
Perlahan Devita mulai membuka matanya, di menatap Laretta yang tertidur pulas di sofa. Jujur saja Devita kasihan pada keluarganya yang terus menjaganya. Siang tadi Edwin dan juga Nadia sudah datang, tapi Devita tidak membiarkan kedua orang tuanya menginap. Devita meminta Nadia dan Edwin untuk pulang dan kembali keesokan hari. Sebenarnya Devita juga sudah meminta Laretta untuk pulang, terlebih Laretta sedang hamil. Tapi Laretta tidak pernah mendengarkan Devita. Beruntung Brayen menyiapkan dokter kandungan yang selalu memeriksa Devita bersamaan dengan Laretta. Paling tidak, Devita jauh lebih tenang.
Saat Devita kembali ingin memejamkan mata, dia merasa ada orang yang membuka pintu. Devita menoleh ke arah pintu, pandangannya kini jatuh pada sosok wanita yang melangkah masuk kedalam ruangannya.
"Bibi Caroline? Bibi di sini?" Devita mengerutkan dahinya saat menatap Ibu dari Olivia yang berada di rumah sakit. Devita melupakan satu hal, keluarga Olivia dari Kanada memang datang ke Indonesia untuk mengunjungi Olivia.
Caroline tersenyum getir. "Bisa kita bicara Devita?"
"Tentu Bibi, kemarilah." pinta Devita.
Caroline melangkah mendekat ke arah Devita, lalu duduk di tepi ranjang. "Kita tidak bisa bicara di sini, ada adik iparmu yang mendengar." Caroline melirik ke arah Laretta yang sedang tertidur pulas di sofa.
"Boleh, Bi. Tapi aku keluar harus dengan kursi roda. Aku masih belum sanggup untuk berjalan." balas Devita yang sebenarnya tidak enak mengatakan ini. Dia sudah pernah mencoba untuk berjalan sebelumnya, tapi memang tubuhnya begitu lemas.
"Bibi akan membantumu dengan kursi roda." Caroline beranjak, dia mengambil kursi roda yang berada di tidak jauh dari ranjang Devita. Kemudian Caroline membantu Devita untuk duduk di kursi roda.
"Bibi, kita mau kemana?" tanya Devita, saat Caroline mendorong kursi roda meninggalkan ruang rawatnya.
"Kita akan melihat Olivia," jawab Caroline yang berusaha untuk menahan tangisnya.
Devita tersenyum, "Terima kasih Bibi, aku juga sudah lama ingin melihat Olivia."
Kini Caroline berada tepat di depan ruang rawat Olivia. Devita bisa melihat dengan jelas Olivia dari kaca. Devita menatap Olivia yang tubuhnya di penuhi dengan selang.
"Bibi Olivia belum sadar?" wajah Devita berubah menjadi pucat dan panik saat menatap Olivia.
"Devita, maafkan Bibi yang telah membawamu kesini. Rasanya Bibi ingin sekali membencimu Devita. Tapi Bibi tidak bisa melakukan itu. Kalian tumbuh besar bersama. Bahkan Bibi sudah menganggap mu sebagai putri Bibi sendiri." suara Caroline begitu parau, air matanya mulai berlinang membasahi pipinya. Devita menoleh menatap tangis pilu Caroline. Devita masih mencerna yang di maksud dari Caroline.
"Bibi, apa aku melakukan kesalahan? Jika aku melakukan kesalahan yang menyakitimu, maafkan aku, Bi." kata Devita yang memilih untuk mengalah. Devita bersahabat dengan Olivia sejak kecil, dia sangat dekat dengan seluruh keluarga Olivia. Begitu pun dengan Olivia.
"Apa kau tahu keadaan Olivia saat ini, Devita?" ucap Caroline dengan isak tangisnya. Hatinya begitu sakit dan juga sesak melihat keadaan Olivia yang saat ini. Tidak ada yang sanggup melihat keadaan putrinya saat ini.
Devita menoleh dia menyentuh tangan Caroline. "Bibi, tolong katakan padaku? Bagaimana keadaan Olivia sebenarnya?"
"Olivia mengalami luka yang sangat parah. Olivia memiliki luka di kepala dan di bagian perut. Rahim Olivia mengalami luka dalam. Dokter mengatakan pada Bibi, mereka harus mengangkat rahim Olivia." Isak tangis Caroline semakin mengeras, tangisnya begitu pilu.
Devita terdiam mendengar ucapan dari Caroline, tubuhnya terasa begitu lemas. Air matanya tidak lagi mampu tertahan. Devita tidak pernah tahu tentang kabar Olivia, karena semua orang selalu menutupi keadaan Olivia. Hati Devita hancur mendengar keadaan sahabatnya. Harusnya dirinya yang berada di posisi itu. Olivia tidak akan pernah terluka jika tidak menolongnya waktu itu. Devita menggelengkan kepalanya, tangisnya tidak lagi tertahan. Devita sangat membenci keadaan ini. Devita tidak ingin Olivia berkorban untuknya. Sejak dulu Olivia selalu berusaha untuk melindungi Devita.
"Dokter juga mengatakan, meski rahim Olivia di angkat belum tentu bisa menyelamatkan Olivia." Caroline kembali mengatakan apa yang di katakan oleh Dokter. Air matanya semakin berlinang saat mengatakan nyawa Olivia belum tentu bisa di selamatkan.
"Bibi, ini salahku. Harusnya Olivia tidak menolongku. Harusnya dia membiarkan aku saja yang berada di sana." Isak Devita matanya memerah. Air matanya terus berlinang membasahi pipinya. "Maafkan aku, Bibi. Aku minta maaf. Sungguh seharusnya aku yang berada di sana dan bukannya, Olivia. Aku benci di posisi seperti ini, Bi. Aku tidak mungkin bisa melihat Olivia terluka. Dia sahabatku."
Caroline menatap lirih Devita, matanya juga memerah sama seperti Devita. "Awalnya Bibi juga ingin sekali menyalahkanmu. Bibi ingin sekali marah dan menyalahkanmu. Tapi apa kau ingat Devita? Saat kau belajar bermain sepeda bersama dengan Olivia Kau hampir tertabrak dan Olivia menolongmu. Olivia membiarkan dirinya terluka."
"Waktu itu Bibi sangat marah pada Olivia, kenapa dia harus menolongmu. Dan kau tahu, apa yang di katakan oleh Olivia? Dia mengatakan dia sangat menyayangimu seperti saudaranya sendiri. Olivia tidak ingin kau terluka. Dia selalu mengatakan pada Bibi, jika suatu saat dia menolongmu lagi dan dia harus terluka, Bibi tidak boleh marah atau membencimu."
Devita menggelengkan kepalanya, tidak hanya Caroline. Tapi dirinya juga tidak mampu lagi menahan air matanya. Hatinya begitu sakit dan juga sesak mendengar perkataan dari Olivia. Devita tahu, sejak kecil Olivia memang sangat menyayangi dirinya.
"Ini semua salahku Bibi! Salahku!" Isak tangis Devita. Suaranya terdengar begitu pilu. "Olivia seharusnya tidak menyelamatkan aku, Bibi! Biar aku saja yang ada di sana! Bukan dirinya! Sungguh aku juga tidak ingin Olivia terluka, Bibi!"
Caroline menunduk, tangannya mengelus bahu Devita. "Bibi tidak tahu harus mengatakan apa, Devita. Tapi Bibi juga tidak menginginkan Olivia seperti ini."
"Bibi, bisakah membawaku kembali ke ruanganku? Aku ingin bertemu dengan suamiku." kata Devita seketika kepalanya mulai memberat. Dia berusaha untuk menahan sakit di kepalanya.
Caroline mengangguk lalu mendorong kursi roda Devita masuk kedalam ruangannya. Saat Caroline mendorong kursi roda Devita masuk kedalam ruang rawat Devita, Caroline menatap Brayen yang sudah berdiri di hadapannya.
Tanpa mengeluarkan kata - kata Brayen langsung mengambil alih kursi roda Devita dari tangan Caroline. Kemudian Caroline berjalan meninggalkan ruang rawat Devita.
"Devita, kau darimana?" suara Brayen terdengar begitu dingin.
Devita mendongak menatap Brayen dengan penuh amarah, air matanya masih memerah dan air matanya terus berlinang. "Kau pembohong Brayen! Kau pembohong! Kau menutupi keadaan Olivia padaku! Kau jahat Brayen! Jahat! Aku sangat membencimu! Sahabatku di ambang kematian karena menolongku, tapi kau tidak pernah memberitahuku! Kau membohongiku!" Suara teriakan Devita begitu kencang. Tangisnya pecah meluapkan segala emosinya. Devita kecewa karena Brayen telah membohonginya.
"Devita, tenangkan dirimu." Brayen berusaha untuk menyentuh tangan Devita untuk menenangkan istrinya, namun Devita langsung menepisnya.
"Kau pembohong! Aku membencimu!" Teriak Devita semakin kencang. Isak tangisnya terdengar begitu pilu.
"Aku melakukan ini demi kau dan kandunganmu Devita. Dengarkan dulu penjelasanku!" Seru Brayen, dia berusaha untuk mengendalikan emosinya.
"Aku tidak mau mendengarmu! Kau pembohong!" Devita terisak semakin kencang, kepalanya mulai memberat. Dan pandangannya mulai buram. Hingga akhirnya tak sanggup lagi membuka matanya.
Brayen menangkup tubuh istrinya saat Devita hampir terjatuh dari kursi roda. "Devita? Sayang?" Brayen menepuk pelan pipi Devita.
Dengan cepat Brayen membopong tubuh Devita ke atas ranjang,lalu menekan tombol darurat untuk memanggil Dokter.
...********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.