
Brayen menghapus air mata Devita dengan jemarinya. "Aku mencintaimu, Devita. Demi Tuhan, aku menyesal dengan apa yang telah aku lakukan padamu. Aku menjauh darimu karena aku tidak ingin melihatmu terluka dengan perkataanku. Kenyataannya aku sudah melukai hati istriku. Bahkan aku telah melukai anakku. Aku berjanji tidak akan pernah melukaimu. Aku sungguh minta maaf."
"Aku memperbolehkanmu menginap di rumah Olivia, karena aku ingin melihatmu kembali tersenyum. Setelah ini, aku pastikan kau tidak akan pernah lagi terluka," Brayen mengecup bibir Devita. "Kau dan juga anak kita adalah yang terpenting dalam hidupku, Devita. Rasa marah dan kecewanya aku padamu, tidak akan pernah lebih besar dari perasaan cintaku padamu."
Devita tersenyum, "Terima kasih, sudah memberikan waktu untukku."
"Aku mohon jangan terlalu lama." Brayen bersimpuh di depan Devita, menatap memohon wajah istrinya. "Kau boleh menyiksaku setelah ini. Tapi jangan terlalu lama menjauh dariku. Aku tidak akan pernah sanggup berada jauh darimu Devita. Kau boleh memukulku atau apapun. Asal kau tetap berada di sisiku."
Hati Devita tersentuh mendengar semua perkataan dari Brayen. Meski hatinya masih begitu sakit dan kecewa. Namun, tidak bisa di bohongi, Devita menatap iba suaminya yang bersimpuh di hadapannya. Devita menyentuh rahang Brayen dan mengelusnya dengan lembut. "Dari semua masalah yang menghampiri kita, semua membuat kita belajar. Paling tidak aku lebih memahamimu. Kedepannya, kelak di masa depan kita tidak lagi mengulangi hal yang sama. Aku bukan ingin melarikan diri darimu. Tapi aku ingin menenangkan diriku sendiri. Bukan hanya diriku, tapi kau juga Brayen. Begitu banyak masalah yang ada. Terlebih kau masih harus memikirkan Laretta."
"Kau sangat tahu, masalah Laretta ada kaitannya dengan masa laluku. Aku ingin melihat, bagaimana caramu menyikapi masalah ini. Aku tidak pernah menginginkan, masa laluku harus selalu ada di tengah-tengah kita. Kenyataannya, masa laluku selalu terbawa. Aku ingin kau jauh bersikap bijaksana dalam menangani masalah ini Brayen."
"Aku menyetujuimu dengan menenangkan dirimu sendiri. Tapi, aku mohon jika memang kau menginginkan menenangkan dirimu, bicarakan itu padaku. Karena sikapmu kemarin telah melukai hatiku Brayen. Kau bahkan mengusirku, kau mengatakan aku menganggu. Kau juga-"
"Maaf......" Brayen menangkup pipi Devita, menempelkan keningnya pada kening istrinya. "Maaf sayang, aku memang bersalah. Aku minta maaf.Demi Tuhan, kedepannya aku tidak akan pernah melakukan hal yang akan melukai perasaanmu.Aku sungguh menyesal Devita....."
"Kita membutuhkan waktu sejenak untuk memikirkan semua ini Brayen." balas Devita dengan suara pelan.
Brayen menunduk, dia memejamkan mata sebentar. Pada akhirnya Brayen menyesal dengan apa yang telah dia lakukan. Menjauh tanpa berbicara pada istrinya adalah suatu hal kesalahan terbesar di hidupnya. Brayen mengerti, perkataannya telah begitu melukai Devita. Hingga membuat istrinya itu, memilih untuk menenangkan diri menjauh darinya.
...***...
Brayen menatap mobil istrinya yang mulai berjalan meninggalkan mansion. Brayen memilih untuk memberikan sedikit waktu bagi Devita untuk menenangkan diri. Namun, bukan artinya untuk waktu yang lama. Brayen tidak akan pernah bisa jika harus berjauhan lama dengan istrinya. Brayen menyadari kesalahannya hingga membuat istrinya menjauh darinya. Brayen berjanji setelah ini, dia tidak akan lagi menyakiti Devita.
Laretta menyentuh lengan Brayen menenangkan Kakaknya itu. Sejak tadi, Laretta menemani Brayen ketika mobil Devita berjalan meninggalkan rumah. Laretta memahami Devita, alasan kenapa Devita memilih untuk menenangkan diri. Karena memang, terlalu banyak penderitaan dari Devita. Terlebih kandungan Devita saat ini sangat lemah, itu yang membuat Devita ingin menenangkan dirinya sebentar. Bagi Laretta, dengan menenangkan diri itu jauh lebih baik. Devita dan juga Brayen akan sama - sama berpikir tentang kesalahan mereka.
"Kak, biarkan Devita menikmati waktunya, Kak." ujar Laretta. "Aku tahu, Devita tidak ingin memikirkan beban berat, setelah Dokter mengatakan kandungannya sangat lemah, itu yang membuat Devita takut. Aku harap kau bisa mengerti Devita. Berikan waktu untuknya sebentar. Nanti, kau bisa menjemputnya kembali, Kak. Aku yakin, Devita hanya membutuhkan sedikit waktu."
Brayen mengangguk samar. "Aku pasti akan segera menjemputnya."
"Ya sudah, aku masuk dulu ke kamar, Kak. Lebih baik, kau juga masuk dan beristirahat." kata Laretta mengingatkan. Lalu dia membalikkan tubuhnya, berjalan meninggalkan Brayen yang masih tidak bergeming dari tempatnya.
Tidak lama kemudian, sebuah mobil Porsche memasuki halaman parkir. Brayen mengerutkan keningnya ketika melihat Albert turun dari mobil dan melangkah mendekat ke arahnya.
"Tuan," sapa Albert menundukkan kepalanya yang kini sudah berada di hadapan Brayen.
"Ada apa? Bukannya aku sudah mengatakan padamu, aku itu sedang tidak ingin di ganggu?" suara Brayen bertanya terdengar begitu dingin.
"M- maaf Tuan. Saya hanya ingin memberitahu laporan tentang Raymond Bautista," jawab Albert yang masih menundukkan kepalanya.
Brayen membuang napas kasar. "Apa yang ingin kau laporkan tentang pria sialan itu?"
"Begini Tuan, Raymond Bautista sudah meninggalkan Indonesia." jawab Albert. "Saya sudah pastikan Raymond Bautista tidak akan pernah lagi menganggu Nyonya."
"Good, jika sampai dia berani menganggu Istriku. Maka aku akan menghancurkannya di detik ini juga," tukas Brayen dingin.
"Albert, sekarang kau harus mengawasi istriku. Devita sedang berada di rumah Olivia. Pastikan kau selalu tahu kemana istriku pergi. Kau tidak boleh lengah, meski hanya sedikit. Jika sampai aku tahu, kau lengah maka kau akan tahu akibatnya!" Seru Brayen dengan penuh peringatan.
"B- baik, Tuan." Albert kembali menunduk, dia tidak berani menatap Brayen.
"Bagaimana kabar dari Alena Nakamura. Apa yang di lakukan ****** itu di penjara?" Brayen bertanya sarkas. Tatapannya menatap lekat Albert yang berdiri di hadapannya.
"Tuan, saat ini Angkasa Nakamura dan Varell Nakamura sama sekali tidak melakukan pembelaan. Mereka menyerahkan semuanya pada pihak kepolisian," ujar Albert.
Brayen menyeringai puas. "Wanita itu pantas mendapatkannya."
"Sekarang kau kembalilah ke perusahaan. Hari ini jangan mengangguku. Ingat, aku tidak akan memaafkanmu jika kau melakukan kesalahan. Terlebih dalam menjaga istriku!" Tukas Brayen tajam.
"Saya akan melakukan yang terbaik, Tuan." jawab Alberlt.
Brayen membalikkan tubuhnya, dia langsung berjalan meninggalkan Albert.
...***...
Brayen menyadari satu hal, apa yang dia lakukan memang sudah melewati batas. Dia membiarkan Devita melewati setiap malamnya tidur sendirian. Brayen memejamkan mata singkat, setelah ini dia berjanji tidak akan lagi melukai istrinya.
Pandangan Brayen itu menatap bingkai foto yang terletak di atas nakas. Brayen mengambil bingkai foto itu, dia melihat foto dirinya dan juga foto Devita yang tengah berlibur di Las Vegas. Terlihat jelas senyum kebahagiaan di wajah istrinya itu. Seharusnya, inilah yang Brayen lakukan. Membuat Devita bahagia, bukannya membuat Devita menderita.
Terdengar suara dering ponsel Brayen meletakkan bingkai foto ke tempat semula. Brayen membuang napas kasar ketika ponselnya tidak henti berdering. Dengan malas, Brayen mengambil ponselnya. Brayen menatap ke layar tertera nomor ibunya tengah menghubunginya. Tidak ada pilihan lain, mau tidak mau Brayen harus menjawab, jika tidak sama saja mencari masalah. Brayen menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan, sebelum kemudian menempelkan ketelinganya.
"Ya?" jawab Brayen datar, saat panggilannya terhubung.
"Apa yang kau lakukan Brayen Adams Mahendra!" Suara Rena berseru di sebrang telepon.
"Ada apa, Mom? Kenapa kau langsung berteriak?" balas Brayen dingin.
"Kau masih bertanya ada apa? Sekarang katakan pada Mommy apa yang sudah kau lakukan pada istrimu!"
Brayen mengerutkan keningnya, ketika mendengar perkataan dari Rena. "Katakan yang jelas. Maksudnya apa, Mom?"
"Brayen! Kau ini sungguh sangat keterlaluan! Jangan kau pikir Mommy hanya diam dan tidak mengawasimu! Selama Devita hamil, Mommy meminta orang untuk mengawasi kau dan Devita! Apa yang kau lakukan pada istrimu Brayen Adams Mahendra! Di mana pikiranmu? Kau berniat membunuh cucu dan menantu Mommy? Katakan sekarang!" Rena meninggikan suaranya.
"Jadi, selama ini Mommy mengawasiku dan juga Devita?!" Brayen menggeram, menahan emosinya.
"Iya! Mommy mengawasi kalian! Mommy tidak ingin mengambil resiko! Devita sedang hamil, dan Mommy tidak ingin terjadi sesuatu pada cucu dan menantu kesayangan Mommy! Sekarang katakan, kenapa kau melakukan itu pada istrimu? Mommy memang bangga padamu, karena sudah membela Laretta. Tapi, apa yang telah kau lakukan pada Devita, itu sangat keterlaluan Brayen! Dimana letak pikiranmu itu, dengan menghukum istrimu yang sedang hamil?"
Brayen membuang napas kasar. "Tapi aku sudah minta maaf pada Devita, Mom."
"Kau meminta maaf setelah hampir membunuh cucu dan menantu Mommy! Begitu maksudmu?!"
"Mom! Aku bisa menyelesaikan sendiri masalahku dengan istriku!"
"Brayen, dengarkan Mommy baik - baik! Mommy selama ini sengaja diam, ketika kau ada masalah ini. Mommy ingin tahu, apa yang akan kau lakukan. Tapi kenyataannya kau selalu tidak bisa mengendalikan amarahmu. Bukannya sudah sejak dulu sering Mommy katakan padamu, agar kau itu bisa mengendalikan amarahmu! Apa kau ingin, istrimu itu pergi meninggalkan dirimu, karena sifatmu ini!" Seru Rena.
"Devita tidak akan pernah meninggalkanku, Mom! Devita selamanya akan menjadi milikku!" Tukas Brayen menekankan.
"Tetapi, dengan mengandung anakmu bukan jaminan Devita tidak akan meninggalkanmu! Wanita mana yang tahan dengan sifat suaminya sepertimu! Sudah Mommy katakan padamu, kau itu harus bisa mengendalikan amarahmu Brayen! Ingat, jika sampai terjadi sesuatu pada cucu dan menantu Mommy, maka kau akan tahu akibatnya!"
"Baiklah, aku akan menjemput Devita!"
"Tidak hanya menjemput. Tapi kau harus bersungguh-sungguh untuk meminta maaf pada Devita! Mommy tidak mau tahu, kau itu harus menebus segala kesalahanmu! Kau tidak ingin kehilangan anak dan istrimu bukan? Maka kau harus meluluhkan hati istrimu! Jangan kecewakan lagi Devita. Sejak dulu, Mommy sudah sangat menginginkan Devita sebagai menantu Mommy. Dan kau, sudah berani menyakiti menantu kesayangan Mommy!"
"Aku sudah mengatakan bukan, akan segera menjemput Devita pulang, Mom!" Brayen menjawab dengan malas. Bukan tidak ingin, tapi dia lelah mendengarkan ceramahan dari Ibunya.
"Ya sudah, Mommy akan tetap melihat kalian dari kejauhan. Dan untuk masalah Laretta, Mommy dan Daddy percayakan sepenuhnya padamu bahwa kau bisa mengambil keputusan yang terbaik untuk Laretta."
"Ya," Brayen menutup panggilan teleponnya, lalu meletakkan ponselnya ke tempat semula.
Brayen mengumpat di dalam hati, mengingat ibunya selama ini mengawasi dirinya dan Devita. Seharusnya Brayen sudah menyadari sejak awal. Karena memang Rena begitu menyayangi Devita. Terlebih, Rena selalu menginginkan Devita sebagai menantunya.
...******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.