Love And Contract

Love And Contract
Kabar Tentang Angkasa



"Brayen, kita harus berfoto sebelum makan. Aku ingin foto kita banyak, Brayen," kata Devita bersemangat.


"Ya baiklah," jawab Brayen datar.


"Kemari Brayen." Devita langsung menarik tangan Brayen. Mengambil ponselnya dan memotret dirinya dan Brayen. Berbagai pose di kamera, mulai dari tersenyum manis sampai berciuman dengan Brayen. Hingga berfoto sampai Brayen memeluk Devita.


"Di ponselku sudah banyak foto kita. Sekarang berikan ponselmu," tukas Devita. Dia mau itu adil, tidak hanya ponselnya saja yang di penuhi oleh foto mereka tapi ponsel milik Brayen juga. Brayen membuang napas kasar, lalu menyerahkan ponselnya pada Istri kecilnya ini. Devita langsung kembali memotret dirinya dengan Brayen. Ponsel Brayen kini penuh dengan foto mereka berdua.


"Brayen, sekarang aku sudah lapar, ayo kita makan. Aku sudah tidak sabar ingin mencoba seafood yang ada di sini," ujar Devita yang sudah tidak sabar. Dia sudah sejak tadi melihat para turis yang makan seafood. Terlihat sangat enak.


"Kau tidak memiliki alergi, kan? Aku akan memesan udang dan ikan." tukas Brayen.


Devita menggeleng cepat. "Tidak, aku tidak memiliki alergi. Sekalipun memiliki sepertinya aku harus menahan rasa sakit alergiku. Kau lihat saja, makanannya terlihat sangat enak. Aku tidak mungkin menolaknya."


Brayen mengulum senyumannya, dia mengusap rambut Devita. " Aku itu sudah tahu hobymu itu makan,"


"Sudahlah Brayen, jangan terus menggodaku terus. Istrimu ini sudah kelaparan." Devita mendengus. Dia kesal jika di goda oleh Brayen, karena dirinya sudah lapar dan masih juga di goda oleh Brayen.


"Ya, kita makan sekarang," jawab Brayen sambil tersenyum. Lalu dia menggenggam kembali tangan Devita memasuki salah satu restoran.


Brayen memesan udang dan beberapa jenis ikan. untuk makanan ringan Brayen memesan makanan Baklava dan Kumpir. Sebenarnya ini pilihan Devita, karena Devita melihat dari gambar sepertinya makanan ringan itu enak jadi Devita memesannya.


"Brayen, besok malam kita ke night market di sini ya. Aku ingin melihat night market di sini." ucap Devita.


"Ya, kita akan pergi," jawab Brayen singkat.


"Hem, tapi besok malam aku tidak ingin di temani oleh Ruby. Meskipun aku tahu, dia berjaga jarak jauh dari kita tapi aku tetap tidak ingin ada Ruby," ujar Devita. Dia terlalu tidak nyaman jika ada Ruby.


Brayen mengangguk, " Baiklah, kalau itu maumu, Ruby hanya ikut jika kau ingin berbelanja,"


Devita tersenyum senang, " Terima kasih, Brayen,"


Obrolan mereka terhenti saat pelayan mengantarkan makanan yang sudah di pesan oleh Brayen. Aneka makanan laut yang sudah membuat mata Devita berbinar. Di tambah makanan khas Turkey yang dia pilih karena melihat gambar. Makanan pun sudah tersedia di atas meja makan, Devita langsung menikmati makanan itu.


"Hem, udangnya enak sekali," ucap Devita saat memakan udang yang sudah di pesan oleh Brayen.


"Aku sudah menduganya, kau pasti akan sangat menyukai makanan di sini," balas Brayen seraya mengulum senyumannya. Melihat Istrinya begitu lahap, menikmati makanan yang sudah terhidangkan itu.


Kemudian Devita mengambil Baklava. Makanan ringan yang sudah sejak tadi ingin sekali Devita coba, "Ini sangat enak Brayen, bukalah mulutmu aku akan menyuapimu," Devita menyuapi Baklava di tangannya kepada Brayen.


Brayen pun menurut, dia membuka mulutnya. "Ya, ini sangat enak,"


"Kumpir ini juga sangat enak, Brayen." ucap Brayen kembali saat dia memakan Kumpir.


Baklava merupakan roti manis berisi kacang yang di hidangkan bersama madu dan sirup. Sedangkan Kumpir adalah kentang panggang yang di bungkus dengan aluminium foil. Sesudah matang, kentang ini di potong menjadi dua serta di berikan mentega dan keju.


"Rasanya aku ingin tinggal lama di sini, Brayen." Devita begitu menyukai keindahan Turkey. Terlebih makanannya sangat enak. Membuat Devita, tidak hati melahap makanan asal timur tengah itu.


"Kita bisa kesini lagi kapan saja. Setelah kita kembali ke kota B. Aku ingin kau belajar bisnis." tukas Brayen mengingatkan.


Devita mencebik kesal. "Jangan membicarakan perusahan, Brayen. Itu membuatku tidak lapar lagi,"


Brayen mengulum senyumannya. "Ya, kau habiskan makananmu. Setelah ini kita kembali ke hotel.


Kini Brayen dan Devita sudah kembali ke hotel. Devita sudah selesai dan mengganti bajunya. Sedangkan Brayen masih berada di kamar mandi. Devita sudah menyiapkan celana panjang dan kaos berwarna putih untuk Brayen. Tapi Devita yakin, Brayen akan memilih bertelanjang dada.


Devita duduk di atas ranjang dengan punggung yang bersandar di kepala ranjang. Tidak lama kemudian, ponsel Devita berdering. Dia mengambil ponselnya ternyata pesan dari Olivia.


Olivia : Devita kau sedang berbulan madu? Kenapa kau tidak bercerita padaku? Menyebalkan sekali.


Devita tersenyum membaca pesan Olivia, dia sungguh lupa memberitahu pada sahabatnya itu, jika dia berbulan madu. Dengan cepat dia membalas pesan Olivia.


Devita : Maaf aku lupa, Olivia. Aku pasti akan membelikanmu oleh - oleh.


Olivia: Harus! Kau harus membelikanku oleh - oleh yang banyak.


Devita : Ya ya baiklah.


Olivia : Devita ada yang ingin aku katakan. Tapi mungkin lebih baik saat kau kembali ke kota B saja.


Devita : Ada apa? Jangan membuatku penasaran Olivia?


Olivia : Aku bercerita ini karena aku yakin kau sudah tidak ada perasaan apapun pada Angkasa.


Devita mengerutkan dahinya saat membaca pesan Olivia.


Devita : Ada apa Olivia? Katakan saja. Aku memang sudah tidak ada perasaan apapun pada Angkasa.


Devita tersenyum saat membaca pesan Olivia. Beruntungnya kini Devita sudah memiliki Brayen. Setidaknya dia tidak perlu menunggu yang tidak pasti. Janji Angkasa hanyalah omong kosong. Angkasa memang hanya menggantungkan semuanya.


Devita benar - benar bersyukur, paling tidak dia kini mencintai Brayen. Hanya saja dia sedikit kecewa, kenapa Angkasa harus memintanya menunggu. Padahal, jika memang Angkasa tidak menginginkannya. Angkasa tidak perlu berjanji akan kembali.


Olivia : Devita, are you oke? Aku minta maaf karena menceritakan ini. Aku hanya ingin kau tahu, pria yang kau tunggu selama ini bukan pria yang layak untukmu.


Devita : Aku tidak apa - apa Olivia. Aku malah bersyukur dia tidak kembali. Memang aku sudah di takdirkan bersama dengan Brayen.


Olivia : Kau benar lupakan Angkasa sialan itu. Suamimu jauh lebih hebat darinya.


Devita : Ya, kau juga bukalah hatimu untuk Felix. Sepertinya dia menyukaimu. Dia tampan dan juga kaya. Kau selalu menginginkan pria tampan dan kaya bukan?


Olivia : Diamlah Devita. Tidak mungkin Felix menyukaiku. Kau tahu sifatku masih kekanakan.


Devita : Tidak ada yang tidak mungkin. Aku dan Brayen saja pada akhirnya jatuh cinta. Tidak menutup kemungkinan kau juga akan jatuh cinta.


Olivia : Aku tidak mau membahasnya. Sekarang katakan padaku. Kau ke negara mana?


Devita : CK! Kau menghindar rupanya. Aku ke Turkey.


Olivia : What? Kau serius ke Turkey? Ah, harusnya kau bersama denganku.


Devita : Next time, kau bisa ke Turkey bersama Felix.


Olivia : Devita sialan!


Devita terkekeh pelan, lalu dia meletakkan ponselnya di atas nakas.


Brayen yang menatap Devita yang sejak tadi tertawa sambil membalas pesan. "Pesan dari siapa?"


Devita menoleh ternyata Brayen sudah selesai mandi. Devita menghela nafas dalam, Brayen hanya memakai celana panjang dan bertelanjang dada. Memang benar tubuh suaminya sangat menggoda, bahkan jantung Devita selalu berdegup dengan kencang ketika melihat Brayen.


Brayen mendekat ke ranjang dan membaringkan tubuhnya di samping Istrinya. "Kenapa diam, Hem? Sejak tadi kau tidak berkedip melihat tubuh suamimu ini," bisik Brayen dengan nada menggoda.


"Jangan bicara yang tidak - tidak Brayen! Percaya diri sekali!" Devita mendengus kesal.


"Astaga kenapa jantungku ini berdegup dengan kencang sekali di dekatnya," batin Devita.


Brayen kini meletakkan kepalanya di paha Devita. "Siapa yang mengirim pesan padamu? Kau belum menjawabnya,"


Devita mengelus lembut rambut Brayen. "Olivia, jika aku tertawa saat mengirim pesan tadi itu dengan Olivia."


Brayen mengangguk paham. "Apa yang dia katakan?"


"Hanya bertanya kenapa aku pergi berbulan madu tidak memberitahunya," jawab Devita. Dia tidak mungkin membahas Angkasa. Bisa - bisa Brayen akan salah paham padanya.


"Brayen, besok malam kita akan ke night market. Siangnya aku akan berbelanja. Apa kau menemaniku berbelanja?" tanya Devita sambil mengelus rahang Brayen.


"Kau ingin berbelanja?" tanya Brayen mengerutkan keningnya, dia menatap lekat Istrinya itu.


Devita menganguk.


"Baiklah, aku akan menemanimu," jawab Brayen.


"Sungguh? Biasanya pria tidak suka menemani pasangannya berbelanja," Devita menatap Brayen, dengan tatapan kagum dan tidak percaya.


"Apa kau lupa saat di Berlin? Bahkan aku sudah seperti asistenmu yang membawa banyak belanjaan mu," tukas Brayen mengingatkan.


Devita terkekeh pelan. "Maafkan aku sayang, aku memang suka berbelanja."


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.