Love And Contract

Love And Contract
Seperti Anak Kecil



Brayen pun mengangguk samar. "Kau sudah membeli dompet untukmu?"


"Astaga, aku lupa!" Teriak Devita sambil menepuk dahinya. Padahal, tujuannya datang kesini ingin membeli dompet, menggantikan dompetnya yang hilang. Tapi bisa - bisanya dia lupa membelikan dompet untuknya.


Hingga kemudian Devita langsung memeluk lengan Brayen. " Ya sudah, sekarang temani aku Aku ingin membeli dompet. Devita pun menarik tangan Brayen, memasuki Hermes Store yang letaknya tidak jauh darinya. Brayen menggelengkan kepalanya dan tersenyum melihat tingkah istri kecilnya itu.


"Selamat datang Tuan dan Nona," sapa seorang pelayan saat Brayen dan David masuk ke dalam Hermes store.


"Berikan kepadaku, dompet dengan keluaran yang terbaik. Aku mau dompet dengan edisi terbatas," tukas Brayen dingin.


"Maaf dompet untuk Tuan atau Nona?" tanya pelayan itu memastikkan.


"Dompet untuk Istriku," jawab Brayen datar.


Seketika wajah Devita memerah, mendengar Brayen menyebut dirinya sebagai Istri. Ada rasa yang aneh di dalam diri Devita, ketika Brayen menyebut dirinya sebagai Istri.


Tidak lama kemudian pelayan itu datang memberikan dompet keluaran terbaru berwarna maroon. Pelayan itu langsung menunjukkan pada Brayen dan Devita.


"Ya, aku mau ini." tukas Brayen, kemudian dia mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan black cardnya pada pelayan.


"Baik Tuan, mohon di tunggu," jawab pelayan itu.


Setelah selesai pembayaran, pelayan itu menyerahkan kembali black card pada Brayen. Devita tersenyum melihat dompet yang di belikkan oleh Brayen. Meski Devita kecewa karena dompet pembelian Angkasa hilang, tapi tidak apa - apa itu hanya sebuah dompet saja.


"Terima kasih Brayen. Kau sudah membelikkan dompet untukku," ucap Devita dengan senyuman di wajahnya.


"Ya, sekarang apa kau lapar?" tanya Brayen.


"Aku lapar," jawab Devita.


"Kita makan di dekat sini," balas Brayen.


Devita mengangguk setuju. " Baiklah,"


Kemudian, Brayen memeluk bahu Devita berjalan meninggalkan Hermes Store. Mereka menuju restoran yang lokasinya tidak jauh dari toko.


...***...


Brayen mengajak Devita ke sebuah western food. Ketika sudah tiba di restoran, Brayen memesan salmon steak dan pasta untuk Devita. Sedangkan dia memesan Ribs Steak dengan mashed potato untuknya. Tentu saja yang minumannya Brayen memilih whisky sedangkan Devita memilih mango juice. Tidak lama kemudian, pelayan mengantarkan pesanan pada Brayen. Kini Devita dan Brayen langsung menikmati makanan yang sudah terhidangkan di atas meja.


"Apa setelah ini, kau ingin berbelanja lagi?" tanya Brayen sembari menyesap whisky yang berada di tangannya.


"Aku rasa tidak. Aku sudah cukup banyak berbelanja. Barang - barang di walk in closet milikku saja sudah sangat penuh.Kau dan Mom Rena memberikanku terlalu banyak barang,"


"Kau juga tidak ingin membeli perhiasan?" Brayen kembali bertanya. Dia sungguh heran denga Istri kecilnya itu. Setiap perempuan pasti tidak akan menolak jika di ajak berbelanja.


"Kau tidak lihat, perhiasaan di walk in closet milikku sangat banyak. Jika aku menyukai sebuah barang, pasti aku akan membelinya. Seperti tadi aku melihat dress dan tas. Aku langsung membeli dress dan tas. Lalu aku melihat pakaian pria yang cocok untukmu, aku juga membelinya.Itu semua karena aku ingin Jika nanti ada toko perhiasan yang membuatku tertarik, maka aku akan membelinya.Tapi aku rasa, sudah cukup. Aku tidak ingin berbelanja lagi," jelas Devita. Dia memang lebih memilih mengutamakan yang sesuai dengan hatinya. Lagi pula barang di walk in closet miliknya sudah sangat banyak.


"Ya terserah kau," tukas Brayen.


Terdengar suara dering ponsel. Brayen mengambil ponselnya yang terus berdering itu. Dia melihat ke layar, tertera nama Elena, kekasihnya menghubunginya. Brayen melihat ke arah Devita yang sedang menikmati makanannya.


"Devita, aku harus mengangkat telefon," kata Brayen.


Devita mengangguk, kemudian Brayen langsung bangkit dan berdiri berjalan menjauh dari Devita.


"Sayang, apa kau sangat sibuk? Kenapa kau tidak menghubungiku? Apa kau tidak merindukanku?" seru Elena dengan nada kesal dari sebrang telepon.


"Aku merindukanmu. Aku sibuk belakangan ini." balas Brayen. Pandangan Brayen melihat ke arah Devita yang jauh darinya.


"Dua minggu lagi aku akan menetap di Indonesia. Jadi, kau harus tinggal bersamaku saat aku pindah ya sayang," pinta Elena.


"Tidak bisa Elena. Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Aku akan sering mengunjungimu nanti,"


"Kenapa? Bukannya kau mengatakan akan tinggal bersama denganku, saat aku pindah ke Indonesia?"


"Banyak hal yang harus aku ceritakan padamu. Aku harus tutup dulu nanti aku akan menghubungimu lagi."


"Baiklah, aku merindukanmu,"


Panggilan tertutup. Brayen bahkan tidak menjawab Elena. Ini sungguh gila, pertama kalinya Brayen tidak membalas ucapan Elena. Brayen mendekat ke arah Devita, kemudian dia kembali duduk dan melanjutkan makannya.


"Kau sudah selesai telepon?" tanya Devita saat melihat Brayen sudah duduk di hadapannya.


"Ya," jawab Brayen. "Apa kau ingin pergi ke suatu tempat?"


"Aku ingin, tapi tidak sekarang.Tapi sangat lelah. Besok saja, kita jalan - jalan. Aku ingin segera beristirahat," Devita mengambil gelas yang berisi mango juice di tangannya itu.Kemudian meletakkan kembali gelasnya ke tempat semula.


"Kalau begitu, cepat habiskan makananmu. Setelah itu, kita kembali hotel," balas Brayen. Devita pun mengangguk.


Tidak lama kemudian mereka pun telah selesai makan. Meminta bill dan langsung membayarnya. Setelah itu mereka berjalan langsung menuju ke mobil yang sudah menjemput mereka untuk kembali ke hotel.


Di dalam mobil, Devita terlihat sangat lelah. Tanpa Devita sadari, Devita tidur di bahu Brayen. Kepala Devita hampir jatuh, namun dengan cepat Brayen membenarkan posisi Devita.


"Kau ini benar - benar seperti anak kecil. Kelelahan langsung tertidur," gumam Brayen saat membenarkan posisi tidur Devita.


Perjalanan kembali menuju hotel, kurang lebih empat puluh menit. Kini Brayen dan Devita sudah tiba di hotel. Brayen membuang napas kasar, melihat Devita yang sudah tertidur sangat lelap. Akhirnya Brayem meminta staff hotel untuk membawakan barang - barang belanjaan yang tadi Devita beli. Kemudian Brayen membopong Devita dengan gaya bridel.


Brayen masuk ke dalam kamar, dia langsung membaringkan tubuh Devita di ranjang. Dia merapihkan rambut Devita yang menutupi wajah cantik Istri kecilnya itu. Kemudian Brayen membantu Devita melepaskan sepatu.


Brayen menatap kaki jenjang Devita yang putih dan halus. Dia segera mebepus pikirannya. Brayen duduk di tepi ranjang dan menatap Devita yang tengah tertidur pulas. Rambut pirang dan halus, bulu mata yang lentik, hidung yang mancung dan mungil sangat menggemaskan. Entah apa yang di pikirkan oleh Brayen dia mengecup dengan lembut bibir Devita.


"Damn it! Apa yang aku lakukan!" Umpat Brayen. Dia hampir gila apa yang telah di lakukannya tadi. Dengan cepat Brayen meninggalkan Devita yang masih tertidur lelap.


...****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.