Love And Contract

Love And Contract
Penjelasan Edwin



"Nadia, bisakah kau mendengar perkataanku?" seru Edwin, ia menggeram menahan emosinya.


"Tidak! Aku tidak ingin mendengarkan apapun tentangmu. Memangnya kau ingin menjelaskan apalagi?" tukas Nadia tajam.


"Gelisa adalah masa laluku, Nadia. Aku mohon kau mengerti." kata Edwin dengan penuh permohonan.


Nadia tersenyum sinis. "Masa lalu yang memiliki dua orang anak? Bahkan kau menikah denganku bukan karena cinta Edwin! Kau ingat bukan, hanya Gelisa yang kau cintai. Sekarang kau pasti bahagia? Mendapatkan kenyataan telah memiliki dua orang anak darinya? Kau ingin membagi hartamu pada kedua anakmu itu, bukan?"


Edwin membuang napas kasar. " Tidak Nadia. Aku tidak pernah berniat untuk membagi hartaku pada mereka. Kau tahu, semua harta yang aku miliki hanya akan di ambil alih oleh Devita, putri kita Nadia."


"Benarkah? Hanya Devita? Kau pikir aku ini bodoh! Aku yakin, kedua anakmu pasti akan meminta lebih! Mereka juga pasti akan meminta untuk menggunakan nama keluargamu! Aku tegaskan sekali lagi padamu, aku ingin kita bercerai! Kembalilah kau dengan wanitamu itu!Kau juga sudah memiliki anak laki - laki darinya. Bukankah sejak dulu, kau menginginkan anak laki - laki?" tukas Nadia penuh dengan sindiran.


"Listen to me Nadia, jika memang benar mereka adalah anak - anakku tetap saja, aku tidak akan mengambil yang seharusnya menjadi milik putri kita Devita. Aku bersumpah, hanya Devita yang akan mengambil alih perusahaan. Aku tidak perduli memiliki anak laki - laki. Karena memang hanya Devita yang akan mengambil alih semua perusahaanku!" Tegas Edwin.


"Apa maksudnya, Papa memiliki anak laki - laki?" suara Devita berseru masuk kedalam rumah. Napasnya memburu. Ia berusaha untuk menahan amarah dan emosinya.


Tubuh Edwin mematung, saat melihat Devita dan juga Brayen berada di dalam rumah. Dia bahkan tidak mampu berkata - kata mendapati putrinya telah mendengar semua perkataannya.


"Devita sayang, dengarkan Papa." ucap Edwin dengan suara yang lembut.


"Apa yang ingin Papa jelaskan lagi! Papa berselingkuh hingga memiliki anak dari wanita lain? Jawab, Pa!!" Sentak Devita dengan nada tinggi.


Brayen menyentuh bahu istrinya. " Devita, tenangkan dirimu!"


...******...


Edwin membawa Devita masuk kedalam ruang kerjanya. Dia ingin berbicara berdua dengan putrinya. Brayen dan Nadia berada di bawah, bukan Edwin tidak ingin mereka mengetahui apa yang dia katakan. Tapi Edwin, ingin berbicara berdua dengan putrinya. Dia tidak ingin putrinya salah paham mengenai dirinya.


Devita duduk dan menatap lekat Ayahnya yang sedang berdiri di hadapannya. Devita menunggu apa yang ingin di katakan oleh Ayahnya. Penjelasan apa yang akan di jelaskan hingga memintanya untuk berbicara berdua.


"Sekarang apa yang ingin Papa jelaskan hingga meminta kita berbicara berdua?" suara Devita bertanya terdengar begitu dingin. Ini pertama kalinya Devita berbicara dingin pada Ayahnya sendiri. Ia masih kecewa mendengar apa yang di katakan oleh Ayahnya. Rasanya sangat sakit saat mendengar, Ayahnya telah memiliki anak dari wanita lain.


Edwin menghela nafas dalam, ia melangkah mendekat ke arah Devita dan duduk di samping putrinya. " Ini tidak seperti yang kau pikirkan sayang."


"Jika tidak seperti yang aku pikirkan. Maka, aku ingin mendengarkan penjelasan dari Papa," ujar Devita, ia menatap lekat Ayahnya yang duduk di sampingnya. Ia menunggu semua penjelasan dari Ayahnya. Meski penjelasan itu melukai hatinya, tapi bagi Devita lebih baik mengetahui kebenaran di awal.


"Papa tidak pernah berselingkuh dari Ibumu. Demi Tuhan, Papa tidak mungkin melukai Ibumu dan dirimu, Devita." jawab Edwin.


"Kalau Papa memang tidak pernah berselingkuh, kenapa Papa memiliki anak dari wanita lain?" tukas Devita.


"Wanita itu hanya masa lalu Papa, Devita. Dan Papa tidak akan mungkin mengkhianati Ibumu." balas Edwin yang berusaha untuk meyakinkan putrinya.


"Jelaskan semuanya Pa! Jangan membuatku tidak mengerti dengan semua ini!" Seru Devita yang memaksa Ayahnya untuk menceritakan tentang semuanya.


"Baiklah, Papa akan menceritakan semuanya. Tapi bisakah kau percaya pada Papa? Papa tidak mungkin menyakitimu dan Ibumu." kata Edwin dengan nada penuh permohonan. Dan Devita hanya membalasnya dengan menganggukan kepalanya.


"Beberapa hari yang lalu, Papa memilliki meeting dengan Wilson Company. Perusahaan itu merupakan salah satu perusahaan besar di Australia. Saat Papa meeting dengan President Director dari Wilson Company ternyata itu adalah Gelisa. Wanita di masa lalu Papa, dia adalah mantan kekasih Papa." jelas Edwin yang menceritakan semuanya.


"Papa menjalin hubungan dengan Gelisa sudah cukup lama. Saat itu, Papa tidak seperti saat ini, Papa tidak cukup banyak uang untuk menikahi Gelisa. Keluarga Gelisa tidak menerima Papa. Mereka memandang Papa hanya pemuda miskin."


"Hingga akhirnya, Gelisa di jodohkan oleh kedua orang tuanya. Saat itu, Gelisa terpaksa menerima karena perusahaan keluarganya di ambang kehancuran. Papa hancur mendengar kabar Gelisa menikah dengan pria lain. Papa memutuskan untuk meninggalkan Kanada dan Menetap di Indonesia sampai akhirnya, Kakekmu meminta Papa untuk menikahi seorang wanita asal Indonesia."


Edwin menganggukan kepalanya dan tersenyum. " Ya kau benar. Wanita yang cantik dan juga baik."


"Lalu kenapa Papa bisa memiliki anak dari wanita lain?" tukas Devita.


"Maafkan Papa, tapi sungguh Papa juga baru tahu. Saat Papa bertemu dengan Gelisa, dia terlihat begitu membenci Papa. Sampai akhirnya kami bertengkar dan dia menceritakan semuanya." ujar Edwin dengan wajah yang begitu muram. " Gelisa mengatakan dia melarikan diri saat dia tahu dirinya mengandung. Dia berusaha untuk mencari Papa tapi Papa sudah tidak lagi tinggal di Kanada. Hingga beberapa tahun kemudian Gelisa mendengar kabar bahwa Papa sudah menikah."


"Wanita itu mengandung anak Papa?" Devita berusaha untuk bersikap tenang, meskipun hatinya sangat sesak dan sakit. Kini ia tahu, kenapa Ibunya menangis begitu pilu. Karena kenyataan ini begitu menyakitkan untuknya.


"Papa belum memastikan. Tapi dia mengatakan, mereka adalah anak kandung Papa." jawab Edwin dengan jujur. Ia tidak ingin menutupi apapun dari putrinya yang membuat nantinya putrinya akan salah paham.


Devita tersenyum sinis. " Mereka? Papa memiliki lebih dari satu anak?"


"Kembar, anak yang di lahirkan Gelisa kembar. Laki - laki dan perempuan." balas Edwin.


Devita menganggukkan kepalanya seolah memahami semuanya. Hatinya begitu hancur mendengar semua kenyataan ini. Pantas, jika Ibunya menangis begitu pilu. Karena tidak ada wanita yang siap menerima kenyataan seperti ini.


"Apa Papa pernah mencintai Mama?" Devita menatap lekat Ayahnya, ia berusaha untuk menahan air matanya.


"Di awal pernikahan, Papa memang tidak mencintai Ibumu. Tapi percayalah seiring berjalannya waktu, Papa belajar untuk mencintai Ibumu. Terlebih saat kau hadir di hidup Papa. Papa bersumpah sangat mencintaimu dan Ibumu." jawab Edwin dengan jujur.


"Papa mencintai wanita itu?" Devita bertanya lagi, ia ingin mengetahui semuanya. Meski hantinya begitu sakit mengetahui kenyataan ini. Tapi, itu lebih baik baginya.


"Papa tidak ingin berbohong padamu, Devita. Papa menjalin hubungan dengan Gelisa cukup lama. Tentu di masa lalu, Papa mencintai Gelisa. Devita, dia adalah masa lalu. Papa tidak pernah menoleh bagian dari masa lalu." Edwin menjelaskannya dengan tegas.


Devita terdiam saat mendengar penjelasan dari Edwin, namun rasanya belum cukup baginya hingga akhirnya dia memutuskan untuk kembali bertanya. " Apa wanita itu sudah menikah?"


"Sudah, tapi beberapa tahun yang lalu, suaminya itu sudah meninggal." jawab Edwin, ia membiarkan putrinya untuk bertanya apapun karena memang, ia tidak ingin putrinya menjadi salah paham.


"Suaminya sudah meninggal? Itu kenapa dia bisa memimpin Wilson Company?" tukas Devita.


Edwin menganggukan kepalanya. " Benar, suaminya pemilik Wilson Company."


"Sekarang, apa Papa bisa memberitahuku, bagaimana perasaan Papa setelah mengetahui Papa ternyata memiliki anak dari wanita lain? Terlebih anak itu kembar." ujar Devita dengan suara yang tenang. Ia berusaha untuk mengendalikan dirinya dan menerima kenyataan ini.


...********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.