
Author cuma minta tolong. Jangan lupa untuk kasih like dan komennya yang banyak yah
ππππ Agar Author lebih semangat lagi buat nulis.
Happy Reading semuanya....π€
Brayen menatap Nicholas yang tengah membahas pembangunan Apartemen itu. Selain itu, Mr. Lee juga ikut berada di sana. Pagi ini Brayen di sibukkan dengan memulihkan nama baiknya akibat pemberitaan di media. Meski Brayen sudah mempercayakan Albert untuk mengatasi semuanya, tapi Brayen tetap ingin mengklarifikasi sendiri pemberitaan yang membuat sahamnya menurun. Sudah sejak tadi malam Brayen memang memilih untuk mendiamkan Devita. Tentu saja dia sangat kecewa pada istrinya yang tidak mendengarkan perkataannya. Selain itu, masalah perusahaan yang datang membuat Brayen memilih untuk mendiamkan istrinya itu. Dia takut, jika nanti akan bertengkar dengan istrinya.
"Tuan Brayen, saya rasa kita butuh untuk membangun supermarket besar. Nantinya, Apartemen yang kita bangun ini untuk orang - orang menengah atas. Kita harus melengkapinya dengan fasilitas mewah. Saya juga ingin melengkapi golf di sana." kata Nicholas yang memberikan saran pada Brayen.
Brayen menyandarkan punggungnya di kursi, dengan kaki menyilang. Jemarinya mengetuk pelan meja. Pandangannya menatap presentasi yang di bawakan oleh Nicholas. "Well, aku rasa itu memang harus kita lakukan. Selain itu, aku ingin kita membangun Mall yang lebih dekat dengan Apartemen. Lokasi yang kita pilih juga sangat strategis. Itu akan meningkatkan penjualan."
"Itu ide yang sangat bagus, Mr. Brayen. Saya setuju tentang itu, karena memang orang dari kalangan atas menyukai fasilitas mewah dan juga lengkap." Mr. Lee menyetujui masukkan tambahan dari Brayen.
Brayen mengambil proposal pengajuan yang ada di atas meja, dia membuka setiap halaman dan memeriksanya dengan teliti. "Allright-" ucapan Brayen terpotong saat melihat Albert berlari menerobos masuk ke ruang meeting. Brayen mengerutkan keningnya, dia menatap Albert yang terlihat begitu cemas dan panik berlari ke arahnya.
"T..Tuan," Albert menundukkan kepalanya saat berada di hadapan Brayen.
"Ada apa? Kenapa kau berlari seperti itu? Aku sudah mengatakan padamu bukan? Jangan pernah mengangguku saat meeting." tukas Brayen dingin.
"T- Tuan tapi ini tentang Nyonya, Tuan" ucap Albert yang semakin gugup, duya bahkan tidak berani menatap Brayen.
Brayen membuang napas kasar, pasalnya sudah sejak tadi malam dia tidak berbicara dengan istrinya itu. "Ada apa? Kenapa kau membahas istriku saat aku sedang meeting seperti ini? Kau bisa membahas tentang istriku setelah aku selesai meeting. Aku juga-"
"Tuan, Nyonya kecelakaan Tuan." Albert langsung menyela ucapan Brayen dengan cepat. Ini pertama kalinya Albert memotong ucapan Brayen. Tapi lebih baik jika dia menyela sekarang daripada dia mendapat masalah.
Brayen tergelak, dia menatap tajam Albert. "Kau jangan bercanda Albert!"
"T-Tidak Tuan. Nyonya memang mengalami kecelakaan."
Brayen melemparkan proposal yang tadi dia pegang, dia bangun dan menyambar kunci mobil. Dengan cepat Brayen berlari meninggalkan ruang meeting tanpa berpamitan pada rekan bisnisnya.
Albert menundukkan kepalanya pad Mr. Lee dan Mr. Nicholas. "Maaf Tuan, rapat harus di tunda karena istri dari Tuan Brayen Adams Mahendra mengalami kecelakaan."
"Tidak masalah, Albert. Kami mengerti." balas Mr. Lee dan Mr. Nicholas mengangguk singkat. Kemudian Albert membalikkan tubuhnya dan berlari meninggalkan ruang meeting.
...***...
Felix berlari di koridor rumah sakit. Saat Felix berlari dia berpapasan dengan Brayen yang juga berlari di koridor rumah sakit.
"Brayen!" Seru Felix saat melihat sepupunya itu.
"Kenapa kau di sini? Dimana Devita?" wajah Brayen, panik, cemas terlihat kilas kini dia sangat takut.
"Aku mendapat telepon Olivia mengalami kecelakaan. Tadi aku sudah tanya dengan perawat Devita dan Olivia masih dalam perawatan." balas Felix, wajahnya sama dengan Brayen. Dia juga merasa cemas dan panik.
Brayen mengepalkan sebelah tangannya dengan kuat. Dia merutuki dirinya yang tidak bisa menjaga istrinya dengan baik. Brayen terus mondar - mandir tidak tenang di depan ruang UGD. Tidak hanya Brayen, tapi Felix juga sama paniknya. Felix juga tidak bisa tenang.
Dokter keluar dari ruangan UGD dengan cepat Brayen dan juga Felix berlari ke arah dokter itu. Jantung Brayen terus berdegup dengan kencang, pikirannya terus memikirkan keadaan Devita istrinya.
"Bagaimana keadaan istriku?" tanya Brayen panik dan cemas.
"Bagaimana keadaan kekasihku?" Felix juga langsung bertanya cepat setelah Brayen. Dia juga cemas dan panik saat mendengar Olivia kecelakaan.
"Maaf, siapa suami dari Nyonya Devita?" tanya sang Dokter yang ber name tag Ridwan.
"Saat ini istri anda masih belum sadarkan diri. Benturan di kepalanya cukup parah. Tapi istri anda beruntung tidak mengalami luka di bagian perut. Karena kondisi istri anda sangat lemah." Dokter Ridwan menjelaskan keadaan Devita saat ini, namun seketika wajah Brayen menegang. Bahkan Brayen tidak sanggup berkata-kata saat mendengar ucapan dari Dokter yang berada di hadapannya ini.
"Maksudmu apa? Kandungan?" Brayen masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Napasnya memburu jantungnya berdegup dengan kencang.
"Nyonya Devita hamil, usia kandungannya masih tiga minggu. Kandungan istri anda saat ini sangat lemah. Beruntung kecelakaan ini tidak melukai bagian perut Nyonya Devita." jawab Dokter Ridwan.
"Istriku hamil?" Brayen menggeleng cepat, rasanya matanya sudah memanas.Mengingat istrinya yang kecelakaan saat sedang mengandung.
"Benar Tuan."
"Aku ingin bertemu dengan istriku."
"Maaf Tuan, Tapi-"
"Jika kau tidak mengizinkan aku untuk masuk aku bersumpah akan menutup rumah sakit ini." peringat Brayen tajam.
Dokter itu tidak memiliki pilihan lain, lalu membiarkan Brayen untuk masuk melihat keadaan Devita. Setelah mendapatkan persetujuan dari Dokter, Brayen pun langsung berlari masuk kedalam melihat istrinya.
"Bagaimana keadaan kekasihku?" Felix kembali bertanya.
"Maaf, apa anda kekasih dari Nona Olivia?"
Felix mengangguk cepat. " Ya, aku adalah kekasihnya. Bagaimana keadaan kekasihku?"
Raut wajah Dokter berubah menjadi muram. Helaan nafas berat terdengar membuat Felix semakin cemas. " Ada apa? Katakan bagaimana keadaan kekasihku?" desak Felix yang sudah tidak sabar.
"Nona Olivia saat ini masih belum sadarkan diri, dia mengalami luka yang jauh lebih parah dari Nyonya Devita. Nona Olivia juga mengalami benturan keras di bagian rahimnya. Kami hanya bisa mengatakan akan berusaha sekuat mungkin untuk menyelamatkan Nona Olivia."
Bagai tersambar petir, Felix tidak mampu lagi berkata - kata. Tubuhnya begitu lemas. Felix menggelengkan kepalanya. Tidak boleh terjadi sesuatu pada Olivia.
"Katakan padaku yang jelas! Aku akan membayarmu sepuluh kali lipat! Kau harus menyelamatkannya!" Sentak Felix meninggikan suaranya.
"Tuan, Nona Olivia mengalami luka yang cukup parah di bagian kepala dan perutnya. Kondisi rahim Nona Olivia saat ini mengalami kerusakan. Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk bisa menyelamatkan Nona Olivia. Maaf tapi ada satu hal dan dengan berat hati harus kami sampaikan pada anda, Tuan."
Tubuh Felix begitu lemas setelah mendengar semua penjelasan dari Dokter. Dia mengepalkan tangannya dengan kuat. "Katakan padaku, apa yang ingin kau katakan lagi?" suara Felix begitu lirih.
"Kerusakan yang terjadi pada rahim Nona Olivia. Kemungkinan membuat Nona Olivia mengalami kesulitan untuk memilikii anak. Dan peluang untuk mengandung sangat kecil. Tetapi kami pastikan akan melakukan yang terbaik, Tuan. Maaf saya harus permisi." Dokter itu menunduk lalu undur diri dari Felix.
Felix bersimpuh di lantai mendengar semua perkataan dari Dokter. Matanya memanas tidak mampu untuk berkata - kata. Olivia mengalami luka yang sangat parah bahkan kemungkinan untuk bisa mengandung sangat kecil. Felix tidak tahu harus mengatakan apa pada Olivia nanti. Bagaimana perasaan Olivia setelah mengetahui ini, terlebih saat ini Devita tengah hamil.
...**********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih π·atau β juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian lohπ
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.