Love And Contract

Love And Contract
I Will Kill You



Devita mengangguk - anggukkan kepalanya seolah mengiyakan perkataan Elena. "Jadi menurutmu ini adalah malam terakhir aku menyandang status itu? Bagaimana jika sebaliknya?" balas Devita sinis.


Elena tertawa "Devita, Devita. Aku ini sudah merencanakan semuanya dengan sangat sempurna. Bahkan pengawal dari Brayen kini sudah tergeletak dan tidak sadarkan diri. Jadi, tidak ada satu orang pun yang bisa membantumu. Dan kau! Aku sangat yakin kau tidak akan pernah mungkin bisa melawanku."


"Ternyata kau sudah merencanakan ini begitu sempurna? Hebat, Elena. Aku harus mengakui kecerdasanmu. Tapi bukan berarti aku seorang diri tidak mampu untuk melawanmu," tukas Devita dengan senyuman mengejek pada Elena.


"Oh ya, aku dengar kau hamil dan Ayah biologis dari anak itu adalah William? Harusnya perutmu itu sudah besar? Tapi kenapa perutmu itu ku lihat masih seperti dulu? Dimana bayi dalam perutmu, Elena?" ucap Devita dengan penuh sindiran.


"Kau! Jangan ikut campur urusanku, sialan!" Seru Elena.


Devita tersenyum sinis. "Jika aku tidak di perbolehkan untuk ikut campur, kenapa kau masih mengusik kehidupanku dan kehidupan suamiku, kau ini sungguh tidak tahu malu?"


Elena menggeram mendengar ucapan dari Devita, ia langsung mendekat ke arah Devita. Seketika Devita tersentak saat melihat Elena mengeluarkan pisau dari balik bajunya. Devita mundur perlahan, saat Elena terus melangkah mendekat ke arahnya.


BUGH.


Devita sekuat tenaga menepis tangan Elena yang memegang pisau hingga membuat pisau itu terjatuh di lantai.


"Sialan kau Devita!" Geram Elena


Devita meringis kesakitan di bagian punggung tangannya yang tadi menepis tangan Elena. Beruntung pisau itu tidak melukai tangannya.


Tanpa di duga, Elena langsung menyerang Devita. Ia mencekik leher Devita dengan keras. Devita berusaha untuk mengatur napasnya, dengan cepat Devita langsung menendang perut Elena dengan kakinya hingga membuat Elena melepaskan cengkraman tangannya pada leher Devita.


"Ah," ringis Elena saat ia tersungkur di lantai.


Devita menyentuh lehernya, ia merasakan sakit akibat cengkraman kuat di lehernya. " Hentikan kegilaanmu, Elena!"


...***...


Albert bersembunyi di balik dinding, ia terus mengawasi pergerakan Ruby. Para pengawal tengah berpura-pura memakan cake yang di buat oleh Ruby. Saat Ruby keluar dari kamarnya dan membawa koper dengan cepat Albert melangkah maju ke arah Ruby.


"Kau ingin kemana?" tanya Albert dingin dan tatapan tajam pada Ruby.


"T...Tuan Albert?" Ruby gugup saat melihat Albert menghadangnya.


"Kau ingin melarikan diri, Ruby?" tukas Albert.


"T..Tidak Tuan. Saya tidak ingin melarikan diri. Saya hanya ingin menjenguk keluarga saya yang sedang sakit, Tuan." jawab Ruby ia menundukkan kepalanya tidak berani menatap Albert.


"Ruby kau tahu, kau ini bekerja dengan Tuan Brayen Adams Mahendra. Kenapa kau sangat berani? Kau mengantarkan sendiri kematianmu, Ruby!" Tukas Albert tajam.


"M..Maksud Tuan apa? Saya tidak mengerti apa yang Tuan Albert katakan," ujar Ruby gugup.


"Jangan berpura - pura Ruby! Kau tidak bisa lagi menipuku! Kau sudah memasukkan obat di dalam cake buatanmu dan kau memberikannya pada seluruh pengawal yang ada di mansion ini? Kau sudah cari mati Ruby!" Seru Albert.


"T...Tidak Tuan, sungguh saya tidak memasukkan apapun dalam cake yang saya buat," jawab Ruby, tubuhnya bergetar ia merasakan ketakutan yang luar biasa, terlebih Albert terus menatap tajam dirinya.


"Kau masih menutupi setelah aku mengetahui semuanya!" Sentak Albert.


"Freddy, bawa dia dan kunci dia di ruangan. Aku harus melaporkan ini pada Tuan Brayen!" Tukas Albert.


"Baik Tuan," jawab Albert.


Dengan cepat Freddy menarik paksa Ruby. Wanita itu terus berontak dan berteriak. Namun percuma Freddy mencengkram dengan kasar lengan Ruby. Ia menyeret paksa Ruby kedalam ruang kosong.


...***...


"Lepaskan aku sialan! Istriku dalam bahaya!" Tukas Brayen, ia menghentakkan tangannya saat William mencengkram dengan kuat tangan Brayen.


"Tenangkan dirimu, kita pasti akan kesana. Aku juga tidak akan membiarkan Elena melukai Devita," balas William.


"Tapi kau lihat! Dia berniat melukai istriku! Dan kau memintaku hanya untuk diam?! Kau jangan membuatku untuk membunuhmu di sini!" Desis Brayen menatap tajam William.


William membuang napas kasar, "Apa kau ini tidak bisa melihat dengan baik? Devita masih mampu bertahan! Istrimu bisa melawannya!"


"Jangan karena istriku bisa membalas Elena, itu akan membuatku hanya diam! Jika pisau yang di pegang Elena menggores kulit istriku meski hanya sedikit aku akan membunuhmu karena telah menghalangiku!" Seru Brayen dengan penuh emosi.


"Tuan Brayen," Albert masuk ke dalam ruangan. Membuat Brayen dan juga William menghentikkan perdebatan mereka.


"Ada apa?" tanya Brayen dingin.


"Tuan, Ruby sudah berhasil di tahan oleh Freddy. Apa Tuan akan bertemu dengannya?" tanya Albert hati - hati.


"Kau bawa dia nanti masuk kedalam kamarku, di dalam kamarku ada Elena. Biarkan kedua sepupu itu bertemu," tukas Brayen dengan seringai di wajahnya.


"Aku harus kesana dan menemui istriku. Dan kau William, jika kau hanya ingin menonton CCTV maka kau bisa menunggunya di sini. Aku tidak akan pernah membiarkan istriku melawan wanita gila itu seorang diri!" Seru Brayen.


William pun beranjak dari tempat duduknya. "Baiklah, kita akan bergerak sekarang."


Brayen dan juga William berjalan meninggalkan ruangan. Sedangkan Albert, ia kembali menangani Ruby yang sudah di tahan oleh Freddy.


...***...


"Ah," ringis Elena saat ia tersungkur di lantai.


Devita menyentuh lehernya, ia merasakan sakit. Akibat cengkraman kuat di lehernya tadi. "Hentikan kegilaanmu, Elena!" Seru Devita.


"Sialan kau Devita! Harusnya sudah sejak awal aku itu membunuhmu! Aku akan menghancurkan wajahmu!" Elena beranjak dan langsung mengambil pisaunya. Devita terkesiap saat melihat Elena menyambar pisaunya dan langsung mengarahkan padanya.


Saat Elena ingin menyerang Devita dengan pisaunya. Tangan kokoh sudah mencengkram kuat pergelangan tangannya hingga membuat pisau itu terjatuh ke lantai


Elena menoleh dan mencoba melepaskan cengkraman tangannya. "B... Brayen?" wajah Elena memucat, saat melihat Brayen mencengkram kuat tangannya.


"Don't touch my wife! You hurt her, i will kill you!" Tukas Brayen tajam


...******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.