Love And Contract

Love And Contract
Seperti Mimpi




Visual Alexander David Mahendra, semoga suka yah🤗


Rena membalas dengan senyumannya, lalu dia melangkah mendekat ke arah David. Kemudian Rena membawa David berjalan meninggalkan ruangan.


"Devita, kau masuklah kedalam kamarku." Brayen melihat ke arah Devita, dia sengaja meminta istrinya untuk masuk ke dalam kamar. Dia tidak ingin istrinya kelelahan.


"Ya Brayen, tapi aku ingin Laretta menemaniku." jawab Devita.


"Aku pasti menemanimu, kita masuk sekarang." Laretta langsung mendekat ke arah Devita, lalu memeluk lengan Devita meninggalkan ruangan.


Kini di ruangan hanya ada Brayen dan juga Angkasa. Jika Brayen tengah menyesap kopi tanpa menatap ke arah Angkasa, berbeda dengan Angkasa yang sejak tadi tidak berhenti menatap Brayen.


"Apa kau ingin mengatakan sesuatu padaku?" Brayen tahu, sejak tadi Angkasa menatapnya. Tapi memang dia tidak memperdulikan tatapan Angkasa. Brayen meletakkan cangkirnya ke tempat semula. Brayen menyilangkan kakinya dan kini membalas tatapan Angkasa.


"Kenapa kau membelaku di depan orang tuamu? Harusnya kau senang, jika aku mendapatkan penolakan dari mereka?" Angkasa menatap lekat Brayen, saat Brayen membela dirinya, ada rasa tidak percaya seorang Brayen mau membela dirinya.


"Aku tidak membelamu," Brayen tersenyum sinis. "Aku hanya mengatakan apa yang sebenarnya. Tidak mungkin kau akan melakukan kesalahan untuk kedua kalinya. Dan jika kau melakukan kesalahan untuk kedua kalinya, itu artinya kau sangat bodoh!"


"Allright, kau tidak perlu mengatakan apapun. Karena aku sudah melihatnya," balas Angkasa. "Aku kira, kau mulai menerima takdirmu menjadi Kakak Iparku. Dan aku berharap kedepannya, kau menyambut ku dengan baik."


"Menjadi adik iparku belum tentu aku akan menyambutmu dengan baik. Aku tidak memiliki kewajiban untuk menyambutmu dengan baik." jawab Brayen dingin.


"Aku rasa, cara menyambutku dengan sifatmu seperti ini sudah termasuk menyambutku dengan baik." Angkasa tersenyum tipis, "Dan kau tidak perlu cemas, aku akan menjaga adikmu dan selalu membahagiakannya."


"Kau memang tidak memiliki pilihan yang lain selain melakukan itu. Karena kau tahu, menikah dengan seseorang yang merupakan dari keluarga Mahendra, tentu tidak mudah." Brayen beranjak dari tempat duduknya, lalu menatap sinis ke arah Angkasa. "Jika kau merasa kau pantas bersanding dengan adikku, maka tujukkan itu. Dan satu hal yang harus aku tahu, Aku akan selalu terlibat dalam masalah adikku. Sedikit saja kau melukainya, maka bersiaplah menerima kehancuran mu." peringat Brayen tajam.


Brayen membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan Angkasa. Senyum di bibir Angkasa terukir saat mendapatkan peringatan dari Brayen. Dan sebentar lagi, pria angkuh itu akan menjadi Kakak Iparnya sendiri. Angkasa memang tidak pernah mengira, Brayen akan datang membela dirinya. Rasanya itu sungguh tidak mungkin. Tapi Brayen tetaplah Brayen. Pria itu tidak mengakui membela Angkasa. Bagi Angkasa, dia tidak butuh sambutan manis dari Brayen. Karena dia tahu, itu tidak mungkin terjadi.


...***...


Devita melangkah masuk kedalam kamar Brayen bersama dengan Laretta. Dia menatap setiap sudut kamar milik suaminya, yang bernuansa grey. Kamar Brayen cukup besar, tapi kamar ini tidak jauh lebih besar dengan kamarnya dengan Brayen di rumah mereka. Pandangan Devita kini menoleh ke dinding, senyum di bibirnya terukir ketika melihat foto pernikahannya dengan Brayen terpajang di dinding kamar Brayen. Bahkan di atas meja penuh dengan koleksi foto berdua Brayen dan juga Devita.


"Kau pasti tidak menyangka banyak foto mu dan Kakakku di sini, bukan?" Laretta sudah menebak raut wajah Devita yang terlihat begitu terkejut, ketika melihat fotonya dan Brayen sudah terpasang di kamar Brayen.


Devita menoleh dan melihat ke arah Laretta, "Ini semua kau yang meletakkannya atau Mom Rena yang meletakkannya?"


"Bukan kami," Laretta menggelengkan kepalanya. "Semua ini permintaan Kakakku. Memang pada awalnya, ada beberapa foto yang di letakkan Mommy di kamar Kakakku. Tapi kemudian, Kakakku mengirimkan banyak foto kalian berdua. Dan Kakakku sendiri yang meminta kamarnya untuk di penuhi foto kalian."


"Dan apa kau tahu, Devita? Ini pertama kalinya aku melihat Kakakku memperlakukan wanita seperti ini. Dulu ketika Kakakku memiliki hubungan dengan mantannya saja, tidak ada yang seperti ini." lanjut Laretta mengulum senyumannya.


"Seingatku hanya tiga kali. Aku tidak memperhatikannya. Tapi memang Kakakku itu tidak terlalu banyak memiliki mantan kekasih," balas Laretta. "Kau sangat tahu Kakakku memiliki sifat yang tidak ramah. Dia juga tidak suka pada wanita yang begitu memuja dirinya. Dan selama ini, Kakakkku menjalin hubungan dengan wanita, tidak ada satupun yang Kakakku kenalkan pada Mommy dan Daddy. Biasanya orang tuaku tahu, jika Kakakku menjalin hubungan hanya dari pemberitaan media atau paparazzi yang mengabadikan foto Kakakku dengan mantan kekasihnya."


Mendengar ucapan dari Laretta sontak membuat Devita terkejut. Devita tidak pernah tahu jika Brayen tidak pernah mengenalkan kekasihnya pada orang tuanya. Padahal terakhir Brayen menjalin hubungan selama bertahun-tahun dengan Elena.


"Bagaimana mungkin Brayen tidak mengenalkan kekasihnya? Terakhir Brayen menjalin hubungan lama dengan Elena?" Devita masih tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Laretta. Pasalnya, tidak mungkin Brayen tidak mengenalkan kekasihnya.


Laretta tersenyum, "Aku tahu, kau pasti tidak akan percaya. Tapi itulah kenyataannya. Dulu saat Kakakku menjalin hubungan dengan Elena. Dia tidak tinggal di kota B. Selain itu Kakakku sangat tahu sifat Daddyku. Daddyku sudah berkali-kali mengatakan pada Kakakku tidak menyukai Elena. Karena pekerjaan Elena sebagai seorang aktris, itulah yang membuat Daddyku tidak menyukai Elena."


"Aku sudah menduga sejak awal, Devita. Sejak saat Paman Edwin datang kerumah kami, Daddyku selalu bertanya tentangmu. Namun usiamu saat itu, kalau tidak salah masih tujuh belas tahun. Kakakku juga masih tinggal di Italia. Tapi entah kenapa aku yakin, orang tuaku berniat untuk menjodohkan Kakakku denganmu."


"Dan ternyata itu benar, bukan? Kau di jodohkan dengan Kakakku. Tentu saja aku sangat senang. Aku lebih menyukaimu menjadi Kakak Iparku dari pada Elena yang sering menghabiskan uang Kakakku itu."


Devita menggeleng pelan dan tersenyum. Setelah mendengar ucapan Laretta. Ada rasa bahagia di hati Devita, kenyataan Brayen tidak pernah mengenalkan wanita lain pada orang tuanya. Itu artinya memang hanya Devita satu - satunya wanita yang dekat dengan keluarga Brayen.


"Kau sungguh beruntung bisa mendapatkan hati Kakakku, Devita. Dia itu pria yang sangat sulit untuk serius pada seorang wanita. Dan aku yakin, dari semua wanita yang pernah hadir di kehidupan Kakakku, hanya kau yang paling di cintai olehnya." Laretta memeluk lengan Devita. Hatinya begitu senang memiliki Kakak Ipar seperti Devita.


"Aku juga beruntung memiliki Brayen," balas Devita. "Sekarang aku menunggumu dan Angkasa ikut berbahagia, seperti aku dengan Brayen. Kalian akan segera menikah aku senang mendengarnya.


Laretta tersenyum ketika mengingat Brayen membela Angkasa. Ini semua karena Kakaknya itu. Jika bukan, mana mungkin Ayahnya yang terkenal keras bisa menyetujui hubungannya dengan Angkasa.


"Aku sendiri tidak menyangka bisa mendapatkan restu dari kedua orangtuaku Devita. Ini benar - benar seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Bahkan Kakakku Brayen juga membantunya." ujar Laretta.


...**********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.