Love And Contract

Love And Contract
Perdebatan Kecil



"Kau salah Devita," balas Laretta. "Lebih tepatnya, dulu aku sering menentang keinginan Daddyku. Aku tidak suka terlibat dalam perusahaan. Aku lebih memilih menjadi seorang pelukis. Saat Daddyku memintaku untuk kuliah bisnis, aku lebih memilih untuk kuliah seni."


"Sedangkan dirimu kau selalu menurut pada Paman Edwin. Itu yang aku suka darimu Devita. Kau itu tidak pernah menentang perkataan Ayahmu. Tidak sepertiku yang selalu menentang keinginan Daddyku. Beruntung Kakakku Brayen sangat hebat memimpin perusahaan. Jadi tidak perlu lagi membutuhkanku. Aku sampai kapanpun tidak mau memimpin perusahaan. Aku sudah pernah mencobanya satu kali dan itu hanya membuatku sakit kepala melihat begitu banyaknya dokumen yang ada di hadapanku."


Devita terkekeh pelan. "Aku juga sebenarnya ingin menentang. Bahkan aku juga tidak ingin memimpin perusahaan keluargaku. Tapi tidak ada pilihan lain. Aku anak tunggal. Dan tidak mungkin, untuk menentang keinginan Ayahku."


"Nasibmu sama seperti denganku, Devita!" Keluh Olivia kesal. "Aku juga tidak memiliki pilihan lain selain menurut pada orang tua ku. Jika seperti ini, harusnya orang tuaku memiliki banyak anak saja! Biar tidak menyusahkanku."


Laretta mengulum senyumannya. "Saat kita sudah tiba nanti, kita akan bersenang - senang. Lupakan semua beban di pikiran kalian. Terlebih kalian akan segera lulus kuliah bukan? Kita akan menikmati liburan kita nanti."


"Kau benar," Seru Olivia antusias. "Tempat apa yang ingin kau kunjungi Laretta?"


"Sebenarnya aku ingin pergi ke beberapa klub malam langgananku ketika aku di sana. Tapi karena aku dan Devita sedang hamil, tidak mungkin untuk datang ke klub malam. Mungkin akan mengunjungi beberapa tempat yang belum sempat aku datangi," balas Laretta.


Olivia mengangguk setuju. " Kita juga harus pergi ke pantai.Aku ingin berjemur dan berfoto dengan cantik."


"Kau ini selalu saja seperti itu!" Dengus Devita kesal.


"CK! Tidak masalah, ini adalah liburan kita bertiga Devita. Aku ingin menjadi liburan yang terbaik." Seru Olivia dengan senyuman di wajahnya.


"Seterusnya kita akan sering berlibur bersama. Kau akan menikah dengan Felix, itu artinya kita akan sering bersama," balas Laretta yang juga antusias.


Devita tersenyum. Pada akhirnya, adik ipar dan sahabatnya telah menemukan pasangan masing-masing. Laretta dengan Angkasa, meski di awal mereka menjalani hubungan yang begitu berat. Bahkan banyak penolakan yang di dapat oleh Angkasa. Tapi pada akhirnya Angkasa berhasil mendapatkan Olivia. Sedangkan Olivia telah membuka hatinya untuk Felix. Pria yang selama ini begitu mencintai dirinya. Sejak awal, Devita juga sudah tahu, Felix memang pasangan yang tepat untuk Olivia.


Las Vegas - Nevada.


Kini Brayen dan juga Devita sudah tiba di Las Vegas. Devita memeluk lengan Brayen berjalan keluar dari Bandara. Sama seperti Devita, Laretta dan Olivia juga bersama dengan Angkasa dan Felix berjalan keluar dari bandara. Barang - barang mereka telah di bawa oleh pelayan. Brayen memang sengaja membawa pelayan, dia pun tidak ingin jika istrinya itu mengemasi barang-barang sendirian. Itu kenapa Brayen membawa beberapa pelayan yang khusus untuk membawa bawa barang - barang mereka.


"Brayen, apa kau memiliki cabang perusahaan di sini?" tanya Devita yang sejak tadi penasaran.


"Ya, aku memilikinya." jawab Brayen singkat.


Devita mendesah pelan, "Kenapa setiap kita berlibur, kau selalu memiliki perusahaan cabang di setiap negara yang kita datangi?"


"Kau tahu jawabannya." tukas Brayen.


Tidak lama kemudian mobil Limousine mulai memasuki lobby. Devita menoleh ke arah mobil yang memasuki lobby.


"Brayen, apa itu mobil yang akan menjemput kita?" tanya Devita.


"Ya," jawab Brayen. "Kita masuk sekarang."


Devita pun mengangguk pelan, lalu dia masuk kedalam mobil bersama dengan Brayen. Olivia, Felix, Laretta dan juga Angkasa ikut masuk kedalam mobil. Kini mobil yang menjemput mereka berjalan meninggalkan area lobby.


"Kak, kau memesan hotel di mana?" tanya Laretta.


"Eastside Carnnery!" Jawab Brayen singkat.


"Apa itu hotel yang bagus, Laretta?" tanya Devita.


"Ya, itu hotel yang sangat bagus dan nyaman." jawab Laretta.


Olivia tersenyum senang, "Felix, nanti aku ingin mengujungi klub malam yang ada di sini!"


"Olivia! Tidak bisa! Aku dan Laretta sedang hamil!" Seru Devita tak terima.


"CK! Aku saja yang pergi. Kalian nanti akan kuberitahu," jawab Olivia dengan santai.


"Tidak Olivia!" Tolak Felix tegas. "Kita itu akan mengunjungi tempat lain. Apa kau ini tega meninggalkan Laretta dan juga Devita."


Olivia mendesah pelan, dia menyandarkan punggungnya di kursi mobil. "Aku hanya ingin tahu kehidupan malam di Las Vegas."


"Tidak berbeda jauh dengan New York atau Los Angeles." balas Felix dengan malas.


"Berbeda Felix!" Sela Olivia cepat. "Ini Las Vegas, banyak orang yang datang untuk bersenang-senang di kota ini! Kau tahu sendiri, bahwa New York adalah pusat bisnis. Meski kehidupan malam di New York aku juga menyukainya, tapi di Las Vegas lebih terkenal."


"Jangan macam - macam Olivia. Di Indonesia kamu tidak pernah mengalaminya bukan? Jadi terapkan itu di kehidupanmu!" Peringat Felix melayangkan tatapan dingin pada kekasihnya itu.


Olivia mendengus tak suka. "Tapi aku hanya ingin tahu saja! Dan tidak akan melakukan hal yang aneh - aneh!"


Devita terkekeh geli mendengar perdebatan Felix dan juga Olivia. "Sudahlah, kita ini sedang berlibur. Jangan berdebat hanya karena masalah kecil."


Tanpa terasa mobil yang membawa Devita dan juga Brayen mulai memasuki lobby hotel. Devita dan juga Brayen turun dari mobil dan di ikuti dengan yang lainnya yang turun dari mobil. Staff hotel yang melihat Brayen datang mereka menundukkan kepala menyambut Brayen dan juga Devita. Sebelum berangkat, Brayen sudah meminta Albert untuk mengurus liburannya.


Masing - masing staf hotel mengantarkan mereka untuk masuk kedalam kamar. Olivia dan juga Laretta memilih untuk satu kamar. Karena memang mereka belum menikah. Dan tidak mungkin juga Brayen membiarkan adiknya itu untuk satu kamar dengan Angkasa. Tidak hanya itu, tapi Dokter Keira yang sejak tadi terus mengawasi Laretta dan juga Devita, dia juga tinggal di hotel yang sama. Hanya saja, Devita sudah mengatakan jika dirinya tidak ingin di ganggu oleh aturan yang membuatnya jenuh. Sejak berada di dalam pesawat, Dokter Keira memang hanya mengawasi saja. Kondisi kandungan Laretta dan juga Devita sangat sehat.


Devita terlihat begitu lelah, dia ingin sekali berendam dan beristirahat. Kemudian mereka berpisah karena ingin masuk ke kamar masing-masing. Dan barang - barang mereka telah di bawa oleh pelayan kedalam kamar mereka.


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.