Love And Contract

Love And Contract
Obsesi Ivana Dan Kemarahan Brayen



Monika mengangguk. "Ya, karena aku adalah sahabat Ivana sejak kami kuliah, rasa cinta Ivana berubah menjadi obsesi untuk mendapatkan Brayen. Itu kenapa Ivana memilih untuk kembali ke Indonesia. Ivana bersikeras bahwa Brayen akan mencintainya, setelah dia berubah menjadi wanita yang paling sempurna. Tapi kenyataannya, Brayen tetap tidak menyukainya."


"Lalu? Kenapa kau bisa di kurung di sini?" seru Felix. "Kau mengatakan, kalau kau adalah sahabatnya, tapi kenapa Ivana mengurungmu?'


Monika tersenyum lirih. "Aku berniat untuk menggagalkan rencana Ivana yang ingin mencelakai Devita. Ivana begitu marah padaku, dia mengurungku karena aku ingin menggagalkan niatnya."


"Felix, kumohon segera beritahu Brayen. Karena aku sangat yakin, Ivana pasti berniat untuk melukai Devita." Monika kembali mengingat perkataan dari Ivana. Wajahnya berubah menjadi cemas dan juga panik.


"Tenangkan dirimu, aku yakin Brayen pasti akan melindungi Devita," balas Felix. "Tapi ada hal yang ingin aku tanyakan padamu?"


"Ada apa Felix?" tanya Monika.


"Beberapa hari yang lalu ada yang membuntuti Brayen dan juga Devita, tidak hanya itu, tapi ada nomor asing yang terus - menerus menggangu Devita? Apa itu semua ulah dari Ivana Wilson?" tanya Felix dengan tatapan yang begitu serius.


Monika menggangguk. "Ya, semua itu adalah ulah dari Ivana. Dia yang sudah melakukannya."


"Gila! Wanita itu sudah gila!" Seru Felix.


"Felix, itu semua karena obsesinya Ivana pada Brayen yang sudah membuatnya seperti sekarang ini. Aku mohon, lebih baik kau telepon Brayen. Karena terakhir Ivana mengatakan, dia lebih baik memilih mati bersama dengan Devita. Dia bilang, tidak ada yang boleh mendapatkan Brayen." Monika menatap Felix dengan tatapan yang penuh permohonan.


"Damn it! Gila! Dia benar-benar gila!" Felix mengambil ponselnya, dia hendak menghubungi Brayen. Namun, saat Felix ingin menghubungi Brayen, ada puluhan panggilan tidak terjawab dari Olivia. Felix mengerutkan keningnya, dia langsung membuka salah satu voice note dari Olivia.


*Felix! Tolong aku dan Devita- Akh*


Felix tersentak mendengar voice note yang di kirimkan oleh Olivia. Felix meremas kuat ponselnya. Tidak menunggu lama, Felix langsung menghubungi Brayen. "Brayen sialan! Bagaimana bisa anak buahmu tidak bisa menjaga Devita dan Olivia! Cepat siapkan anak buahmu yang lain! Dan segera jemput aku di alamat yang aku kirim!"


Felix langsung mematikan teleponnya, dia tidak ingin membuang waktu. Felix langsung mengirimkan alamat Ivana Wilson. Dia tidak memiliki pilihan yang lain. Karena Felix tahu, dia tidak mungkin bisa keluar tanpa bantuan dari Brayen. Bukan hanya Brayen, tapi Felix mengirimkan pesan pada asistennya untuk mengirimkan anak buahnya. Setidaknya, jika anak buah Brayen terlambat, dia masih bisa selamat.


"Felix? Ada apa?" tanya Monika khawatir dan juga cemas.


Felix mengepalkan tangannya dengan kuat dan dia mengumpat kasar. "Ivana Wilson! Aku akan membunuhnya jika sesuatu terjadi pada mereka!"


"F-Felix lebih baik kita pikirkan cara kita keluar dari sini." kata Monika dengan wajah yang semakin cemas dan takut.


"Siapa di dalam!" Suara teriakan dari luar membuat Monika terkejut ketakutan.


"Sialan!" Umpat Felix.


"F-Felix? Bagaimana ini? Tolong aku, aku sangat takut." Monika meremas lengan Felix, tubuhnya bergetar ketakutan. Dia menggigit bibir bawahnya, demi mengurangi rasa takutnya. Namun kenyataannya, Monika sangat takut.


Felix membuang napas kasar. "Tidak ada pilihan lain, aku harus menghadapi mereka."


"T-Tapi Felix, jumlah anak buah Ivana sangat banyak," kata Monika yang semakin takut.


"Kau tenang saja, aku sudah menghubungi asistennku dan Brayen untuk meminta anak buahnya menjemputku." ujar Felix


Felix tidak mungkin terus bersembunyi. Karena dia tahu, meski dia bersembunyi anak buah Ivana pasti akan bisa menemukannya. Felix menggenggam tangan Monika, dia memberanikan diri melangkah keluar dan meninggalkan ruangan.


Tubuh Monika bergetar ketakutan, di hadapannya ada sepuluh anak buah Ivana. Monika terus memeluk lengan Felix.


"Monika, pegang ponselku. Jika kau bisa berlari, maka berlarilah." Felix menyerahkan ponselnya pada Monika.


"T- Tapi Feli-" Monika tampak ragu saat menerima ponsel Felix.


"Tidak ada waktu, aku yakin anak buahku dan anak buah Brayen pasti datang menjemputku," tukas Felix.


"Kau siapa! Kau sudah berani masuk ke sini, maka jangan berharap kau bisa keluar!" Suara seorang pria membentak Felix cukup keras. Pria yang ada di hadapan Felix melayangkan tatapan tajam ke arah Felix.


Namun, belum sempat Felix merespon anak buah Ivana sudah langsung berhamburan menyerang Felix. Dengan sigap, Felix berusaha untuk menepis setiap pukulan. Terlihat Ivana yang mundur dan bersembunyi.


Pukulan demi pukulan Felix layangkan ke anak buah Ivana itu. Tiga orang anak buah Ivana berusaha Felix kalahkan. Felix mulai kehabisan tenaga, karena masih ada sisa tujuh di hadapannya.


Felix tersungkur di lantai, ketika salah satu anak buah Ivana berhasil menendang Felix. Monika berteriak histeris saat melihat wajah Felix di penuhi dengan lebam. Hingga kemudian, anak buah Ivana mengeluarkan pistol yang di arahkan ke kepala Felix.


"Tidak! Jangan!"


Brakkk.


Felix bernapas dengan lega, ketika melihat anak buahnya dan anak buah Brayen sudah lebih dulu datang menyelamatkannya.


"Brayen sialan, jika kau terlambat menyelamatkan aku. Aku akan memberi perhitungan padamu!" Desis Felix.


...***...


Sedangkan Brayen yang baru saja menyelesaikan meeting dengan kliennya, dia terkejut saat mendengar ucapan Felix di telepon. Meski dia langsung mengirimkan anak buahnya ke alamat yang di kirimkan Felix, tapi Brayen masih tidak mengerti apa maksud dari ucapan Felix. Brayen melihat beberapa panggilan tidak terjawab dari Devita, dia sudah beberapa kali mencoba untuk menghubungi istrinya kembali. Tapi tetap tidak ada jawaban.


"Tuan," Albert berlari masuk kedalam ruang kerja Brayen. Dengan wajah panik dan juga ketakutan, Albert terus menunduk tidak berani menatap Brayen.


"Ada apa, Albert?" tanya Brayen dingin


"T-Tuan, Nyonya.... Tuan....." Albert menunduk dia terlihat begitu gugup dan tidak berani melihat Brayen.


"Katakan yang jelas! Ada apa Albert!" Seru Brayen.


"Tiga mobil pengawal Nyonya, semuanya terbakar, Tuan...." Albert mengatakannya dengan hati - hati. Dia masih terus menunduk.


"Maksudmu apa, Albert! Berikan informasi yang jelas!" Brayen melayangkan tatapan tajamnya pada Albert. Terdengar suara geraman kemarahan. Raut wajah Brayen begitu menegang setelah mendengar ucapan dari Albert.


"Sudah ada yang mensabotase ketiga mobil pengawal kita, Tuan." Albert menjawab dengan ketakutan di wajahnya.


"Katakan dimana istriku sekarang, Albert!" Seru Brayen dengan kilat mata yang tajam. Rahangnya mengetat. Dia mengepalkan tangannya dengan kuat.


"M- maaf, Tuan. Tapi Nyonya tidak ada. Nyonya dan Nona Olivia tidak ada," jawab Albert gugup.


"Sialan! Siapa yang sudah berani melakukan ini! Beraninya dia melukai istriku!" Brayen beranjak berdiri, dia menyambar kunci mobilnya dan berlari keluar ruang kerjanya. Begitupun dengan Albert yang langsung berlari menyusul Brayen.


...***...


Brayen melajukkan mobilnya dengan kecepatan penuh, dia terus mengumpat sepanjang perjalanan. Dia menginjak gasnya, mempercepat laju mobilnya. Albert yang duduk di samping Brayen, terus gugup dan takut. Pertama kali, Albert tidak di berikan untuk membawa mobil Brayen. Ya, kemarahan di diri Brayen membuat Brayen ingin sendiri membawa mobilnya.


"T-Tuan saya yakin, Nyonya pasti akan baik - baik saja, Tuan." ujar Albert yang berusaha untuk menenangkan Brayen.


Brayen membuang napas kasar, dia memukul keras stir mobil. "Kau masih mengatakan istriku baik - baik saja? Apa kau ini sudah kehilangan akal sehatmu, Albert!"


Albert tidak menjawab, dia menundukkan kepalanya. Jika sudah seperti ini, Albert tidak berani lagi mengatakan apapun.


Hingga kemudian, mobil Brayen sudah tiba di tempat ketiga mobil pengawalnya hangus terbakar. Kilat mata tajam, penuh dengan kemarahan terlihat begitu jelas. Brayen turun dari mobil, dia berlari menghampiri mobil Olivia. Rahang Brayen mengetat, dia mengepalkan tangannya dengan kuat. Menatap ponsel Devita yang tergeletak di tanah. Brayen mengambil ponsel Devita, dia menatap ke layar ponsel Istrinya, yang mencoba untuk menghubungi dirinya. Brayen terus mengumpat, dia terus merutuki dirinya yang tidak menjawab telepon istrinya.


"Albert! Buka CCTV jalan ini! Dan segera temukan istriku dalam lima menit!" Bentak Brayen dengan keras.


"T- Tuan, saya sudah membuka CCTV. Tapi, CCTV di sini sudah berhasil di retas. Kemungkinan saya membutuhkan waktu yang lebih lama, Tuan." jawab Albert gugup.


Brayen melayangkan tatapan tajam ke arah Albert. "Aku sudah membayarmu mahal! Kenapa kau memulihkan CCTV saja tidak bisa!"


Albert menelan salivanya, kemudian dia memberanikan diri untuk menjawab. "B-Baik, Tuan. Saya akan berusaha."


...********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.