
Brayen menggeleng pelan. Ini akibatnya kalau istrinya terlalu banyak menonton film. "Aku tidak sebodoh itu, aku pastikan kau dan aku akan tetap selamat. Aku tidak akan pernah membiarkanmu terluka.
"Kau ini! Kalau memang takdirnya salah satu diantara kita tidak selamat, bagaimana?" seru Devita kesal.
"Aku yang akan merubah takdir itu. Aku katakan sekali lagi padamu, kita akan menua bersama. Aku akan bersama denganmu selamanya," tegas Brayen.
"Memangnya kau ini Tuhan, bisa merubah takdir!" Dengus Devita.
"Aku memang bukan Tuhan. Tapi aku selalu meminta padanya untuk jangan pernah mencoba memisahkan ku denganmu," balas Brayen.
Devita mengulum senyumannya, ia mengelus rahang suaminya itu, "Rupanya seorang Brayen Adams Mahendra sangat mencintai istrinya, Hem?" ucap Devita yang sengaja menggoda suaminya.
Brayen menarik dagu Devita mencium dan ******* dengan sangat lembut bibir Istrinya. "Kau sudah tahu, Brayen Adams Mahendra." bisik Brayen.
"I know, mee too." balas Devita dengan senyuman di wajahnya.
Brayen memeluk erat Istrinya. "Rasanya aku selalu ingin menghabiskan waktu bersama denganmu. Belakangan ini, aku terlalu banyak memikirkan pekerjaan,"
"Kalau begitu, kau harus banyak untuk meluangkan waktu. Kau jangan selalu memikirkan pekerjaanmu. Ingat, kau ini sudah menikah, kau juga harus memikirkanku." seru Devita.
"Kedepannya, aku akan lebih banyak meluangkan waktu untukmu," jawab Brayen. Ia mengecup kepala istrinya.
"Hem Brayen, kita juga harus sering mengunjungi Dad David dan Mom Rena," ucap Devita.
"Minggu depan kita akan kesana, aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaanku yang tertunda." ujar Brayen.
"Aku tidak bisa membayangkan saat aku lulus kuliah nanti dan aku sibuk dengan perusahaan milik keluargaku. Lalu kau juga sibuk dengan perusahaanmu. Sepertinya kita akan jarang bertemu," kata Devita, wajahnya langsung berubah menjadi muram.
Brayen menarik dagu Devita, ia menatap lekat mata Istrinya itu. "Kau tidak selamanya, memimpin perusahaan keluargamu sayang. Aku hanya ingin kau belajar tentang perusahaan. Tapi itu tidak akan lama, karena aku tidak suka Istriku harus sibuk dengan hal lain selain diriku."
"Lalu, jika aku tidak mengambil alih perusahaan siapa yang akan mengurusnya? Kau tahu kan aku anak tunggal. Sedangkan kau saja sudah memiliki banyak pekerjaan." ujar Devita.
"Tidak usah di pikirkan karena semua itu adalah tanggung jawabku." ucap Brayen.
Devita tersenyum, lalu kembali memeluk erat suaminya. "Ya, aku percaya padamu."
...***...
Cuaca begitu cerah, Laretta sedang duduk di taman sambil menatap bunga - bunga yang tumbuh dengan sangat indah. Bersantai di pagi hari dengan menikmati cuacanya yang begitu cerah dan sangat menyejukkan hati. Hari ini Laretta tahu, Devita dan Brayen sedang menikmati waktu bersama mereka. Laretta tidak ingin menganggu Kakaknya.
Kandungan Laretta kini sudah memasuki usia 12 minggu. Perutnya sudah mulai terlihat sedikit membesar, ia melewati masa-masa kehamilannya dengan baik. Meski orang tuanya belum menerima dirinya tetapi paling tidak Laretta masih memiliki Kakak yang begitu menyayangi dirinya. Tidak hanya itu, Devita juga selalu menemani dirinya. Bahkan Laretta sudah menganggap Devita sebagai sahabatnya sendiri. Sebenarnya Laretta sangat nyaman tinggal di mansion Kakaknya ini. Mansion yang tidak hanya mewah, tetapi Laretta merasakan kenyamanan di mansion ini. Devita yang selalu bersikap baik padanya, itu merupakan salah satu alasan Laretta nyaman tinggal di mansion milik Brayen. Tapi meski demikian, terkadang Laretta merasakan kekosongan di hatinya. Laretta melihat Brayen Kakaknya, begitu mencintai Devita. Ia sungguh iri. Bahkan Laretta tidak bisa bersama dengan pria yang ia cintai. Terlepas dari perasaan iri, Laretta juga sangat bahagia melihat Kakaknya memiliki istri yang baik seperti Devita.
Laretta menarik nafas dalam, dan menghembuskannya perlahan. Ia memejamkan matanya sebentar, menikmati angin yang menyentuh kulitnya. Cuaca begitu cerah dan menyejukkan, membuat Laretta sangat nyaman. Kemudian Laretta terdiam, dia kembali menatap bunga - bunga yang sangat indah. Pikiran Laretta kini memikirkan bagaimana dirinya bisa menghabiskan waktu bersama dengan pria yang dia cintai. Tapi nyatanya dia belum di berikan kesempatan untuk itu.
"Tidak baik, wanita yang sedang mengandung melamun seperti itu," suara bariton menegur Laretta, hingga membuat Laretta terkesiap dan menoleh ke sumber suara itu. "F...Felix?" Laretta terlihat sangat gugup saat Felix berjalan menghampirinya dan langsung duduk di sampingnya.
"Kau sedang melamun apa?" tanya Felix
Laretta menggeleng, " Tidak, bukan apa-apa," jawab Laretta berbohong. Padahal dia baru saja memikirkan dirinya tidak bisa bersama dengan pria yang dia cintai. Tapi kenapa pria itu, kini berada di sampingnya. Laretta merutuki dirinya, jantungnya masih berdegup dengan kencang ketika Felix duduk di sampingnya. Jelas - jelas dirinya dan Felix tidak bisa bersatu. Felix sudah memiliki perempuan yang dia cintai dan Laretta sedang hamil anak pria lain.
Mendengar pujian dari Felix, hati Laretta semakin berdegup dengan kencang. Bahkan ia berusaha untuk menutupi pipinya yang merona. Astaga, Laretta terus mengumpat di dalam hati, dia sedang mengandung anak dari Angkasa tetapi perasaanya pada Felix masih ada. Meski sudah tidak sebesar dulu, tapi Laretta tidak bisa membohongi dirinya masih memiliki rasa cinta pada Felix.
"Aku baik Felix. Bagaimana denganmu?" tanya Laretta dengan suara yang tenang. Ia berusaha bersikap biasa pada Felix.
"Aku senang mendengarnya. Aku juga baik," jawab Felix.
"Kau datang kesini karena ingin bertemu dengan Kak Brayen?" tanya Laretta lagi.
"Tidak, aku hanya ingin datang saja. Untuk apa aku bertemu dengan Brayen. Kau tahu, jika aku berurusan dengannya pasti kami akan berdebat." tukas Felix.
Laretta terkekeh geli. "Kau ini bagaimana dengan sepupumu sendiri begitu,"
"Ya, karena aku tahu bagaimana sifat arrogantnya Brayen." balas Felix.
"Laretta, bagaimana dengan kandunganmu? Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Keponakanku. Jika dia perempuan, pasti akan secantik dirimu." ujar Felix.
"Baik Felix, dia tumbuh dengan sangat sehat." jawab Laretta. Ia menyentuh lembut perutnya.
Felix tersenyum tipis. "Aku senang mendengarnya."
"Laretta, aku ingin bertanya sesuatu denganmu?" kata Felix.
"Memangnya kau ingin bertanya apa, Felix?" tanya Laretta.
"Apa kau mencintai Angkasa. Maaf, jika aku bertanya tentang hal ini? Karena aku hanya ingin melihatmu bahagia." ujar Felix.
"Cinta bisa tumbuh dengan seiring berjalannya waktu, Felix. Saat ini, aku selalu membuka hatiku untuk Angkasa. Dia adalah pria yang baik dan bertanggung jawab. Aku memang belum mencintainya. Tapi berada di sisinya aku merasakan kenyamanan. Aku percaya, suatu saat nanti aku akan mencintai Angkasa. Bagaimana pun, aku dan dengannya akan segera memiliki anak." jelas Laretta. Ia tahu, seiring berjalannya waktu pasti ia akan bisa mencintai Angkasa dan mengubur dalam perasaan cintanya pada Felix.
"Maafkan aku, Laretta." ucap Felix, suaranya terdengar begitu menyesal.
Laretta mengerutkan keningnya. Ia menatap lekat Felix. "Kenapa kau meminta maaf?"
"Maaf, karena perkataanku waktu itu kau harus menjauh. Dan kau lebih memilih untuk tinggal berpindah-pindah dari Australia dan Korea. Aku sering merasa bersalah, kau jadi harus terjebak dengan pria yang tidak kau cintai. Aku selalu berharap, kau mendapatkan pria yang kau cintai." ujar Felix. Setelah kejadian Laretta menyatakan perasaannya pada Felix. Dan Felix mengatakan dirinya tidak mungkin bisa bersama dengan Laretta, itu membuat Laretta meninggalkan kota B. Sejak saat itu, Felix merasa bersalah.
...********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.