
"Sean, jangan berlari sayang.... Nanti Bibi di marahi Ibumu," seru Olivia dengan cukup keras.
Olivia mendesah pelan, melihat Sean yang tengah berlari dengan teman barunya di taman itu. Beberapa kali Sean bermain bola dengan teman barunya. Dan sudah sejak tadi, Olivia berteriak agar Sean tidak berlari. Dia tidak ingin Sean sampai terjatuh apalagi terluka. Bisa - bisa, Devita tidak akan mempercayakan Sean padanya.
"Olivia, biarkan Sean bermain. Lihatlah pengawal Brayen selalu mengawasi putranya. Kau tidak perlu mencemaskan, Sean." ujar Felix.
"Baiklah, kalau begitu kita duduk saja. Aku lelah." kemudian Olivia duduk di kursi yang tidak jauh darinya. Begitupun dengan Felix yang juga duduk mengikuti Olivia.
"Felix?" panggil Olivia seraya menoleh ke arah Felix.
"Kenapa sayang?" kini Felix mengalihkan pandangannya, lalu menatap lekat Olivia yang duduk di sampingnya.
"Jika suatu saat, apa yang kau tunggu adalah sia - sia, apa yang akan kau lakukan, Felix?" tanya Olivia dengan tatapan yang begitu serius pada Felix.
"Apa maksud dari pertanyaanmu, Olivia?" Felix menautkan alisnya. Ekspresi wajahnya kini berubah, ketika mendengar pertanyaan dari Olivia.
"Aku hanya bertanya, Felix." jawab Olivia.
Felix terdiam sesaat, lalu dia mengalihkan pandangannya kedepan dengan pikiran menerawang. "Dalam hidup, tidak semuanya berjalan dengan apapun yang kita inginkan. Aku bertahan dengan apa yang aku yakini. Kesalahanku di masa lalu, mungkin sulit membuatmu untuk melupakannya. Tapi percayalah, Olivia hingga detik ini aku masih belum bisa memaafkan kesalahanku. Tapi, jika kau memintaku untuk pergi, jawabannya adalah tidak bisa. Aku akan tetap di sisimu. Dengan atau tanpa persetujuamu, Olivia."
Mata Olivia berkaca-kaca, dia menatap Felix dengan lembut. Hatinya begitu menghangat mendengar ucapan dari Felix. Hingga kemudian, air matanya jatuh membasahi pipinya. Dia sungguh tidak menyangka dengan kesetiaan Felix selama ini. Tiga tahun ini, Felix sama sekali tidak pernah mengeluh meski harus menunggu lama.
Felix yang menatap Olivia, dia langsung menghapus air mata Olivia dengan jemari tangannya seraya berkata "Ssst, jangan menangis sayang. Melihatmu menangis seperti ini adalah hal yang paling aku benci. Selama ini aku selalu melakukan banyak cara untuk membuatmu bahagia. Jadi, jangan pernah menangis, karena aku tidak menyukainya."
Tanpa menjawab Olivia langsung memeluk erat tubuh Felix. Dia terisak dalam pelukan Felix. Dia sungguh tidak menyangka, pria yang selalu menemaninya adalah pria yang sangat baik. Bahkan Felix masih menyalahkan dirinya sendiri, atas kejadian tiga tahun yang lalu.
"Nikahi aku Felix." Isak Olivia dalam pelukan Felix.
Felix tersentak, dia memegang bahu Olivia, lalu menjauhkan dari tubuhnya. "Kau sedang tidak bercanda, kan?"
"Tidak Felix! Aku tidak pernah mungkin bercanda seperti ini!" Balas Olivia kesal.
"Terima kasih sudah mau menerimaku, Olivia. Aku tidak pernah mengira kau akan menerimaku." ucap Felix.
Olivia tersenyum, seraya mengelus lembut rahang Felix. "Terima kasih, atas kesetiaanmu yang menungguku, Felix. Terima kasih, kau tidak pernah lelah denganku. Selama tiga tahun ini, aku selalu melihat ketulusan dalam dirimu Felix."
Felix menarik dagu Olivia, dia mengecup bibir wanita itu. "Seharusnya aku yang berterima kasih, karena kau mau menerimaku dan memaafkan kesalahanku."
"Paman Felix.... Bibi Olivia...." Sean menghampiri Felix dan juga Olivia.
"Paman, you kissed Bibi Olivia?" Sean memiringkan kepalanya, dia menatap Olivia dan juga Felix.
"Kemari boy.... Paman ingin katakan padamu sebentar lagi Paman akan menikah dengan Bibimu." seru Felix begitu antusias. Dia mengulurkan tangannya, dan langsung menggendong Sean.
"Paman dan Bibi akan menikah? Seperti Daddy dan Mommy?" Sean memeluk leher Felix dan menempelkan pipinya pada pipi Felix.
Felix mengangguk. "Ya, seperti Daddy dan Mommymu."
"Artinya nanti, aku akan memilki adik sepupu seperti Vania?" Sean memiringkan kepalanya menatap Felix.
Felix mengulum senyumannya. " Paman akan memberikanmu dua belas adik sepupu, Sean."
Olivia mendelik, dia menatap tajam ke arah Felix. Tatapannya penuh peringatan.
"Paman, dua belas terlalu banyak. Aku tidak mau, nanti mereka seperti Vania yang selalu menggangguku." cebik Sean sembari mengerutkan bibirnya.
"Ah, kau memang keponakan Bibi yang paling Bibi sayangi." Olivia mengelus lembut pipi gemuk Sean.
Felix mendengus, dia mencubit pelan hidung Sean. "Kenapa kau tidak mendukung Paman? Kau tahu Sean. Mainanmu yang Paman belikan itu sangat mahal. Kenapa kau tidak mendukung Paman? Harusnya kau itu mendukung Pamanmu."
Sean tersenyum, memperlihatkan gigi putihnya. "Aku mendukung Paman. Tapi Bibi Olivia sangat cantik dan baik. Jadi aku juga mendukung Bibi Olivia."
Olivia terkekeh mendengar ucapan Sean, dan dia langsung mencium pipi gemuk Sean gemas.
Felix berdecak. "Kau ini anak siapa? Kenapa pintar sekali berbicara?"
"Kata siapa, Daddymu itu pintar? Daddymu itu sangat menyebalkan. Kelak ketika kau dewasa, kau jangan seperti Daddymu." Felix menempelkan hidungnya pada hidung mungil Sean, lalu menggeseknya pelan.
"Memangnya kenapa jika aku besar seperti Daddy? Daddyku sangat tampan dan selalu membelikan apapun yang aku inginkan, Paman." jawab Sean.
"Daddymu memang memiliki banyak uang. Tapi tetap jangan sampai sifatmu seperti Daddymu." balas Felix.
"Lalu apa aku harus seperti Paman Felix? Paman Felix baik dan tampan." Sean mengeratkan pelukannya di leher Felix.
"Jangan! Jangan seperti Pamanmu! Lebih baik kau seperti Daddymu! Daddymu tidak pernah bermain dengan banyak wanita! Tidak seperti Paman Felix yang memiliki banyak wanita." Olivia mencibir dengan nada penuh ejekan.
"Jadi Paman memilki banyak wanita? Kata Daddy, menikah hanya dengan satu wanita saja, Paman! Tidak boleh lebih dari satu wanita" Cebik Sean.
Felix berdecak, kini tatapannya menatap dingin Olivia. "Jangan dengarkan Bibimu! Paman tidak seperti itu! Sekarang Paman hanya memiliki Bibimu, tidak ada wanita lain!"
"Paman tidak berbohong, kan?" Sean menatap Felix dengan bibir yang masih mengerut.
"Tidak boy. Paman hanya memiliki Bibimu," Felix mencium seluruh wajah Sean gemas. Kemudian dia menggelitik perut Sean, hingga membuat Sean tertawa.
Kini Felix merengkuh bahu Olivia dengan tangan kirinya. Dan tangan kanannya masih menggedong Sean, mereka berjalan menuju cafe. Sepanjang perjalanan, Olivia menatap Felix. Olivia benar - benar bersyukur, memiliki pria yang begitu setia seperti Felix. Tidak hanya itu, tapi Felix begitu mencintai dirinya.
...***...
Brayen berdiri di depan ruang unit gawat darurat, dia terus mengumpat. Sudah sejak tadi dokter memeriksa keadaan sang istri tapi belum juga selesai. Brayen terus mondar-mandir tidak tenang. Alvaro dan Marsha yang berada di sana, mereka pun ikut cemas. Terutama melihat Brayen yang tidak bisa tenang.
Ceklek.
Suara pintu ruang pemeriksaan terbuka. Dengan cepat Brayen langsung menghampiri sang dokter.
"Bagaimana keadaan istriku?" tanya Brayen cepat ketika melihat sang dokter. Terlihat wajahnya begitu panik dan cemas.
Sang dokter tersenyum. "Tuan, selamat istri anda sedang hamil. Kandungan istri anda sudah memasuki minggu kedua belas."
Brayen tersentak, dia begitu terkejut mendengar apa yang di katakan oleh sang dokter. "Istriku hamil?' ulangnya yang masih tidak percaya.
Sang dokter menggangguk. "Berarti selama ini Nyonya Devita tidak menyadari telah hamil tiga bulan. kandungannya memang terlihat kecil. Tapi bayi kalian sangat sehat. Selain itu, saya juga ingin menyampaikan sesuatu."
"Sesuatu? Ada apa dengan istriku?" raut wajah Brayen kembali berubah menjadi panik dan cemas, mendengar sang dokter ingin menyampaikan sesuatu.
"Selamat Tuan, istri anda mengandung anak kembar." ujar sang dokter sontak membuat Brayen terkejut.
"Kembar?" Brayen menatap sang dokter dengan tatapan tak percaya, dia takut apa yang dia dengar ini salah.
"Benar, Tuan. Istri anda mengandung anak kembar." jawab sang dokter itu lagi.
"Apa aku bisa menemui istriku?" Brayen menunjukkan wajah yang begitu bahagia. Saat ini, dia hanya ingin bertemu dengan Istrinya.
Sang Dokter itu pun menggangguk. "Silahkan, Tuan...."
Tanpa menunggu lama Brayen langsung berjalan cepat masuk kedalam ruang rawat istrinya. Sedangkan Alvaro dan Marsha memilih untuk memberikan privasi untuk Brayen dan Devita. Mereka pun tetap menunggu di luar ruang rawat.
...*******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.