Love And Contract

Love And Contract
Apa Rencanamu



Sinar matahari pagi menembus jendela hingga menyentuh kulit wajah Devita. Perlahan Devita mulai menggeliat dan menguap. Devita membuka matanya. Lalu, menatap ke arah jam dinding sudah pukul tujuh pagi. Devita mengalihkan pandangannya ke samping, dia melihat ranjangnya kosong. Sudah lama Devita tidur sendiri. Ini benar - benar menyiksa dirinya.


"Tadi malam ternyata hanya mimpi." gumam Devita. Terlihat raut wajah muram dan kecewa di wajahnya. Devita menghela nafas dalam, dia beranjak dari ranjang dan langsung menuju ke arah kamar mandi.


Setelah selesai mandi, Devita mengganti pakaiannya dengan dress yang sederhana. Perutnya kini sudah tampak membuncit. Dan Devita kini sudah tidak lagi memakai dress yang berukuran pas di tubuhnya. Kini Devita selalu memakai dress yang ukurannya lebih besar, terutama pada bagian perutnya.


Devita melangkah keluar kamar menuju ke arah ruang makan. Beruntung, di rumah yang sebesar ini, Devita masih tinggal dengan Laretta. Setidaknya Devita tidak terlalu merasakan kesepian.


Saat Devita sudah tiba di ruang makan, dia sedikit terkejut melihat Olivia yang sudah duduk di kursi meja makan.


"Olivia? Kau disini?" tanya Devita mendekat, dia menyeret kursi dan duduk di kursi tepat di samping Olivia.


Olivia berdecak kesal. "Seperti ini caramu menyambut kedatangan sahabatmu sendiri?"


"Aku hanya bertanya!" Cebik Devita. "Aku yang hamil tapi kenapa kau yang lebih sensitif!"


Laretta menggeleng pelan dan tersenyum. "Kalian berdua ini, pagi - pagi sudah berdebat!"


"Hem. Laretta, apa tadi malam Brayen pulang?" tanya Devita.


"Aku tidak tahu, Devita. Karena tadi malam aku tidur lebih awal." jawab Laretta yang berbohong. Karena memang sebelumnya Brayen sudah mengatakan untuk tidak memberitahu pada siapapun jika dirinya sudah pulang. Kini Laretta menatap wajah kecewa Devita, dia sungguh tidak tega tapi dia tidak bisa mengatakannya.


"Aku pikir kau melihat Brayen pulang tadi malam." balas Devita. Tersirat raut kesedihan ketika mengetahui bahwa Brayen semalam tidak pulang.


"Maafkan aku Devita. Aku terpaksa tidak memberitahumu?" ucap Laretta dalam batin.


Tidak lama kemudian, pelayan mengantarkan tuna sandwich dan susu kacang untuk Devita.


"Tadi malam, apa kau melihat suamiku pulang?" tanya Devita pada pelayan yang memberikan tuna sandwich itu.


"Tidak Nyonya. Tadi malam saya tidak melihat Tuan." jawab pelayan itu.


"Baiklah terima kasih," Devita memilih untuk menikmati sarapan yang sudah tersedia di hadapannya.


Pelayan itu menunduk, lalu undur diri dari hadapan Devita.


"Devita, apa Brayen belum juga pulang?" tanya Olivia sambil menatap Devita yang duduk di sampingnya.


"Belum," jawab Devita. "Brayen masih marah padaku, aku juga tidak tahu kapan dia akan memaafkanku."


"Devita, berikan sedikit waktu untuk Kakakku. Aku yakin, dia itu hanya membutuhkan waktu untuk menenangkan dirinya." sambung Laretta yang masih merasa bersalah.


"Tenangkan dirimu, Devita. Apa yang di katakan oleh Laretta itu benar. Aku yakin Brayen membutuhkan waktu untuk menenangkan dirinya. Seorang pria memilih untuk diam, karena dia tidak ingin melukai hati wanitanya dengan perkataannya." ujar Olivia yang menyetujui perkataan Laretta. "Saat aku bertengkar dengan Felix, dia juga pernah mendiamkan aku berhari - hari, lalu aku bertanya apa alasan Felix memilih mendiamkanku, dan Felix mengatakan dia mendiamkanku karena dia tidak ingin melukai perasaanku dengan perkataannya."


"Ya. Aku akan memberikan ruang untuk Brayen. Setidaknya sampai dia bisa mengendalikan emosinya." jawab Devita dengan raut wajah yang masih tampak bersedih.


"Hm, Devita. Aku ingin kembali ke kamar. Aku ingin menghubungi Mom Rena," kata Laretta yang baru saja menyelesaikan sarapannya.


"Ya Laretta. Salamkan aku untuk Mom Rena." balas Devita.


Laretta mengangguk pelan kemudian dia beranjak berdiri meninggalkan ruang makan.


"Devita, apa kau tahu kabar Alena?" tanya Olivia saat Laretta sudah pergi.


"Aku terakhir mendengar dia di penjara. Aku melihatnya pemberitaan di media." jawab Devita. "Aku kasihan dengan Alena, tapi aku tidak bisa melakukan apapun. Brayen tidak mungkin membebaskan Alena. Terakhir aku juga mendengar, jika Nakamura company mengalami penurunan saham akibat berita tentang Alena. Aku sangat berharap, Angkasa bisa mengatasi masalah ini."


"Hust! Olivia! Bagaimana pun, Alena adalah teman kita." ujar Devita. "Andai dulu, aku tidak pernah mengucapkan janji pada Alena. Ini pasti tidak akan pernah terjadi."


"Tapi tunggu, kau sudah tahu semua ini Olivia? Aku bahkan belum menceritakannya padamu? Apa kau tahu dari media?" tanya Devita yang baru menyadari dia tidak pernah menceritakan masalah tentang Alena dan Laretta saat pesta ulang tahun Selena pada Olivia.


Olivia mendengus tak suka. "Aku tahu dari Laretta! Dia yang sudah menceritakan semuanya padaku. Brayen tidak pulang selama tiga minggu dan kau sulit untuk aku hubungi. Laretta kemudian mengatakan kau butuh waktu untuk sendiri."


Devita tersenyum. "Maaf, karena belakangan ini, aku memang sedang ingin menyendiri."


"Ya baiklah, aku mengerti," balas Olivia. "Tapi sebentar lagi adalah kelulusan kita, Devita? Aku tidak ingin melihat kau bersedih di hari kelulusanmu."


"Entahlah, aku bahkan tidak bersemangat di hari kelulusanku nanti." kata Devita dengan helaan nafas yang berat.


Meski beberapa hari lagi, Devita menjelang hari kelulusannya. Dia tidak lagi bersemangat seperti sebelumnya. Bahkan Devita tidak memperdulikan lagi hari kelulusannya. Pikiran Devita tidak hentinya memikirkan Brayen. Bahkan hingga detik ini, Brayen belum mau berbicara padanya.


Olivia menyentuh tangan Devita dan menepuknya pelan. "Setiap orang pasti pernah mengalami masalah, Devita. Dan aku yakin, ini akan segera berlalu. Aku juga yakin, Brayen akan segera memaafkanmu dan kalian akan kembali seperti semula."


"Aku juga berharap demikian, Olivia." balas Devita. "Lebih baik, kita pergi ke kolam renang. Aku ingin menikmati cuaca pagi di sana."


Olivia mengangguk setuju. "Ya, aku juga ingin menikmati cuaca pagi di sana."


Kemudian Devita dan juga Olivia beranjak dari tempat duduk mereka, lalu berjalan meninggalkan ruang makan. Cuaca di pagi hari yang cerah membuat Devita memilih untuk menikmati pagi hari berada di kolam renang.


...***...


"Apa rencanamu setelah lulus nanti, Olivia?" tanya Devita dengan tatapan yang lurus kedepan. Hembusan angin begitu menyejukkan, membuat Devita menyukai bersantai di kolam renang.


"Aku akan bekerja di perusahaan milik Felix." jawab Olivia. "Mungkin, aku akan bekerja dua atau tiga tahun. Setelah itu, aku ingin memilki perusahaan sendiri. Aku ingin membangun impianku Devita."


Devita mengalihkan pandangannya menatap ke arah Olivia yang duduk di sampingnya. "Lalu, kapan kau akan menikah dengan Felix?"


Olivia mendesah."Kenapa kau membahasnya, Devita?"


"Setiap orang akan menikah, Olivia. Aku hanya tidak ingin, kau terlalu lama menggantungkan hubunganmu." jawab Devita sambil kembali menatap lurus kedepan. "Felix sudah lama menunggumu, tidak ada salahnya kau memikirkan ini."


"Mungkin dua tahun lagi aku akan menerimanya," jawab Olivia. "Aku ingin menikmati sedikit waktuku sebelum menjadi seorang istri dan juga seorang Ibu."


Devita mengangguk. "Dua tahun, waktu yang tidak terlalu lama."


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.