
Devita dan Olivia sama - sama menggigit bibir bawa mereka, menahan tawa ketika melihat perdebatan Brayen dan juga Felix.
"Menyingkirlah! Kau duduk di samping wanitamu! Jangan duduk di samping istriku!" Tukas Brayen dingin dia ingin duduk di samping Istrinya,tapi tempat itu sudah di tempati oleh Felix.
Felix mengumpat di dalam hati, dia beranjak dari tempat duduknya lalu bangun dan pindah duduk di samping Olivia. Sedangkan Olivia hanya mengelus lengan Felix, menenangkan kekasihnya dari rasa kesal pada Brayen. Namun tidak bisa di pungkiri, sejak tadi Olivia berusaha untuk menahan tawanya.
"Kau sudah selesai mandi?" tanya Devita saat melihat Brayen duduk di sampingnya.
"Sudah." Brayen mengecup kening Devita. "Apa kau ingin makan sesuatu?"
Devita menggeleng pelan. "Aku masih kenyang Brayen."
"Brayen," panggil Felix dengan nada terpaksa harus memanggil sepupunya itu.
"Ada apa?" Brayen menatap dingin Felix yang duduk tidak jauh darinya.
"Kemarin aku meeting dengan Ivana Wilson. Wanita itu meminta meeting selanjutnya harus kau yang datang. Dia tidak mau di wakilkan oleh direktur pemasaran, Albert atau denganku. Kau ini kenapa tidak datang? Proyek kerjasama dengan Ivana Wilson sangat besar! Apa kau ini tidak menginginkan memiliki keuntungan yang besar? Ivana Wilson satu - satunya, pewaris Wilson Grup. Jika Mahendra Enterprise bisa bekerja sama dengan Wilson Grup pasti, perusahaanmu akan semakin besar!"
Felix mengatakannya dengan antusias namun, Brayen langsung melayangkan tatapan tajamnya pada Felix. Meminta Felix untuk menghentikan ucapannya.
"Aku juga yakin. Akh-" ringis Felix mendapatkan tendangan dari Olivia di tepat di tulang keringnya. Felix mengumpat pelan, tendangan kekasihnya itu sang menyakitkan.
Olivia tersenyum kaku dia mengelus lengan Felix sembari memberikan cubitan kecil. "Sayang, kau tidak apa-apa, maaf aku tidak sengaja."
Olivia terpaksa melakukan ini. Karena Olivia sudah mengerti tatapan tajam Brayen. Tapi tidak dengan Felix. Kekasihnya itu tetap membahas Ivana Wilson.
"Kenapa Ivana Wilson memaksa ingin bertemu dengan Brayen?" suara Devita bertanya terdengar begitu dingin
Felix melirik ke arah Brayen, pandangan Brayen tetap menatap tajam dirinya. Seketika Felix langsung mengerti. Dan dengan cepat Felix menjawab. "Ah, itu. Tentu hanya membahas pekerjaan saja. Kemarin Ivana Wilson, makan malam bersama denganku. Dia hanya ingin bernegosiasi bisnis langsung dengan pemilik Mahendra Enterprise."
"Kau makan malam dengan Ivana Wilson?" Olivia melayangkan tatapan dingin. Dan kali ini Olivia yang mencubit pinggang kekasihnya itu. Hingga membuat Felix meringis kesakitan.
"Aku makan malam dengan Ivana Wilson hanya membahas bisnis saja, sayang." balas Felix yabg berbohong pada Olivia. Tidak ada pilihan bukan? Felix terpaksa harus berbohong? Dari pada harus mencari masalah dengan Brayen?"
"Tapi aku rasa Ivana Wilson tidak hanya ingin membahas bisnis. Jika hanya bisnis, tanpa harus dengan Brayen, dia bisa bernegosiasi denganmu, Albert atau direktur perwakilan dari perusahaan suamiku." jawab Devita.
"Nanti aku akan membawamu meeting saat aku meeting dengannya." balas Brayen sambil mengelus lembut pipi Devita.
"Devita, aku sudah lapar sekali! Apa kau tidak ingin menghidangkan makanan untuk tamu yang datang?" Olivia sengaja mengalihkan pembicaraan dan beralasan lapar.
"Ya, kita kedalam. Aku akan meminta Chef Della untuk memasak." jawab Devita datar.
Kemudian Devita dan Brayen masuk kedalam. Bersamaan dengan Olivia dan juga Felix yang juga ikutan menyusul Brayen dan Devita.
...***...
Ivana berjalan dengan anggun masuk kedalam ruang meeting. Hari ini adalah meeting kedua dengan Mahendra Enterprise. Namun, saat Ivana masuk kedalam ruang meeting, dia hanya melihat Albert asisten dari Brayen, Mr.Lee dan juga Mr. Nicholas rekan bisnis dari Brayen.
"Albert dimana Tuan Brayen Adams Mahendra? Kemarin aku sudah mengatakan denganmu bukan? Aku tidak akan memulai membahas kerja sama kita, jika aku tidak bertemu dengan Tuan Brayen Adams Mahendra?" Ivana mendekat di duduk tepat di hadapan Albert.
"Nona Ivana saya mohon maaf sebelumnya. Tuan Brayen tengah mengambil libur karena sedang menemani Nyonya Devita. Tuan Brayen mengatakan dua hari lagi, Nona Ivana bisa memiliki jadwal meeting dengan Tuan Brayen," jelas Albert menundukkan kepalanya
Ivana tersenyum tipis. "Baiklah, tapi kau bisa mengatakan pada Tuan Brayen. Jika saja dia datang, mungkin saat ini kita akan membahas kerja sama yang menguntungkan. Mengingat banyak sekali hal yang ingin aku ingin bicarakan dengannya saat bisa meeting bersama dengan Tuan Brayen."
"Kalau boleh tahu, apa yang ingin anda bicarakan dengan Tuan Brayen? Hari ini saya akan bertemu dengan Tuan Brayen dan menyampaikan secara langsung." kata Albert.
"Nona Ivana, anda tidak perlu khawatir. Karena saya sangat tahu, Nyonya Devita tidak pernah mencurigai Tuan Brayen. Beliau sangat mempercayai Tuan Brayen. Jika Nona Ivana sudah pernah membaca artikel tentang Tuan Brayen, terlihat di semua artikel tersebut memberitahukan. Bahwa Tuan Brayen tidak pernah terlibat skandal dengan wanita mana pun," kata Albert dengan tegas.
"Aku rasa meeting cukup sampai di sini. Aku tetap pada pendirianku. Meeting kerja sama ini akan diadakan, jika Tuan Brayen sendiri yang langsung menghadiri meeting ini. Dan aku menunggu jadwal meeting selanjutnya, Sampai bertemu di pertemuan berikutnya."Ivana beranjak berdiri, dia mengambil clucth miliknya di atas meja, lalu berjalan meninggalkan ruang meeting.
Sedangkan Albert masih tidak bergeming dari tempatnya, melihat Ivana yang masih pada pendiriannya. Tidak ada pilihan lain lagi bagi Albert, ia harus segera menemui Tuan Brayen. Albert menundukkan kepalanya berpamitan kepada Mr. Lee dan Mr. Nicholas, lalu dia berjalan meninggalkan ruang meeting itu.
...***...
Brayen menatap MacBooknya,dia membuka email dari Raisa sekertarisnya. Semua email tersebut banyak berisi jadwal meeting dengan Ivana Wilson. Namun, terakhir meeting dengan Ivana Wilson di wakilkan dengan direktur pemasaran dan juga Albert. Dan Felix juga ikut membantu meeting dengan Ivana Wilson.
Terdengar suara ketukan pintu tanpa mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Brayen langsung menginterupsi untuk masuk.
"Tuan Brayen," sapa Albert menundukkan kepalanya, melangkah masuk kedalam ruang kerja Brayen.
Pandangan Brayen kini melihat ke arah Albert yang berdiri di hadapannya. "Ada apa kau datang kesini?"
"Tuan, maaf mengganggu waktu anda," jawab Albert. "Tapi ada hal penting yang ingin saya sampaikan."
"Hal apa?" tanya Brayen sambil menautkan alisnya. Tatapannya menatap lekat Albert yang tidak bergeming dari tempatnya.
"Hari ini, saat meeting dengan Nona Ivana, belia masih terus ingin memaksa untuk bertemu dengan anda, Tuan." jawab Albert."Nona Ivana juga mengatakan ada hal penting yang ingin dia sampaikan pada anda, Tuan."
"Kenapa dia selalu memaksa ingin bertemu denganku?" suara Brayen bertanya terdengar begitu dingin. "Dan hal apa yang dia ingin bicarakan denganku? Aku tidak pernah memiliki urusan dengannya."
"Maaf Tuan, saya tidak tahu. Karena Nona Ivana ingin mengatakan langsung pada anda." ujar Albert.
Brayen membuang napas kasar. "Kau pulanglah, besok atur waktuku untuk bertemu dengannya."
"Besok, Tuan?" ucap Albert memastikan.
"Ya, besok. Dia ingin mengatakan hal penting, bukan? Maka aku akan menurutinya. Aku akan menemuinya besok." tukas Brayen dingin.
"Baik Tuan, saya akan mengatur semuanya." jawab Albert.
"Sekarang kau pergilah, dan selesaikan pekerjaanmu." balas Brayen.
Albert menundukkan kepalanya, lalu undur diri dari hadapan Brayen.
...*******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.