
Felix menganggukkan kepalanya seolah mempercayai perkataan Brayen, "Well, menenangkan pikiran. Sekarang aku tanya, apa alasan yang bisa membuatmu meninggalkan Elena.
"Aku akan meninggalkan Elena, jika dia berani berselingkuh dariku!" Jawab Brayen dingin.
"Ah, begitukah? Itu terlalu mudah," balas Felix sembari terkekeh pelan. " Bagaimana dengan Devita apa kau akan meninggalkannya?" tanya Felix yang masih penasaran.
"Aku sudah memiliki kontrak perjanjian padanya. Kami hanya akan menikah selama tiga tahun. Kemarin aku dengannya memutuskan untuk menjaga jaga jarak satu sama lain," jelas Brayen. Pikirannya kini penuh dengan Devita. Dia langsung kembali meneguk minumannya.
"Kalau begitu, betapa beruntungnya pria yang akan mendapatkan Devita. Hem, mungkin aku akan berusaha-"
"Jangan berani kau mendekatinya, Felix, jika kau masih menginginkan perusahaanmu berkembang. Aku akan membunuhmu, jika kau berani mendekati Devita!" Desis Brayen penuh dengan peringatan.
"See? Kau menyukainya. Kau sudah memiliki perasaan padanya. Aku baru berbicara seperti itu saja, kau sudah akan menghancurkan Perusahaanku," jawab Felix yang sengaja memancing emosi Brayen.
"Diam kau!" Seru Brayen. Dia meletakkan gelas sloki ke atas meja, lalu dia beranjak dari tempat duduknya. Dan berjalan meninggalkan Felix.
Felix terkekeh kecil, dia berhasil memancing emosi Brayen. Sedangkan Albert, dia hendak mengikuti Brayen, namun Brayen mengibaskan tangannya memberikan isyarat agar Albert tidak ikut dengannya.
Brayen berjalan menuju mobil, dia memilih untuk segera kembali mansion. Dia melirik ke arah arlojinya, sudah pukul satu pagi. Brayen yakin Devita sudah tertidur pulas.
...***...
Brayen mengendarai mobil sport miliknya dengan kecepatan penuh. Kini dia sudah tiba di mansion. Dia melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar.
Saat Brayen berjalan masuk ke dalam, dia melihat Devita tengah tertidur pulas. Lalu Brayen duduk di tepi ranjangnya, dia menatap wajah Devita yang begitu cantik. Wajah yang terlihat begitu menawan. Brayen mengelus pipi Devita, dia merapihkan rambut Devita yang menutupi wajah cantik Devita.
Hanya melihat saja, Brayen merasakan desiran di hatinya. Saat ini Brayen berusaha menjauh dari Devita. Brayen membuang napas kasar, dia tidak mengerti dengan perasaannya sekarang. Saat ini, Elena sudah berada di kota B, bagaimana mungkin dia berselingkuh dari Elena. Hubungan mereka sudah bertahun - tahun.
Brayen mengingat kembali perbedaan Devita dan juga Elena. Devita adalah seorang gadis yang tidak hanya sangat cantik, tapi ceroboh, periang, dan membuat orang di sekitarnya tersenyum melihat tingkahnya. Sedangkan Elena, dia seorang gadis yang selalu ingin tampil sempurna. Elena memang sangat berbanding terbalik dengan Devita. Elena memiliki emosi yang tinggi. Ya, banyak yang mengatakan Elena memang arrogant,"
Brayen masih mengingat saat dirinya berbelanja dengan Devita. Devita banyak membelikan oleh-oleh untuk orang terdekatnya. Bahkan Devita juga membelikan barang - barang yang di butuhkan oleh Brayen.Jauh berbeda dengan Elena, ketika Elena berbelanja dengan Brayen biasanya Elena hanya memikirkan dirinya sendiri.
"Sebenarnya kau gadis yang sempurna Devita, hanya saja kita harus memiliki batasan. Pernikahan ini hanya sebatas kontrak. Aku tidak ingin melukai Elena, maafkan aku Devita," tukas Brayen tatapannya terus menatap Devita yang tertidur pulas.
...***...
Devita duduk di ranjang dengan punggung yang bersender di kepala ranjang. Devita tengah membaca novel kesukaannya. Devita menyukai novel romance. Hari ini Devita menikmati weekend nya di rumah. Brayen juga berada di rumah. Tetapi Brayen berada di ruang kerjanya.
Semenjak antara pertengkaran Brayen dan juga Devita memang sudah menjaga jarak. Terkadang mereka hanya menyapa setelah itu , mereka melakukan aktivitas mereka. Jika weekend seperti ini Brayen menghabiskan waktunya di ruang kerja. Sedangkan Devita, dia terkadang pergi bersama dengan Olivia. Tapi terkadang Devita memilih menghabiskan waktunya di rumah. Dia sangat menyukai membaca novel dan menonton film drama. Suara dering ponsel terdengar, membuat Devita yang tengah membaca harus mengalihkan pandangannya ke ponselnya, lalu menatap ke layar yang tertera nama Olivia. Tanpa menunggu lama, dia langsung menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan. Sebelum kemudian meletakkan telinganya.
"Ya, Vi?" saat panggilannya telepon terhubung.
"Devita, apa aku menganggumu?" tanya Olivia di sebrang telepon.
"Tidak, kau tidak mengangguku. Ada apa, Vi?" tanya Devita.
"Tiga hari lagi pesta ulang tahunku, aku mau merayakannya di salah satu klub malam. Kau jangan lupa untuk datang. Dan jangan lupa untuk membelikanku hadiah." tukas Olivia dengan kekehan pelan dari balik telepon.
Devita berdecak kesal, " Kenapa kau merayakannya di klub malam?"
"Come on, Devita. Kita sudah 20 tahun. Kita harus menikmati hidup kita. Tidak apa, jika anak buah Ayahmu mengikutimu seperti sebelumnya," ujar Olivia dengan senyum lebar dari balik ponselnya.
"****! Dan aku di tertawa kan kalian karena aku di ikuti oleh anak buah Ayahku!"
"Kau sudah menikah Devita! Sesekali kita harus menikmati hidup kita. Lagi pula, hanya pesta ulang tahun saja. Kau tidak perlu meminum alkohol,"
Devita menghela nafas dalam. " Ya, baiklah aku akan datang. Kau kirimkan saja alamatnya. Lalu hadiah apa yang kau inginkan dariku?"
"Ah, aku suka dengan pertanyaanmu. Bisakah kau membelikanku mobil sport yang seperti kau miliki?"
"Aku bercanda, Devita. Kau ini sungguh sensitive seperti wanita hamil. Ya sudah, aku menunggumu. Aku senang kau akan membelikanku tas. Kau sangat tahu, apa yang aku suka,"
"Ya,ya kau ini berisik sekali. Sudahlah, aku tutup dulu. Banyak yang harus aku lakukan,"
"Baiklah, selamat menikmati weekend mu."
Panggilan tertutup, Devita kembali meletakkan ponselnya di atas nakas.
Tidak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu, Devita mengalihkan pandangannya ke arah pintu, dia langsung menginterupsi untuk masuk.
"Nyonya, maaf menganggu waktu Nyonya," kata seorang pelayan saat masuk ke dalam.
"Ya, ada apa?" tanya Devita sambil melihat pelayan yang kini berdiri di hadapannya.
"Ada Tuan Albert mencari Nyonya. Beliau mengatakan Nyonya memanggilnya untuk datang kesini," kata pelayan itu.
Devita mengangguk samar, "Baiklah, aku akan menemuinya,"
"Baik Nyonya," pelayan itu menundukkan kepalanya lalu undur diri dari hadapan Devita.
Devita melangkah menuju ke ruang tamu. Dia memang minta Albert untuk mengantarkan oleh - oleh untuk mertua dan orang tuanya. Devita tidak berani bertemu Ibu mertuanya atau Ibunya sendiri. Devita takut mereka akan bertanya apa Devita sudah hamil atau belum. Itu adalah sebuah pertanyaan yang sangat menakutkan bagi Devita.
"Nyonya," sapa Albert, dengan menundukkan kepalanya ketika melihat Devita yang menghampirinya.
"Apa kabar Albert? Maaf memintamu untuk datang," kata Devita dengan senyum ramahnya.
"Saya baik Nyonya. Saya tidak keberatan jika Nyonya meminta saya untuk datang. Apa ada yang bisa saya bantu Nyonya?" tanya Albert.
"Ya, ini untukmu." Devita menyerahkan shopping bag pada Alberlt.
"Maaf Nyonya? Ini untuk saya?" Albert sedikit terkejut mendapatkan shoping bag dari Devita.
Devita pun mengangguk, "Ya, ini untukmu. Aku membelinya saat aku Berlin. Aku harap kamu menyukanya,"
"Tapi Nyonya, saya tidak enak menerima ini?"
"Jangan menolaknya Albert. Aku sudah membelikannya untukmu,"
"Terima kasih, Nyonya." jawab Albert menundukkan kepalanya.
"Ya, sama - sama," balas Devita bahkan Liora. "Albert bolehkah aku meminta bantuan mu?"
...*****...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.