Love And Contract

Love And Contract
Ulang Tahun Devita



Brayen menyentuh tangan Devita dan mengecupinya. " Lebih baik, kita tidur sekarang, besok kau harus pergi kuliah. Aku juga ada meeting di pagi hari."


Seketika wajah Devita tersenyum kecut. " Apa kau melupakan sesuatu, Brayen?"


Brayen menautkan alisnya. "Melupakan sesuatu? Melupakan apa yang kau maksud?"


"Jadi kau tidak mengingatnya?" tanya Devita dengan nada yang sedikit kesal.


Brayen berusaha untuk menahan senyuman di wajahnya. "Aku tidak melupakan sesuatu. Memangnya apa yang telah aku lupakan?" tanyanya yang seolah tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh Istrinya itu.


Devita mencebikkan bibirnya. Terlihat wajah Devita yang begitu kesal. " Tidak, tidak ada. Maksudku, apa kau lupa dengan jadwal meetingmu? Itu maksudku?" kilahnya, dia berusaha menahan kesal. Terlihat dari raut wajah Brayen yang tidak menunjukkan Brayen tidak mengingatnya. Benar - benar menyebalkan. Ingin sekali dia marah, tapi tidak, lebih baik Devita mendiamkan saja.


Brayen menggeleng dan terus berusaha menahan senyumannya. " Aku tidak akan mungkin melupakan jadwal meetingku. Semua sudah di atur oleh Albert," jawab Brayen.


Devita mendengus tidak suka. "Jadi, meeting tidak mungkin terlupakan olehmu, Brayen? Kau memang sangat hebat," katanya dengan nada penuh sindiran.


"Tidak ada yang lebih penting dari dirimu, Sayang." Brayen mengeratkan pelukannya. Dia memberikan kecupan bertubi - tubi di puncak kepala istrinya itu.


"Huh, penting dari mana, jika kau melupakan ulang tahun istrimu sendiri!". ucap Devita dalam batin. Wajahnya masih terlihat begitu kesal. Sebisa mungkin, dia itu menutupi itu dari Brayen.


"Sudah, lebih baik kita tidur." Brayen mengelus lembut pipi Devita, sembari mengecup singkat, bibir ranum istrinya itu. Devita pun mengangguk. Kemudian Brayen mematikan lampu yang ada di atas nakas. Perlahan Devita mulai memejamkan matanya. Begitupun dengan Brayen yang menyusul istrinya dalam mimpi indah.


...***...


Sinar matahari menembus jendela, perlahan Devita mulai membuka matanya, menguap dan menggeliat. Tangan Devita kesamping. Namun, saat Devita merasakan ranjangnya sudah kosong. Devita langsung menoleh, dan benar saja, Brayen sudah tidak ada. Devita mendengus kesal, saat melihat Brayen yang sudah tidak ada. Devita beranjak dari ranjang dan mengikat asal rambutnya. Dia menoleh tajam ke arah jam dinding kini sudah pukul jam tujuh pagi.


"Brayen, kemana sepagi ini?" gumam Devita.


Devita melangkah menuju ke arah kamar mandi, dia ingin mencuci muka dan menggosok gigi terlebih dahulu. Setelah melihat ke cermin, wajahnya terlihat lebih segar. Devita melangkah keluar kamar. Dia mengambil gelas yang berisikan air putih. Saat Devita mengambil gelas, dia menatap sebuah note kecil dan langsung membacanya.


*Hari ini aku ada meeting, aku berangkat lebih pagi. Mungkin pulang akan terlambat, jangan menungguku, kau tidurlah duluan - Your Husband, Brayen.*


Devita mengumpat di dalam hati setelah membaca note ini, bisa - bisanya Brayen masih pergi untuk meeting saat istrinya berulang tahun. Apa dia tidak mengingat, jika hari ini adalah ulang tahun dirinya? Devita berusaha untuk menenangkan emosinya, dia memilih untuk berendam dan segera bersiap untuk menuju ke kampus. Lebih baik dia berada di kampus.


Tiga puluh menit kemudian, Devita sudah bersiap menuju kampus. Dia memilih mini dress berwarna pink mode of shoulder di padukan sneaker yang warnanya senada dengan dress yang Devita pakai. Kemudian dia melangkah keluar kamar dan menuju ke arah ruang makan.Rasa kesal dan marah, membuat Devita menjadi sangat lapar. Benar - benar Brayen membuatnya kesal hari ini.


Saat Devita melangkah masuk kedalam ruang makan, namun di ruang makan tidak ada satupun orang. Tidak biasanya ruang makan terlihat sangat sepi. Biasanya pelayan dan Laretta sudah berada di ruang makan. Devita melirik arlojinya, kini sudah pukul delapan pagi. Tidak mungkin Laretta masih tertidur, Devita sangat tahu itu. Karena Laretta selalu bangun di pagi hari.


Devita memilih duduk di ruang makan, dan mengambil roti gandum dan selesai kacang. Devita terlalu malas untuk memanggil pelayan. Lagi pula masih ada roti yang tersedia di meja makan.


"Happy birthday, Kakak Ipar?" suara teriakan Laretta begitu kencang membuat Devita tersentak.


Devita beranjak dari tempat duduknya dan menoleh, " Laretta? Kau tahu ulang tahunku?" Sungguh saat ini, Devita begitu terkejut. Terlebih hari ini, Laretta tahu hari ulang tahunnya. Kemudian pandangan Devita beralih pada sosok pria yang membawa rangakaian bunga dan melangkah mendekat ke arahnya.


"Brayen?" Devita mengerutkan keningnya.


Brayen tersenyum dia langsung merengkuh pinggang Devita dan sambil berbisik, " Happy birthday, my little wife."


Devita mendorong dada Brayen dan memukulnya dengan keras, " Brayen sialan! Kau mengerjaiku!" Teriaknya kesal.


Laretta terkekeh geli melihat Devita. " Devita, kau memang harus menghajar Kakakku ini. Dia memang sangat berbakat untuk menjadi seorang aktor."


Brayen menarik dagu Devita mencium dan ******* bibir Devita. " Maaf, sayang...."


Devita mencebikkan bibirnya, "Bisa - bisanya kau membohongiku! Dan meninggalkan note di atas meja, sungguh menyebalkan!"


"Maaf" Brayen menangkup kedua pipi Devita, memberikan kecupan bertubi - tubi di bibir Istrinya itu.


Laretta mendengus, " Aku ini sudah sering melihat adegan romantis kalian, ayo Devita tiup lilinnya dan make a wish"


Laretta yang masih memegang kue di tangannya, langsung mendekat ke arah Devita. " Make a wish dulu, Devita, sebelum tiup lilin,"


Devita mengangguk, dia memejamkan matanya setelah membuat permohonan dan dia langsung meniup lilin angka 21 tahun. Kemudian Laretta meminta Devita untuk memotong kue, potongan kue pertama, Devita berikan untuk Brayen, suaminya dan yang kedua untuk Laretta.


"Devita , ini hadiah dariku," Laretta memberikan kadonya pada Devita.


"Terima kasih, Laretta." seraya mengambil hadiah yang di berikan oleh Laretta.


"Bukalah Devita," pinta Laretta.


Kemudian Devita pun membuka hadiah dari Laretta. Devita langsung tersenyum, saat melihat sebuah arloji yang sangat indah. "Terima kasih, Laretta, ini sangat indah," ucapnya dengan tulus.


Laretta tersenyum, "Aku juga senang, jika kau menyukainya Devita,"


"Devita, di sana ada hadiah dari orang tuamu. Kedua orang tuaku termasuk Felix dan juga Olivia sudah mengirimkan hadiah mereka kemarin. Aku meletakkannya di sana. Dan kau bisa membukanya," kata Laretta sambil menunjukkan tumpukkan kotak hadiah yang tadi ternyata di sembunyikan olehnya.


Devita mengerutkan dahinya, " Felix tahu, aku berulang tahun?"


Laretta mengangguk, " Iya dia tahu, karena aku yang memberitahukannya, maaf."


Devita menggeleng pelan dan tersenyum. "Baiklah, aku harus membukanya dulu,"


Brayen menatap Devita yang kini tengah membuka hadiahnya, dia membiarkan Devita membuka hadiah dari orang tuanya terlebih dulu.


Pertama kali Devita membuka hadiah dari kedua orang tuanya, saat dia membuka Devita mengerutkan keningnya melihat sebuah map coklat di dalam kotak itu.


Devita membuka map coklat itu dan melihat dokumen apa yang ada di dalamnya. Saat Devita membuka map coklat itu, dia tersentak ternyata itu adalah sertifikat Apartemen mewah di kota B. Apartemen yang sejak dulu selalu Devita inginkan, tapi orang tuanya selalu melarangnya. Tertulis jelas, nama pemilik unit Apartemen itu adalah Devita Mahendra. Devita tersenyum haru, melihat hadiah dari kedua orangtuanya ini.


Kemudian Devita membuka hadiah dari mertuanya. Ternyata Rena dan juga David memberikan satu set berlian limited edition untuk Devita. Ini membuat Devita menggelengkan kepalanya. Sejak dulu, mertuanya selalu memberikan kemewahan padanya. Tapi tetap saja Devita sangat berterima kasih karena mertuanya begitu menyayangi dirinya.


Lalu Devita mulai membuka kotak kecil yang tertulis dari Felix, saat dia membuka ternyata sebuah anting berlian yang sangat indah. Bahkan ada kartu ucapan yang di tulis oleh Felix.


*Happy birthday, Devita! Semoga kau selalu hidup bahagia dan aku, kau akan selalu betah hidup dengan sepupuku yang sialan itu. Maaf harus ada umpatan, karena suamimu itu memang sungguh menyebalkan. Sekali lagi, selamat ulang tahun, Devita. Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu. - Felix Joseph Mahendra.*


Devita terkekeh pelan membaca note dari Felix ini. Bisa - bisanya Felix masih menyelipkan umpatan untuk Brayen.


Terakhir, Devita membuka hadiah dari Olivia. Kotak yang berukuran cukup besar dengan cepat Devita membukanya. Ternyata sebuah tas keluaran terbaru dari Louis Vuitton. Di dalamnya ada sebuah kartu ucapan, Devita langsung membuka dan membaca isi yang di tulis oleh sahabatnya itu.


"Happy birthday my partner in crime! Aku percaya kau akan memiliki kehidupan yang sangat sempurna dan bahagia. Devita ingat, hadiah yang aku berikan ini harganya cukup mahal. Aku membelinya dengan kartu kreditku. Jangan lupa, saat aku ulang tahun nanti, kau harus membelikan yang lebih mahal karena uangmu jauh lebih banyak dari uangku. - Dari sahabatmu Olivia Roberto*


Devita menggeleng pelan dan tersenyum. Inilah Olivia dia selalu saja seperti. Benar - benar.


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.