
"Kau ingin mendengar tentang Olivia?" tanya Devita dan Laretta mengangguk.
Devita mendesah pelan. " Olivia dan aku berteman sejak kecil. Dulu aku tinggal di Kanada. Hanya saja, sejak aku pindah ke Indonesia, Olivia juga ikut pindah kesini dan kami satu kuliah. Olivia gadis yang cantik dan periang dan dia juga gadis yang baik.
Mendengar ucapan Devita, Laretta terdiam sejenak. " Aku sudah yakin, dia pasti sepertimu, cantik dan periang. Pantas Felix menyukainya. Aku senang, jika Felix menyukai gadis yang tepat untuk hidupnya." ujar Laretta dengan senyuman di wajahnya.
"Kau juga sangat cantik dan anggun Laretta. Bahkan Angkasa sangat beruntung memilikimu. Kau tahu, banyak beberapa mahasiswa di kampusku selalu membicarakan adik dari Brayen Adams Mahendra saat Brayen terliput oleh media. Aku mendengar mereka membicarakanmu, kau adalah gadis yang sempurna, cantik, anggun dan lahir dari keluarga yang hebat. Jadi Angkasa sangat beruntung memilikimu." balas Devita dengan senyuman di wajahnya.
"Kau terlalu berlebihan Devita, aku tidak seperti itu." ucap Laretta.
"Sudahlah, bagaimana kalau kita makan? Aku sangat lapar?" kata Devita.
Mereka berdua beranjak dari kursinya, dan berjalan meninggalkan studio lukis menuju ke ruang makan. Sudah sejak tadi, Devita lapar. Tapi ia tidak enak jika meninggalkankan Laretta. Untunglah Laretta juga ingin makan.
...*****...
William duduk di kursi kerjanya, sudah beberapa hari sejak Elena menghilang membuat William tidak bisa fokus menyelesaikan pekerjaannya pada direktur pemasaran dan direktur operasional. Saat ini, Brayen tidak henti memikirkan Elena. William tidak perduli dengan apa yang menimpa Elena. Tapi ini berbeda, saat ini Elena sedang mengandung anaknya, terlebih surat yang Elena tinggalkan untuknya, William bersumpah akan membunuh wanita itu, jika benar dia akan mengugurkan anaknya.
Dulu William mengambil Elena, hanya untuk main - main. William ingin membuktikan pada Brayen, jika dirinya mampu mengambil wanita yang Brayen cintai. Tapi kenyataannya, Brayen menikah dengan wanita lain. Rencananya sia - sia karena Brayen sudah mendapatkan wanita yang berkali - kali lipat lebih baik dari Elena. Setiap kali William mencoba mendekati Devita, membuat William tersadar Devita bukan seperti wanita yang lain. Devita selalu menolak William, itu yang membuat William tertarik dengan Devita.
Terdengar suara ketukan pintu, membuat William menghentikkan lamunannya. Ia mengalihkan pandangannya dan langsung memintanya untuk masuk.
"Tuan," sapa Kenrick menundukkan kepalanya saat melangkah masuk ke ruang kerja William.
"Bagaimana pencarianmu, Ken? Apa kau sudah menemukan Elena?" tanya William dingin.
"Tuan, saya sudah memeriksa seluruh jadwal penerbangan. Tidak ada nama Nona Elena. Saat ini, anak buah kita masih dalam pencarian untuk menemukan Nona Elena. Saya yakin, Nona Elena masih berada di kota B."
"Jadi kau belum menemukan wanita itu!" Seru William dengan nada tinggi dan penuh emosi.
"B.. Belum, Tuan. Tapi saya akan segera menemukannya." jawab Kenrick gugup.
William membuang napas kasar. " Cepat kau temukan wanita ****** itu! Seret dia kehadapanku!" Tukas William.
"Baik Tuan, saya pastikan akan segera menemukan Nona Elena." jawab Kenrick.
"Sekarang kau keluar! Dan jangan menggangguku!" Sentak William.
Kenrick menunduk, lalu undur diri dari ruang kerja William.
William membanting seluruh benda yang ada di mejanya. Ia bersumpah akan benar - benar membunuh Elena jika wanita itu, berani membunuh anaknya. Amarah William memuncak ketika anak buahnya masih belum juga menemukan Elena.
William terus mengumpat kasar, bagaimana cara kerja anak buahnya. Menemukan seorang wanita saja mereka tidak mampu. Jika William sudah menemukan Elena, William bersumpah akan mengurungnya hingga wanita itu tidak bisa lagi menghirup udara segar.
...***...
"Tuan," sapa Albert yang kini sudah berada di ruang kerja Brayen.
"Tuan, anak buah dari William Dixon sepertinya sedang mengawasi, Tuan. Sejak tadi pagi, saya mendapatkan laporan, jika ada beberapa anak buah William Dixon berada di sini," ujar Albert.
Brayen terseyum sinis. "Elena menghilang, dia berpikir wanita itu, akan datang menemuiku. Aku sudah memberitahukan padanya, jika wanita itu berani muncul maka aku sudah pasti akan mengusirnya. Aku tidak akan mau bertemu dengannya." tukas Brayen.
"Tuan, apa Tuan ingin saya mencari keberadaan Nona Elena?" tanya Albert.
"Untuk apa aku mencari keberadaannya? Dia mati jauh lebih baik dari pada hidup." jawab Brayen tajam.
"Tapi Tuan, saya hanya takut, Nona Elena akan bertindak buruk pada Nyonya Devita," kata Albert.
"Aku rasa dia tidak akan berani untuk melukai istriku. Elena hanya seorang wanita hamil, bagaimana mungkin dia mampu melukai istriku. Aku yakin, dia tidak mungkin berani. Itu sama saja dengan mengantarkan nyawanya, jika berani menyentuh Istriku." tukas Brayen.
"Baik Tuan," jawab Albert.
"Lupakan wanita itu. aku tidak perduli dengannya. Sekarang, bagaimana kabar kedua orang tuaku? Aku ingin membawa Devita berkunjung menemui mereka." ujar Brayen. Ia kembali mengingat dirinya belum menemui kedua orang tuanya.
"Tuan David dan Nyonya Rena, sudah jauh lebih baik, Tuan. Hanya Tuan David masih belum ingin bertemu dengan Nona Laretta. Nyonya Rena juga belum bisa menemui Nona Laretta," jelas Albert.
Brayen membuang napas kasar. " Biarkan seperti itu, aku yakin perlahan mereka juga akan memaafkan Laretta. Aku tahu sifat keras Daddyku. Dia pasti akan memaafkan Laretta,"
"Benar Tuan, saya yakin. Tuan David dan Nyonya Rena, hanya memerlukan sedikit waktu lagi, Tuan. Sejak kecil Nona Laretta sangat manja dengan Tuan David dan Nyonya Rena. Perlahan mereka berdua pasti akan segera memaafkan Nona Laretta. Terlebih Angkasa Nakamura adalah pria yang bertanggung jawab." ujar Albert.
"Meski dia bertanggung jawab, aku tidak akan langsung melepas Laretta pada Angkasa. Aku sudah memberikan persyaratan yang kedua. Aku memberinya waktu sampai akhir bulan. Jika sampai akhir bulan ini, aku masih melihat perusahannya masih bergerak seperti biasa, maka dia tidak pantas dengan Laretta. Aku akan memberikan kesempatan untuknya mendekati Laretta, jika dia berhasil menjalankan perusahannya dan membuat perusahaannya jauh lebih besar." balas Brayen.
"Kau terus laporkan padaku mengenai Nakamura company. Jika ada masalah, segera beritahu aku," perintah Brayen.
"Baik Tuan, saya akan terus mengawasi Nakamura Company " jawab Albert.
"Sekarang, kau lanjutkan pekerjaanmu Albert." Albert pun menunduk, lalu ia undur diri dari ruang kerja Brayen.
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.