Love And Contract

Love And Contract
Datang Ke Kampus



Devita tersenyum. "Aku baik - baik saja Laretta, kau tenang saja. Lebih baik kau itu bersiap. Aku akan menonton film lagi di kamar."


"Baiklah," jawab Laretta yang hendak pergi, namun tangan Devita menahan Laretta.


"Hem begini Laretta, apa bisa kau tidak perlu menceritakan tentang pria yang menggangguku kemarin pada Brayen? Aku hanya tidak ingin Brayen marah," ujar Devita.


"Kau tenang saja, aku tidak mungkin mengatakannya kepada Kak Brayen. Tentu aku sangat mengenal sifat Kakakku itu," kata Laretta. "Kau jangan takut, lebih baik kau ke kamar sekarang Devita."


"Terima kasih, Laretta." balas Devita. Laretta tersenyum. Kemudian, Devita melangkah menuju kamar. Bukannya ingin menyembunyikan dari Brayen. Hanya saja, Devita tidak ingin Brayen marah dan mendiamkannya.


Devita berjalan masuk ke dalam kamar


Dia langsung menjatuhkan pelan tubuhnya di atas sofa. Saat Devita sudah berada di dalam kamar, pelayan datang membawakan pancakes dengan saus cokelat. Tidak hanya itu, tapi pelayan juga membawakan Ice cream tiga rasa. Matcha, coklat dan vanila untuknya.


Devita ingin menikmati waktu bersantainya dengan menonton film sembari menikmati pancakes dan ice cream. Hamil membuat Devita lebih mudah lapar. Di awal - awal kehamilan, Devita memang sering mual namun itu tidak berlangsung lama.


Terdengar suara dering ponsel, Devita mengalihkan pandangannya dan mengambil ponselnya yang sejak tadi tidak henti berdering. Devita menatap ke layar tertera nama Olivia. Kemudian, Devita menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan. Sebelum kemudian dia menempelkannya ke telinganya.


"Ya Olivia?" jawab Devita saat panggilannya terhubung.


"Devita, apa kau sudah tahu jika Mr. Gerald ingin bertemu dengan kita hari ini?" tanya Olivia dari sebrang telepon.


"Eh? Hari ini? Aku tidak tahu, kenapa mendadak seperti ini?"


"Aku juga tidak tahu, tapi tadi aku baru saja memeriksa email masuk dari Mr. Gerald."


"Astaga, aku sudah lama tidak memeriksa email masuk."


"Ya sudah, kita bertemu di kampus. Sebentar lagi aku berangkat."


"Ya, aku akan bersiap - siap sekarang." Devita langsung memutuskan sambungan telepon. Dia meletakkan pancakes di atas meja dan beranjak menuju ke arah walk in closet.


Devita mendesah kasar. Jika bukan karena dirinya yang sebentar lagi akan lulus, dia lebih memilih untuk menghabiskan waktunya agar bersantai di rumah. Sudah lama Devita memang tidak lagi membuka email, terkadang dia lupa jika dirinya kini tengah menunggu kelulusan. Semenjak hamil membuat Devita lebih senang bersantai atau berbelanja di mall.


Devita mematut cermin, kini tubuhnya sudah terbalut dengan dress yang berwarna mustard. Devita mengambil tas dan ponselnya, lalu berjalan meninggalkan kamar.


...***...


Mobil Devita sudah memasuki lobby kampus. Sebelum turun dari mobil, Devita meminta sopirnya untuk menunggu di kafe dekat dengan kampusnya. Karena Devita tidak tahu, kapan ia akan selesai berbicara dengan dosennya.


Devita melangkah masuk kedalam kampus. Senyum di bibir Devita terukir ketika melihatnya banyak mahasiswa baru. Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat, dirinya sebentar lagi akan lulus kuliah. Tidak pernah Devita berpikir, di usianya yang masih muda, dia sudah akan menjadi seorang Ibu.


"Devita," panggil Olivia ketika melihat Devita, dia langsung berlari ke arah sahabatnya.


Devita menoleh dan menatap Olivia yang tengah berlari ke arahnya. "Olivia? Kau baru sampai? Aku pikir kau sudah berada di ruangan Mr. Gerald."


Olivia mendesah pelan. "Ban mobilku kempes dan Felix menjemputku sangat lama. Salahkan saja Felix, jika menjemputku sangat lama!"


Devita mengulum senyumannya. "Ya sudah, lebih baik kita ke ruangan Mr. Gerald. Aku tidak ingin menjelang lulus harus mendengarkan dia memarahiku."


"Mr. Gerald itu sudah tua. Kenapa dia itu suka sekali marah - marah. Memangnya dia tidak takut terkena jantungan." Olivia mencibir kesal.


"Hust! Kau ini bicara sembarangan saja. Bagaimana jika Mr. Gerald mendengarnya!" Tegur Devita.


"CK! Tenang saja, dia itu sudah tua pasti tidak mungkin mendengar suara kita yang pelan ini," balas Olivia dengan santai.


"Sudahlah, kau ini berisik sekali. Kita masuk kedalam." Devita langsung memeluk lengan Olivia, berjalan menuju ke ruangan Mr. Gerald. Sesekali Devita mengedarkan pandangannya, melihat sekeliling bagaimanapun Devita takut jika ada yang mendengar percakapannya dengan Olivia.


Tiga puluh menit kemudian Olivia dan juga Devita melangkah keluar dari ruangan dosen. Terlihat wajah kesal Olivia saat keluar dari ruangan dosen.


"Devita, kenapa dosen tua itu memintaku untuk menambah hasil penelitianku? Kita ini sebentar lagi lulus!" Keluh Olivia kesal.


Olivia tersenyum dan menatap Devita dengan mata yang berbinar. "Sungguh? Kau akan. memberikannya padaku?"


"Ya, kau tenang saja. Lebih baik, kau itu temani aku untuk makan Ice cream," ujar Devita dan Olivia mengagguk setuju. Kemudian mereka berjalan menuju ke arah kantin. Devita sengaja menikmati waktunya bersama dengan Olivia di kantin kampusnya. Karena sebentar lagi dia pasti akan merindukan suasana kampus.


Saat tiba di kantin, seperti biasa Devita meminta Olivia untuk memesankan Ice cream coklat dan vanila untuknya. Sedangkan Olivia memilih rasa matcha. Devita memilih untuk duduk di kursi tengah.


"Ini ice creammu," Olivia memberikan ice cream yang di pesan oleh Devita tadi. Lalu, dia langsung duduk di hadapan Devita.


"Aku dengar dari Felix, suamimu sedang perjalanan bisnis ke Madrid?" tanya Olivia sembari menikmati ice creamnya.


"Ya benar, tadi pagi Brayen baru saja berangkat," jawab Devita.


Olivia mendesah pelan, "Besok rencananya Felix juga akan menyusul. Karena permasalahan di perusahaan Brayen bersangkutan dengan perusahaan Felix."


"Felix juga akan pergi ke Madrid?" tanya Devita dan Olivia mengangguk.


"Apa permasalahan di perusahaan begitu berat? Aku hanya khawatir." kata Devita yang mulai cemas.


"Kau tidak perlu takut Devita. Suamimu itu tidak mungkin bangkrut," balas Olivia. "Tapi aku tidak tahu perusahaan Felix. Aku pernah membaca laporan keuangan perusahaan Felix yang sempat mengalami penurunan. Dan perusahaan Felix berhasil terselamatkan karena suamimu menyuntikkan dana yang cukup besar di perusahaan Felix. Jadi wajar saja kalau Brayen sering mengancam Felix."


Devita terkekeh pelan. "Aku yakin Brayen hanya bercanda. Brayen dulu tidak mau membantu Angkasa, tapi pada akhirnya Brayen membantu hanya saja melalui nama Laretta. Brayen memang lebih suka menunjukkan sifat kejamnya di depan orang


dari pada kebaikannya."


"Harus aku akui itu benar." Olivia mengambil gelas yang berisi lemon tea dan mulai menyesapnya. Kemudian, dia meletakkan kembali gelas itu di tempat semula. "Pantas saja banyak sekali wanita yang mengagumi suamimu. Karena Brayen memiliki sifat yang sangat mengagumkan."


"Felix juga sangat hebat, dia itu pria yang sangat baik dan tampan," balas Devita. "Aku sudah tidak sabar ingin segera melihat kalian berdua menikah."


"Jangan membahasnya Devita, karena itu masih lama," tukas Olivia malas mendengar ucapan itu kembali.


Devita menghela nafas dalam. "Tidak akan lama Olivia. Karena kau sudah bukan anak kecil lagi."


"Hi Nyonya Devita Mahendra? Apa aku menganggumu?" suara bariton menyapa dari arah belakang. Devita dan Olivia langsung menoleh dan menatap pria yang melangkah mendekat ke arah mereka.


Seketika Olivia dan Devita sama - sama terkejut menatap pria yang melangkah mendekat ke arah mereka. Tanpa menghiraukan tatapan dingin dari Olivia dan juga Devita, pria itu duduk tepat di samping Devita dan tersenyum melihat wajah Devita.


"Kau, untuk apa kau datang kesini? Dan kenapa kau bisa tahu aku di sini?" seru Devita, tatapannya masih menatap dingin dan tidak suka pada pria yang duduk di sampingnya.


"Well, ini adalah kampusku dulu. Aku hanya mencari tahu sedikit tentangmu, dan aku mendapatkan jawabannya. Kau adalah mahasiswa tingkat akhir yang hanya tinggal menunggu kelulusanmu. Dosen pembimbingmu adalah Mr. Gerald. Dulunya, pria tua itu menjadi dosen pembimbingku. Jadi aku sengaja menghubungi Mr. Gerald, lalu kebetulan dia mengatakan kau datang ke kampus hari ini. Aku rasa, aku tidak mungkin menyia - nyiakan bertemu dengan junior ku, bukan?" ujar pria itu dengan santai.


"Aku tidak mau tahu! Sekarang lebih baik kau pergi dari hadapanku!" Tukas Devita dingin.


"Raymond, namaku Raymond. Aku rasa, kau tidak lupa bukan? Aku hanya ingin menyapa juniorku saja." balas Raymond.


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.