
Devita menatap dalam mata Brayen, dia tidak perduli Brayen ingin mendengarkan atau tidak. Tapi dia akan tetap menjelaskannya. Sedangkan Brayen terlihat begitu menahan amarahnya.
"Dulu, aku dan Angkasa saling mencintai.Ya, kau benar aku memang menunggunya kembali ke kota B. Terakhir sebelum dia meninggalkan kota B, dia berpesan padaku untuk menunggunya. Aku pun dengan setia menunggunya. Meski banyak pemberitaan dia berkencan dengan banyak wanita lain, aku tetap menunggunya. Angkasa memang tidak pernah menghubungiku, tapi aku tetap percaya padanya."
"Hingga suatu saat aku di jodohkan denganmu. Lalu menikah denganmu. Tapi percayalah. Saat ini aku hanya mencintaimu. Sejak saat aku sudah jatuh cinta padamu, di hatiku sudah tidak ada lagi tempat untuk Angkasa. Aku benar - benar melupakannya. Di hatiku Angkasa adalah teman masa kecilku. Sama seperti dengan Olivia teman masa kecilku."
"Sampai akhirnya takdir mempertemukan aku dan Angkasa lagi, tapi dengan keadaan yang berbeda. Dia adalah Ayah dari bayi yang ada di kandung Laretta. Tentu, aku sangat menyadari bagaimana perasaanku. Saat aku bertemu lagi dengannya, dia sudah tidak memiliki tempat lagi di hatiku. Maaf, jika aku menemui Angkasa di belakangmu. Kau bisa memeriksa CCTV di restoran tempat aku bertemu dengan Angkasa. Kami hanya berbicara, dia juga mengatakan padaku alasan kenapa dia pergi tanpa kembali dan alasan kenapa dia tidak menghubungiku sama sekali."
"Angkasa mengatakan padaku, alasan kenapa dia tidak pernah menghubungiku. Kau pasti akan terkejut mendengar ini, tapi semuanya karena sudah di susun oleh Ayahku. Dan aku juga sangat yakin Daddymu juga terlibat dalam hal ini. Perusahaan Angkasa hampir bangkrut, Ayahku menawarkan uang dalam jumlah besar tentu Angkasa senang dengan hal itu karena Ayahku bisa menyelematkan perusahannya."
"Tapi apa kau tahu? Ayahku meminta Angkasa untuk menjauh dari hidupku. Ayahku meminta Angkasa untuk tidak lagi muncul di hidupku. Dan ya, Angkasa memang menerima tawaran Ayahku. Dia tidak lagi muncul di hidupku. Beberapa tahun lalu, Ayahku tidak sesukses hari ini, Brayen. Rasanya tidak mungkin Ayahku menolong perusahaan Angkasa. Karena saat itu perusahaan Angkasa berada di atas perusahaan keluargaku."
"Aku sangat yakin, jika Daddymu juga ikut andil dalam hal ini. Karena hanya dengan kuasa yang di miliki keluargamu yang bisa menyelamatkan perusahaan milik Angkasa. Sekarang aku sudah tahu kenapa sejak dulu aku tidak izinkan untuk memiliki kekasih, itu pasti karena Ayahku dan Daddymu sudah menjodohkan kita dari awal."
"Aku sudah menjelaskan semuanya. Aku tekankan sekali lagi padamu. Aku tidak menceritakan bukan maksud aku untuk tidak ingin menceritakan. Tapi karena kau yang tidak pernah bisa mengendalikan amarahmu dengan baik. Bahkan kau melukaiku dengan segala emosimu."
"Kau juga ingat saat kau mabuk? Bahkan kau berciuman dengan seorang wanita di depanku. Kau bisa memikirkan bagaimana dengan perasaanku, Brayen? Kau menuduhku berselingkuh. Tapi kenyataannya kau membawa seorang wanita ke rumah dan berciuman di depanku. Menurutmu, aku harus apa, Brayen? Katakan padaku?"
"Hubungan selalu di landasi rasa kepercayaan. Dulu saat kau memiliki masalah, aku selalu berusaha untuk mendengarkan penjelasanmu. Tapi tidak denganmu, kau bahkan tidak mendengarkan penjelasanku sedikitpun. Dengan ego yang kau miliki telah melukai hatiku."
Perlahan Devita mulai meneteskan air matanya, ketika menjelaskan semuanya. Namun, dengan cepat dia menghapus air matanya, dia kembali melanjutkan perkataannya, "Aku mulai ragu dengan hubungan ini. Bagaimana bisa aku berada di sisimu tapi kau tidak pernah mempercayaiku? Dengan mudahnya kau menuduh hal buruk kepadaku. Aku berusaha untuk menerima semuanya, mencoba untuk mengerti. Aku juga berusaha untuk memaafkanmu atas perbuatanmu kemarin. Kenyataannya tidak mudah."
Hingga kemudian, Devita ingin beranjak pergi, namun dia kembali menoleh ke arah Brayen yang masih tak bergeming dari tempatnya. "Brayen, lebih baik kita sama - sama berpikir dengan hubungan ini. Jika hubungan ini tidak bekerja dengan baik. Lebih baik kita menyerah. Jangan memaksakan sesuatu yang tidak mungkin. Karena jujur aku mulai meragukan semuanya." tutup Devita air matanya kembali membasahinya pipinya. Dia membalikkan tubuhnya, lalu berjalan meninggalkan ruang kerja Brayen.
Brayen terdiam. Dia kembali mencerna setiap perkataan Devita. Tunggu, Devita mengatakan untuk sama - sama berpikir dengan hubungan ini. Seketika wajah Brayen menegang. Kini dia terlihat sangat pucat. Brayen melihat Devita sudah berlari meninggalkan ruang kerjanya. Dengan cepat Brayen bangkit, menyambar kunci mobilnya dan berlari mengejar Devita.
Di lobby Brayen melihat Devita berlari masuk kedalam mobil, Brayen mengumpat kasar. Dia bisa melihat Devita menangis, meski Devita menundukkan kepalanya agar tidak di lihat. Tapi Brayen masih bisa melihatnya. Hati Brayen begitu sakit melihat Devita menangis seperti itu.
...***...
Devita berlari meninggalkan perusahaan Brayen, dia langsung masuk kedalam mobil. Tangisnya pecah, hatinya begitu terasa sakit dan sesak. Devita berusaha untuk melupakan semuanya tapi kenyataannya sangat sulit. Hatinya masih sangat terluka dengan perbuatan Brayen.
Devita mulai meragukan semuanya. Dia mulai meragukan hubungannya dengan Brayen. Bagaimana hubungan bisa berlanjut, jika salah satu diantaranya tidak memiliki kepercayaan. Hubungan harus di landasi dengan sebuah kepercayaan, tapi kenyataannya suaminya sendiri tidak mempercayai dirinya. Bahkan Brayen tidak mau mendengarkan penjelasan dirinya.
"Kau tidak mempercayaiku, Brayen? Bagaimana hubungan ini bisa terjalin selamanya, jika kau tidak mempercayai Istrimu sendiri." ucap Devita air matanya kembali membasahi pipinya.
Mobil Devita menuju ke salah satu hotel, dia memutuskan ingin menenangkan diri. Devita mematikan ponselnya, dia tidak ingin Brayen mencarinya. Devita ingin dirinya dan Brayen sama - sama berpikir. Dia masih belum sanggup bertemu dengan Brayen di rumah. Hatinya masih begitu sakit.
Devita turun dari mobil, dia langsung memesan kamar untuknya dan langsung menuju ke kamar hotel. Devita masuk kedalam kamar hotel dengan menundukkan kepalanya. Dia tidak ingin ada Paparazi yang melihatnya habis menangis. Dia tentu tidak ingin masuk ke halaman depan, media akan membahas rumah tangganya dengan Brayen.
Saat tiba di dalam kamar, Devita membaringkan tubuhnya di ranjang. Rasanya dirinya begitu lelah. Banyak masalah setelah dia pulang dari Turkey. Devita berusaha untuk memejamkan matanya, namun tidak bisa. Pikirannya kini tidak berpikir jernih, hatinya terlalu sakit dan kecewa.
"Apa dulu kau juga seperti ini dengan kekasihmu, Brayen? Apa kau juga tidak mempercayai kekasihmu?" ucap Devita dengan suara lemah. Matanya sembab, sepanjang perjalanan dirinya tidak henti menangis.
Setidaknya kini Devita berada di hotel, dia juga sudah menonaktifkan ponselnya. Dia tidak ingin di ganggu, yang dibutuhkan dirinya saat ini adalah menenangkan diri dari semua masalahnya. Devita sudah lebih tenang, dia sudah menjelaskan semuanya. Tidak peduli Brayen masih tidak mau mendengarkan penjelasannya, yang terpenting dia telah menceritakan semuanya. Karena memang, dia dan Angkasa telah berakhir.
Perlahan, Devita mencoba memejamkan matanya. Dia mencoba untuk melupakan sakit di hatinya sejenak. Tidak bisa di pungkiri, melihat Brayen berciuman dengan wanita lain adalah hal yang paling menyakitkan yang pernah dia lihat. Dia tidak menyangka Brayen akan melakukan itu padanya. Bahkan Brayen, menuduh dirinya berselingkuh. Itu adalah hal yang menyakitkan. Pria yang dia cintai tidak mempercayainya.
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.