
Sore itu, cuaca begitu cerah hingga Devita menghabiskan waktunya di mall. Kini Devita sedang bersantai di Dayana Mall. Devita duduk di sebuah kafe yang berada lantai satu. Dia tengah menikmati tiramisu cake, tomato juice dan pasta aglio olio. Hari ini, Devita ingin bersantai sejenak. Olivia tidak bisa ikut dengannya karena Olivia sedang menjemput kedua orang tuanya di Bandara.
Dering ponsel terdengar, Devita mengambil ponselnya yang beradada di atas meja. Devita tersenyum, kala melihat di layar suaminya mengirimkan pesan. Dengan cepat Devita membaca pesan dari suaminya itu.
Brayen : Apa kau masih di kampus?
Devita : Maaf aku lupa memberitahumu, pulang dari kampus aku pergi Dayana Mall. Sekarang aku sedang berada di kafe langgananku yang berada di lantai satu.
Brayen : Kau tunggu di situ, aku akan menjemputmu.
Devita : Eh? Aku membawa mobil.
Devita mendengus kesal, ketika Brayen tidak lagi membalas pesannya. Dia menyesal harusnya dia mengatakan sedang di kampus. Padahal dia ingin menikmati waktu sendiri. Devita yakin, Brayen akan meminta anak buahnya untuk mengambil mobilnya yang terparkir di Mall nanti.
Tidak memiliki pilihan lain, Devita terpaksa menuruti keinginan Brayen. Devita melirik arlojinya kini sudah pukul empat sore. Biasanya Brayen masih memiliki pekerjaan.
"Devita," suara bariton memanggil nama Devita, hingga membuat Devita yang sedang menikmati cake langsung menoleh ke sumber suara yang memanggilnya.
Devita mengernyitkan keningnya saat melihat sosok pria tersebut terbalut dengan jas formal berjalan menghampirinya. "William?"
William tersenyum tipis dan dia langsung duduk di hadapan Devita. "Apa kabar? Lama tidak bertemu denganmu?"
"Ah, aku baik. Kau di sini William?" Devita sedikit bingung kenapa William berada di Mall padahal ini masih jam sibuk. Devita yakin, seharusnya, William masih di perusahaan. Saat dulu magang, Devita sering mendengar dari para karyawan yang membahas tentang William, jika pria itu sering pulang larut malam.
"Ya, aku bertemu dengan salah satu temanku disini. Saat aku ingin pulang, aku melihat dirimu di sini sendiri. Itu kenapa aku menghampirimu." jawab William.
"Kenapa kau sendiri di sini Devita?"
"Olivia sedang menjemput orang tuanya. Hari ini orang tua Olivia datang datang ke Indonesia. Jadi aku sendiri kesini." balas Devita.
"Bagaimana kabarmu William?"
William tersenyum, "Aku sangat baik. Kau sendiri bagaimana? Lama tidak melihatmu kau semakin cantik dan dewasa."
"Apa kau menyindirku semakin tua?" Devita terkekeh pelan, saat William mengatakan dirinya semakin dewasa.
"No, kau memang terlihat dewasa dan semakin cantik." puji William yang sejak tadi menatap Devita.
Devita menggeleng pelan dan tersenyum. "Sudah jangan terlalu memujiku."
"William, sebenarnya aku ingin bertanya sesuatu padamu?"
"Apa yang ingin kau tanyakan?" William mengernyitkan keningnya.
"Bagaimana kabar Elena? Aku bahkan tidak pernah melihat di media tentang Elena? Apa dia sudah kembali ke negaranya?" tanya Devita yang sudah sejak lama penasaran tentang kabar Elena. Tapi jika dia menanyakan ini pada Brayen, suaminya itu lebih memilih untuk diam dan mengalihkan pembicaraan.
"Apa Brayen tidak memberitahumu?"
Devita terdiam sebentar, mencerna ucapan dari William. Brayen tidak memberitahunya? Itu artinya Brayen menyembunyikan kabar tentang Elena. Devita menepis pikirannya, dia tersenyum ke arah William. " Aku memang tidak pernah membahas tentang Elena jika bersama dengan Brayen." jawab Devita yang berbohong. Dia tidak mungkin memberitahu, jika dia sudah bertanya dengan Brayen tapi suaminya tidak menceritakan padanya.
Devita tersentak, setelah mendapatkan jawaban dari William. Rasanya dia mencoba mencerna ucapan dari William, dia pikir salah dengar tapi tidak mungkin. Devita mendengarnya dengan baik ucapan dari William itu.
"Aku tahu, kau pasti terkejut bukan? Jangan di pikirkan Devita. Karena dia memang wanita jahat. Dia membunuh putraku. Kandungan dia sudah membesar. Aku terlambat menyelamatkan putraku." raut wajah William berubah menjadi muram jika mengingat Elena yang telah membunuh anaknya. " Tidak hanya itu, tapi dia juga berniat membunuhmu Devita. Wanita seperti itu memang pantas untuk menderita. Kematian terlalu bagus untuknya. Aku bahkan tidak ingin melihatnya mati dengan mudah. Bagiku, dengan dia berada di rumah sakit jiwa, membuatku sangat puas."
Devita terdiam, melihat wajah William yang berubah menjadi muram. Dia tahu, pasti sangat menyakitkan ketika kehilangan seorang anak. Terlebih kandungan Elena sudah sangat besar. Devita juga tidak menyangka, Elena akan berbuat sekejam itu pada darah dagingnya sendiri. Tapi lepas dari itu semua, Devita juga masih merasakan kasihan jika Elena yang berada di rumah sakit jiwa. Elena memiliki karier yang bagus di dunia entertainment. Elena sangat cantik dan berbakat. Tidak hanya itu, bahkan Devita sering membaca berita tentang Elena di media. Wanita itu selalu berhasil ketika menjadi artis utama di sebuah film.
"William, aku tahu ini pasti berat untukmu. Tapi aku harap kau bisa mendoakan putramu. Mungkin Tuhan lebih menyayanginya. Kau bisa memulai kehidupanmu dan menikah dengan wanita yang baik - baik. Mulailah dengan lembaran yang baru William. Aku percaya kau pasti akan mendapatkan wanita yang terbaik di hidupmu." kata Devita, dia berusaha untuk menenangkan William. Meski Devita tahu, hubungan di antara Brayen dan juga William tidak baik, tapi selama ini William selalu bersikap baik padanya. Bahkan saat Elena ingin berniat melukainya William ikut membantu dirinya.
William tersenyum tipis, " Aku harap itu akan terjadi. Aku berharap, aku akan menikah dengan wanita yang baik sepertimu Devita. Beruntungnya Brayen mendapatkanmu. Dia adalah pria arrogant yang sangat beruntung bisa memiliki wanita yang sebaik dirimu."
"Tidak hanya Brayen yang beruntung. Tapi aku juga sangat beruntung memilikinya di hidupku. Dan yang kau katakan itu memang benar. Dia memang arrogant, tapi aku tahu lepas dari sifat buruknya. Dia sangat baik hanya saja dia menunjukkannya dengan cara yang berbeda." Devita berusaha menjelaskan tentang Brayen, sejak dulu dia memang selalu yakin pada suaminya itu. Meski terkadang suaminya itu sering membuatnya kesal.
"See? Kau selalu membela suamimu Devita. Di benar - benar beruntung. Aku sungguh iri padanya." jawab William.
Devita mengulum senyumannya, "Kau sangat berlebihan William."
William terdiam sebentar, dia terus menatap lekat wajah wanita yang ada di hadapannya itu. " Devita, aku ingin berpamitan padamu?"
Devita menautkan alisnya. " Berpamitan? Kau ingin pergi kemana?"
"Aku akan pulang ke Berlin. Aku dan Richard membuka perusahaan baru yang bergerak di bidang teknologi di sana. Aku juga membangun hotel di sana. Kemungkinan aku akan menetap lama di Berlin. Aku tidak tahu, kapan aku akan kembali ke Indonesia." ujar William yang menceritakan rencana kepindahannya pada Devita.
"Kau ingin menetap lama di Berlin?" tanya Devita yang memastikan, pasalnya William memiliki perusahaan di sini. Tapi apa alasannya William meninggalkan Indonesia. Rasanya tidak mungkin William meninggalkan perusahannya.
William mengangguk. " Jika yang kau pikirkan perusahaanku di sini, kau tenang saja. Aku sudah meminta Asistenku untuk mengurusnya bersama dengan direktur operasional yang aku percayakan untuk memegang perusahaanku yang ada di sini. Banyak hal yang membuatku ingin meninggalkan Indonesia. Mungkin aku akan segera kembali ke Indonesia, jika aku sudah menemukan wanita yang terbaik di hidupku."
Devita mengulas senyuman hangat di wajahnya. " Kalau begitu, aku selalu mendoakanmu mendapatkan wanita yang terbaik di hidupmu. Kau tampan baik dan juga hebat. Aku yakin banyak sekali wanita yang akan mengejarmu, William. Aku menunggu undangan pernikahanmu."
"Ya, aku berharap itu akan segera terjadi di hidupku, Devita." balas William.
Brayen yang baru saja tiba di kafe tempat Devita berada, dia menatap Devita dan juga William tengah mengobrol. Rahangnya mengetat. Tatapannya menajam pada William yang terlihat jelas menatap istrinya. Brayen pun langsung berjalan menuju ke tempat duduk William dan juga Devita.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Brayen dingin, tatapannya menatap tajam William
...**********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.