Love And Contract

Love And Contract
Menagih Janji



Kini Devita tengah memasukkan barang - barang pribadi milik Sean, Vania dan Brayen dan juga miliknya sendiri kedalam koper. Sebelum menutup koper dia kembali memastikan semua keperluan yang di butuhkan di negara M telah di bawa. Setelah memastikan semua barang-barangnya terbawa, Devita langsung menutup koper itu. Kemudian meletakkan kopernya di sudut ruangan bersamaan dengan koper dan pakaian yang telah di siapkan oleh pelayan.


"Sayang, kau sudah siap?" tanya Brayen saat melangkah masuk kedalam kamar.


"Sudah, kita ke pesawat jam berapa Brayen?" Devita mendekat menghampiri Brayen.


"Jam sepuluh pagi, lebih baik kita berangkat sekarang. Sean dan Vania sudah menunggu di bawah." jawab Brayen sambil mengecup kening Devita. "Kau tidak perlu membawa koper, nanti biarkan pengawalku saja yang akan membawa koper kita kedalam mobil."


"Tunggu Brayen, aku ambil tasku." Devita langsung mengambil tas yang ada di meja riasnya, lalu dia memeluk lengan Brayen berjalan meninggalkan kamar.


"Mommy, you're looking so beautiful." Sean berlari dan langsung memeluk Devita.


Devita tersenyum, dia mengusap rambut Sean. "Kau juga sangat tampan, sayang."


"Bibi, Paman..." Vania yang di gendong Syifa juga langsung turun dan berlari menghampiri Brayen dan juga Devita.


"Bibi, Paman. Apa nanti Mommy dan Daddy juga akan menyusulku ke negara M?"


"Mommy dan Daddymu, tadi malam sudah lebih dulu berangkat. Harusnya, dia sudah sampai lebih dulu." Brayen mengelus lembut pipi Vania.


Vania mengangguk. "Baiklah, Paman."


"Yasudah, lebih baik kita berangkat sekarang. Vania, kau ingin bersama dengan Paman atau Bibi?" tanya Brayen.


"Aku ingin dengan Bibi saja," Vania langsung memeluk Devita. Devita mengulurkan tangannya, kemudian menggendong Vania.


"Sean, kau bersama dengan Daddy." Brayen mengulurkan tangannya ke arah Sean. Dengan wajah yang bahagia Sean langsung berlari dan langsung di gendong oleh Brayen.


Brayen dan Devita duduk di kursi belakang bersama dengan Sean dan Vania yang berada di pangkuan mereka. Sedangkan Syifa dan beberapa pengawal berada di mobil yang berbeda. Kini mobil Brayen mulai berjalan meninggalkan mansion mereka, beriringan dengan beberapa mobil pengawal yang mengikuti mereka.


...***...


Sepanjang perjalanan menuju ke arah bandara, Vania tertidur dalam pelukan Devita. Sedangkan sejak tadi Sean dengan Brayen bercanda. Devita melihat ke arah Sean yang sedang bercanda dengan Brayen. Sean memang sangat dekat dengan Brayen.


"Nanti, biarkan aku yang menggendong Vania." ucap Brayen, sambil melihat Vania yang tertidur dalam pelukan Devita.


"Tidak apa-apa, Brayen. Kau menggendong Sean saja. Dia pasti ingin di gendong olehmu." jawab Devita.


"No Mommy, aku bersama dengan Mommy saja. Tapi Mommy tidak perlu menggendongku. Biarkan saja Vania di gendong oleh Daddy." ucap Sean dengan nada polosnya.


Devita tersenyum, "Kau sekarang sudah benar-benar besar, boy?"


"Itu karena Daddy bilang padaku, kalau aku akan segera punya adik. Jadi aku harus dewasa, Mommy." jawab Sean dengan senyuman yang memperlihatkan gigi putihnya.


Devita mendelik dia melirik Brayen dengan tatapan yang tajam penuh peringatan. Sedangkan Brayen, langsung mengalihkan pandangannya dan mengecup pipi Sean. Dia lebih memilih untuk mengajak bercanda putranya. Devita mendengus, melihat Brayen yang tidak berani melihat dirinya.


Tidak lama kemudian, mobil mereka telah tiba di bandara pribadi milik Mahendra family. Brayen sudah lebih dulu turun dari mobil, dia mengambil Vania yang ada di pelukan Devita dan langsung menggendong Vania. Sedangkan Devita, langsung menggenggam tangan Sean agar turun dari mobil dan melangkah masuk kedalam bandara.


"Mommy, i don't like them!" Tunjuk Sean pada para wartawan yang sedang mengambil gambarnya. "Mommy, usir mereka! They're taking my picture, Mommy! Don't like it!"


Devita mengulum senyumannya, dia langsung menggendong Sean dan berkata. "Sayang, mereka mencari uang dengan mendapatkan berita. Kau tidak boleh seperti itu, ya? Mereka menyukai Sean, jadi mereka mengambil gambarmu, sayang."


"But, i don't like it, Mommy!" Cebik Sean.


"Ya sudah Sean, Mommy gendong kamu ya, jadi kita akan lebih cepat masuk kedalam," ucap Devita sembari mengecup pipi gemuk Sean.


Sean menurut, dia membenamkan wajahnya di leher Devita dan memeluk erat leher Devita. Brayen merengkuh bahu Devita, dengan tangan kirinya. Tangan kanannya menggendong Vania yang masih tertidur pulas. Kini Brayen dan Devita masuk kedalam pesawat.


"Good morning, Mr. Mahendra dan Mrs. Mahendra," sapa kapten Suga.


"Good morning kapten Suga," jawab Devita dengan senyuman di wajahnya. Sedangkan Brayen hanya membalasnya dengan anggukan singkat di kepalanya.


Kemudian, Brayen dan juga Devita masuk kedalam pesawat. Devita lebih memilih untuk duduk di dekat jendela, sedangkan Brayen masuk kedalam kamar membaringkan tubuh Vania, agar keponakannya itu bisa lebih nyaman. Syifa pengasuh, Sean kini menemani Vania di kamar. Brayen tidak ingin nanti Vania menangis ketika bangun di kamarnya hanya seorang diri.


Setelah membaringkan Vania di ranjang, Brayen kembali menghampiri istri dan juga anaknya. Dia langsung duduk di hadapan Devita dan Sean. Tidak lama kemudian, pilot mengintruksikan pesawat akan segera take off.


"Sean, buka mulutmu, sayang. Kau belum makan?" Devita mengarahkan sendok yang berisikan salmon steak dan mashed potato.


"Mommy, aku tidak lapar." tolak Sean menjauhkan sendoknya dan tidak ingin makan.


"Tapi kau belum makan, sayang. Tadi pagi kau hanya minum susu. Buka mulutmu, Mommy tidak suka kalau kau terlambat makan." Devita kembali mengarahkan sendok yang berisikan salmon steak dan mashed potato. Sean akhirnya menurut, dia langsung membuka mulutnya dan langsung mengunyah makanan yang kini ada di dalam mulutnya itu.


"Good boy," Devita mengecup kening Sean. "Makan yang banyak, sayang. Mommy ingin kau tumbuh menjadi anak yang sehat dan cerdas."


"Devita, kau juga makan." ujar Brayen mengingatkan.


Devita mengangguk. "Iya, aku juga makan." kemudian, Devita mulai makan salmon steak dan mashed potato.


"Daddy, kau masih ingat dengan janjimu,kan?" tanya Sean dengan suara yang polos.


"Janji? Janji apa?" Devita langsung menyela cepat, dia menatap lekat Brayen.


"Daddy said, he would buy the new plane for me," seru Sean dengan antusias.


Devita tersedak, dia langsung menatap Brayen tajam. "Kau berjanji pada Sean akan memberikan dia pesawat?"


"Ya, Sean putraku sayang. Aku akan membelikannya. Dia ingin memiliki pesawat yang memiliki ukiran namanya." jawab Brayen sembari menyesap wine.


"Tidak Brayen. Kau sudah punya. Jangan membuang uangmu." balas Devita kesal.


"Mommy, kenapa Mommy melarang Daddy membelikan pesawat baru untukku? Mommy tidak menyayangiku," mata Sean berkaca-kaca, dia langsung menangis mendengar Devita melarang Brayen.


Devita berdecak kesal, dia mengumpat di dalam hati. Brayen memang selalu memanjakan Sean. Bukan tidak ingin, tapi Devita tidak ingin menyukai segala sesuatu yang berlebihan. Devita takut, putranya nanti tidak akan bijaksana dalam mengatur keuangan.


Brayen meletakkan gelas sloki di tangannya, lalu dia membawa Sean duduk di pangkuannya. "Daddy bukannya pernah bilang padamu, pria tidak boleh menangis?"


"Tapi Mommy tidak memperbolehkan Daddy, membelikan pesawat baru untukku."Sean terisak pelan, mata dan hidungnya memerah.


"Jika Mommy tidak memperbolehkan Daddy, harusnya kau membujuk Mommy. Bukannya menangis..." Brayen mengecup pipi gemuk Sean.


"Mommy.... Can I have the new plane?" rengek Sean dengan mata yang masih memerah.


Devita mendesah pelan, dia melirik Brayen dengan tatapan yang kesal. Sejak dulu Sean akan menangis, jika keinginannya tidak terkabulkan.


"Sean,kita sudah punya sayang. Kau tidak perlu membeli yang baru. Mommy ingin Sean bijaksana dalam uang, sayang." ucap Devita dengan suara yang lembut.


"But I want the new one, Mommy..." Sean menatap Devita dengan penuh permohonan. Bibirnya mengerut. "Mommy... please....." Sean semakin mengerutkan bibirnya.


"Baiklah, tapi setelah ini kau harus berjanji untuk tidak meminta hal yang berlebihan," ucap Devita.


"Yeayy! Thank you, Mommy! I love you so much!" Sean turun dari pangkuan Brayen dan langsung memeluk erat Devita.


Meski Devita membalas pelukan putranya, tapi dia menatap kesal Brayen. Sedangkan Brayen, lebih memilih untuk mengalihkan pandangannya, ketika sang istri menatap tajam dirinya.


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.