
Brayen mengambil gelas sloki di atas meja yang berisikan wine, dia kemudian menyandarkan punggungnya di kursi dan mulai menyesap wine di tangannya.
Suara dering ponsel membuat Brayen kini melihat ke arah ponselnya. Brayen meletakkan gelas sloki ke tempat semula, lalu mengambil ponselnya yang tidak henti berdering itu. Brayen menatap ke layar seketika raut wajahnya berubah. Brayen mengumpat di dalam hati, dia lupa untuk menghubungi Ayahnya. Brayen menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan, sebelum kemudian meletakkannya di telinganya.
"Ya?" jawab Brayen datar saat panggilannya terhubung.
"Brayen, tadi Laretta bilang pada Daddy, katanya kau akan menghubungi Daddy! Tapi kenapa sampai sekarang kau belum menghubungi Daddy!" Seru David yang terdengar dari sebrang telepon.
Brayen membuang napas kasar. " Tadi aku sudah mengingat untuk menghubungimu, Dad? Tapi aku lupa. Karena banyak sekali pekerjaan yang harus aku selesaikan hari ini."
"Dua hari lagi kau harus segera pergi ke Madrid. Perusahaan cabang kita mengalami penurunan saham yang cukup parah. Kalau kau tidak datang, perusahan cabang kita tidak mungkin terselamatkan."
Brayen tersentak. "Bagaimana bisa, Dad? Kenapa Albert tidak pernah memberitahuku?"
"Ini kesalahan Daddy. Karena ada kontrak kerja sama yang gagal Daddy jalani. Kau jangan salahkan, Albert. Karena Daddy yang sengaja menutupi masalah ini."
"Tapi Devita sedang hamil, Dad? Aku tidak mungkin meninggalkan Indonesia?"
"Brayen, kau tidak bisa menolak tanggung jawab ini, karena ini ada di tanganmu. Kau tidak bisa menolaknya. Daddy yakin, Devita akan mengerti karena kau adalah pewaris dari Mahendra Enterprise."
"Allright, aku akan berangkat ke Madrid dan meminta Albert untuk mengurus semuanya."
"Good, kau memang anak kebanggaan, Daddy."
Panggilan terputus, Brayen meletakkan ponselnya di atas meja. Brayen kembali menyandarkan punggungnya dan memejamkan mata lelah. Jika Devita tidak hamil, mungkin saja Brayen akan membawa Devita. Tidak mungkin akan kembali membawa istrinya, karena mereka baru saja pulang dari Las Vegas.
...***...
Siang itu, Devita dan juga Laretta mengunjungi butik langganan mereka. Seharian ini, mereka itu puas berbelanja. Mulai dari tas tangan dengan brand ternama dunia stiletto, flatshoes, dan beberapa dress khusus ibu hamil. Mengingat, jika mereka berdua tengah mengandung.
"Devita, apa menurutmu tas tadi yang aku pilih itu bagus untuk Ibu dan adiknya, Angkasa?" tanya Laretta yang tampak ragu.
"Tentu sangat bagus. Kau ini bagaimana? Kau itu memilki selera yang tinggi Laretta. Aku sangat yakin, mereka pasti akan sangat menyukainya." jawab Devita antusias.
Laretta mendesah pelan, "Semoga itu benar, aku juga sangat berharap jika mereka menyukainya."
"Kau tenang saja, mereka juga tidak hanya menyukai tas yang kau beli tapi mereka juga akan menyukaimu." Devita memeluk lengan Laretta, dan tersenyum. "Setelah ini kau ingin kemana?" tanya Devita.
"Hem, aku ingin membeli jam tangan untuk Angkasa. Aku sungguh malu, saat di Las Vegas aku menggunakan kartu kredit milik Angkasa sangat banyak." ujar Laretta.
"Ya sudah, aku menemanimu ke toko jam. Lebih baik kita ke toko jam yang ada di sana saja." tunjuk Devita ke salah satu toko jam yang tidak jauh darinya.
"No! Aku ingin ke toko jam langganan Kakakku, Devita?" jawab Laretta.
"Eh?" Devita mengerjap. Seketika dia langsung mengingat sesuatu. "Kenapa tidak ke toko yang ada di sana saja?" Devita kembali menunjukkan toko yang lokasinya tidak jauh dari dirinya juga Laretta.
"Tidak Devita, karena aku lebih suka ke toko langganan Kakakku. Mereka memiliki kualitas yang terbaik. Sudah kita kesana saja," Laretta memeluk lengan Devita dan membawanya ke dalam tokoh langganan Brayen.
Kini Devita dan juga Laretta sudah memasuki toko yang kemarin Devita datangi bersama dengan Olivia. Jujur saja, saat ini perasaan Devita merasa tidak nyaman.
"Selama siang, Nyonya Devita dan Nona Laretta." sapa seorang pelayan yang menyambut kedatangan mereka berdua dengan ramah.
"Siang," jawab Laretta dan juga Devita bersamaan dengan senyuman ramah di wajah mereka.
"Ada yang bisa kami bantu?" jawab pelayan itu.
"Ah iya, aku ingin kau menunjukkan jam tangan edisi terbaru," pinta Laretta.
"Untuk edisi terbaru, kebetulan hari ini baru saja datang, Nona. Sebentar saya ambilkan." balas pelayan itu dan Laretta mengangguk pelan.
Tidak lama kemudian, pelayan itu membawakan jam tangan edisi terbaru yang hari ini baru saja tiba. Dan menunjukkan pada Laretta. Seketika Laretta tersenyum dan tatapannya tidak henti menatap jam tangan itu.
"Kau benar, ini sangat bagus." balas Devita yang menyetujui selera Laretta dalam memilih jam tangan.
Tanpa menunggu lama, Laretta langsung mengeluarkan dompetnya dari dalam tasnya dan memberikan black cardnya pada pelayan itu.
"Berikan mereka berdua jam tangan wanita yang edisi terbaru," suara seorang pria berseru dari arah belakang yang membuat Laretta dan juga Devita menoleh menatap sosok pria itu.
Devita menghela nafas kasar, sudah di duga dari awal pria yang mengganggunya pasti akan kembali muncul.
"Tidak perlu," tolak Devita tegas. "Karena aku tidak suka memakai barang gratisan dari seseorang."
Laretta mengerutkan keningnya, menatap pria yang berada di hadapannya. Dia seperti mengingat pria itu tapi masih ragu. "Maaf Tuan, apa kau mengenal kami?" tanya Laretta.
"Aku Raymond. Pemilik perusahaan ini." jawab Raymond dengan angkuh.
"Kau pemilik perusahaan ini? Bukankah Perusahan ini milik Davin?" Laretta menatap pria yang ada di hadapannya ini dengan tatapan yang bingung.
"Maaf Nona Laretta, Tuan Raymond sebelumnya menetap di Las Vegas, jadi perusahaan di ambil sementara oleh Tuan Davin adik dari Tuan Raymond." balas pelayan itu.
Mendengar Las Vegas, seketika Laretta langsung ingat sesuatu. Wajah pria yang ada di hadapannya ini sepertinya tidak asing di ingatan Laretta. "Tunggu, sepertinya kita pernah bertemu? Kau itu pria yang sudah menganggu Kakak Iparku di Las Vegas kan?"
Raymond tertawa rendah. "Well, jadi kau Laretta Gissel Mahendra? Adik dari Brayen Adams Mahendra? Maaf, di pertemuan pertama aku tidak menyadarinya. Ternyata sesuai yang ada di majalah, kau itu sangat cantik."
"Laretta, lebih baik kita pulang sekarang," Tukas Devita.
"Ya, kau benar!" Balas Laretta. Dia sendiri sangat malas untuk berbicara dengan pria yang ada di hadapannya itu.
"Apa kalian berdua tidak ingin makan bersamaku, mungkin?" tawar Raymond.
"Tidak terima kasih! Kami harus segera pulang." tolak Devita tanpa melihat ke arah Raymond.
Raymond mengangguk. "Baiklah, sayang sekali padahal aku ingin melihat lama dirimu."
"Jangan menganggu Kakak Iparku, karena kau bisa berurusan dengan Kakakku!" Peringat Laretta tajam.
Raymond mengedikkan bahunya. "Aku menyukai Kakak Iparmu, karena sejak awal dia itu tidak hilang dari pandanganku."
"Kau gila!" Tukas Laretta.
Setelah Laretta menyelesaikan pembayarannya, Devita dan juga Laretta langsung berjalan keluar meninggalkan toko. Devita menghubungi sopir untuk menjemputnya di lobby. Melihat pria itu membuat Devita ingin segera pulang.
Tanpa mereka sadari, Raymond terus menatap mereka berdua saat pergi meninggalkan toko itu.
"Aku pasti bisa merebut mu dari tangan Brayen, Devita." gumam Raymond.
...*******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.