Love And Contract

Love And Contract
Kepanikan Olivia



"Felix? Kau ada di sini?" tanya Laretta saat melihat Felix menuruni tangga.


"Aku habis bertemu dengan Kakakmu," jawab Felix dengan nada kesal.


"Apa ada masalah?" Laretta menatap lekat wajah Felix.


"Tidak, lupakan saja." balas Felix yang lebih memilih untuk tidak membahas tentang Brayen. "Bagaimana kabarmu, Laretta? Aku sudah lama tidak bertemu denganmu. Kau terlihat semakin cantik dengan perutmu yang semakin membuncit?"


Laretta terkekeh pelan. "Kau itu sedang memujiku atau menghinaku Felix? Bajuku saja sudah banyak yang tidak muat."


Felix tersenyum. "Kau selalu cantik Laretta, berapa usia kandunganmu?"


"Dua puluh Minggu, Felix." jawab Laretta.


"Kau sudah tahu jenis kelamin anakmu?"


"Aku sengaja tidak memeriksanya, biarkan nanti saja. Aku tidak masalah perempuan atau laki-laki. Terpenting dia sehat?"


"Kau benar, perempuan atau laki-laki. Aku tahu, keponakanku pasti akan menjadi anak yang hebat."


Laretta tersenyum. "Bagaimana kabar Olivia? Kapan rencananya kamu akan menikah dengan Olivia?"


Felix membuang napas kasar. "Mungkin satu atau dua tahun lagi. Itu keinginan Olivia. Bagaimana denganmu sendiri Laretta? Apa Brayen sudah menyetujui lagi hubunganmu dengan Angkasa?"


"Belum," jawab Laretta. "Aku rasa Kakakku tidak akan pernah lagi menyetujui hubunganku dengan Angkasa. Kau sudah tahu semuanya bukan? Termasuk tentang Alena?"


Felix mendekat ke arah Laretta, dia menyentuh tangan Laretta. "Ya, aku tahu semuanya, Laretta. Aku yakin, Brayen hanya sedang menguji hubunganmu dan Angkasa saja. Kakakmu itu pasti menginginkan yang terbaik untukmu, Laretta. Teruskan perjuangan hubunganmu dan Angkasa. Suatu saat Brayen akan melihat keseriusan hubungan kalian berdua."


"Semoga itu benar, Felix. Karena jujur terkadang aku mulai menyerah." balas Laretta dengan tatapan sendu. "Aku sangat mengenal sifat keras Kakakku. Aku takut jika aku berharap banyak, itu tidak akan sesuai dengan kenyataan yang aku dapat nantinya aku akan semakin terluka."


"Laretta," Felix menyentuh bahu Laretta dan mengelusnya. "Aku menyayangimu, aku yakin. Brayen jauh lebih menyayangimu. Kau adalah adiknya. Percayalah, meski sikap Kakakmu itu bersikap keras, tapi dia selalu menginginkan yang terbaik untukmu. Lebih baik, kau berpikir positif. Hilangkan pikiran burukmu itu. Kau itu sedang hamil dan tidak baik membebani pikiranmu dengan hal yang berat.


Laretta mengulas senyuman yang hangat di wajahnya. "Ya, kau benar Felix. Terima kasih, sekarang aku hanya berharap Kakakku itu mau menerima Angkasa kembali."


"Aku pastikan Brayen akan menerima Angkasa." tukas Felix dingin.


...***...


Sinar matahari pagi menembus jendela. Suara kicauan burung saling bersahutan. Dua wanita yang tengah tertidur pulas di balik selimut, begitu enggan membuka mata mereka. Dering alarm pagi itu, membuat Olivia mengumpat dan langsung mematikan alarmnya. Sedangkan Devita kini mulai membuka matanya, ketika cahaya matahari pagi menyentuh wajahnya. Devita menguap dan menggeliat dan menatap ke samping Olivia masih tertidur pulas.


"Olivia, apa kau tidak ingin bangun? Sejak tadi malam kau itu tidur pulas sekali." suara serak khas baru bangun tidur, Devita menyapa sahabatnya itu.


Dengan terpaksa Olivia membuka matanya. "Aku masih mengantuk, tadi malam kau pulang jam berapa?"


"Jam delapan." jawab Devita. "Kau sudah tertidur pulas, jadi aku tidak membangunkanmu."


"Maaf, aku sangat mengantuk." balas Olivia. Kemudian Olivia bangun dari tempat tidurnya, dia mengambil ponsel dan menelepon pelayan untuk mengantarkan makanan ke kamarnya."


"Aku ingin mandi dulu." kata Devita. Olivia mengangguk.


Devita beranjak dari tempat tidurnya, dia langsung menuju ke arah kamar mandi. Tidak lama kemudian. Setelah Devita mandi, dia langsung mengganti pakaiannya dengan dress yang sederhana dan tentunya yang longgar di bagian perutnya. Karena memang sekarang Devita sudah tidak lagi memakai dress yang berukuran pas di tubuhnya.


"Olivia? Kau sudah mandi?" tanya Devita ketika melihat Olivia tengah menyantap tuna sandwich di tangannya.


"Sudah, tadi aku mandi di kamar sebelah." jawab Olivia. "Kau sarapan dulu, aku sudah meminta pelayanku membuatkan tuna sandwich dan cheesecake untuk kita."


Devita mengangguk, kemudian dia duduk di samping Olivia dan menikmati tuna sandwich yang sudah di siapkan itu."


"Devita, kemarin Selena berbicara apa padamu? Aku lihat sepertinya sangat penting." ujar Olivia yang sejak tadi malam penasaran.


"Tentang Brayen," jawab Devita singkat.


Olivia tersedak, dia terbatuk mendengar perkataan sahabatnya itu. Devita mengambil gelas yang berisikan air putih, dan langsung memberikannya pada Olivia.


"Pelan - pelan, Olivia." ucap Devita ketika sudah memberikan gelas yang berisikan air putih itu pada Olivia.


Olivia meneguk air putih, lalu meletakkan gelas yang dia pegang ke tempat semula. "Kenapa Selena membicarakan tentang Brayen?"


"Apa kau mengingat, waktu di Las Vegas, Laretta pernah menceritakan tentang sahabatnya yang begitu mencintai Brayen?" ujar Devita.


Seketika Olivia terdiam. Mengingat di Las Vegas dulu. Namun tidak lama kemudian Olivia langsung mengingat ucapan Laretta di Las Vegas. "Jangan katakan padaku wanita yang begitu terobsesi pada Brayen adalah Selena?" tebak Olivia, menatap tak percaya pada Devita.


"Ya, dia Selena." jawab Devita. "Tadi malam, Selena mengajakku berbicara karena dia ingin berpamitan."


"Berpamitan?" Olivia mengerutkan keningnya, menatap bingung Devita.


"Dia akan menetap tinggal di Paris. Dia bilang, tidak akan lagi kembali ke Indonesia." ujar Devita.


"Kenapa dia pindah? Apa karena Brayen?" tanya Olivia.


"Dia bilang, dia tidak sanggup melihat Brayen." balas Devita. "Apa kau tahu, Olivia. Apa yang sudah Brayen katakan pada Selena?"


"Apa?" Olivia menatap serius Devita.


Devita tersenyum senang. "Saat Selena meminta berteman dengan Brayen, suamiku itu mengatakan tidak ada pertemanan antara wanita dan pria. Aku sungguh tidak menyangka, Brayen akan mengatakan itu. Ya aku tahu, Selena akan terluka karena itu. Tapi di sisi lainnya, aku bahagia karena sekarang aku benar-benar yakin dan tidak salah memilih seorang pria yang telah menjadi suamiku."


Devita mengakui dirinya bahagia mendengar perkataan Selena tadi malam. Karena memang apa yang Devita dengar tentang Brayen, membuat hatinya tersentuh. Bahkan rasa marah dan kecewa Devita pada Brayen mulai menghilang. Devita sungguh bersyukur memiliki suami seperti Brayen. Lepas dari Brayen yang selalu buruk dalam mengendalikan emosinya, tapi Brayen selalu menjaga dengan baik rumah tangga mereka. Devita sering mengingat tentang sebuah perumpamaan tentang seseorang tidak akan masuk kedalam rumah, jika pemilik rumah tidak membukakan pintu. Begitu pun dengan hubungannya. Brayen tidak pernah membukakan hatinya untuk wanita lain.


Devita mengangguk. "Kau pasti terkejut bukan? Tidak hanya kau, tapi aku sendiri tidak menyangka Brayen akan mengatakan itu pada Selena."


"Brayen sungguh manis, kau sungguh membuatku iri saja." balas Olivia dengan nada kesal. "Beberapa hari yang lalu aku melihat kontak di ponsel Felix dan melihat banyak sekali nomor kontak wanita. Andai Felix bisa seperti Brayen."


Devita terkekeh geli. "Felix itu sangat ramah. Itu kenapa Felix memiliki banyak sekali teman wanita."


Olivia mencebik. "Tapi tetap saja, beruntung aku itu tidak pernah cemburu. Jika aku perempuan yang mudah cemburu, aku pastikan semua teman wanita Felix sudah aku hajar karena berani menganggu kekasihku."


Devita menggeleng pelan dan tersenyum. "Kau ini berlebihan sekali."


"Damn it!" Olivia mengumpat, ketika mengobrol dengan Devita tiba - tiba lampu di rumahnya mati.


"Olivia, kenapa lampu di rumahmu bisa mati?" keluh Devita.


Olivia membuang napas kasar. "Aku tidak tahu, kau tunggu sebentar. Aku ingin menghubungi pelayan."


Olivia mencari ponselnya, beruntung ponselnya berada di sampingnya. Olivia menatap ke layar ponsel dia kembali mengumpat kasar ketika melihat tidak ada sinyal di ponselnya.


"Ada apa Olivia?" tanya Devita ketika mendengar Olivia yang terus mengumpat.


"Sialan, tidak ada sinyal Devita!" Umpat Olivia.


"Ya sudah, aku akan menemanimu ke bawah dan bertemu dengan pelayan." ujar Devita.


"Jangan, ini gelap. Kau itu sedang hamil. Jika sampai kau terjatuh. Nanti Brayen akan membunuhku karena tidak bisa menjagamu," balas Olivia. "Kau tunggu di sini, jangan kemana - mana. Aku akan segera kembali. Dan gunakan ponselmu untuk senter."


Devita mengangguk, "Ya, tapi jangan lama-lama. Aku takut, jika di tinggal sendiri."


"Kau tenang saja." Olivia beranjak dari tempat duduknya, dia menghidupkan senter dari ponselnya lalu berjalan pelan meninggalkan kamar.


Ketika Olivia pergi, Devita langsung menghidupkan senter. Devita mengatur napasnya, dia berusaha untuk tidak takut lagi. Meski sebenarnya, Devita paling tidak bisa jika dalam gelap seperti ini.


Dua puluh menit sudah, Devita menunggu Olivia. Namun, Olivia masih belum juga kembali.


"Astaga, kenapa Olivia lama sekali! Jika tahu seperti ini, lebih baik aku ikut saja tadi." gerutu Devita yang sudah tidak lagi sabar. Pasalnya, lampu belum juga menyala. Hal yang paling Devita benci adalah menunggu di keadaan gelap yang seperti ini.


Brakkk.


Terdengar suara pecahan, membuat Devita tersentak. Devita mengedarkan pandangannya, dia mengarahkan senter dari ponselnya ke sumber suara itu.


"Olivia? Kau menabrak sesuatu?" Devita memanggil sedikit keras.


Devita mengerutkan keningnya, ketika tidak ada jawaban. Hingga kemudian Devita beranjak dari tempat duduknya dan memutuskan untuk melihat ke sumber suara itu. Devita mengarahkan senter dari ponselnya itu untuk membantunya menerangi jalan.


"Olivia? Kau di sana?" panggil Devita lagi dengan cukup keras.


Devita berdecak kesal, ketika tidak ada jawaban apapun dari Olivia. "Olivia! Kau jangan main-main! Kau itu menakutiku saja!"


Brakkk.


Suara pecahan kembali terdengar. Jantung Devita berdegup kencang. Kini ketakutan dirinya semakin bertambah. Sebisa mungkin Devita mengatur napasnya, dia berusaha untuk tidak takut. Selama berjalan menuju ke sumber suara itu, Devita berdoa agar lampu langsung menyala.


"Hmmptttttttt," Devita terkejut ketika ada seseorang yang kini membekap mulutnya. Devita berusaha berontak dari orang yang membekapnya. Namun seketika pandangan Devita mulai kabur. Tubuh Devita ambruk dan orang itu langsung menangkap tubuh Devita.


...***...


"Devita? Kau dimana?" suara Olivia berseru saat lampu sudah menyala, dia masuk ke dalam kamar. Olivia mencari Devita di setiap sudut kamarnya. Tapi, dia juga tidak menemukan sahabatnya itu.


Olivia langsung mengeluarkan ponselnya, dia langsung menghubungi nomor telepon Devita. Seketika Olivia langsung menjauhkan ponselnya, saat mendengar suara dari dering ponsel Devita. Olivia berjalan cepat menuju dering ponsel itu.


Pandangan Olivia kini menatap ponsel milik Devita yang sudah tergeletak di atas lantai. Olivia mengambil ponsel milik Devita. Dia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan. Jantung Olivia berdegup dengan kencang, pikiran buruk muncul dari dalam dirinya.


"Devita?" teriak Olivia keras. Namun, tetap tidak ada jawaban.


"Astaga, apa yang terjadi. Brayen bisa langsung membunuhku jika sampai terjadi sesuatu pada Devita," gumam Olivia yang mulai ketakutan.


Olivia mondar - mandir dan terlihat begitu gusar. Dia berusaha untuk tidak panik, tapi tetap saja Olivia tidak bisa untuk tidak panik. Dengan cepat Olivia mengeluarkan ponselnya, dan langsung mencari kontak milk Brayen. Dia harus segera menghubungi Brayen.


"Sialan!" Maki Olivia, ketika tidak ada jawaban dari Brayen.


Olivia meremas kuat rambutnya, dia memikirkan siapa yang harus dia hubungi. Tidak lama kemudian, Olivia mengingat satu nama dan itu adalah kekasihnya sendiri. Pasti Felix akan segera membantunya. Olivia mencari nomor kontak Felix, dan langsung menghubungi kekasihnya itu.


...******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.