Love And Contract

Love And Contract
Permintaan Brayen



Devita melirik ke arah Laretta yang terlihat begitu gusar, dia mengerti kecemasan Laretta. Devita mengelus lengan Laretta, berusaha menenangkan adik iparnya itu, Devita yakin, ada sesuatu yang Brayen sembunyikan. Devita tahu, tidak mungkin Brayen membuang waktunya hanya karena sebuah permainan badminton. Terlebih belakangan ini, Brayen di sibukkan dengan urusan pekerjaan.


"Brayen sungguh hebat!" Seru Olivia antusias.


Kini Brayen berhasil unggul satu skor. Laretta dan Devita menatap ke arah Brayen dan Angkasa. Waktu hanya tersisa sedikit lagi. Jika Angkasa tidak mampu untuk mengimbangi skor, maka pemenangnya adalah Brayen. Karena Brayen unggul satu skor dari Angkasa.


Ketika mereka beristirahat sebentar, Angkasa mengalihkan pandangannya ke arah Laretta. Terlihat senyum di wajah Angkasa dan anggukan singkat dari pria itu ke arah Laretta, seolah Angkasa sedang memberitahu, jika dia akan baik - baik saja. Laretta membalas senyuman Angkasa, memberikan semangat padanya. Laretta meyakinkan dirinya, kalau Angkasa akan mampu melewati tantangan ini.


Sedangkan Devita, dia menatap iba Laretta dan juga Angkasa. Devita memang sangat bangga memiliki suami yang sehebat Brayen. Tapi di sini sisi lainnya, Devita menginginkan Angkasa berhasil melewati semua persyaratan dari Brayen. Devita ingin agar Laretta dan juga Angkasa bisa kembali bersatu.


Permainan kembali dimulai. Angkasa terus menangkis setiap serangan dari Brayen. Terlihat Brayen begitu hebat melawan Angkasa. Waktu tersisa hanya tinggal satu menit lagi. Dan suara pekikan terdengar ketika waktu sudah habis, salah satu di antara mereka berhasil menambah skor.


Suara pekikan Laretta begitu keras terdengar. Angkasa berhasil membuat skor satu sama. Terlihat wajah Laretta yang begitu bahagia. Meski Angkasa tidak mengalahkan Brayen, namun pria itu memiliki skor yang sama dengan Brayen. Setidaknya Laretta bahagia akan hal itu.


Devita tersenyum senang ketika melihat kebahagiaan di wajah Laretta. Bagi Devita tidak peduli kalah atau menang. Suaminya tetap melakukan yang terbaik. Bahkan Brayen begitu hebat dalam bermain badminton. Kali ini Devita harus mengakui kebenaran, bahwa suaminya itu begitu sempurna. Pantas saja selama ini banyak wanita yang mengagumi Brayen.


"Yess! Akhirnya aku bisa melihat lawan seimbang Brayen!" Seru Felix antusias. "Jika seperti ini, Sepupuku itu tidak akan lagi sombong."


"Felix," tegur Olivia pelan.


"Devita maafkan aku, yang terlihat begitu bahagia melihat suamimu tidak menang." ujar Felix dengan cengiran lebar. "Aku hanya senang akhirnya suamimu itu tidak bisa lagi sombong. Setidaknya meski tidak kalah, tapi dia memiliki lawan yang seimbang."


Devita mengulum senyumannya. "Kau tenang saja, kau dan Brayen begitu lucu. Pertengkaran kalian berdua, membuatku benar-benar sakit kepala dan juga tidak henti menahan tawa."


Felix mendengus, "Suamimu itu yang selalu memulai duluan. Lebih baik kau berikan dia hukuman. Aku sangat kesal setiap kali mendengar kesombongannya."


"Sudah, lebih baik kita menghampiri Angkasa dan juga Brayen," sambung Olivia.


"Benar, apa yang di katakan oleh Olivia. Lebih baik kita menghampiri kak Brayen dan Angkasa." balas Laretta yang menyetujui ucapan dari Olivia.


Devita mengangguk, dia mengambil handuk kecil dan air putih. Lalu berjalan menghampiri Brayen. Begitu pun dengan Laretta dia juga mengambil handuk dan air putih, dan berjalan menghampiri Angkasa. Sedangkan Olivia dan Felix, mereka berjalan mengikuti Laretta dan juga Devita.


"Brayen, minumlah...." Devita menyerahkan air putih dan juga handuk untuk suaminya.


Brayen mengambil handuk dan juga air putih yang di berikan oleh Devita. Dia langsung meneguk air putih itu.


"Angkasa, minumlah...." Laretta memberikan air putih dan handuk untuk Angkasa.


"Terima kasih," Angkasa langsung mengambil handuk dan juga air putih, dia meneguk air putih itu hingga tandas.


Brayen dan Angkasa kini saling melayangkan tatapan dingin satu sama lainnya. Jika Angkasa menatap Brayen dengan tatapan yang seolah menunjukkan, dia telah membuktikan diri. Berbeda dengan tatapan Brayen, dia melayangkan tatapan dingin dan tidak bersahabat pada Angkasa. Kali ini, Brayen harus menerima, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia harus memiliki skor yang sama dalam sebuah permainan. Sejak kecil, Brayen selalu membenci kekalahan. Namun, lepas dari itu Brayen juga mengakui kehebatan Angkasa. Terbukti dari selama permainan berlangsung, Angkasa berhasil menangkis setiap serangan dari Brayen.


"Brayen, akhirnya aku bisa melihat kau memiliki lawan yang seimbang!" Felix menepuk bahu Brayen


"Persyaratan apalagi yang kau inginkan Brayen?" seru Angkasa. "Bukankah kau sudah puas untuk bermain-main hari ini?"


"Mampu menghadapiku dalam bermain badminton, bukan artinya aku akan menyetujui kau akan menikah dengan adikku." Brayen tersenyum sinis. "Bukankah, aku sudah mengatakannya padamu, aku itu hanya ingin bermain-main?"


"Kakak!" Laretta merengut, dia kecewa mendengar ucapan Brayen.


"Jangan ikut campur Laretta!" Balas Brayen dingin.


Angkasa membuang napas kasar. "Brayen, apa kau ini sudah kehilangan akal sehatmu? Apalagi yang bisa membuatmu puas dengan segala bukti dan kesungguhanku pada adikmu?"


"Sangat mudah kalau kau ingin membuktikan kesungguhanmu." Brayen melangkah mendekat ke arah Angkasa. Tatapannya begitu dingin dan mengintimidasi. "Kau ingin membuktikan kesungguhanmu bukan? Kalau begitu, aku ingin meminta satu hal padamu."


"Apa yang kau inginkan?" Angkasa membalas tatapan Brayen, menunjukkan bahwa dia akan terus mengikuti permintaan dari Brayen.


"Besok, aku akan meminta asistenku untuk mengurus adikmu. Aku ingin adikmu menemui Laretta. Asistenku akan meminta para wartawan datang meliput Laretta dan Alena. Dan aku ingin melihat Alena meminta maaf langsung pada adikku di hadapan para media. Dia juga harus mengakui kesalahan yang telah dia lakukan. Tidak hanya itu, dia harus meminta maaf dengan berlutut di hadapan adikku."


"Jika adikmu tidak bisa melakukan itu, jangan berharap aku memperbolehkanmu untuk menikah dengan adikku. Kau telah gagal menjaga adikku, ada harga yang harus kau bayar mahal setelah adikmu yang j****ng itu menghina adikku. Ketika adikku di permalukan dari tuduhan adikmu yang j****ng itu, aku tidak akan pernah memaafkannya. Hal yang membuatku mempertimbangkan ulang, adalah mempermalukan adikmu. Aku ingin seluruh dunia tahu, begitu memalukannya keluarga Nakamura memiliki putri seperti adikmu."


"Aku mengatakan sejak awal, aku ini bukan orang yang baik. Aku akan bertindak sesuatu yang menghancurkan musuhku yang telah berani mengusik keluargaku. Dan kau bisa mundur sekarang, jika kau tidak mampu melakukan itu. Aku tidak peduli dengan nama baik keluargamu yang akan hancur."


Brayen menyeringai puas setelah mengatakan ini. Terlihat raut wajah Angkasa yang terkejut mendengar permintaan darinya. Brayen memang tidak perduli dengan nama baik keluarga Angkasa yang akan hancur. Karena di mata Brayen, orang yang sudah berani mengusik keluarganya itu memang harus mendapatkan balasan yang setimpal.


"Kakak! Jangan seperti-"


"Diam Laretta, atau aku akan mengirimmu untuk meninggalkan kota ini. Aku bisa dengan mudahnya membuatmu tidak bisa lagi menemui pria sialan ini. Kau boleh membenciku, aku tidak perduli. Apa yang aku lakukan ini, semuanya demi dirimu. Karena pria yang selalu kau banggakan ini telah gagal melindungimu. Dan harus ada harga yang harus dia bayar, karena adiknya yang j****ng itu sudah berani menghinamu." Brayen langsung memotong ucapan Laretta. Suaranya terdengar begitu dingin dan tajam.


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.