hot tea di tangannya.


"Aku sengaja kesini untuk bilang padamu. Besok aku akan kembali ke negara K." ujar Olivia.


"Kau berangkat besok?" tanya Devita.


"Ya, besok aku akan berangkat." jawab Olivia.


"Devita, kau harus makan." Brayen langsung memberikan piring yang berisi lobster pasta pada Devita.


Devita mengangguk, lalu menerima piring yang berisi dengan lobster pasta itu. "Felix, Olivia. Kalian juga makanlah. Aku tidak ingin makan sendiri."


Olivia tersenyum. "Kau tenang saja, aku pasti akan makan."


"Felix, ikut ke ruang kerjaku. Ada hal yang harus aku bicarakan denganmu." tukas Brayen.


"Brayen kau tidak makan," Devita menghentikan makannya, ketika Brayen mengajak Felix ke ruang kerjanya.


"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan Felix tentang pekerjaan. Aku akan meminta pelayan untuk mengantarkan makanan ke ruang kerjaku." Brayen mengecup kening Devita. Kemudian berjalan meninggalkan ruang makan. Begitu pun dengan Felix yang langsung menyusul Brayen.


"Devita, bagaimana kabarmu?" tanya Olivia, saat Brayen dan Felix sudah pergi meninggalkan ruang makan.


"Aku sudah lebih baik, Olivia? Bagaimana denganmu sendiri?" Devita bertanya balik pada Olivia. Dia masih mengingat ketika Olivia mendapatkan beberapa tamparan dari anak buah Ivana hingga membuat Olivia pingsan.


Olivia tersenyum, dia menyentuh punggung tangan Devita. "Aku baik - baik saja. Felix sudah menceritakan semuanya padaku tentang Ivana. Aku sungguh tidak menyangka, jika Ivana akan melakukan hal yang seperti itu. Tapi jujur, aku juga kasihan mendengar tentang Ivana."


"Ya, aku juga sungguh kasihan padanya. Aku sangat yakin, dia bisa mendapatkan pria yang baik." balas Devita dengan helaan nafas yang berat. "Tapi dia begitu putus asa tidak bisa mendapatkan Brayen. Dan dia lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya."


"Terkadang, cinta membuat kita kehilangan akal sehat kita. Tapi Devita, kau itu begitu beruntung bisa memilki Brayen. Suamimu benar - benar sangat mencintaimu." ujar Olivia dengan tatapan lembut ke arah Devita.


Devita mengulas senyuman hangat di wajahnya. "Kau benar Olivia, aku sungguh beruntung memilikinya. Aku juga bangga pada Brayen karena mau menghadiri pemakaman Ivana."


...********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.