
"Jangan menolaknya Albert. Aku sudah membelikannya untukmu,"
"Terima kasih, Nyonya." jawab Albert menundukkan kepalanya.
"Ya, sama - sama," balas Devita
"Albert bolehkah aku meminta bantuan mu?" tanya Devita.
"Tentunya Nyonya, ada yang bisa saya bantu?" tanya Albert langsung.
"Aku meminta bantuan mu untuk mengantarkan dua koper berwarna hitam itu kerumah Ibu mertuaku. Sedangkan koper berwarna maroon, kau antarkan ke rumah keluarga ku, mansion keluarga Smith," kata Devita sembari menunjuk koper yang terletak di ujung dekat jendela.
"Baik Nyonya, apa ada lagi yang bisa saya bantu Nyonya?"
"Apa kau tahu dimana Felix? Aku juga ingin memberikannya oleh - oleh yang sudah aku siapkan untuknya,"
"Tuan Felix sekarang sedang berada di kota B, apakah Nyonya ingin saya mengantarkannya?"
"Tidak, aku ingin sendiri yang mengantarkannya. Bisakah kau memberikan nomer ponselnya?"
"Baik Nyonya, saya akan mengirimkan nomor Tuan Felix,"
"Ya, terima kasih Albert."
"Kalau begitu saya permisi," pamit Albert dan Devita mengangguk.
"Devita," panggil suara seorang perempuan saat Alberlt pergi.
Devita terkesiap, mendengar suara seorang perempuan yang memanggilnya dengan cukup keras. Dia membalikkan tubuhnya, melihat ke arah sumber suara yang memanggilnya.
"Laretta?" Devita mengerutkan keningnya, melihat ternyata adik iparnya yang datang.
Laretta tersenyum lalu dia berjalan mendekat ke arah Devita. "Apa kabar Kakak Ipar?"
"Aku baik, kamu bagaimana?" tanya Devita dengan senyuman di wajahnya.
"Aku juga baik, lebih baik kita ke taman. Aku ingin mengobrol banyak denganmu," kata Laretta.
"Tunggu sebentar, aku harus mengambilkan sesuatu untukmu," Ucap Devita langsung berjalan meninggalkan Laretta untuk mengambil shopping bag. Saat di Berlin dia juga sudah membelikan oleh - oleh untuk Laretta.
"Ini untukmu," Devita langsung menyerahkan shopping bag pada Laretta.
Laretta dengan senang hati menerimanya. Dia membuka shopping bag itu, seketika Laretta terkejut apa yang di belikan oleh Kakak iparnya. Hermes bag, keluaran terbaru yang bahkan dia belum memilikinya.
"Devita, ini sungguh untukku?" tanya Laretta yang menatap tak percaya, pasalnya tas yang di belikan oleh Devita harganya sungguh mahal.
"Ya, aku berharap kau menyukainya," Devita
"Tidak mungkin aku tidak menyukainya, ini sungguh bagus. Kau memang Kakak Iparku, tidak salah Kakakku memilihmu," ucap Laretta langsung memeluk Devita dengan erat. Dia begitu bahagia dengan oleh - oleh yang dibelikan Devita untuknya.
Devita tersenyum, " Ya sudah, kita taman sekarang,"
Laretta mengangguk setuju, dia langsung memeluk lengan Devita berjalan menuju ke arah taman. Setibanya di taman, mereka langsung melihat dan menikmati pemandangan bunga di taman yang sangat indah. Tidak lama kemudian pelayan mengantarkan hot chocolate dan cheese cake untuk Devita dan juga Laretta.
"Kak Brayen, ada dimana?" tanya Laretta, sambil menikmati pemandangan bunga di taman yang begitu indah.
"Ada di ruang kerja," jawab Devita.
Laretta mendengus dan berkata, " Kenapa di hari weekend seperti ini, dia masih saja sibuk dengan pekerjaan. Padahal Kakakku sudah sangat kaya raya. Lagi pula, dia akan menjadi pewaris utama,"
"Dia seorang laki - laki Laretta, jadi dia memang harus bertanggung jawab. Pekerjaannya juga sangat penting," balas Devita.
"Padahal aku baru saja mengobrol denganmu, Devita. Tapi aku sudah bisa menilaimu. Kau sungguh gadis yang cantik, kau juga sangat baik dan lembut. Beruntungnya Kakakku bisa menikah denganmu, bukan mantan kekasihnya yang dulu," ujar Laretta.
Devita mengerutkan keningnya dan bertanya, "Mantan kekasihnya?"
Laretta menghela nafas dalam. " Dulu Kakakku menjalin hubungan dengan artis asal Milan. Usianya sama dengan Kakakku. Tapi dia begitu sombong, dia selalu merasa dirinya hebat. Dia merasa dirinya berkelas. Dia tidak pernah menghargai orang yang menurutnya dari kalangan bawah."
"Padahal aku pernah menyelidiki keluarganya, dia bukan berasal dari keluarga yang kaya. Dia hanya lahir dari keluarga yang sangat sederhana. Tapi keberuntungan yang menghampirinya dia bisa menjadi artis yang cukup terkenal. Di tambah lagi menjadi kekasih Kak Brayen. Kakakku itu sangat royal padanya, aku tahu mobil mewah dan Apartemen mewah miliknya di Milan pasti pemberian dari Kakakku," lanjut Laretta dengan nada kesal dan tidak suka jika mengingat mantan kekasih Kakaknya itu.
"Oh astaga! Aku masih bisa membedakan mana yang tulus dan mana yang tidak, Devita!" Seru Laretta yang kesal.
Devita tersenyum kemudian bertanya, "Memangnya siapa nama mantan kekasih Kakakmu itu?"
"Namanya Elena Davidson. Kau bisa saja langsung mencarinya di internet. Banyak juga yang membahas artikel tentang Elena dan Kakakku," jawab Laretta.
Seketika raut wajah Devita berubah, ketika mendengar nama Elena. Sebisa mungkin Devita tidak ingin terlihat terkejut. Ternyata Laretta masih mengira Elena mantan kekasih Brayen. Padahal, wanita itu masih menjadi kekasih Brayen.
"Lupakan saja Laretta," balas Devita yang memilih untuk menghentikan pembahasan tentang Elena.
"Kau benar, aku juga sangat malas membahas wanita itu," jawab Laretta yang enggan mengingat dan membahas tentang Elena.
"Lebih baik kau menghampiri Kakakmu dulu. Dia berada di ruang kerja. Setidaknya kau harus menyapanya," kata Devita mengingatkan. Pasalnya sejak tadi Laretta datang, Adik Iparnya itu tidak langsung menemani Brayen.
"Ya, kau benar. Baiklah, kalau begitu aku akan menemui Kakakku," balas Laretta.
Devita menganguk, kemudian Laretta berjalan meninggalkan Devita menuju ke ruang kerja Brayen.
Melihat Laretta yang sudah pergi, Devita kembali mengingat perkataan Laretta yang membahas tentang Elena. Devita berharap kekasih dari Brayen adalah wanita yang baik untuk menemani Brayen. Namun, saat Devita mengingat tentang kekasih Brayen, tanpa sadar airnya mulai menetes membasahi pipinya. Dengan cepat, Devita langsung menghapus air matanya. Dia tidak ingin ada orang lain yang melihat dirinya Menangis.
...***...
Ke esokan hari, Devita sudah bersiap - siap untuk pergi ke kantor. Saat Devita sudah selesai berias, dia menatap Brayen yang juga sudah selesai mengganti pakaiannya. Namun mata Devita tertuju pada dasi yang di pakai oleh Brayen kurang rapih. Sangat menganggu ketika Devita melihatnya. Tanpa menunggu, Devita melangkah mendekat ke arah Brayen. Dia langsung merapikan dasi Brayen. Sedangkan Brayen, hanya terpaku dengan tindakan Devita yang merapikan dasinya. Jarak mereka begitu dekat, meskipun tinggi Devita hanya sebahu Brayen, namun tetap saja Brayen bisa melihat Devita begitu cekatan saat merapikan dasinya.
"Selesai," Devita menepuk pelan dada Brayen.
"Jika kau ingin meninggalkan kamar, kau harus perhatikan dirimu dulu di cermin. Apa semuanya itu sudah rapih atau belum. Bagaimana jika kau sudah berangkat bekerja, tapi dasimu masih miring seperti tadi," gerutu Devita yang membuat Brayen tersenyum.
"Aku tadi terburu - buru, jadi tidak memperhatikan kecermin lagi," jawab Brayen.
Devita mendengus, " Baiklah, setiap pagi aku akan menjadi cermin mu. Aku akan selalu memperhatikanmu sebelum kau berangkat bekerja,"
Brayen kembali tersenyum lalu mengangguk samar.
"Lebih baik kita breakfast dulu, aku sangat lapar," kata Devita.
"Ya," jawab Brayen datar.
Kemudian Devita dan Brayen berjalan meninggalkan kamar menuju ruang makan. Pelayan sudah menyiapkan sarapan untuk Devita dan Brayen. Seperti biasa Devita selalu sarapan dengan sandwich dan susu kacang. Sedangkan Brayen lebih memilih kopi dan roti gandum.
"Brayen, apa Laretta akan menetap di kota B?" tanya Devita sambil menikmati sarapannya.
"Aku tidak tahu. Anak itu lebih menyukai tinggal di Korea atau pun di Australia dari pada di Indonesia," jawab Brayen.
Devita menganguk dan berkata, " Tapi Korea dan Australia jaraknya cukup jauh dari Kota B, Bryaen dan kenapa Daddy David begitu baik mengizinkan Laretta untuk tinggal bergantian di kedua negara itu dan hanya sendirian lagi,"
"Sebenarnya orang tuaku sudah melarang Laretta tapi dia tidak mau menurut. Dia juga tidak mau memegang perusaahan cabang. Dia selalu mengatakan tidak memiliki kemampuan untuk memimpin perusahaan. Dia lebih memilih menjadi seorang pelukis," jelas Brayen sambil menyesap kopi di tangannya.
"Laretta sangat beruntung memilikimu sebagai kakaknya. Setidaknya kau mampu memimpin perusahaan keluargamu. Tidak seperti ku, aku tidak bisa menolaknya karena aku adalah anak tunggal. Tanggung jawab pasti ada padaku." Devita menghela nafas dalam, jika dia mengingat tanggung jawab yang dia miliki, membuatnya benar - benar sakit kepala.
"Banyak orang di dunia ini yang ingin lahir dari keluarga yang berkecukupan. Setidaknya kau harus bersyukur itu. Orang tuamu telah menyiapkan masa depan yang baik untukmu," balas Brayen.
"Ya, kau benar," jawab Devita.
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.