Love And Contract

Love And Contract
Edgar Rylan Wilson



"Maaf, kau siapa?" tanya Devita saat pria itu kini berada di hadapannya. Devita sangat yakin jika dirinya belum pernah bertemu dengan pria yang ada di hadapannya ini.


"Apa kabar Devita? Apa aku menganggumu?" tanya pria itu dengan suara yang ramah.


"Maaf, kau siapa? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Devita lagi. Ia yakin tidak pernah bertemu dengan pria yang ada di hadapannya ini. Tapi kenapa pria itu mengenal dirinya. Devita terusan berusaha untuk mengingat tapi dia tetap tidak bisa mengenali pria yang ada di hadapannya ini.


"Apa kita bisa berbicara sebentar, Devita?" kata pria itu, dia menatap lekat Devita yang berdiri di hadapannya.


"Aku tidak mungkin berbicara dengan pria asing. Aku tidak mengenalmu. Maaf, aku harus segera pulang." tolak Devita dengan suara yang lembut. Ia tidak mungkin berbicara dengan seorang pria yang asing.


Pria itu tersenyum. "Aku Edgar pasti kau mengenal Lucia bukan? Lucia adalah saudara kembarku."


Tatapan Devita berubah menunjukkan tatapan yang tidak suka dengan pria yang ada di hadapannya ini setelah pria itu mengatakan siapa dirinya. Raut wajah Devita menunjukkan dengan jelas kemarahan dan juga kebencian. Tapi Devita berusaha untuk bersikap tenang dan tidak mungkin dia bertindak kasar.


"Untuk apa kau datang kesini?" tanya Devita dingin.


"Maaf Devita, aku tidak bermaksud untuk menganggumu. Aku hanya ingin datang berbicara denganmu. Apa kau mau Devita?" ujar Edgar dengan ramah. Dia tetap tersenyum pada Devita, meskipun Edgar tahu Devita tidak menyambut dirinya dengan baik.


"Saudara perempuanmu sudah menemuiku beberapa hari yang lalu. Sekarang apalagi tujuanmu menemuiku?" tukas Devita sinis.


"Aku sungguh tidak bermaksud untuk menganggumu. Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan padamu, Devita." balas Edgar.


Devita membuang napas kasar. " Kita bicara di kafe dekat kampusku. Tidak mungkin kita bicara di sini."


Edgar mengangguk setuju, kemudian mereka berjalan keluar dari kampus menuju ke kafe terdekat.


...***...


Devita kini duduk di sebuah kafe bersama dengan Edgar. Tatapan Devita menunjukkan rasa ketidaksukaannya pada pria yang ada di hadapannya. Tapi Devita tetap berusaha untuk bersikap tenang. Karena meski Devita tidak menyukai pria yang ada di hadapannya ini dia tetap tidak bisa bersikap kasar.


"Terimakasih kasih untuk waktumu, Devita." ucap Edgar dengan ramah.


Devita tersenyum tipis. "Apa yang kau inginkan? Kenapa kau ingin mengajakku berbicara padamu?"


"Aku sudah tahu beberapa hari yang lalu, saudara kembarku Lucia datang menemuimu. Aku minta maaf jika ada perkataan Lucia, ada yang menyinggung perasaanmu. Bagiku menjadi seorang Edgar Rylan Wilson sudah lebih dari cukup. Aku tidak ingin mengusik kehidupanmu, Devita." ujar Edgar dengan suara tenang. Karena memang bagi Edgar, dia sudah cukup bangga menyandang nama 'Wilson' di belakang namanya.


Devita menaikkan alisnya, lalu dia menatap lekat Edgar yang duduk di hadapannya. " Jika menurutmu menjadi seorang Edgar Rylan Wilson sudah lebih dari cukup, lalu apa tujuanmu menemuiku? Apa kau ingin juga mengatakan padaku seperti saudara kembarmu Lucia datang mengujungiku dan mengatakan kehidupanku yang sempurna?"


"Maaf, jika Lucia sudah mengatakan itu padamu. Tapi percayalah, aku minta maaf atas nama saudara kembarku Lucia. Sejak kecil dia memang selalu bertanya tentang Ayah kami. Percayalah Devita saat aku mengetahui aku dan Lucia anak dari seorang pengusaha bernama Edwin Smith, aku sama sekali tidak perduli Devita. Mungkin, tidak bagi saudara kembarku Lucia. Belakangan ini memang aku tahu, Lucia selalu menyelidiki tentang kehidupanmu. Bahkan kabar tentang kau menikah dengan pengusaha bernama Brayen Adams Mahendra, dia juga sudah mengetahuinya." jelas Edgar yang menceritakan semuanya.


"Aku pun tahu, jika saudara kembarku memiliki rasa iri dengan segala yang kau miliki. Kasih sayang, perhatian, bahkan kau mewarisi harta Ayahmu. Aku paham dia iri padamu. Tapi percayalah, jauh dari itu Lucia hanya iri karena dia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang Ayah kandungnya." lanjut Edgar.


Devita tersenyum sinis. " Lalu apa yang kau inginkan?"


"Tidak, aku tidak ingin apapun. Aku hanya ingin menengahi semuanya. Aku sama sekali tidak pernah berniat mengambil atau meminta harta dari Edwin Smith. Bagiku, Ayahku tetap Valdis Wilson. Meski dia bukan Ayah kandungku, tapi tetap saja aku menganggap Valdis Wilson adalah Ayah kandungku." jelas Edgar menegaskan.


Devita terdiam mendengar ucapan Edgar. Pria yang ada di hadapannya ini benar-benar sangat berbeda dengan Lucia. Jika Lucia begitu terobsesi tapi tidak dengan Edgar. Pria yang ada di hadapannya ini benar-benar menunjukkan ketulusan. Bahkan Devita tersentuh dengan perkataan Edgar yang tidak ingin mengusik kehidupannya. Entah itu benar atau tidak tapi Devita melihat dari Edgar menunjukkan kejujuran


"Edgar, aku tidak tahu harus bersikap seperti apa. Karena saat ini, hatiku masih tidak bisa menerima kenyataan ini." balas Devita dengan suara yang tenang.


"Bukan hanya dirimu yang tidak bisa menerima ini. Aku juga tidak bisa menerima ini. Jujur, saat aku meninggalkan Australia dan menetap di Indonesia membuatku merasa tidak nyaman." ujar Edgar dengan menceritakan keadaan yang sebenarnya. Ia memang sangat tidak nyaman menetap tinggal di Indonesia. Terlebih harus dihadapkan dengan kenyataan menjadi anak seorang Edwin Smith.


"Lalu apa yang akan kau lakukan dengan kenyataan ini?" tanya Devita, ia menatap lekat Edgar.


"Nothing, aku lebih memilih untuk menjalani kehidupanku sebagai Edgar Rylan Wilson. Aku juga tidak tertarik untuk bertemu dengan Edwin Smith. Lucia memang iri padamu. Tapi percayalah, aku pastikan Lucia tidak akan menganggumu." kata Edgar yang berusaha meyakinkan Devita.


"Apa tidak ada di dalam pikiranmu untuk bertemu dengan Ayah kandungmu sendiri?" tanya Devita lagi.


"Nope, i am happy with my life right now. And i don't care who is my father." jawab Edgar tidak perduli dan tegas.


Devita terdiam sejenak saat mendengarkan ucapan Edgar. Raut wajah Edgar menegaskan jika dia memang tidak perduli dengan kenyataan. Sebenarnya ada rasa kasihan Devita pada pria yang ada di hadapannya ini. Bagaimana pun seseorang membutuhkan sosok Ayah kandungnya. Tapi ini rumit, karena Devita tahu Nadia Ibunya akan terluka dengan semua ini.


"Aku menyukai dengan caramu berpikir, mungkin kau beranggapan jika aku jahat. Tapi Edgar, aku hanya seorang anak yang memperdulikan perasaan Ibuku. Bagiku, melihat Ibuku bahagia adalah prioritas utama bagiku," balas Devita dengan tegas.


Edgar mengangguk paham. "Aku sangat mengerti posisimu Devita. Aku minta maaf karena sikap Lucia, aku berjanji akan berusaha untuk menghentikan Lucia."


Devita tersenyum tipis, kemudian ia beranjak dari tempat duduknya dan menatap lekat Edgar. "Aku percaya kau bisa mengatasi saudara kembarmub itu. Dan maaf, aku harus segera kembali. Karena suamiku tidak mengizinkanku untuk pulang terlambat."


"Ya Devita, terima kasih untuk waktumu." balas Edgar.


Devita mengangguk pelan, lalu ia berjalan meninggalkan Edgar. Devita tidak mungkin membahas terlalu lama bersama Edgar. Devita takut, jika ada paparazzi yang memotret dirinya dan Devita tidak ingin terlibat pemberitaan negatif.


Edgar terus memandang kepergian Devita hingga wanita itu hilang dari pandangannya. Wanita anggun, cantik dan mengagumkan di usia muda, itulah kini yang ada di pikiran Edgar tentang Devita.


...*********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.