Love And Contract

Love And Contract
Perdebatan Brayen dan Edgar



**Ayo... ayo besok hari senin jangan lupa kasih sajen votenya para readerku...😄 ngasih likenya juga jangan pelit - pelit loh😂Ramaikan kolom komentarnya juga ya🤗 yuk ayo yuk,,siapa yang mau kasih hadiah 🌷 dan ☕ buat author nih😊


Semakin banyak like dan komen Author juga makin banyak ngasih Up-nya loh😁


Happy Reading semuanya.....**


"Kau terlalu bermimpi, jika aku datang untuk melamarmu!" Suara Brayen tajam dari arah depan, semua orang pun mengalihkan pandangannya saat Brayen melangkah mendekat. Tatapan mata Brayen, terus menatap ke arah Lucia. Sedangkan Felix menatap Lucia dengan penuh kebencian. Felix hendak menerjang Lucia, namun Brayen sudah lebih dulu menahan Felix.


Wajah Lucia langsung memucat ketika melihat Brayen datang. Bahkan Brayen datang, dengan di ikuti oleh beberapa pengawal di belakangnya. Lucia pun bisa melihat dengan jelas kemarahan di wajah Brayen.


"B-Brayen? Ada apa kau datang kesini?" Lucia berusaha untuk tetap tenang dan mengulas senyuman di wajahnya.


Brayen melangkah mendekat, namun anak buah dari Lucia sudah lebih dulu menghalangi jalan Brayen. Tidak tinggal diam, pengawal dari pihak Brayen pun langsung berada di depan. Brayen menggerakkan tangannya agar pengawalnya tidak melakukan apapun.


"Bukti yang aku butuhkan sudah ada di tanganku. Dan dengan mudahnya aku akan membuatmu membusuk di dalam penjara. Bukankah Ibumu sudah aku berikan peringatan, agar jangan pernah berani untuk bermain denganku? Tapi kau, kenapa sungguh memiliki keberanian yang hebat? Kau bahkan berani dan berniat untuk membunuh istriku?" Brayen tersenyum sinis, "Maka, kau harus terima akibat dari apa yang telah kau lakukan. Dan kau itu, tidak mengenal dengan baik siapa lawanmu!"


"Apa maksudmu? Bukti apa? Aku tidak mengerti?" tanya Lucia yang mulai tersulut, dan dia menatap lekat Brayen.


"Kau jangan berpura - pura sialan!" Felix menggeram, saat dia hendak maju, Brayen kembali menahannya.


"Kau masih berpura-pura seolah kau tidak atau apapun?" Tanya Brayen sambil menyeringai dan menatap tajam ke arah Lucia. " Aku rasa, kau akan tahu, setelah kau ikut denganku. Karena kau harus mendapatkan apa yang telah lakukan pada istriku dan sahabatnya."


"Aku tidak mengerti apa maksudmu!"Sentak Lucia.


Brayen menggerakkan kepalanya, dia memberikan kode pada anak buahnya untuk menarik paksa Lucia. Dan para pengawal dari pihak Lucia pun mulai menghadang. Brayen kini menatap para pengawalnya yang sedang berkelahi melawan pengawal milik Lucia. Brayen melipat tangannya di depan dada, menatap setiap gerakan para pengawalnya. Di samping itu, Felix juga ingin membantu untuk mempersingkat waktu, tetapi Brayen kembali menahannya.


"Lepaskan aku Brayen!" Sentak Felix, yang mulai emosi karena sejak tadi Brayen selalu menahan dirinya.


"Tidak sekarang, Felix!" Balas Brayen dingin.


"Tapi dia bisa melarikan diri, Brayen! Kau tidak lihat wanita sialan itu memiliki banyak sekali pengawal?" Seru Felix menggeram, dia berusaha untuk mengatur emosinya.


"Jika pengawalku sampai kalah. Mereka akan mati di tanganku! Sejak kapan aku mempekerjakan orang - orang yang lemah dan bodoh!" Tukas Brayen tajam.


Felix membuang napas kasar, di mengepalkan tangannya dengan kuat. Wanita yang telah menghancurkan hidup Olivia berada di hadapannya tapi dia harus tetap menahan diri.


"Hentikan ini Brayen Adams Mahendra!!" Suara Edgar pun berseru dengan lantang dan keras. Edgar yang baru saja tiba, dia langsung melangkah mendekat. Ini yang sudah dia tahu. Tidak mungkin seorang Brayen Adams Mahendra akan diam saja.


Edgar masih diam dan tidak merespon, dia melangkah mendekat ke arah Brayen. "Sungguh, aku tidak bisa bermaksud untuk menyembunyikan Lucia. Tapi sepertinya aku rasa, kau juga akan melakukan hal yang sama jika berada di posisiku. Kau juga memiliki seorang adik bukan? Kau pasti akan melindungi adikmu ketika adikmu itu mendapatkan masalah. Dan aku hanya melakukan tugasku sebagai seorang Kakak."


Brayen melangkah mendekat, lalu menyunggingkan senyuman miring. " Aku akan membela adikku, jika dia melakukan hal yang benar. Aku juga sangat mengenal adikku karena adikku bukan wanita sembarangan, dan adikku itu tidak seperti adikmu! Adikku juga tidak akan pernah berniat untuk membunuh seseorang!"


"Ini tidak seperti yang kau bayangkan, Brayen! Tuduhanmu itu tidak beralasan! Kau bahkan belum memiliki buktinya!" Seru Edgar yang masih berusaha untuk membela Lucia.


"Tidak beralasan kau bilang?" Brayen menatap tajam Edgar yang berdiri di hadapannya, "Semua bukti sudah ada di tanganku. Hanya dalam hitungan detik saja, adikmu bisa aku hancurkan. Dan Ibumu akan aku buat, agar dia selamanya membusuk di dalam penjara karena dia sudah berani bermain denganku. Dan kau! Aku bisa saja membuatmu kehilangan segalanya. Kau tahu itu dengan baik Edgar Rylan Wilson!"


Edgar menggeram, dia mengepalkan tangannya dengan kuat. "Aku akan tetap membantu keluargaku! Meski kau berusaha untuk menjatuhkan keluargaku! Aku akan tetap berada di depan! Jika aku harus melawanmu maka aku akan melakukannya! Lepaskan adikku Brayen!"


Brayen tersenyum sinis, "Aku melepaskan adikmu? Setelah dia hampir membunuh istri dan juga anakku? Kau sangat tahu, bukan? Aku itu tidak sebaik itu! Adikmu itu harus mendapatkan apa yang telah dia lakukan pada keluargaku!"


Edgar pun terdiam saat mendengar Devita terluka. Dan Brayen tadi menyebutkan anak, dan itu artinya Devita tengah mengandung. Kini Edgar sungguh tidak tahu harus berbuat apa.


Di samping itu, kini Lucia sedang panik dengan para anak buahnya yang mulai berjatuhan di lantai. Bahkan Yeslin, yang berusaha melawan sudah tersungkur ke lantai. Sisa pengawal dari Lucia pun tidak akan mampu bertahan. Kemudian Lucia berlari ke salah satu pengawalnya yang sudah tersungkur di lantai, dia pun mengeluarkan pistol. Ya, tidak ada pilihan lain lagi bagi Lucia untuk saat ini. Mata Lucia kini tertuju pada Brayen yang tengah berdebat dengan Edgar.


"Karena aku tidak bisa mendapatkanmu, maka tidak ada satupun orang yang bisa mendapatkanmu!" Desis Lucia yang mulai mengarahkan pistol yang ada tangannya tepat ke arah dada Brayen.


Dan suara tembakan pun terdengar....


Semua orang yang berada di sana pun sangat terkejut kala mendengar suara tembakan, lalu menatap sosok pria yang terjatuh di lantai dengan darah yang mengalir banyak dari tubuhnya.


...********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.