
Devita terdiam mendengar penjelasan dari Angkasa. Bahkan dia tidak mampu berkata - berkata. Dia melihat tatapan Angkasa penuh dengan penyesalan. Dirinya tidak mampu menjawab ucapan dari Angkasa. Jujur saat ini Devita begitu terkejut mendengar ucapan Angkasa. Dia tidak menyangka Ayahnya terlibat dalam hal ini.
Segala pemikiran buruk tentang Angkasa ternyata itu karena Angkasa yang sengaja membuat Devita membencinya. Kenyataannya Devita tidak pernah mempercayai berita buruk tentang Angkasa. Devita percaya pada Angkasa. Devita sangat mengenal Angkasa dengan baik.
Hingga kemudian, Devita mendongakkan wajahnya dan menjawab dengan tegas, "Angkasa kau tahu, aku tidak pernah percaya dengan media yang meliputmu. Mereka mengatakan kau banyak berkencan dengan banyak wanita, tapi aku tidak pernah mempercayainya. Aku percaya padamu dan selalu menunggumu. Aku percaya kau akan kembali ke kota B. Kau tahu alasannya kenapa? Karena aku begitu mengenalmu!"
Angkasa menatap dalam Devita, tatapan begitu bersalah terlebih mendengar ucapan Devita, wanita yang dia cintai masih mempercayainya. Dirinya hanya diam membisu kala mendapatkan jawaban dari Devita.
"Devita maafkan aku..." mata Angkasa menatap lirih Devita.
"Aku yang harus minta maaf, atas nama Ayahku padamu. Maaf karena Ayahku memaksamu dan memberikan persyaratan itu. Jujur, aku tidak menyangka Ayahku akan melakukan itu. Tapi satu hal yang harus kau tahu Angkasa. Aku memang di jodohkan dengan Brayen. Seiring berjalannya waktu aku sudah tidak lagi menunggumu. Aku berhenti menunggumu bukan karena pemberitaanmu dengan para wanita yang berkencan denganmu. Aku berhenti menunggumu karena Brayen telah menempati posisi yang sangat penting di hatiku."
"Aku jatuh cinta padanya bahkan sangat jatuh cinta padanya. Dia pria yang selalu membahagiakanku dengan caranya. Dia pria yang selalu mencintaiku. Aku tidak pernah menyesal menikah dengannya. Bagiku, semua ini karena takdir yang tidak berpihak pada kita Angkasa. Kisahmu dan aku telah berakhir. Sudah tidak ada lagi yang tersisa di antara kita. Saat ini kau adalah teman masa kecilku,"
"Aku memang tidak menyangka kita akan bertemu dengan cara yang seperti ini. Terimalah ini Angkasa, dan menikahlah dengan Laretta. Sekarang kita hanyalah teman masa kecil. Tidak lebih dari itu. Anakmu membutuhkanmu. Belajarlah untuk mencintai Laretta, dia adalah wanita yang cantik dan cerdas. Laretta sangat pantas bersanding denganmu, Angkasa."
Angkasa tersenyum, saat mendengar ucapan Devita. Kemudian dia menjawab, "Rasanya sangat sulit menerima kenyataan kau akan menjadi Kakak Iparku. Aku sudah belajar merelakanmu. Brayen sangat pantas untukmu, Devita. Ini memang sulit untukku, aku tahu kau sudah melupakanku. Saat aku mendengar kau menikah dengan Brayen, aku selalu berharap itu bukan kenyataan. Tapi ternyata ini adalah kenyataan yang harus aku terima. Semoga kau bahagia dengan suamimu. Aku akan bertanggung jawab pada Laretta. Bisakah kita berteman Devita? Setidaknya, aku ingin berdamai dengan masa laluku,"
Devita mengulas senyuman hangat di wajahnya. " Mari kita melupakan masa lalu kita, Angkasa. Aku minta cintailah dan bahagiakan lah Laretta. Aku menyayangi Laretta. Lindungi anak dan Istrimu. Aku akan berusaha membantumu agar Brayen memperbolehkan kalian untuk menikah."
"Suamimu itu sangat keras kepala Devita. Aku tahu tidak mudah baginya untuk menerimaku. Tapi aku tidak akan menyerah. Aku akan tetap berusaha," ujar Angkasa dengan yakin. Sesaat mereka selalu menatap satu sama lain. Devita menatap Angkasa layaknya teman lama yang sudah lama tidak bertemu. Sedangkan Angkasa masih menatap Devita penuh dengan kerinduan. Ya, tidak bisa di pungkiri Angkasa terlihat begitu masih mencintai Devita. Hanya saja. Kini Angkasa harus berdamai dengan kenyataan yang dia terima. Devita telah menikah, dan berbahagia dengan Brayen. Sedangkan dirinya memiliki Laretta, wanita yang akan dia cintai di masa depan nanti.
"Angkasa, aku selalu mendoakanmu dan Laretta. Aku yakin, kau akan membuatnya bahagia," jawab Devita tulus.
Angkasa tersenyum. " Terima kasih, Devita.Ya, aku akan berusaha membahagiakan Laretta. Aku juga tidak akan menyerah mendapatkannya. Meski nanti, aku harus berhadapan dengan suamimu. Tapi, aku tidak akan pernah menyerah sedikit pun."
Devita mengangguk, "Berjuanglah mendapatkan Laretta. Aku yakin, Brayen perlahan akan menerimamu. Suamiku memiliki sifat yang keras tapi pada dasarnya dia sangat baik. Dia seperti itu karena menyayangi Laretta."
...***...
Sepulangnya Devita dari restauran, tempat dia bertemu dengan Angkasa. Devita langsung mengurung diri di kamar. Kenyataan yang dia dengar benar - benar di luar dugaannya selama ini. Bagaimana bisa Ayahnya melakukan itu? Uang yang di berikan Ayahnya pada Angkasa tidak sedikit.
Devita tahu, ia hanya masa lalu. Devita tidak menyesali dirinya menikah dengan Brayen. Karena pada akhirnya Devita mencintai suaminya sendiri. Hanya saja Devita sedikit kecewa dengan apa yang Edwin lakukan. Tapi Devita mencoba untuk menerimanya, mungkin memang ini takdirnya. Dirinya memang untuk Brayen.
Devita dan Angkasa telah berdamai dengan masa lalu mereka. Terlebih Devita sudah sejak lama dia telah melupakan Angkasa. Di hati Devita sekarang Angkasa adalah teman masa kecilnya tidak lebih dari itu.
Kini Devita sedang duduk di sofa dengan tatapan mata yang kosong, di tangannya ada semangkok ice cream yang sudah mencair.Ya pikirannya tidak henti memikirkan ucapan Angkasa.
Ceklek.
Suara pintu terbuka membuat Devita menghentikkan lamunannya. Devita menoleh ke arah pintu. Senyum di bibir Devita terukir, kala melihat Brayen masuk ke dalam kamar. Dengan cepat, Devita beranjak dari tempat duduknya dan langsung menghampiri Brayen.
"Brayen? Kau sudah pulang?" tanya Devita sambil melepaskan langsung dasi milik suaminya.
Brayen memeluk pinggang Devita. Menunduk lalu mencium bibir Devita. " Ya, aku sudah pulang. Bagaimana harimu? Kau sudah berbelanja?"
"Ya, kau bisa melihatnya di walk in closetku. Banyak barang yang aku beli," jawab Devita yang terpaksa berbohong. Sebelum Devita pulang, dia berbelanja. Hal ini di lakukan, karena dirinya sudah terlanjur berbohong pada Brayen.
Brayen menganguk dan bertanya, " Kapan kau masuk kuliah?'
"Besok aku sudah mulai berangkat kuliah," jawab Devita. "Sekarang lebih baik kau mandi dulu. Aku akan menyiapkan piyamamu."
Brayen menarik dagu Devita, mencium dan ******* bibirnya. Kemudian, dia melangkah meninggalkan Devita.
"Maafkan aku harus berbohong Brayen. Aku akan mengatakan ini padamu nanti," gumam Devita saat melihat Brayen yang kini sudah masuk ke dalam kamar mandi.
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.