
"I know Angkasa. Kau tidak mungkin dengan mudahnya menyerah. Aku percaya padamu." balas Laretta.
Kemudian Laretta menyandarkan kepalanya di dada bidang Angkasa. "Bagaimana kabar orang tuamu? Maaf aku sudah lama tidak bertemu dengan Ayah dan Ibumu?"
"Mereka baik, Ibuku juga terus menanyakan tentang dirimu." Angkasa mengusap lembut rambut Laretta. "Ibuku ingin sekali bertemu denganmu. Setelah semua ini selesai, aku akan membawamu untuk bertemu dengan Ibuku."
Laretta mendongakkan wajahnya dari dalam pelukkan Angkasa dan berkata. "Aku juga ingin bertemu dengan Ibumu. Aku itu sangat suka berada di dekat ibumu, dia wanita yang sangat baik dan juga sangat lembut."
Angkasa tersenyum, dia mengeratkan pelukannya pada Laretta. "Ya, Ibuku sama sepertimu. Baik dan juga lembut."
"Angkasa?" panggil Laretta.
"Hm?" Angkasa menatap manik mata Laretta. "Ada apa?" tanya Angkasa ingin tahu.
"Apa rencanamu setelah ini?" tanya Laretta.
"Sebenarnya aku ingin menemui Kakakmu sejak kemarin," jawab Angkasa. "Tapi aku dengar, dia sudah beberapa hari tidak pergi ke kantor. Anak buahku juga mengatakan kalau Devita dan Brayen sedang bertengkar. Aku tahu permasalahan mereka pasti mengenai kejadian tentang Alena waktu itu. Jadi aku memutuskan untuk menunda bertemu dengan Brayen."
"Kau meminta anak buahmu untuk mengawasi Kakakku dan juga Devita?" Laretta menautkan alisnya. Menatap tak percaya pada Angkasa.
Angkasa mengangguk. "Aku sengaja melakukan itu. Untuk melawan Kakakmu itu tidaklah mudah Laretta. Banyak yang aku pikirkan, termasuk menemuinya, aku juga harus tahu bagaimana kondisinya. Jika Kakakmu itu dalam kondisi yang bisa aku ajak bicara, maka aku akan segera menemuinya. Tapi jika aku mengajak Kakakmu bicara, ketika dia sedang banyak masalah maka aku sudah yakin, hal buruk akan terjadi di antara kami."
"Kau benar, beberapa hari ini Kakakku itu memang sedang bertengkar dengan Devita," jawab Laretta. "Jika kau menemuinya kemarin, itu sama saja mencari masalah baru dengannya."
"Ya," Angkasa menarik dagu Laretta, mencium dan ******* lembut bibir Laretta. "Aku terpaksa menunggu sedikit waktu. Mungkin besok aku akan menemui Brayen. Aku tidak bisa menunggu terlalu lama. Semakin hari kandunganmu semakin membesar. Kau tidak mungkin melahirkan sebelum kita menikah."
"Tapi bagaimana jika Kakakku, tetap tidak menyetujui hubungan kita Angkasa?" saat Laretta sedang bertanya terdengar begitu putus asa.
"Maka aku akan membuatnya menyetujui hubungan kita," jawab Angkasa meyakinkan. "Aku tidak perduli bagaimana harus melawannya. Tapi aku akan terus melawan hingga Kakakmu itu menyetujui hubungan kita."
"Apa yang akan kau lakukan?" Laretta mengerutkan dahinya, menatap bingung Angkasa.
"Kau akan tahu nanti," Angkasa menangkup pipi Laretta, dan memberikan kecupan yang bertubi-tubi di bibir Laretta. Sedangkan Laretta dia hanya tersenyum dan membiarkan Angkasa terus menciumnya.
"Hm, Angkasa? Apa kau tahu kabar tentang Alena?" tanya Laretta yang masih merasa tidak enak. Karena bagaimanapun, Alena berada di dalam penjara karena dirinya. Laretta tahu, Alena sudah melakukan kesalahan, tapi Laretta tidak tega jika harus melihat Alena berada di dalam penjara.
"Kau tidak perlu mencemaskan Alena?" jawab Angkasa. "Adikku baik - baik saja. Biarkanlah dia belajar dari apa yang telah dia lakukan."
"Tapi aku sungguh tidak tega melihat Alena masih berada di dalam penjara. Maafkan aku Angkasa." kata Laretta lirih.
"Ini bukan kesalahanmu Laretta." Angkasa mengelus lembut pipi Laretta. "Alena memang harus bertanggung jawab dengan apa yang telah dia lakukan padamu. Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Aku tidak ingin melihatmu terus merasa bersalah. Karena ini semua bukanlah salahmu."
"Ya sudah, aku sudah harus kembali ke perusahaan sekarang. Jaga kesehatanmu baik - baik." Angkasa mengecup kening Laretta, lalu beranjak dari tempat duduknya. Namun tangan Laretta langsung menahan lengan Angkasa, dan berjalan keluar dari kamar. Ketika berada di luar, Laretta mengedarkan pandangannya, beruntung anak buah Brayen sedang berada di depan rumah.
"Kau cukup antar aku sampai di sini, nanti anak buat Kakakmu melihatmu." kata Angkasa.
Angkasa menarik dagu Laretta, mencium dan ********** dengan lembut bibir wanita kesayangannya itu. Tidak hanya diam, Laretta juga memejamkan matanya membalas setiap pagutan yang di berikan oleh Angkasa.
"Sialan! Beraninya kau menyentuh adikku!" Suara teriakan dari Brayen begitu menggelegar saat masuk kedalam rumah. Tatapannya langsung menajam ke arah Angkasa yang sudah berani mencium Laretta.
"K- Kakak?" Laretta terkejut ketika melihat Brayen sudah berada di dalam rumah. Tidak hanya itu, Laretta juga sungguh malu karena sudah ada Devita, Olivia dan juga Felix.
"Brayen, tenangkan dirimu." Devita yang berdiri di samping Brayen, menahan tangan Brayen berusaha untuk menenangkan suaminya itu.
Brayen melepaskan tangan Devita yang menahan dirinya. Felix yang menghalangi langkah Brayen, juga tidak berhasil. Karena Brayen langsung mendorong tubuh Felix hingga membuat Felix tersungkur ke lantai.
Brayen menarik kerah baju Angkasa, dia melayangkan pukulan di pelipis dan hidung Angkasa berkali - kali. Angkasa langsung tersungkur di lantai dengan wajah yang penuh dengan darah. Devita, Laretta dan juga Olivia langsung menjerit, ketika melihat Angkasa terus di pukuli oleh Brayen.
Dengan sisa tenaga yang di miliki, Angkasa berusaha untuk bangkit berdiri. Dia menarik kerah baju Brayen, membalas setiap pukulan dari Brayen. Pukulan pertama berhasil mengenai pelipis Brayen. Namun, pukulan yang kedua berhasil di tepis oleh Brayen.
Kemarahan di dalam diri Brayen semakin menjadi ketika Angkasa melawan dirinya. Brayen terus melayangkan pukulan di wajah Angkasa. Teriakan dari Devita dan juga Laretta tidak di perdulikan lagi oleh Brayen.
"Brayen! Berhenti!" Teriak Devita keras, namun perkelahian itu juga tidak berhenti. Teriakan Olivia dan juga Laretta tetap tidak bisa membuat Brayen menghentikkan pukulannya.
Pengawal dari Brayen berhamburan masuk kedalam begitu juga dengan pengawal dari Angkasa. Namun Angkasa dan Brayen sama - sama mengibaskan tangan mereka untuk menahan para pengawal mereka agar tidak ikut campur.
Sedangkan Felix tersungkur di lantai ketika berusaha melerai, namun Brayen memukul dan mendorong tubuh Felix. Keadaaan begitu menegangkan, Brayen dan juga Angkasa saling melayangkan pukulan satu sama lain. Beberapa kali Angkasa berhasil memukul Brayen. Namun, tidak sedikit Brayen membuat Angkasa kehabisan tenaga.
Angkasa mundur beberapa langkah, terlihat raut wajah Angkasa yang mengakui kehebatan Brayen. Ini bukan pertama kalinya Angkasa berkelahi dengan Brayen. Tapi kemarahan yang ada di dalam diri Brayen, membuatnya memiliki tenaga yang mampu untuk melumpuhkan setiap gerakan dari Angkasa.
Devita menelan salivanya susah payah. Dia melihat dengan jelas kemarahan suaminya itu. Bahkan Felix yang berusaha melerai perkelahian itu, tidak mampu menghentikan Brayen. Devita melirik ke arah Laretta yang sedang menangis dan memohon kepada Brayen untuk menghentikan perkelahiannya itu. Tapi tetap saja, Brayen tidak menghiraukannya. Sedangkan Olivia, berdiri di samping Laretta berusaha untuk menenangkan Laretta.
"Akkh! Brayen perutku sakit! Brayen perutku sangat sakit sekali!" Jerit Devita dengan keras.
...*******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.