
Devita menggeleng pelan dan tersenyum getir. " Lebih baik, kau pulang Brayen. Seperti yang aku katakan tadi. Aku ingin membutuhkan waktu untuk menyendiri. Banyak hal yang harus kita pikirkan masing-masing. Kau, lebih baik pulang,"
"No Devita, please, I beg you, Forgive me." ucap Brayen dengan nada tatapannya mengiba meminta Devita untuk memaafkannya. "Aku akan melakukan apapun yang kau inginkan Devita, kau boleh menghukumku sesusakamu, tapi tidak menjauh dariku, Devita. Aku mohon Devita, aku tidak bisa jauh darimu. Aku bersumpah, aku tidak mungkin mengkhianatimu, Devita."
Devita menatap Brayen, terlihat jelas mata Brayen sudah memerah. Wajah Brayen penuh dengan penyesalan, Devita bisa melihat itu. Tapi entah kenapa hati Devita belum bisa menerima semuanya. Hati Devita masih begitu sakit. Brayen terlalu memberikan luka yang mendalam baginya.
Meski Brayen bersumpah dirinya mabuk. Tapi, Devita tetap tidak bisa melupakannya. Bukan hanya itu, tapi sebelumnya suaminya tidak mempercayai dirinya. Apa bisa hubungan berlanjut tanpa di landasi sebuah kepercayaan.
"Brayen, I've told you. I need space and please give me. Jangan memaksaku untuk mengambil sebuah keputusan dengan cepat Brayen." ucap Devita dengan tegas.
Mendengar ucapan Devita, Brayen langsung bersimpuh di lantai. Brayen berlutut tepat di hadapan Devita. Di pikiran Brayen saat ini, Devita mau memaafkan kesalahannya karena memang dirinya, tidak pernah berniat untuk menyakiti hati Devita.
"Brayen, apa yang kau lakukan. Bagun!" Tukas Devita saat melihat Brayen berlutut di hadapannya.
"Devita, ribuan permintaan maafku, mungkin sangat sulit kau terima. Tapi, aku sungguh minta maaf padamu, Devita. Aku bersumpah, aku tidak pernah untuk menyakiti hatimu, Devita. Aku tahu, aku salah. Tapi, aku hanya terlalu takut kehilanganmu. Aku takut kau berpaling dariku dan pergi meninggalkanku," Brayen menundukkan kepalanya, dia sungguh menyesal apa yang telah dia lakukan.
"Dalam hidupku, aku tak pernah setakut ini. Aku sungguh takut saat melihat pria di masa lalumu kembali ke hidupmu. Aku takut, rasa cintamu tidak terlalu besar padaku, Devita. Aku begitu marah saat aku mendengar kau menemuinya di belakangku. Aku cemburu, bahkan aku begitu kejam memperlakukanmu. Aku sungguh minta maaf, Devita..."
"Semua yang aku lakukan, hanya karena aku takut kehilanganmu dan itu semua, karena aku mencintaimu, Devita. Aku tidak sanggup, jika kau memilih pria, di masa lalumu. Aku tidak sanggup kau memilih dia. Aku tidak bisa hidup, jika tanpa dirimu, Devita." ucap Brayen dengan suara lemah. Dia masih menundukkan kepalanya.
Sedangkan Devita terdiam mendengarkan ucapan Brayen. Tetapi hatinya masih begitu sakit dan sesak. Air matanya, tidak mampu lagi tertahan. Terlebih saat Brayen mengucapkan itu, Devita melihat penyesalan dari dalam diri Brayen. Namun jujur, saat ini Devita tidak mungkin begitu saja melupakan hal yang telah menyakitinya. Jika mengingat itu, Devita benar - benar sulit untuk menerimanya.
Devita terus menatap Brayen yang masih bersimpuh di lantai. Ini pertama kalinya dia melihat suaminya seperti ini. Hati Devita begitu sedih melihat Brayen harus seperti ini. Tapi tidak, hati Devita belum bisa menerima semuanya, Brayen terlalu melukai hatinya. Setiap perkataan Brayen membuat air mata Devita terus berlinang membasahi pipinya, meski dia tahu Brayen sudah meminta maaf, tapi hatinya begitu terluka. Devita menghapus air matanya dengan cepat.
"Pulanglah, Brayen." ucap Devita yang berusaha untuk menguatkan dirinya.
"Devita, please. Jangan menghukumku seperti ini. Kau boleh melakukan apa saja. Tapi tidak dengan menjauh dariku," kata Brayen, terdengar begitu lirih. Dia tidak akan pernah sanggup, jika berjauhan dengan Devita. Demi Tuhan, Brayen sungguh menyesal dengan apa yang dia lakukan pada Devita.
"Bangunlah Brayen, jangan seperti ini. Aku hanya membutuhkan waktu. Terkadang kita harus memikirkan hubungan kita ini," ucap Devita dengan Isak tangisnya yang kini terdengar.
Brayen menggeleng cepat. "Aku tidak akan bangun, sebelum kau memaafkan aku, Devita." ucap Brayen yang masih tidak mau pergi jika Devita belum memaafkan dirinya. Meski harus menunggu berhari - hari dan terus berlutut di hadapan Devita, dia tidak perduli. Dia akan melakukan apapun, agar Devita bisa memaafkannya.
Dengan bahu bergetar, Devita menghapus kembali air matanya yang terus berlinang. Hatinya begitu sakit dan sesak. Rasanya hatinya masih belum bisa melupakan semuanya dengan mudah.
"Aku mohon padamu Brayen, bangunlah. Luka yang kau berikan masih belum bisa aku lupakan sepenuhnya. Dan aku tidak bisa melupakannya dengan mudah. Aku mohon, kau pulang. Kita akan membahas ini nanti, setelah hatiku siap, Brayen. Tapi tidak sekarang." suara Devita terdengar begitu parau.
Saat ini Devita masih membutuhkan waktu untuk menenangkan hatinya. Dia masih ingin berdamai dengan keadaan. Meski Brayen sudah memohon maaf padanya tetapi tetap hatinya tidak semudah itu untuk memaafkannya. Devita masih membutuhkan ruang untuk menenangkan dirinya. Devita juga yakin bukan hanya dirinya yang membutuhkan ruang. Tapi Brayen juga membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Di pikiran Devita saat ini, belum bisa berpikiran dengan jernih. Semuanya terlalu menyakitkan untuknya.
"Brayen, aku hanya membutuhkan waktu untuk berpikir tenang. Aku mohon sekarang, kau bangunlah. Jangan seperti ini," pinta Devita. Dia tidak bisa melihat Brayen terus berlutut di hadapannya.
Brayen bangun perlahan dan masih menatap Devita yang matanya mulai memerah. "Apa tidak ada cara untuk memaafkan aku, Devita? Aku sungguh tidak sanggup untuk berjauhan darimu."ucap Brayen. Dia tahu, dirinya telah begitu banyak melukai istrinya. Bahkan melihat Devita menangis hatinya terus merasa bersalah. Dia tidak henti menyalahkan dirinya yang telah di butakan oleh kecemburuan hingga melukai istri yang dia cintai.
"Sekarang aku mohon padamu, Brayen. Lebih baik sekarang kau pulang. Kita membutuhkan waktu untuk memikirkan semuanya. Lebih baik kau pulang, aku ingin beristirahat," ujar Devita, dia membalikkan tubuhnya menuju ranjang. Namun tiba - tiba, tangan kokoh Brayen langsung memeluk erat tubuh Devita dari belakang. "Biarkan aku seperti ini. Aku mohon," bisik Brayen serak di telinga Devita.
Devita yang mendapatkan pelukkan dari Brayen. Hatinya semakin sesak. Air matanya sudah tidak bisa lagi tertahan. Devita terisak, bahunya bergetar dalam pelukkan Brayen. Dia tidak mampu lagi menahan air matanya.
"Aku tahu, aku sudah sering melukaimu dengan sikapku yang kasar. Tapi satu hal yang harus kau ingat, aku mencintaimu, Devita. Aku tidak pernah berhenti bersyukur karena Tuhan akhirnya mempertemukan kita. Maaf, aku bersumpah, aku tidak bermaksud untuk melukai hatimu." bisik Brayen. Dia semakin mengeratkan pelukannya. Kini dia merasakan, istrinya menangis.
"Satu hal yang harus kau ingat, Devita. Aku sangat takut kehilanganmu. Aku bersumpah, aku tidak akan pernah melukai hatimu, Devita. Aku tahu, aku memiliki sifat yang keras. Tapi percayalah Devita. Aku sangat mencintaimu," Brayen mencium aroma rambut Devita yang begitu dia cintai.
Devita menghapus air matanya, lalu berusaha untuk melepaskan pelukan Brayen. "Pulanglah Brayen, aku butuh istirahat. Kau juga butuh istirahat." kemudian dia melangkah meninggalkan Brayen.
Tubuh Brayen masih tidak bergeming. Saat Devita berjalan meninggalkannya. Dia tahu, istrinya masih terluka. Dia berusaha untuk mengerti dan membutuhkan waktu untuk menenangkan diri.
"Maafkan aku Devita," ucap Brayen dengan berat hati, dia beranjak dari kamar Devita dan berjalan meninggalkan kamar hotel istrinya itu.
Devita yang melihat Brayen sudah pergi,dia kembali meneteskan air matanya. Kenyataannya dia tidak sekuat itu. Devita berusaha untuk tidak menangis tapi tetap tidak bisa. Dia hanya membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Dia ingin melepaskan beban yang ada di pikirannya. Membiarkan waktu yang akan mengobati luka di hatinya.
...****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.